Rantau 1 Muara

12:16:00 AM Mad Solihin 0 Comments

Rantau 1 Muara (Negeri 5 Menara, #3)
Sumber: Goodreads.com
Rantau 1 Muara. Novel ini adalah novel kedua karya Ahmad Fuadi yang saya baca. Novel pertamanya adalah Negeri 5 Menara yang bercerita perihal kehidupannya sewaktu hidup di pesantren. Novel yang bercerita tentang kehidupannya pasca selesai kuliah ini adalah novel ke tiga dari Trilogi Negeri 5 Menara. Inspiratif dan penuh dengan motivasi. Sayapun terpacu untuk bermimpi bisa ke luar negeri ketika membaca cerita Alif, tokoh utama dalam novel tersebut yang mendapat beasiswa S2 di Amerika. Ah, rasanya memang mimpi itu sangatlah penting.

Sebagaimana keyakinanku bahwa setiap buku membawa ilmu dan pengetahuan baru, maka di novel Rantau 1 Muara pun saya mendapat pengetahuan baru. Dan sebagai salah satu cara untuk menyimpan pengetahuan baru agar suatu saat tak usah membaca bukunya secara keseluruhan, maka sayapun mencatat point-point yang cukup penting.

Man saara ala darbi washala, siapa yang berjalan di jalannya, akan sampai di tujuan” (29)

“Berusahalah untuk mencapai sesuatu  yang luar biasa dalam hidup kalian setiap tiga sampai lima tahun. Konsistenlah selama itu, maka insya Allah akan ada terobosan prestasi yang tercapai” (29)

Man yazra yahsud. Siapa yang menanam, dia menunai” (30)

Setelah merasa cukup di masa pengasingan, dia berjuang keras merobek kepompongnya yang liat. Pelan-pelan dia meregangkan badannya. Sayap yang basah dan ringkih dikepek-kepakkan sehingga kering dan kuat. Dia hirup udara untuk menguatkan badannya. Dulu hanya merayap di ranting, kini terbang bebas ke angkasa. Dulunya ulat yang lemah dan jelek, kini jadi rama-rama bersayap indah. Sesuatu itu bisa indah pada waktunya.

Aku mungkin perlu memprkatekan ilmu rama-rama ini, setelah lama jadi kepompong kuliah di Bandung. Aku harus berani merobek keterbatasan dan keluar dari zona nyaman ini. jangan jadi ulat terus, aku harus jadi rama-rama, merantau ke dunia baru di Jakarta. Tempat aku terbang mencari bunga dan madu. Ulat dan rma-rama jadi contohku. Alam takambang jadi guru. (34)

Menulis bisa di pelajari dan dilatih. Tetapi karakter dan sifat itu tidak digampang berubah karena sudah tertanam sejak kecil. (39)

Pondasi kerja kita bukan jurnalisme yang memihak sau golongan. Kami percaya bahwa kebajikan, juga ketidakbajikan, tidak menjadi monopoli satu pihak. Kami percaya bahwa tugas pers bukan menyebarkan prasangka, justru melengkapinya. Bukan membenihkan kebencian, melainkan mengkomunikasikan saling pengertian. Jurnalisme majalah ini bukan tidak dimaksudkan untuk menjilat atau menghamba. Yang menjadi komando bukan kekuasaan atau uang, tetapi niat baik, sikap adil dan akal sehat. (56)

Apapun tulisannya, jangn lupa riset dulu. Riset itu hukumnya fardhu ‘ain. Kalau mau wawancara narasumber, kalian perlu tahu hobinya, dia suka makan apa, berapa anaknya, berapa istrinya, dimana simpanannya, siapa sopirnya, apa rahasianya, apa kelemahannya, dan apa kelebihannya. Semua kalian endus dulu semaksimal mungkin. Kalau kalian sudah menguasai latar belakang yang akan diwawancara, maka kalian akan mudah memahami kepribadiannya. Pertanyaan harus berbobot, strategis dan mencerahkan.

Find what you want to do and do it. Temukan apa yang ingin kamu lakukan dan lakukan itu. Love what you are doing. Cintai apa yang kamu lakukan. (111)

When you love what you are doing, you do not look at the clock. It is just wonderful.
Give yourself more than expected. Memberikan sesuatu yang lebih dari yang diharapkan. Kalau perlu bangun jam 4 subuh untuk memulai bekerja. No way you can not to to the top.

Carilah pekerjaan yang kamu cintai dan kamu tidak akan pernah lagi bekerja satu haripun sepanjang hayat. (Konfusius, Filsuf China) (111)

Dibalik kesuksesan seorang laki-laki, pasti ada sosok seorang perempuan yang hebat. Pilihlah perempuan terbaik. Karena dia yang mengingatkan dan menguatkan kita kaum laki-laki. Dan kalau nanti dianugerahi anak, perempuan pulalah yang menjadi madrasatul ula, sekolah pertama setiap anak manusia. (266)

Dalam hidup ada tiga manusia terdekat. Orangtua, pasangan dan anak. Semua diberikan sebagai takdir. Kita tidak bisa memilih untuk dilahirkan oleh ibu yang mana. Kita juga tidak akan pernah bisa memilih mendaptkan anak seperti apa. Tapi, kita masih mungkin memilih pasangan kita. walau jodoh di tangan Tuhan, tapi kita diberi kesempatan untuk berupaya keras mendapat pasangan terbaik. (267)

Itulah beberapa point di Novel Rantau 1 Muara karya Ahmad Fuadi yang saya kira penting. Semoga bisa membaca ke duanya yang berjudul Ranah 3 Warna. Semoga.


Banjarnegara, 12 Oktober 2015 20:06 WIB

You Might Also Like

0 comments: