Anak Muda (Harus) Berkarya

00:37:00 Add Comment
(Dari Kiri) Ma'ruf, Nazri, Ayu Pratiwi, Janu Muhammad, Hari Novar, Panitia
Terlalu lama mengendap dan menunda untuk menuliskannya saya khawatir akan hilang. Dan ketika hilang, sia-sia donk materi yang sudah saya dapat. Setidaknya motivasi yang pernah muncul waktu itu bisa menjadi semacam suntikan semangat agar kedepan menjadi lebih baik.

Anak Muda (Harus) Berkarya itulah tema pada Inspirational Session I pada acara Indonesian Youth Dream Camp 2015 dengan beberapa pemateri anak muda Inspiratif, yaitu Ayu Pratiwi Muyasaroh, Janu Muhammad, Hari Novar dan Nazri Afandi Pasaribu.

Dari session ini saya menangkap beberapa kata-kata yang cukup menginspirasi, tentu ini dari penangkapan atas apa yang saya dengar dan mungkin bebeda dengan teman-teman delegasi yang lain.

Ayu Pratiwi Muyasaroh
Dalam mengawali materi, Ayu menjelaskan bahwa keterbatasan itu dikarenakan faktor rasa takut atau kalau orang sering bilang selalu berada pada zona nyaman dan tidak mau out off the box.Dia juga menjelaskan bahwa kesuksesan itu tidak isntan tetapi butuh kesabaran serta ketekunan dalam mengusahakannya.

Selai itu, ia juga menyampaikan tentang sebuah hakekat sebuah karya jangan hanya karena ingin dipuji ataupun karena ingin mendapat penghargaan.

Janu Muhammad
Janu Muhammad adalah founder dari komunitas “Karung Goni Learning Center” atau Omah Baca Karung Goni. Apa itu Karung Goni Learning Center, silahkan googling sendiri ya. Hee

Sama seperti dengan Ayu, ia juga menyampiakan beberapa materi yang menurut saya cukup memotivasi, diantaranya adalah :

“Tidak menunggu perubahan tetapi ciptakanlah perubahan”

“Prestasi adalah kumpulan hal-hal kecil”

“Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi tetapi usaha yang kurang ditekuni. Tidak ada mimpi yang terlalu berlebihan tetapi usaha yang kurang dilebihkan.”

Pemuda asal Yogyakarta yang pernah singgah di beberapa negara di luar negeri (Australia, Belanda, Malaisya dan India) ini juga menyampaikan bahwa kekayaan terbesar sebuah bangsa adalah manusianya bukan sumber daya alamnya.

Nazri Afandi Pasaribu
Pemuda yang akrab dipanggil Fandi ini berasal dari Baros, Sumut. Dalam ceritanya, ia menyampaikan bahwa dibutuhkan sebuah perjuangan untuk ia bisa melanjutkan sekolah sampai perguruan tinggi.

Jangan menyerah. Itulah pesan yang digaungkan ketika itu. Pesan ini berkaitan dengan karyanya yang berupa Mobil Listrik via Android. Dalam percobaan yang dilakukan, ia mengalami kegagalan sampai 18 kali dan baru berhasil pada percobaan yang ke 19 kali. Tentang Mobil Listrik via Android ini silahkan googling sendiri ya. Ceritanya terlalu panjang sehinggga tak sempat saya catat semua J

Mengakhiri pembicaraan di session ini ia mengatakan bahwa “Kesempatan itu bukan ditunggu tetapi dibuat”.

Hari Novar
Hari Novar adalah pelopor dari berdirinya Indonesian Youth Eeducate & Sosial atau disingkat I-YES. Dia menceritakan bahwa kegiatan sebelumnya diawali dari Rumah Pintar atau Motor Pintar, yang mana kegitannya seperti Perpustakaan Keliling. Hanya saja ia menggunakan motor. Pun demikian, bahwa kegiatannya ini diawali dengan penuh perjuangan dan proses yang panjang hingga akhirnya pemerintahpun melirik apa yang dilakukannya.

Pesan yang saya tangkap dari penyampain yang ia berikan adalah “Hargailah proses”. Tak hanya itu, ia juga menjelaskan bahwa proses mengajar yang kebanyakan dilakukan oleh guru sekarang adalah menjadikan peserta didik obyek bukan subyek. Sehingga proses kreatif peserta didik tidak tergali.

***
Jadilah kepala jangan menjadi ekor. Jadilah pemimpin jangan hanya jadi pengikut. Itulah makna yang saya tangkap dari Session ini. Pembicara yang dihadirkan adalah para pemuda yang mempunyai jiwa seorang pelopor. Mereka tidak menunggu kesempatan tetapi menciptakan kesempatan. Mereka bukan lah pemuda yang banyak wacana tetapi pemuda yang mau beraksi, turun tangan dan mengambil inisiatif bergerak untuk menciptakan sebuah perubahan.
Irwan, Penulis, Nazri dan Jhon Mayer

Banjarnegara, 29 November 2015 00:27 WIB

Stadium General & Launching Indonesian Youth Dream

14:17:00 Add Comment
Stadium Genaral & Launching Indonesian Youth Dream
Jum’at, 20 November 2015 sesuai dengan intruksi yang diberikan oleh panitia, para delegasi Indonesian Youth Dream harus berkumpul di Titik Nol Kilometer Yogyakarta. Pagi itu saya datang (dari kosnya Mas Amin) di antar oleh Sofi, keponakannya Mas Amin dan sampai sekitar pukul 6 pagi lebih 10 menit. Ternyata baru beberapa delegasi yang sampai dan kebanyakan cewek. Setelah berkenalan untuk sekedar menyapa saya pun berkenalan dengan Yaya (Nur Hidayatullah) dan Bang Willy.

Satu persatu delegasi pun berdatangan. Ada Mas Candra, Mas Emen, Mas Dhian dan beberapa delegasi lain yang belum sempat berkenalan. Sekitar setengah jam berada di Titik Nol dan delegasi yang berdatangan semakin bertambah, salah satu panitia kalau gak salah Mas Ma’ruf mendatangi kami. Seusai menyapa satu persatu delegasi, Mas Ma’ruf menggiring kami menuju ke Korem 072/Pamungkas Yogyakarta. Di situlah kami berkumpul dan saling berkenalan mencari teman satu kelompok sesuai dengan yang ada di file Catatan Delegasi IYDCamp 2015.
Kelompok VI
Diversix, itulah nama kelompok VI yang difasilitatori oleh Mas Machfud Saidi yang berangggotakan Dian, Nurlaila, Gheby, Istifatimah, Lina Suka, Muchtar Haryanto, Nur Oktameliyana, Nanda, Muhammad Hamzah, Edi dan penulis. 
Kelompok Diversix
Latihan PBB. Itulah kegiatan awal kami di hari pertama yang dipimpin oleh TNI. Kegiatan yang di roundown acara sebenarnya tidak ada. Tetapi tetap saja kami mengikuti instruksi dari panitia, berbaris seperti mau upacara. Bedanya hanya dalam hal pakaian, delegasi menggunakan baju batik. Mungkin untuk menumbuhkan cinta badaya sendiri kali ya.

Materi PBB yang disampaikan adalah materi standar mulai dari sikap Siap, Istirahat, Lencang Kanan, Setengah Lencang Kanan,  Hadap Kanan, Hadap Kiri dan Balik Kanan.

Selesai materi PBB kami diarahkan menuju aula Korem 072/Pamungkas Yogyakarta untuk mengikuti acara Stadium General dan Launching Indonesian Youth Dream Camp 2015 dengan tema “Dream, You and Our Naton”.
***
Malik Khidzir
Malik Khidzir itulah nama pembicara pertama dalam acara Stadium General. Peraih Penghargaan Pemuda Pelopor Internasional Kemenpora RI 2015 ini ternyata seorang santri. Mahasiswa alumni UGM Jurusan Elektronika dan Instrumentasi juga pernah meraih medali emas dalam kontes dunia di Trinity College Fire Fighting and Home Robot Contest Hortford Connecticut, USA 2013. Katanya, robot yang ia ciptakan adalah robot pemadam kebakaran dimana mereka bisa mendeteksi lokasi dan kembali ke tempat asal. 
Saat Mas Malik Presentasi (Dokpri)
Selain itu dalam kontes Natcar Robogames di California, Amerika Serikat (AS) pada 2013 juga mendapatkan dua medali. Karena prestasi itu ia dipilih oleh Kementerian Luar Negeri sebagai Outstanding Student of the World 2014 di Kanada. Di sana dia mewakili Indonesia dengan prestasinya di bidang robot. (www.brilio.net)

Tetapi tahukah kalian bahwa prestasi yang mas Malik dapatkan adalah berkat kerja keras yang ia laukukan. Karena dia adalah seorang santri maka ia pun melakukan penelitian dan praktek setelah mengaji. Dan yang membuat saya cukup tercengang adalah saat ia menyebutkan bahwa selama dua tahun ia menghabiskan waktu di lab dari jam 9 malam sampai pukul 4 pagi. Bayangkan, dua tahun tanpa berhenti. Itu menandakan bahwa segala sesuatu itu tidaklah instan. Butuh proses dan waktu yang panjang.

Dari beberapa materi yang beliau sampaikan ada beberapa point yang saya tangkap :

(1) Tanamkan semangat. Nah untuk menjaganya agar tidak hilang maka perbaikilah niat yang tulus bukan karena tahta, harta ataupun wanita. Niatkan untuk membahagiakan orang tua.

(2) Percaya Diri. Bukankah Tuhan juga percaya dengan kalian? Maka kenapa kalian tidak percaya dengan diri kalian?

(3) Bangun Mimpi, Aksi, Istiqomah dan Tawakal. Setalah punya mimpi maka wujudkan dengan aksi nyata yang berupa berusaha dan dilakukan secara istiqomah. Ketika semua telah dilakukan barulaah untuk masalah hasil di serahkan kepada Allah Swt.

(4) Kenali potensi kalian. Bagimana caranya? Menurut beliau, ketika engkau mengerjakan sesuatu dalam waktu yang lama tanpa merasa lelah, itulah potensi kalian. Seperti yang dilakukan oleh Mas Malik yang melakukan penelitian dan percobaan tentang robot dari pukul 21.00 – 04.00 WIB. Maka itulah potensi yang dimiliki oleh Mas Malik.

Terakhir ia berpesan jika kalian tidak tahan lelahnya belajar, maka kalian akan menanggung perihnya kebodohan dimasa depan. 
Pemberian Kenang-Kenangan
Hery Zudianto, SE. MM. AK (Walikota Yogyakarta 2001-2011)
Pemimpin itu bukan masalah jabatan, tetapi seberapa berpengaruh dan menginspirasi untuk orang lain serta lingkungan. Ya, itulah definisi pemimpin menurut beliau. Tetapi ia juga menyampaikan ketika mempunyai kesempatan untuk menduduki sebuah jabatan maka raihlah, karena dengan jabatan akan lebih mempunyai pengaruh dan kekuasaan. Dan tentunya bisa melakukan kebaikan yang lebih besar dampaknya. 
Pak Hery Zudianto (Dokpri)
Orang yang sekarang menjabat menjadi ketua RW ini ternyta sudah punya impian untuk menjadi pembisnis sejak SMP. Berawal dari jualan petasan (mercon) di Malioboro ataupun jualan buku. Hingga akhirnya bisa mendirikan Wisma Batik “Margaria” Malioboro.

Beberapa pesan yang ia sampaikan terkait kepemimpinan adalah :

(1) Jangan takut mengambil keputusan. Karena keputusan tidak ada yang sempurna dan benar, hanya mendekati benar sehingga janganlah takut untuk mengambil keputusan.

(2) Menjadi pendengar yang baik. Ini adalah hal yang mendukung untuk pengambilan keputusan. Dalam hal ini, Pak Hery menggunakan berbagai media sosial baik Facebook, Twitter ataupun radio untuk menyapa dan mendengar keluh kesah masyarakatnya.

(3) Jadilah orang yang rendah hati, open mind dan positif thinking.

(4) Berdiskusilah dengan orang yang bertentangan dengan kita. 
Pemberian Kenang-Kenangan
***

Selesai acara Stadium Genaral saya bersama dengan Hamzah ikut gerombolan anak-anak yang berebut untuk berfoto dengan Mas Malik. Dan alhamdulillah, bisa juga berfoto dengan beliau. 
Mas Hamzah, Mas Malik dan Penulis (Dokpri)

Banjarnegara, 25 November 2015
Networking

Networking

21:28:00 Add Comment
Lagi-lagi saya harus mengakui bahwa saya membutuhkan orang lain dan tak mungkin bisa hidup sendiri. Networking atau hubungan pertemanan adalah salah satu kunci utamanya. Seperti halnya minggu sore seusai acara Indonesian Youth Dream Camp 2015 saya memutuskan untuk pamit ke Mas Amin melalui sms. Karena ia sedang ada acara, maka saya hanya singggah untuk sholat maghrib dan mengambil sepeda motor yang saya titipkan di tempat kosnya. Terima kasih mas Amin atas kebaikannya, semoga Allah membalasnya dengan kebaikan yang berlipat dan maaf tidak sempat ketemu. Lain waktu semoga saya bisa membalas kebaikanmu kawan. J

Seusai sholat maghrib sayapun meluncur ke tempat kosnya teman di Krapyak. Sayang sampai disana ternyata kos nya di pakai. Karena tak enak hati, saya pun pergi ke warung makan. Di situ saya bingung kemana harus pergi apalagi dengan barang bawaan yang lumayan berat. Akh ... tidak mungkin kan kembali ke kos nya Mas Amin. Udah pamit masa kembali lagi.

Sambil menikmati nasi goreng saya pun terus mencari siapa gerangan yang bisa saya mintai bantuan. Mba’ Fati, itulah yang terpikir olehku. Dia adalah kakak kelas sewaktu saya masih di MA dulu. Setelah sms dan memastikan bahwa ia sedang berada di Jogja, maka saya pun mengutarakan maksud ku untuk menitipkan tas dan akan saya ambil besok pagi. Alhamdulillah ia menyambutnya dengan sukarela. Plong rasanya. Masalah tidur dimana, itu urusan nanti yang penting bisa keliling menikmati malam di Jogja.

Selesai membayar nasi goreng dan es teh ke pemilik warung, saya langsung meluncur ke alamat kos nya Mba’ Fati sesuai petunjuk yang ia berikan melalui sms. Beruntung karena tidak terlalu jauh dari kampus UIN Suka sehingga saya tak begitu sulit untuk mencarinya.

Ketika bertemu dengannya, lagi-lagi Tuhan selalu punya cara untuk membuat hamba-Nya tersenyum. Ternyata Alwi Ichsan, adiknya sedang berada di kosnya. Ia baru datang tadi sore dan katanya mau berangkat ke pondok besok. Rencana awal yang hanya ingin menitipkan tas pun akhirnya berubah. Karena pernah satu pondok, pertemuan kami pun langsung cair laiknya reoni tak disengaja.

Menghabiskan malam di kos rasanya terlalu sia-sia. Maka sayapun mengajak Alwi untuk menikmati suasana malam Jogja di Malioboro. Ketika sedang berjalan, tak sengaja kami menemukan toko loak buku. Beberapa judul buku langsung mencuri perhatian, mulai dari novel karya Tere Liye, buku karya Tan Malaka, Praodya Ananta Toer dan beberpa karya penulis yang namanya sudah akrab ditelinga saya. Naluri untuk membeli buku pun tak tertahankan, apalagi ketika mendengar harga Novel Rindu karya Tere Liye hanya Rp. 25.000,-. Selisih jauh dengan harga saat pameren di Perpusda. Setelah memilih dan memilah akhirnya saya membeli dua buku, Madilognya Tan Malaka dan Novel Rindu karya Tere Liye.

Tepat pukul 23.30 WIB kami memutuskan untuk kembali. Bukan ke kos nya mba’ Fati tetapi ke kos nya Bang Usman adiknya mas Uki (Calonnya Mba Fati). Rencana awal untuk menjadi gelandangan pun gagal karena ada tempat untuk menumpang tidur, setidaknya itu menjadi referensi ketika suatu saat pergi ke Jogja dan bingung untuk tidur.

Syukur lah. Berkat pertemanan saya bisa tidur di tempat yang cukup nyaman. J So, banyak-banyaklah menjalin pertemanan karena itu sangatlah membantu terutama ketika dalam keadaan kepepet. Heee Terima kasih Mba' Fati, Alwi dan Bang Usaman atas bantuannya. Jazakallah khoirul jaza’.

Banjarnegara, 24 November 2015
Manfaat Banyak Teman

Manfaat Banyak Teman

18:27:00 2 Comments
Pergi ke jogja sebenarnya bukan untuk kali pertamanya, namun untuk urusan jalan, kesasar seolah menjadi kebiasaan yang saat ini sulit untuk saya hindari. Bukan kesasar si sebenarnya, lebih tepatnya belum hafal jalan sehingga ketika mengikuti insting atau naluri arah yang harus dituju, akibatnya saya harus mengulangi jalan yang sama seperti berputar di tempat.

Seperti hari ini, saya menghabiskan waktu sampai sore untuk sekedar mengikuti jalan yang ada. Kemana naluri memberi arah, itulah yang saya ikuti. Lumayan untuk sekedar perangsang yang suatu saat nanti saya melewati jalan itu lagi, saya sudah sedikit punya gambaran kemana arah yang harus dituju. Manfaatkah .? Kalau dilihat secara kasat mata mungkin terkesan sia-sia, banyangkan saja berjalan tanpa arah tak tahu mana tempat yang harus dituju, menghabiskan bensin dan tentunya rasa lelah gara-gara membawa beban yang lumayan berat.

Tetapi saya meyakini bahwa tidak ada yang sia-sia. Meskipun terlihat sepela tetapi cukuplah menjadi pengalaman yang berharga. Bukankah pengalaman adalah guru terbaik?

Perjalanan saya kali ini dalam rangka untuk mengikuti acara Indonesian Youth Dream. Karena jadwal mulainya adalah hari Jum’at pagi dengan start kumpul di Titik Non Kilometer Yogyakarta pukul 06.00 WIB maka saya pun berangkat hari Kamis. Mengukti instruksi dari panitia. Malamnya nginep di tempat teman sekaligus hari Jum’atnya minta bantuan untuk di anter ke Titik Non Kilometer Yogyakarta, plus titip motor juga. Hee

Di saat-saat seperti ini lah sebuah pertemanan menjadi hal yang sangat dibutuhkan. Tidak lain karena jika tidak punya kenalan, bingung mau nginep dimana. Nginep di Masjid ? Akh .. tidurnya tidak nyaman. Selain karena bukan tempat untuk tidur, was-was juga dengan barang bawaan takut ada yang jahil. Maka, menjalin pertemanan sebanyak-banyaknya adalah hal yang sangat bermanfaat. Setidaknya ketika kita berpergian ada tempat yang bisa kita singgahi. J

Mas Amin Maghfuri, itulah nama teman yang akan aku tumpangi. Sayangnya ia bekerja dan baru selesai pukul 7 malam. Padahal saya sampai di Yogja sekitar pukul 12.00 WB. Bingung deh mau kemana dulu hingga akhirnya saya memutuskan untuk berkeliling menyusuri setiap gang yang ada. Berjalan ke sana kemari hingga sekitar pukul setengah lima badan rasanya sudah tak kuat lagi. maka sayapun memutuskan untuk singgah di tempat kos nya Kang Mizan di Krapyak. Untunglah kamarnya bisa saya buka setelah menelfon beliau karena kuncinya antik, bukan pake gembok tetapi pakai tali rafia. Alhamdulillah lega rasanya. Setelah seharian bingung mau istirahat dimana, akhirnya dapat tempat untuk istirhat juga. Meluruskan badan dan bermain tust keyboard. J Terima kasih Kang Mizan. Jazakallah, terima kasih atas tumpangannya. Walau sebentar tetapi sangat membantu. J

Untung punya banyak teman. Kalau tidak, bisa-bisa berjalan kesana-kemari seperti orang hilang.


Krapyak Yogyakarta, 19 November 2015
Dua Blogger yang Menginspirasiku

Dua Blogger yang Menginspirasiku

02:08:00 Add Comment
Waktu sudah menunjukan pukul satu dini hari, tetapi mataku belum juga mau terpejam. Banyak hal yang terpikir sampai-sampai aku sendiri bingung dengan apa yang aku pikirkan. Akh .. biarlah malam ini aku habiskan untuk sekedar melakukan hal yang mungkin sepele. Ngeprint proposal buat persiapan konggres ipnu dengan ditemani suara musik yang mengalun begitu nyaring nan merdu. Ya, suaranya begitu nyaring karena berpadu dengan keheningan malam.

Aku ingin menulis. Itu juga salah satu yang mengisi otak ku. Apa yang ingin aku tulis? Entahlah, biarkan jemariku saja yang menuntunnya.

Saat ini aku menyimpan energi positif yang memaksaku untuk selalu meng-update tulisan di blog. Kenapa ? Entahlah. Mungkin efek dari sering menjejaki blog-blog milik seseorang yang aku pun tak tahu bagaimana rupa aslinya. Foto pemilik blog mungkin ada, tetapi tetap saja aku tak kenal dengan mereka. Atau kalaupun kenal itu hanya sebatas di dunia maya. Di dunia nyata ? Hmm ... semoga saja aku bisa bertemu dengan mereka.

Ada dua nama yang sering saya buat rujukan tulisan, Imam Rahmanto dan Yusran Darmawan. Dua blogger ini lah yang cukup menginspirasi ku, tempat dimana aku sering mampir berharap ada tulisan terbaru yang bisa aku baca.

Imam Rahmanto. Aku suka dengan gaya tulisannya. Santai tetapi renyah dan gurih jika membacanya. Banyak bercerita tentang kejadian yang ada disekitarnya. Akupun menikmatinya, sebagaimana ia menikmati minuman kesukaannya, Coppuccino. J

Yusran Darmawan. Berbeda dengan mas Imam, gaya tulisan dari mas Yusran ini (meminjam istilah teman) agak kaku seperti bahasa artikel. Tetapi aku pun menikmatinya, setidaknya aku mendapat banyak ilmu baru atas tulisan yang ia posting. Selain itu aku pun tahu bahwa ternyata tulisan-tulisan yang kita buat akan berdampak kepada diri kita sendiri. Sebagaimana dalam tulisannya, Mas Yusran pernah menceritakan pengalaman diundang untuk menjadi pemateri disebabkan pihak yang mengundang sering membaca tulisan-tulisannya di blog.

Dari dua blogger itu pula aku banyak menjajaki blog-blog lain yang link-nya terpasang di blog mereka. Tentang bagiamana tampilan blog yang menarik, tentang bagaiamana agar tulisan enak dibaca yang salah satunya adalah di beri spasi. Agar pembaca bisa mengambil nafas ketika selesai membaca satu paragraf sebelum melanjutkan ke paragraf berikutnya.

Terima kasih atas tulisan-tulisannya, semoga aku bisa mengikuti jejak kalian. J

***
Untuk bisa menghasilkan tulisan yang inspiratif dan hidup tentu butuh latihan. Bukan hanya satu atau dua kali, tetapi berkali-kali. Ungkapan “bisa karena terbiasa” aku kira ada benarnya. Bukankah seperti itu alam mengajari kita. Ada pengulangan dan proses istiqomah.

Pun demikian, jika tulisanku hari ini masih acak-acakan dan membuat orang yang membacanya bosan, aku pun yakin suatu saat nanti tulisanku bisa menginspirasi orang lain. Aku yakin itu. Hanya saja aku pun harus sedikit berjuang melebihi orang lain. Karena untuk bisa mencapai sesuatu selalu dibutuhkan sebuah usaha. 

Pukul 01.50 WIB. Sudah semakin pagi ternyata. Sudahlah aku akhiri saja tulisanku. Besok ada jadwal kuliah dan semoga saja aku bisa bertemu dengan yang namanya pagi. Bisa melihat matahari memperlihatkan mukanya dengan malu-malu. J

Banjarnegara, 17 November 2015

Tidak Ada yang Instan Kawan

20:53:00 Add Comment
Sumber : Dari Pantia IYD Camp 2015
Terpilih Menjadi Delegasi IYD 2015
Kun : Assalamu’alaikum, Selamat Siang? Ini dengan mas Mad Solihin dari Universitas Sains Al-Qur’an?
Saya : Wa’alaikumsalam ... Njeh leres niki kulo Mad Solihin, pripun njeh ?
Kun : Perkenalkan saya Kun dari IYD mas
Saya : Owh iya mas gmn ?
Kun : Kemarin mendaftar IYDCamp 2015 ya?
Saya : Iya mas kemarin saya ikut mendaftar .. Tapi pas lihat pengumuman gak lolos .. Hehe
Kun : Kira-kira apakah masih bersemangat mengikuti untuk mewakili kampus mas?
Saya : Masih mas .. Emang masih bisa ikut ?
Kun : Jadi begini ada delegasi yang mengundurkan diri karena mengikuti sidang sekripsi, dan setelah melakukan review ulang kami memilih mas untuk mengikuti acara tersebut.
* * *
Itulah percakapan saya dengan panitia IYD 2015 melalui sms pada Hari Sabtu, 7 November 2015 seusai saya melakukan sholat dhuhur. Awalnya saya mengira sms tersebut dari pihak kampus karena di akhir sms ada nama kampus dimana saya kuliah, sehingga saya pun menggunakan bahasa Jawa. Bahasa yang saya kira lebih sopan, siapa tahu sms terseput dari pihak kampus yang notebane nya pesantren semisal kyai, kan gak enak jika sms nya terlihat gak sopan. Hee

Tetapi setelah saya menanyakan identitas pengirim dan ia memperkenalkan diri dari Indonesian Youth Dream 2015, maka saya pun langsung paham. Selain karena saya juga ikut mendaftar, di awal-awal sebelum mendaftar pun saya sudah kontak dengan mas Kun lewat WA (What’sAp), menanyakan tentang teknis pendaftaran IYDCamp 2015.

Membaca sms dari mas Kun, bahwa saya terpilih sebagai Delegasi IYDCamp 2015 membuat saya bangga sekaligus merasa aneh. Bangga karena dari 1.152 pendaftar, saya masuk dalam kategori terpilih, terlepas bahwa saya terpilih karena menggatikan delegasi terpilih lainnya yang mengundurkan diri. Bukankah selain saya masih banyak pendadaftar lainnya?

Aneh karena tidak di sangka saya bisa masuk ke dalam delegasi terpilih setelah sebelumnya di website IDY 2015 nama saya tak masuk dalam daftar delegasi yang lolos ketika waktu pengumuman. Akh .. Sungguh saya merasa bersyukur dan memang Allah selalu punya jalan untuk membuat hamba-Nya tersenyum. Setidaknya di kegiatan ini saya akan bertemu dengan pemuda-pemuda hebat lainnya yang berasal dari berbagai belahan bumi Indonesia. Artinya saya pun akan punya teman baru dan itu saseuatu yang istimewa menurut saya. Bukankah mempunyai teman seribu masih terlalu sedikit dan mempunyai satu musuh sudah terlalu banyak?

Awalnya agak ragu menerima tawaran untuk mengikuti kegiatan yang akan dilaksanakan pada tanggal 20-22 November 2015 di Yogyakarta ini, lantaran uang registrasi yang sudah saya siapkan jika nantinya lolos telah saya belanjakan untuk membeli charger netbuk yang rusak. Namun, dengan pertimbangan bahwa kegiatan ini tidak setiap orang bisa mengikuti dan tidak setiap waktu ada, maka sayapun menerima tawaran kegiatan IDY 2015 tersebut. Harapan saya satu, bisa tertular energi positif dari para pemuda hebat yang berkumpul di acara tersebut. #BeraniBermimpiBesar. Saya percaya dengan hal ini. Bukankah lingkungan sangat mempengaruhi pola pikir dan pola gerak kita.

Uang yang saya siapkan sudah saya belanjakan untuk membeli netbuk. Kerana dinyatakan terpilih menjadi delegasi dan harus membayar registrasi sebesar Rp. 350.000,- sebagai persyaratan untuk menerima TOR, LOA, Catatan Delegasi dan Go-Card sekaligus persyaratan awal, maka sayapun mengabari teman saya, mas Mizanto, S.Pd.I. Saya ceritakan bahwa saya terpilih menjadi delegasi dan sebagai persyaratan awal harus membayar registrasi. Sayapun utarakan keinginanku untuk meminjam uang milik beliau, dan alhamdulillah bisa. Akh .. Lagi-lagi saya merasa bahagia, karena Allah selalu menunjukan jalan kepada mereka yang selalu mau berusaha.

Tidak Ada yang Instan

Silahkan baca dan pahami seluruh tata cara dan syarat pendaftaran. Download Formulir pendaftaran di website, lalu isi semua form pendaftaran tersebut dengan sebaik-baiknya. Buatlah essay yang terdiri dari maksimal 500 kata dengan tema “Dream, You and Our Nation”, essay ditulis sesuai kaedah kepenulisan bahasa Indonesia yang baik dan benar Kirimkan form pendaftaran beserta Essay ke email indonesianyouthdream@gmail.com dengan subyek Pendaftaran IYDCamp_Nama_Institusi_Kota, berkas pendaftaran paling lambat diterima tanggal 15 Oktober 2015 pukul 11.59 WIB. Apabila berkas pendaftaran telah diterima secara lengkap maka pendaftar akan mendapatkan email konfirmasi dari panitia maksimal 2x24 jam. (Indonesiayouthdream.org)

Pendaftaran kegiatan ini tergolong mudah karena hanya membuat essay dengan tema “Dream, You and Our Nation” dan mengisi form pendaftaran kemudian dikirimkan. Sudah, selesai. Tinggal menunggu pengumunan pemberitahuan dari panitia atau melihat sendiri hasilnya di website.

Akan tetapi ada proses ghaib (tak terlihat) di situ. Saya meilhat proses ghaib karena memang ada proses perjuangan yang harus dilalui sebelum mengatakan bahwa pendafarannya itu mudah. Baiklah akan saya coba uraikan menurut pandangan pribadi.

1.      Membuat Essay dengan tema “Dream, You and Our Nation”
Mudahkan proses menulis itu?

Bagi saya untuk bisa menulis yang berkualitas dan enak dibaca itu butuh waktu berproses yang tidak sebentar. Mulai dari mencoba menulis, menulis dan menulis lagi. Bagi yang tida sabar dengan proses, sudah pasti akan tergilas oleh alam dan tidak mungkin mendaptkan apa yang diinginkan, termasuk bisa menulis berkualitas tanpa copas dari tulisan orang lain.

Selain menulis yang terus menerus, yang tidak bisa ditinggalkan dalam aktivitas menulis adalah membaca. Ya, karena menulis dan membaca itu ibarat mata uang, tak bisa dipisahkan. Orang yang menulis tanpa membaca, ibarat orang pincang.
So, tidak ada yang instan kawan. Segala prestasi yang seseorang dapat membutuhkan proses berdarah dan perjuangan yang tak kenal lelash. Kerja keras menjadi pondasi mereka selain doa tentunya.

2.      Mengisi Form Pendaftaran
Setelah essay jadi, yang kedua adalah mengisi form pendaftaran. Dan ini menurut saya juga sangat berpengaruh dalam proses  penilaian. Seperti Pengalaman Organisasi, Kepanitiaan dan Prestasi.

Beruntung karena saya bukanlah Mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang). Selain mengikuti proses akademik di dalam kelas, sayapun menceburkan diri di organisai intrra kampus seperti BEM Fakultas (BEM FITK UNSIQ), Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMP PAI) dan organisasi extra kampus (Ketua PC IPNU Banjarnegara).

Dari kegiatan organisai itulah di form kepanitian saya bisa mengisi beberapa kegiatan yang saya ikuti sekaligus mendapat tanggung jawab sebagai apa dalam kepanitian tersebut. Selain itu ada juga form  pelatihan/seminar apa saja yang sudah saya ikuti. Ya, karena saya tergolong aktivis maka saya pun punya pengalaman pelatihan/seminar yang bisa saya isikan dalam form tersebut.

Bukankah itu bukan proses instan kawan? Andaikan saja saya hanya sebagai mahasiswa yang tak pernah aktif dalam organisasi, maka sayapun mungkin bingung mau mengisikan apa dalam form tersebut. Ya, ada proses berdarah yang harus dilalui. Ijin kuliah karena kegiatan adalah hal biasa. Ketika yang lain seusai kuliah langsung pulang, maka kami sebagai para kativitas terkadang harus berkumpul untuk membahas agenda kegiatan. Bukankah itu sesuatu termasuk perjuangan kawan, meskipun pada waktu itu tak pernah berpikiran bahwa apa yang dilakukan waktu itu bisa bermanfaat kedepannya. Pemikiran kami waktu itu, setidaknya agenda kami berjalan dan bermanfaat untuk para mahasiswa lainnya.

Di organisai extra kampus (IPNU) lebih berdarah lagi. Tidak ada anggaran dan pengurusnya banyak yang sibuk. Jika BEM atau HMP mungkin pihak mengandalkan dana dari Rektorat, tetapi tidak dengan IPNU. Setiap akan mengadakan kegiatan maka kami pengurus harus mendatangi pintu ke pintu rumah para seseuh NU sambil membawa TOR kegiatan. Syukur semua menerima dengan nada bersahabat dan memberikan bantuan, terkadang kami juga harus menerima saran-saran yang cukup menyakitkan telinga. Namun, itulah pembelajaran yang akan membuat kita bermental baja. Bukankah itu perjuangan kawan? Dan percayalah tidak ada yang Instan.

Pada bagian selanjutnya, kami harus mengisi beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan pendaftar dan IYD.  Pertanyaan itu meliputi hal-hal sebagai berikut :
1.         Ceritakan tentang diri anda! (Maksimal 100 kata)
2.         Jelaskan mimpi terbesar Anda dan bagaimana cara anda meraih mimpi-mimpi ada tersebut? (Maksimal 150 kata)
3.         Apa yang aa ketahui tentang Indonesian Youth Dream 2015? (Maksimal 100 kata)
4.         Apa motivasi Anda mengikuti IYD Camp 2015 ? (Maksimal 100 kata)
5.         Apa yang membuat anda merasa pantas dan mengapa kami harus memilih Anda menjadi salah satu delegasi terpilih IYD Camp 2015 ?
6.         Apabila Anda terpilih sebegai delgasi, kesenian dan kebudayaan daerah apa yang bisa anda tampilakn di IYD Camp 2015?
Lagi-lagi saya akan menyebut bahwa tidak ada yang instan. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas, agar menark dan meyakinkan  pun membutuhkan proses. Proses itu tidak lain adalah kemampuan dalam olah kata (menulis, red) dan seringnya pergulatan pemikiran dengan orang lain. Baik dari adu pendapat atau mempertahankan argumen yang kita miliki mankala kita berdebat dengan orang lain. Dan lagi-lagi itu adalah proses yang tidak instan.
So, nikmatilah proses yang ada. Apa yang kita lakukan akan kita rasakan manfaatnya secara langsung, tetapi membutuhkan waktu. Bukankah pohon itu mengeluarkan buahnya setelah cukup waktu semenjak menanamnya. Dan, percayalah tidak ada yang instan.
Ohw ya, tentang apa itu Indonesian Youth Dream Camp 2015 akan saya kutipkan sedikit :
Indonesian Youth Dream Camp adalah sebuah event kepemudaan skala nasional yang memberikan wadah bagi anak-anak muda potensial dari seluruh nusantara untuk bertemu, saling menginspirasi, berkolaborasi, mempersiapkan diri untuk #BeraniBerMIMPIBesar dan bertekad kuat untuk mewujudkan mimpi-mimpinya demi Indonesia yang lebih baik.IYDCamp merupakan salah satu program yang digagas oleh NAI (The Navigator Academy Indonesia), sebuah NGO (Non-Government Organization) milik anak-anak muda berbagai latar belakang aktivitas yang peduli serta concern bergerak dibidang Nationalism, Creativity and Youth Development Program.Dengan tema “Hashtag #BeraniBerMIMPIBesar”, IYDCamp akan mempertemukan 100 Delegasi terpilih dari seluruh Indonesia dengan 10 Fasilitator, 12 Inspirator muda, 35 Volunteer dan 1 Trainer Nasional dalam sebuah “Transformation Dream Camp” selama 3 hari di Daerah Istimewa Yogyakarta.Sumber : indonesianyoutdream.org
Banjarnegara, 14 November 2015

Terpilih Menjadi Delegasi Indonesian Youth Dream

15:56:00 Add Comment
Sumber: Dokpri (Diedit dari Sampul Proposal IYD)
Hey cinta, gimana kabarnya ..? Semoga saja selalu dalam keadaan sehat wal afiat. Jangan hanya mengingatkan saja ya, dirimu juga harus menjaga kesehatan. J Aku, tanpa diingatkan pun selalu menjaga kesehatan. Bukankah kesehatan menjadi faktor utama rantai kegiatan ? Ya karena ketika kita sehat, apapun kegiatannya kita bisa mengikutinya. Bukankah begitu cinta?

Entah ada angin apa yang tetiba saja rasa ingin menuliskan sesuatu untuk aku kabarkan kepadamu tak kuasa ku tahan. Jemariku pun seolah girang dengan keinginan tersebut. Dengan lihai ia menekan tust keybord seolah mengerti apa yang aku pikirkan. Semoga saja engkau membacanya. Akh ... Saya yakin engkau akan membacanya.

O ya, beberapa hari ini aku merasakan sebuah kebahagiaan yang membuatku seolah tak percaya. Terpilih Menjadi Delegasi pada acara Indonesian Youth Dream yang rencana akan dilaksanakan tanggal 20-22 November 2015 di Yogyakarta. Dari 1.152 pendaftar hanya 120 yang dinyatakan lolos. Awalnya aku sebenarnya tak lolos, hanya saja karena ada salah satu delegasi terpilih yang mengundurkan diri dengan alasan ujian skripsi maka diseleksi lagi data yang masuk, dan alhamdulillah aku yang terpilih. Doakan ya semoga bisa mengikuti kegiatan dengan lancar dan tentunya mendapat ilmu yang manfaat.

Waktu itu, Sabtu, 7 November 2015 tepatnya ba’da dhuhur, sebuah sms dari nomor baru masuk. Setelah salam, ia menanyakan apakah benar bahwa aku ada Mad solihin dari Universitas Sains AL-Qur’an? Setelah aku membalasnya, ia pun memperkenalkan diri bahwa ia dari IYD. Menanyakan kira-kira apakah aku masih semangat untuk mengikuti kegiatan IYD mewakili kampus. Akupun menjawab masih. Maka pada hari itulah aku secara resmi menjadi delegasi terpilih.

Kamu tahu dek, aku punya mimpi untuk menjadi orang hebat. Tentu hebat dalam kriteria yang setingkat dengan level yang aku miliki. Bisa berbagi dan mengisnpirasi orang lain. Ya, setidaknya ketika hari ini belum bisa menginspirasi banyak orang, aku bisa memberikan inspirasi untukmu. J

Eh, tentang proposal skripsiku yang kamu tantang untuk segera selesai sebagai salah satu konsekuensi lomba semangat yang kita sepakati, semoga saja tidak molor. Masalahnya aku mendapat amanah untuk mengurus surat acara Lailatul Ijtima’ pada Senin Malam tanggal 16 November 2015. Terpaksa agenda yang telah aku rencanakan untuk segera membuat proposal di cancel dulu. Mohon maklum ya. Bukankah ini alasan yang masuk akal ..? J Maaf bukan ingin bersembunyi dan berpayung aman di bawah kata alasan, tetapi memang itu yang aku alami. Semoga saja apa yang aku lakukan bisa mendatangkan berkah, bukankah silaturahim itu mendatangkan berkah. Dan aku sebagai yang menjembatani pertemuan itu semoga tertular juga berkah manfaatnya. Aamiin.

Terakhir, aku merindukanmu dek. J


Banjarnegara, 12 November 2015
Kalimat Sakti

Kalimat Sakti

06:33:00 Add Comment
Setelah beberapa bulan mengalami kevakuman, akhirnya di hari Senin, 09 November ini bertempat di rumah Restu, pengajian kelas yang agendanya rutin setiap bulan kembali lagi digalakkan. Meskipun terkesan sepele tetapi saya merasakan dampak yang cukup besar dari kegiatan ini. Mulai dari kekompakan, media untuk belajar mengetuk hati dan yang paling penting adalah mempererat jalianan tali silaturahim. Tahu dimana letak rumah teman kita bukan hanya sekedar tahu alamatnya saja, sehingga jikalau suatu saat nanti ingin mampir tak perlu susah lagi bertanya-tanya kepada orang lain.

Karena forumnya adalah pengajian maka disitu juga ada salah seorang yang khusus untuk mengisi mau’idhoh hasanah. Kali ini yang mengisi adalah Bapak Kyai Muhammad Amin Hidayat dari Sumberan.

Ada pesan yang begitu mengganjal untuk segera saya tulisakan. Pesan itu tentang empat hal yang selalu menjadi muqodimah dalam setiap penulisan kitab kuning yaitu Basmallah, Hamdalah, Sholawat dan Laahaula wala Quwata illa billah.

Ayat al-Qur’an yang berjumlah 6666 itu terkumpul dalam surat al-Fatihah. Dari surat al-Fatihah itu terkumpul dalam Basmallah. Dan dari Basmallah itu terkumpul di huruf ba. Dan huruf ba itu terkumpul di dalam titik. Karena dari titik itulah berbagai huruf yang berlanjut ke kalimat dan ayat terbentuk.

Ada sebuah hadits yang mengatakan bahwa segela sesuatu yang tanpa diawali dengan Basmallah maka akan terpotong berkahnya. Ya, karena sejatinya memang apapun yang kita lakukan seharusnya disandarkan kepada Allah, diniatkan sebagai ibadah sehingga bisa saja apa yang kita lakukan meskipun sepertinya terlihat sebagai amalan dunia tetapi punya nilai ibadah akherat. Bekerja misal, meskipun itu amalan dunia tetapi jika diniatkan untuk menafkahi keluarga bukankah itu termasuk amal akherat. Pun sebaliknya meskipun amalan yang kita lakukan terlihat seperti amalan akherat tetapi kita tidak mendapat apa-apa kecuali kesia-sian. Membaca Al-Qur’an misal, jika itu dilakukan hanya untuk pamer bacaan kepada orang yang ada disekitar kita, bukankah itu riya’ namanya.

Nah, agar apa yang kita lakukan senantiasa mendapat ridho dari Allah maka awalilah segala aktifitas dengan basmallah.

Kalimat kedua dalam muqodimah adalah Hamdallah. Kalimat ini adalah kalimat penutup setiap aktifias yang telah selesai kita kerjakan. Sebagai ungkapan rasa syukur.

Kalimat ketiga adalah sholawat. Saya kira tentang sholawat sudah banyak yang tahu, baik itu karena mendengar ceramah dari seorang kyai maupun hasil dari membaca buku. Yang jelas sholawat ini sangatlah besar manfaatnya, salah satunya adalah ketika kita berdo’a tanpa ada sholawat maka doa’ yang kita panjatkan menggantung di langit, belum sampai kepada Allah.

Kalimat keempat adalah Lahaula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adhim (Tidak ada daya kekuatan untuk menghidar maksiat dan untuk berbauat kebaikan kecuali kekuatan itu datan dari Allah yang Maha Luhur dan Agung). Kalimat ini sangatlah dalam maknanya. Kalimat yang berisi ungkapan bahwa manusia hanyalah boneka tanpa ada campur tangan dari kekuasaan Allah Swt. Bahwa segala kebaikan yang kita perbuat semata-mata hanya karena adanya kekuatan yang Allah berikan kepada kita sehingga sangatlah tidak pastas jika kita membanggakan diri apalagi sombong.

Selain empat hal tersebut, yang beliau sampaikan adalah tentang pentingnya sebuah dzikir. Karena dengan dzikir itulah kita bisa membaca situasi ataupun menjemput apa yang kita inginkan. Karena dzikir itulah yang menjadi kekuatan orang-orang ‘alim zaman dahulu. Sehingga apa yang keluar dalam pidato misal, itu lebih bertenaga dan lebih mengena.

***
Sebagaimana halnya manusia biasa yang punya sifat pelupa, maka tulisan ini adalah media untuk menjaga kelupaan itu. Pun demikian dengan isinya, susunan kosa kata yang masih jauh dari kata enak untuk dibaca, semoga tidak mengurangi inti pesan yang ingin saya sampaikan.


Banjarnegara, 10-11 Nevember 2015

Menaklukan Media, Berbagi Pengalaman Menulis Opini & Resensi Buku

18:37:00 Add Comment
Foto : Dokpri
Di indonesia, tradisi lisan masih sangat kuat dibandingkan dengan tradisi menulis. Jangankan sampai bisa menembus media massa, untuk membuat makalah saja banyak mahasiswa yang mengandalkan browsing di internet. Pelesetan Sarjana Pendownlod an Internet kiranya ada benarnya, ini bisa dibuktikan dari sarjana lulusan Perguruan Tinggi yang keilmuannya tidak jelas menakala telah mengantongi gelar Sarjana (pendapat subyektif penulis).

Tentu dari sekian banyak mahasiswa, ada yang memang konsen dan serius untuk mengembangkan keilmuannya terutama dalam hal menulis. Tak cukup disitu, usaha untuk bisa menembus media massa juga salah satu hal yang dilakukan oleh mahasiswa ataupun mereka yang memang mempunyai hobby menulis.

Buku Menaklukan Media, Berbagi Pengalaman Menulis Opini & Resensi Buku karya Andi Andrianto saya kira cocok untuk dijadikan referensi bagai siapapun yang tulisannya ingin terbit di media massa. Buku setebal 184 hal ini berisi pengalaman Andi Andrianto selama bergulat dalam dunia tulis menulis. Ia membagi isi buku tersebut dalam 4 bab, terdiri dari Melawan Kemalasan Menulis (Bab I), Menulis Itu Mengasyikan (Bab II), Menulis Artikel (Opini) dan Resensi Buku (Bab II) dan Epilog (Bab VI).

Melalui 4 bab itulah penulis memaparkan tentang dunia tulis menulis dalam bahasanya yang enak untuk dibaca. Tentang tips dan trik bagaimana cara agar tulisan bisa menembus media serta dilampiri beberapa contoh tulisan penulis yang telah diterbitkan oleh Media Massa (koran) baik itu Artikel maupun Resensi Buku.

Selain itu, dalam buku tersebut juga terdapat alamat beberapa media massa jika kita ingin mengirimkan tulisan baik itu artikel maupun resensi buku sekaligus rincian honor apabila tulisan kita terbit.
Next time, semoga saya bisa mengikuti jejaknya.

Buku               : Menaklukan Media, Berbagi Pengalaman Menulis Opini & Resensi Buku
Penulis             : Andi Andrianto
Penerbit          : Percetakan PT Gramedia, Jakarta
Edisi                 : 2011
Tebal               : 184 Halaman

Catatan :
Perbedaan antara artikel adan opini adalah opini lebih bersifat subjektif (pandangan pribadi penulis lebih ditonjolkan). Sedangkan artikel, meskipun jenis tulisan ini juga bersifat subjektif dari penulisnya tetapi harus menyajikan unsur data dan fakta secara detail. (Hal 51)
Untuk resensi buku jangan yang dua tahun lalu terbit. Biasanya, maksimal enam bulan dari waktu buku tersebut terbit.

Banjarnegara, 6 Nopermber 2015
The Power of Dreaming

The Power of Dreaming

14:26:00 1 Comment
Sebagimana saya percaya bahwa segala sesuatu bisa terjadi maka seperti itu pula saya percaya akan kekuatan sebuah impian. Ya, saya percaya akan kekuatan sebuah mimpi karena dengannya langkah kemana kita akan berjalan menjadi jelas. Mimpi laiknya kompas bagi seorang nahkoda yang sedang berada di hamparan lautan luas. Tanpanya seorang nahkoda tidak akan tahu ke mana arah yang akan di tuju, terombang-ambing di tengah lautan. Seperti sebuah ungkapan, “Seorang yang tidak mempunyai tujuan tidak akan sampai kemana-mana atau sampai di tempat yang tidak dinginkan”.

Selain itu, mimpi juga memberikan kejelasan akan apa yang dikerjakan. Belajar, bekerja, bertindak, dan beraktifitas bukan hanya sekedar rutinitas atau mengisi waktu luang tetapi untuk mengejar cita-cita. Sehingga alokasi waktu, tenaga, pikiran dan uang yang kita miliki akan diprioritaskan bukan tanpa makna, tetapi dilakukan dengan perhitungan yang matang demi mengejar impian yang telah ditentukan. Apakah akan mendukung tercapainya impian atau tidak.

Pun demikian untuk menjadi orang hebat. Lingkungan dan dengan siapa kita bergaul sangat berpengaruh. Sebagimana teori John Lock dengan tabula rasanya, bahwa manusia itu ibarat kertas kosong. Pengalaman-pengalamanlah yang membentuknya. Sebuah hadits dari Rasulullah Saw juga menyatakan tentang pengaruh orang lain dalam pergaulan kita, ketika berteman dengan penjual minyak wangi kita akan tertular wanginya, pun ketika berteman dengan pandai besi kita akan terkena asapnya.

Itulah kenapa acara Indonesia Youngst Dreamer menjadi salah satu pilihan yang ingin saya ikuti. Kumpulan orang-orang hebat yang saya yakin akan menularkan energi positifnya. Setidaknya itu bisa terlihat dari proses seleksi dan konsekuensi yang harus dilakukan oleh mereka yang dinyatakan lulus. Tentunya acara event nasional ini tidaklah mungkin dilakukan jika kualitasnya tidak baik. Karena itu akan menjadi bumerang tersendiri bagi penyelanggara acaranya.

Senada dengan hal diatas, saya meyakini tentang hukum pasar bahwa harga berpengaruh kepada kualitas. Keyakinan itu pula saya yang yakini tentang kegiatan Indonesia Youngts Dreamer. Bahwa dari proses interaksi orang-orang hebat di sana, maka bagaikan aliran listrik yang menyalur ke setiap peserta. Baik dari pola sikap maupun pola pikir yang cenderung berpikir maju dan optimis menatap masa depan.

Harapan itulah yang saya angankan. Bisa menjadi orang hebat atau kalau pun belum bisa, setidaknya pola sikap dan pola berpikir mencerminkan kepribadian orang hebat. Imbasnya tidak hanya untuk kepentingan sendiri tetapi bisa untuk kepentingan masyarakat yang lebih luas, bahkan untuk kepentingan negeri tercinta Indonesia ini. Karena kaum muda lah yang akan mewarisi Indonesia 5 atau 10 tahun lagi. Sehingga kegiatan semacam ini diharapkan mampu menjadi bekal untuk membangun Indonesia yang lebih baik.

Menjadi penulis itulah yang saya impikan. Dengannya saya bisa mengabadikan dan membagikan karya yang saya miliki kepada orang lain. Berbagi ilmu dan menebarkan energi positif untuk generasi anak bangsa agar berpikir jauh ke depan. Semoga.

Banjarnegara, 23 September 2015 02:21 WIB

Tulisan ini saya buat sebagai persyaratan untuk mendaftar acara Indonesian Youth Dream Camp 2015. Meskipun tidak lolos setidaknya saya sudah berani mencoba. J