Saya yang Pernah di Sepelekan

11:28:00 Add Comment
HP yang Hilang (Dokpri)

“Anggotane kapiran, ketua panitiane enak-enak. Ngono ka pan dadi ketua IPNU.”
 
Itulah pesan yang saya terima dua setengah tahun silam, tertanggal 20 April 2014 persis beberapa jam sebelum sidang pemilihan ketua berlangsung pada acara Konfercab IPNU yang ke IX di Pondok Pesantren Al-Fatah Parakancanggah Banjarnegara. Pesan yang saya terjemahkan sebagai sebuah cibirin dan penyepelean atas kemampuan yang saya miliki. Pesan itu pun saya simpan di kotak masuk (inbox) dengan rincian pengirim, tanggal dan waktu masih lengkap. Hanya saja rincian itu hilang bersamaan dengan raibnya HP Samsung Duos beberapa bulan yang lalu. Namun tidak dengan isinya, ingatan saya masih begitu lekat sampai saat ini. 

Ya, saya masih mengingatnya. Sangat ingat malah. Mungkin inilah makna peribahasa bahwa lisan itu lebih tajam daripada pedang. Tusukannya benar-benar menghujam dalam sampai ulu hati sehingga luka yang tergores karena lisan terkadang sembuhnya butuh waktu yang lama. 

Sekarang, pesan ini membuat saya bertanya pada diri sendiri, haruskah saya berterima kasih sebagai wujud positif thinking karena pesannya itu nyatanya tak terbukti. Berterima kasih karena pesan itu membuat saya terlecut untuk membungkamnya. Toh, masa kepengurusan saya sudah selesai sehingga cibiran bahwa masa kepengurusan saya akan mengalami kevacuman juga sudah tidak berlaku lagi. Maka, satu hal yang saya pelajari adalah bahwa semua orang bisa menjadi pemimpin. Walaupun pada awalnya masih banyak kekurangan, tetapi percayalah bahwa skill, kemampuan dan kecakapan itu bisa dipelajari sambil berjalan. Sebagaimana pengalaman yang saya alami. Yang seseorang butuhkan bukan cibiran dan nada merendahkan tetapi bimbingan dan arahan karena sejatinya hidup adalah belajar. Yang seseorang butuhkan adalah kesempatan untuk membuktikan, bukan meng-justice bahwa ia tak pantas dan layak menjadi pemimpin dengan alasan ini dan itu. 

Entah pengirimnya masih ingat atau tidak, yang jelas pesan itu membuat saya benar-benar merasa disepelekan dan sakit hati. Bagaimana tidak, waktu itu posisi sebagai ketua panitia yang harus mengurus segala keperluan bahkan untuk sowan pun hanya berpatner dengan ketua IPNU sebelum saya, nembusi konsumsi ke muslimat, sowan minta support ke para sesepuh dan pembina untuk kelancaran acara. Eh, dibilang “ketua panitiane enak-enak” gegara sewaktu ditanya saya sedang gabung dengan teman-teman PW IPNU di rumah makan gubug eksotic (dulu persis di sebelah timur Ahas Honda Parakancanggah). Padahal jangankan makan, minum saja belum. Pun dengan peserta, andaikan ungkapan “anggotane kapiran” itu maksudnya adalah masalah konsumsi, toh waktu itu bukan karena tidak ada tetapi karena sedang diambil. Maklum jaraknya lumayan jauh di Mandiraja.

So, fokuslah pada aksi nyatamu. Jangan hiraukan cibiran, kritik dan ungkapan yang menyakitkan itu. Karena semua orang punya pemikiran berbeda dan tidak sama dengan cara berpikirmu. Yang jelas, buktikan bahwa kamu mampu. Jangan hiraukan pernyataan orang lain yang merendahkan dan menyepelekanmu. Karena mereka punya sudut pandang kebenaran berbeda ketika melihatmu, laiknya cerita anak dan bapak dengan keledainya. Atau cerita 4 orang buta yang disuruh mendiskripsikan tentang gajah. Dan percayalah Tuhan selalu mengirim malaikat yang selalu menemanimu, selama niatnya baik dan engkau mau bergerak, engkau akan selalu menemukan patner yang mendukungmu. 

Pringamba, 7 Desember 2016 05:49 WIB
Mad Solihin

Saling Mendengarkan dan Menguatkan

00:51:00 2 Comments


Sumber : satujam (dot) com
Sudah pukul 02:35 namun mata ini belum juga terpejam. Tahukah engkau cinta apa yang saya lakukan? Banyak yang saya pikirkan tapi tenang saja keadaan saya baik-baik saja kok, malah semangatnya sedang menggebu-gebu untuk bisa merealisasikan berbagai mimpi. Berlebih ditemani vidio lagu Indonesia Pasti Bisa cipt. Merry Riana benar-benar membuat saya tersihir dan sulit memejamkan mata. Lagunya sungguh power full dan sangat menggugah semangat. #Jika penasaran, cobalah searching di youtobe. Keren, serius. Selain karena mungkin pengaruh kemarin ba’da asar sampai maghrib sudah tidur sehingga menjadi seperti kalong. 

Tapi tak apa, di waktu-waktu seperti ini banyak inspirasi yang muncul salah satunya adalah segera merealisasikan ide untuk mendesain kamar menjadi ruang mimpi. Dan yang lebih nyata adalah beberapa menit sebelumnya telah bertemu dua pemikiran untuk saling terbuka dan itu pula lah yang sudah lama engkau tunggu. Sayang, engkau selalu menyimpan pertanyaan sehingga saya pun tak tahu detail apa yang engkau inginkan. Kalau bisa di ubah ya, jangan sungkan untuk bertanya apalagi takut salah. 

Baiklah malam ini pertanyaanmu sudah terjawab kan? Maaf ya kalau selama ini saya sering menyimpan masalah seorang diri dan tak menceritakan pada siapapun termasuk padamu. Bukan karena tidak menganggap engkau sebagai orang yang dekat denganku, tetapi lebih karena tidak ingin menambah beban pikiranmu. Apalagi saat engkau sedang bercerita tentang masalahmu, bagaimana mungkin saya bisa menyemangati kalau saya saja terlihat lemah. Karena itu lah saya tidak pernah bercerita detail walau kadang rasanya ingin bercerita mencoba berbagi apa yang saya rasakan. Maaf ya. 

Tetapi baiklah karena ternyata engkau juga sebenarnya ingin saya bercerita, maka akan saya mencobanya. Semoga kita benar-benar bisa saling menguatkan dan menyemangati seperti komitmen awal kita dulu. Terima kasih atas kepercayaanmu, maaf juga jika mungkin terkadang apa yang ku nasehatkan membuatmu bosan bahkan hambar. Semoga kedepan tidak lagi.

Pringamba, 5 Desember 2016 03:27 WIB
Mad Solihin

Mendaftar sebagai Pengajar Muda XIV

00:03:00 Add Comment


Sumber : indonesiamengajar (dot) org

Malam ini setelah lama berkutat dengan form aplikasi pendaftaran Indonesia Mengajar sebagai Pengajar Muda XIV, mulai dari data diri sampai essay yang cukup menguras pikiran akhirnya selesai juga. Dan malam ini saya pun mengirim aplikasi yang telah saya isi tersebut, mencoba peruntungan semoga bisa ikut berproses sebagai Pengajar Muda. Ikut menyalakan lilin sebagai solusi untuk berkontribusi nyata untuk kemajuan pendidikan Indonesia.

Semoga saja bisa diterima dan menjadikan wasilah sebagai wadah penggemblengan dan peningkatan kualitas diri. Aamiin

Banjarnegara, 5 Desember 2016 23:55 WIB

Konsep Manusia sebagai Khalifah

15:57:00 Add Comment
Cak Nun


Malam ini ketika melihat acara Kenduri Cinta di AswajaTV yang diisi oleh Cak Nun saya mendengar tentang ayat “Penciptaan Manusia sebagai Khalifah di Bumi”. Surat Keputusan atau SK ketika nabi Adam diciptakan sebagai khalifah oleh Allah itu di bumi, kenapa Nabi Adam di tempatkan Surga? 

Maka skenario Allah melibatkan mahluk yang bernama Iblis untuk menggoda Adam memakan buah Khuldi sebagaimana yang sering kita dengar. Pertanyaannya, benarkah bahwa mahluk bernama Iblis itu berani sama Allah? Padahal Allah sendiri yang menciptakan?

Kemudian tentang buah khuldi. Adakah di surga ada buah yang hina, bahkan haram untuk dimakan sehingga karena memakannya nabi Adam lantas di hukum dan diturunkan ke bumi? 


Senin, 29 November 2016

Galau Pasca Kampus

11:43:00 Add Comment
Saat Proses Skripsi
Sudah tiga bulan pasca saya wisuda, namun belum satu pun surat lamaran kerja yang saya buat dan saya kirim ke instasi sekolah atau perusahaan. Entah lah, ada rasa belum mantap jika harus kerja menetap lantaran masih ingin bisa leluasa pergi ke sana kemari untuk mencari pengalaman tanpa harus meninggalkan kewajiban, karena dalam angan saya sekarang jika sudah mengajar misal, maka betapa saya dhalim jika sering meninggalkan siswa dan mereka akan berujar “Jam pelajaran hari ini kosong, gurunya tidak berangkat”. Saya tidak ingin seperti itu. Bahkan jika ada rezeki pengin bisa kursus Bahasa Inggris di Pare Kediri untuk mengejar Toefl dan berburu beasiswa LPDB, syukur-syukur bisa kuliah S2 di luar negeri. 

Sebenarnya kalau kerja saya sudah menjadi reporter di Majalah Bintang Cendekia tidak lama setelah saya wisuda, hanya saja setelah saya kehilangan hp android Oppo sampai sekarang belum ada kontak lagi karena biasanya kami berkomunikasi lewat WA. Pernah saya menginfromasikan kepada Mba Novi selaku redaktur pelaksana lewat email perihal hp saya yang hilang dan jika ada kepentingan supaya menghubungi nomor sementara yang saya tinggalkan di email, namun entah masih jalan atau tidak, atau mungkin sudah mendapat reporter baru sehingga tak menghubungi saya. Entahlah, hanya saja saya berharap jika ada tulisan saya yang nantinya masuk cetak saya bisa mendapatkan majalahnya dan mendapat kejelasan status, masih memerlukan bantuan saya sebagai reporter atau tidak. 

Perihal kerja, saya juga akan menghitungnya setelah Konfercab pada tanggal 8-9 Oktober 2016 lalu. Pasalnya setelah wisuda saya harus mengurusi bahkan sampai hari ini masih belum selesai soal kekurangan dan masih punya tanggungan. Jadi jika dihitung baru sekitar satu bulan setengah saya benar-benar santai (mungkin, hanya perkiraan subjektif penulis saja). Dan yang membuat  saya santai juga bukan tanpa alasan, pasalnya ada tawaran untuk menjadi full timer di LP Ma’arif Banjarnegara. Karena saya sudah meng’iya’kan dan menyatakan kesediaannya, saya takut kalau melamar di tempat baru maka menghianati kepercayaan dari Pak Hendro. Selain karena saya kira, kalau menjadi full timer saya akan bisa berlatih mandiri sekaligus punya banyak waktu luang untuk merencanakan masa depan.

Galau kah saya? Tentu perasaan itu ada. Namun yang membuat saya galau bukan perihal kerja dimananya, tetapi lebih ke ucapan ibu saya supaya mendaftar mencari peruntungan sekaligus pertanyaan orang desa yang masih berpikiran bahwa setelah kuliah maka harus langsung kerja. Itu lah beban moral sebagai orang desa kuliah yang menjadi sarjana. Karena pemikiran mereka masih menganut paham “Kenapa sekolah duwur-suwur jika akhirnya menganggur?”

Untuk mengobati pertanyaan itu saya berprinsip “Yang penting saya tidak merugikan orang lain. Bagaimanapun keadaan saya sekarang toh saya meminta uang kepada orang tua saya. Tetannga yang berkomentar, mereka sama sekali tak pernah membiayai saya dan saya pun tak membuat mereka susah hidupnya.” Dan saya percaya bahwa suatu saat nanti saya bisa membawa kemanfaatan untuk orang lain, ikut memajukan masyarakat desa dan terutama membantu meringankan beban ibu dan bapak. Saya optimis untuk itu. So, hari esok masih panjang dan sebagai lelaki, umur saya sekarang masih tahap untuk terus menggembleng diri supaya benar-benar menjadi pribadi yang berkualitas. 

Pringamba, 28 November 2016 14:49 WIB
Mad Solihin

Tentang Penulis

02:05:00 4 Comments

Lokasi : Puncak Sindoro

Mad Solihin itulah nama pemberian orang tua saya dulu, 7 hari pasca tanggal 28 Januari 1994 di Banjarnegara, tepatnya di Desa Pringamba Rt 006 Rw I, Kecamatan Sigaluh, sebagai harga paling berharga sekaligus doa buat penulis supaya menjadi anak yang sholih. Aamiin

Di usia 7 tahun langsung belajar di SDN 1 Pringamba tanpa PAUD dan TK (Karena dulu belum ada). Selepas SD langsung kabur dari desa, mencoba hidup mandiri di MTs Walisongo Brayut Sigaluh sambil belajar membaca Al-Qur’an di Pondok Pesantren Miftahussholihin di bawah asuhan Romo KH. Ahmad Ngisom Al-Hafidz sampai jenjang SLTA yang masih satu yayasan, MA Walisongo Brayut Sigaluh.

Karena masih merasa bodoh dan alhamdulillah mendapat doa restu serta dukungan dari orang tua, akhirnya berkesempatan mencicipi jadi mahasiswa Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ) Jawa Tengah di Wonosobo, lebih tepatnya di Desa Kalibeber. Pernah juga tinggal dan ngangsu kaweruh di Pondok Pesantren Al-Asy’ariyyah selama satu semester (semester 4).

Sebagai mahasiswa yang tertarik dalam berbagai kegiatan di luar kelas akhirnya saya bergabung di BEM FITK sebagai sekretaris II dan HMP PAI sebagai sekjend. Juga aktif di organisasi luar kampus seperti PC IPNU Banjarnegara sebagai Ketua periode 2014-2016 dan PN Indonesian Youth Dream.

Menjadi sosok yang suka dengan dunia tulis menulis dan mengoleksi buku. Punya mimpi untuk menerbitkan buku dan bisa kuliah di luar negeri. Tertantang untuk traveling keliling Indonesia dan keliling dunia sambil mengembangkan bakat dalam bidang kepenulisan serta menyebarkan virus positif dan menginspirasi melalui tulisan.


Penulis bisa dihubungi melalui alamat surel : madsolihin95@gmail.com atau ID Akun Sosmed : Line – Twitter – Istagram : @mad_solihin dan Fb Mad solihin. 

Pendidikan Kasat Mata

23:45:00 Add Comment
Ilustrasi
Enam juta rupiah, bukan uang yang sedikit untuk posisi saya saat ini. Tanggungan sisa kegiatan konfercab yang mau gak mau saya harus menjadi buronan sungguh menghilangkan nafsu makan. Konfercab yang seharusnya bisa membuat saya bernafas lega ternyata tidak, atau mungkin ini bagian skenario Tuhan dalam mendidik saya supaya menjadi orang yang tangguh dan tidak kagetan. Khusnudzon saja begitu. Bukankah setiap masalah Allah selalu menyediakan paket solusinya?

Masalah adalah alat penggenjot paling ampuh agar manusia memaksimalkan kemampuan, begitulah pikir saya atas hasil pengalaman yang pernah saya alami. Masalah membuat kita berpikir untuk menembus batas, menerobos sekat-sekat yang terlihat tidak mungkin. Perihal hutang sebenarnya bukan hal yang baru karena saya pun pernah mengalami sebelumnya. Kasusnya hampir sama, kelebihan kaos dan peserta yang tidak maksimal. Aggggrrhhh ... Sungguh menyiksa pikiran, tetapi bukankah segala sesuatu itu tidak gratis?

Menjadi orang yang paham tentu tidak bisa diperoleh hanya dengan tidur dan bermain. Harus ada pengorbanan yang dilakukan. Dan enam juta mungkin saja harga yang harus saya bayar atas pengalaman berharga yang saya dapat. Lelah, kesal, suka, tawa dan berbagai parnak-pernik pembelajaran baru adalah sesuatu yang harus saya bayar. Maka kenapa harus sedih? Dimana saya dapat membeli pengalaman jika tidak pernah melakukan kegiatan? Masalah masih banyak kekurangan dan kesalahan itu adalah hal yang wajar namanya saja sedang proses belajar. Proses ini pula lah pendidikan sesungguhnya, pendidikan kasat mata yang materinya langsung mengena tanpa disadari.

Percayalah, bahwa segala sesuatu itu pasti ada hikmahnya. Pengalaman bagi kader-kader baru sebagai generasi penerus estafet kepemimpinan pasti ada. Dari kegiatan yang menyisakan hutang tersebut juga memberi kesan tersendiri setidaknya generasi pasca saya sudah lebih berpengalaman dan tidak mengulangi apa yang saya lakukan. Maka sia-sia kah pengorbanan kemarin? Tidak. Saya meyakini bahwa ada manfaat meski harus menjadi tumbal.

Maka nikmat Tuhan-Mu yang manakah yang engkau dustakan?


Banjarnegara, 25 Oktober 2016

Teman Lama

15:00:00 Add Comment
Ilustrasi
Malam itu suasana berbeda. Di sebuah cafe yang biasa buat nongkrong untuk sekedar melepas penat dan mencari inspirasi untuk menulis, Riski tak duduk sendiri seperti biasa. Ada sosok perempuan yang menemaninya. Dari gaya percakapan keduanya terlihat mereka adalah orang yang sudah lama kenal, tepatnya teman lama. Pertemuan itu pun tak sengaja, Siti Ma’rifah perempuan yang kini sedang menyelesaikan studinya di Amsterdam, Belanda sedang pulang ke Indonesia. Setelah lama tak ada komunikasi tetiba saja muncul pesan lewat inbox yang mengabarkan kepulangannya. Rizki yang kebetulan sedang online langsung membalas dan mengajaknya untuk bertemu yang diiyakan oleh Rifa, panggilan akrab teman lamanya itu. Pucuk di cinta ulampun tiba. Begitulah pekik Rizki dalam hati. Keinginan untuk bisa kuliah S2 di luar negeri yang sempat redup setidaknya bisa di cas dan kembali membara.

“Sibuk apa sekarang?” tanya Rifa setelah bertukar kabar. “Katanya baru wisuda S1. Selamat ya. Semoga ilmunya berkah. Lanjut S2 atau langsung kerja?” tanyanya lagi.

“Aamiin. Terima kasih ya doanya. Ini bantu orang tua di rumah, pengin langsung lanjut S2 cuma kalau mengandalkan orang tua tak mungkin. Kasihan mereka, rencana berhenti satu tahun dulu buat mencari peluang beasiswa, syukur bisa di luar negeri. Aku iri sama kamu,” jawab Rizki.

“Hahaha, iyalah secara aku kan saingan terberatmu yang tak bisa dikalahkan,” balas Rifa sambil tertawa.

Percakapan malam itu pun banyak berisi tentang cita-cita dan rencana kedepan. Rifa, perempuan beruntung yang dulu pernah satu almamater di MTs Walisongo setelah lulus langsung melanjutkan ke salah satu SMA di Yogyakarta. Selain karena keluarganya yang kaya, ia pun dibekali dengan kemampuan otak yang encer. Pantas saja ia sering mengikuti event-event bergengsi mewakili sekolahnya. Itu pula yang membuatnya menjadi pribadi yang terbuka dan berpikiran maju. Sehingga menjelang kelulusan, ia pun mengabarkan akan kuliah di Belanda yang mendapat sambutan hangat dari pihak sekolah maupun keluarga.

Kesukaannya dalam mapel bahasa Inggris ternyata berbuah manis. Beasiswa LPDB yang mensyaratkan skor Toefl dan IELTS tak menjadi halangan baginya. Selain karena sering diskusi dengan bahasa Inggris di extrakulikuler “English Study Club” juga rajin menghafal 10 kosataka per hari. Maka ia pun lulus tes dan berkesempatan kuliah di luar negeri gratis. Pasca itulah keduanya menjadi hilang kontak.

“Muhammad Abdau Rizki, reporter Majalah Bintang Cendekia,” eja Rifa membaca kartu nama Rizki yang tergelatak di meja. “Cie udah jadi wartawan ya sekarang.” Canda Rifa sambil memasang muka senyum.

“Hehe ... Iya baru satu bulan buat mengasah bakat menulis,” jawab Rizki sambil merebut kartunya.

Keasyikan ngobrol membuat keduanya lupa bahwa waktu sudah cukup malam. Untunglah dia sudah ijin dengan orang tuanya sehingga tidak terlalu khawatir bahkan ayahnya meminta Rizki bertandang ke rumahnya.

Pertemuan yang singkat itu pun Rizki manfaatkan untuk bertanya-tanya tentang kuliah di luar negeri. Cerita-cerita pengalaman kuliahnya di Belanda menjadi magnet tersendiri buat Rizki. Keinginan menembus batas negara semakin kuat terpatri dalam hatinya. Ia ingin membuktikan bahwa kekuatan mimpi memang benar-benar nyata. Dan dia ingin membuktikannya.

“Hey ... Aku ingin menikah,” celetuk Rifa memasang muka serius.

“Yang benar, kapan? Sama siapa?” tanya Rizki memberondong kaget.

Meminta persetujuan orang tua, demikianlah salah satu alasan kepulangannya ke Indonesia. Jika orang tuanya setuju maka dua hari lagi keluarga calonnya akan bertandang ke rumah, melamar. Rizki, teman akrab yang dianggap sudah hampir seperti kakaknya sendiri adalah orang yang pertama kali dihubunginya. Ia meminta bantuan untuk mengurus undangan kepada teman-temannya karena setelah lamaran ia berencana langsung balik ke Belanda untuk mengurus wisudanya di kampus. Baru setelah selesai langsung kembali ke Indonesia lagi untuk melangsungkan pernikahannya dengan Muhammad Naufal, kakak kelas yang dulu banyak membantu awal-awal perkuliahan di Belanda.

“Okee .. Beres pokoknya. Serahkan saja padaku,” jawab Rizki mengiyakan.

Banjarnegara, 23 Oktober 2016

Dua Tahun yang Penuh dengan Ilmu dan Pengalaman

18:58:00 2 Comments
Peserta Konfercab setelah selesai Pemilihan Ketua IPNU
Rentang waktu dari 20 April 2014 – 9 Oktober 2016, 2 Tahun 5 Bulan 20 Hari. Selama itulah saya menjadi ketua PC IPNU Banjarnegara menggantikan rekan Mizanto, memikul amanah Konferensi Cabang IPNU Banjarnegara yang ke IX di Pondok Pesantren Al-Fatah. Di Konferensi Cabang (Konfercab) yang ke-X  tepatnya  di MTs Ma’arif Mandiraja itulah saya menyelesaikan amanah dan menyerahkan kepada rekan saya Eman Setiaji sebagai ketua terpilih. Alhamdulillah, lega rasanya dan ada rasa bangga setidaknya perjuangan berdarah selama dua tahun setengah tidaklah sia-sia.

Suka, duka, kesal, marah, bahagia, senyum, kumpul bareng sampai pada tataran makan nasi lauk kerupuk dicampur kecap dan saos pun pernah saya alami. Serius, Beneran saya gak bohong. Gak ada gunanya kan saya berbohong. Hhe Hanya sekedar untuk irit karena selama menjadi ketua masih bergantung kepada orang tua. Haha Namun satu hal yang pasti, selalu ada rezeki untuk menopang perjalanan menjadi ketua. Buktinya sampai saat ini saya masih dalam keadaan sehat wal afiat, bahkan bisa wisuda gelombang pertama mengalahkan mahasiswa lain yang tekun kuliah. Haha #Sedikit sombong gak papa kan? Meskipun aktifis, akademik juga tetap jalan. Hehe

Selama dua tahun setengah juga nyatanya bisa berkeliling, 20 kecamatan di Banjarnegara setidaknya pernah terjelajah, membuat berbagai kegiatan dan yang paling menyenangkan bisa kenal dengan orang-orang hebat mulai dari Ulama yang fokus pada pesantren sampai pada pejabat yang punya pengaruh sekaligus inspiratif. Intinya banyak ilmu dan pengalaman yang bisa saya dapat. #Gak nyesel deh IPNU-an. Malah bisa kenal dengan banyak orang baik lintas generasi mulai dari yang kecil, muda seumuran sampai yang tua atau pun lintas daerah mulai dari kecamatan, kabupaten sampai provinsi. Kalau anak IPNU sering bilang, itu namanya berkah.

Namun perlu digaris bawahi, bahwa kesuksesan tentu tidak lepas dari peran orang lain. Maka melalui tulisan ini saya ingin menyampaikan beribu terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak sehingga saya pun bisa menyelesaikan amanah ini sampai ke titik terakhir. Mulai dari mensupport sehingga saya bisa bangkit ketika dalam kondisi terpuruk dan hampir putus asa. Para pembina, pengurus PCNU, pengurus Muslimat, Fatayat, Ansor dan Bansernya serta kepada semua rekan/ita seperjuangan. Jazakumullah ahsalan jaza.

Kekhilafan, salah kata dan menyinggung perasaan juga menghiasi proses perjalanan di organisasi sehingga melalui tulisan ini juga saya ingin menyampaikan permohonan maaf yang setulus-tulusnya kepada semua pihak baik rekan seperjuangan maupun para sesepuh yang selama saya menjadi ketua merasa tersakiti. #Pliss forgive me .. tangan tertangkup.

Kepada rekan Eman Setiaji dan Rekanita Ruti Khasanah, masih banyak tugas yang perlu kalian teruskan. Selamat belajar dan belajar. Karena sejatinya ber-IPNU IPPNU-an adalah untuk belajar. Berlebih menjadi orang yang di depan, satu pesan yang saya kutip dari Rekan Mizanto, “Ngemong itu kudu sabar.” (Terjemahkan sendiri. Menjadi ketua harus bisa berpikir 5 langkah lebih maju dari yang dipimpin ... Haha) Karena setiap orang itu tidak sama dan tak bisa disamakan. Itu pula yang menjadi ladang belajar untuk menjadi orang yang sabar dan berlatih memahami karakter orang lain.


Banjarnegara, 21 Oktober 2016 18:37 WIB