Kalimat Sakti

06:33:00 Mad Solihin 0 Comments

Setelah beberapa bulan mengalami kevakuman, akhirnya di hari Senin, 09 November ini bertempat di rumah Restu, pengajian kelas yang agendanya rutin setiap bulan kembali lagi digalakkan. Meskipun terkesan sepele tetapi saya merasakan dampak yang cukup besar dari kegiatan ini. Mulai dari kekompakan, media untuk belajar mengetuk hati dan yang paling penting adalah mempererat jalianan tali silaturahim. Tahu dimana letak rumah teman kita bukan hanya sekedar tahu alamatnya saja, sehingga jikalau suatu saat nanti ingin mampir tak perlu susah lagi bertanya-tanya kepada orang lain.

Karena forumnya adalah pengajian maka disitu juga ada salah seorang yang khusus untuk mengisi mau’idhoh hasanah. Kali ini yang mengisi adalah Bapak Kyai Muhammad Amin Hidayat dari Sumberan.

Ada pesan yang begitu mengganjal untuk segera saya tulisakan. Pesan itu tentang empat hal yang selalu menjadi muqodimah dalam setiap penulisan kitab kuning yaitu Basmallah, Hamdalah, Sholawat dan Laahaula wala Quwata illa billah.

Ayat al-Qur’an yang berjumlah 6666 itu terkumpul dalam surat al-Fatihah. Dari surat al-Fatihah itu terkumpul dalam Basmallah. Dan dari Basmallah itu terkumpul di huruf ba. Dan huruf ba itu terkumpul di dalam titik. Karena dari titik itulah berbagai huruf yang berlanjut ke kalimat dan ayat terbentuk.

Ada sebuah hadits yang mengatakan bahwa segela sesuatu yang tanpa diawali dengan Basmallah maka akan terpotong berkahnya. Ya, karena sejatinya memang apapun yang kita lakukan seharusnya disandarkan kepada Allah, diniatkan sebagai ibadah sehingga bisa saja apa yang kita lakukan meskipun sepertinya terlihat sebagai amalan dunia tetapi punya nilai ibadah akherat. Bekerja misal, meskipun itu amalan dunia tetapi jika diniatkan untuk menafkahi keluarga bukankah itu termasuk amal akherat. Pun sebaliknya meskipun amalan yang kita lakukan terlihat seperti amalan akherat tetapi kita tidak mendapat apa-apa kecuali kesia-sian. Membaca Al-Qur’an misal, jika itu dilakukan hanya untuk pamer bacaan kepada orang yang ada disekitar kita, bukankah itu riya’ namanya.

Nah, agar apa yang kita lakukan senantiasa mendapat ridho dari Allah maka awalilah segala aktifitas dengan basmallah.

Kalimat kedua dalam muqodimah adalah Hamdallah. Kalimat ini adalah kalimat penutup setiap aktifias yang telah selesai kita kerjakan. Sebagai ungkapan rasa syukur.

Kalimat ketiga adalah sholawat. Saya kira tentang sholawat sudah banyak yang tahu, baik itu karena mendengar ceramah dari seorang kyai maupun hasil dari membaca buku. Yang jelas sholawat ini sangatlah besar manfaatnya, salah satunya adalah ketika kita berdo’a tanpa ada sholawat maka doa’ yang kita panjatkan menggantung di langit, belum sampai kepada Allah.

Kalimat keempat adalah Lahaula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adhim (Tidak ada daya kekuatan untuk menghidar maksiat dan untuk berbauat kebaikan kecuali kekuatan itu datan dari Allah yang Maha Luhur dan Agung). Kalimat ini sangatlah dalam maknanya. Kalimat yang berisi ungkapan bahwa manusia hanyalah boneka tanpa ada campur tangan dari kekuasaan Allah Swt. Bahwa segala kebaikan yang kita perbuat semata-mata hanya karena adanya kekuatan yang Allah berikan kepada kita sehingga sangatlah tidak pastas jika kita membanggakan diri apalagi sombong.

Selain empat hal tersebut, yang beliau sampaikan adalah tentang pentingnya sebuah dzikir. Karena dengan dzikir itulah kita bisa membaca situasi ataupun menjemput apa yang kita inginkan. Karena dzikir itulah yang menjadi kekuatan orang-orang ‘alim zaman dahulu. Sehingga apa yang keluar dalam pidato misal, itu lebih bertenaga dan lebih mengena.

***
Sebagaimana halnya manusia biasa yang punya sifat pelupa, maka tulisan ini adalah media untuk menjaga kelupaan itu. Pun demikian dengan isinya, susunan kosa kata yang masih jauh dari kata enak untuk dibaca, semoga tidak mengurangi inti pesan yang ingin saya sampaikan.


Banjarnegara, 10-11 Nevember 2015

You Might Also Like

0 comments: