Mendem, Aksi Paling Seru dalam Pertunjukan Kuda Kepang

4:00:00 AM Mad Solihin 0 Comments

Malam ini saya menyempatkan untuk mengunjungi teman seperjuangan di ipnu. Organisasi yang kini menjadi tanggung jawab saya selaku nahkoda, mau berhenti, jalan atau apapun, bahkan berlari itu terserah saya. Susah si sebenarnya, apalagi harus mengordinir rekan pengurus yang saya yakin tak ada yang sama, punya pikiran dan kesibukan masing-masing yang manakala saya ingin mengumpulkan mereka, itu bisa menjadi “alasan” (lebih tepatnya pemakluman) atas ketidakhadirannya. Dan ini lumrah adanya, apalagi organisasi tanpa profit. Ditambah lagi kebanyakan mereka adalah para pelajar yang untuk urusan “uang”, masih menengadahkan tangan kepada orang tua.

“Membangun hubungan emosional. Menyatukan cara berpikir. Menyelami dan memahami satu sama lain.”

Itulah tujuan yang saya lakukan ketika mengunjungi mereka. Bercerita ngalor ngidul, tertawa yang diselingi dengan ngopi dan rokok bersama. Menjalin pertemanan sejati. Itulah yang akan menunjang keberhasilan sebuah organisai karena seorang pemimpin tak mungkin bisa berjalan sendiri. Kesuksesan pemimpin adalah berkat rekan pengurus di bawahnya yang rela dan mau untuk bersama-sama bergerak mewujudkan program kerja menjadi aksi nyata. Nah, salah satu cara agar rekan pengurus dibawahnya bisa rela dan mau, salah satunya adalah dengan membangun hubungan emosional terlebih dahulu. Ketika hubungan emosional telah terbangun maka secara otomatis cara berpikir pun sama yang pada akhirnya sang pemimpin punya patner yang bisa diandalkan. Tidak hanya dalam lingkup konsep (ide) saja, tetapi juga dalam eksekutor (kerja lapangan).

***
Kami bertiga. Satu teman saya adalah penjual molen di sebuah pasar Madukara. Ia standby dari sore hingga malam. Satunya lagi adalah Dayat, mahasiswa awal Fakultas Syari’ah yang baru saja pulang dari kampus dan baru saja sampai rumah. Setelah saya tanya katanya tidak lelah (entah kebenarannya .. hehe), maka saya mengajaknya ngumpul di tempatnya Anam, warung penjual molen. Karena motornya di pake bapaknya, maka sayapun menjemputnya dan segera meluncur ke warung pasar.

Kesenian Kuda Kepang (Sumber: Dokpri)
Waktu menunjukan pukul 10.00 malam. Masih terlalu sore bagi kami yang suka bergadang. Kebetulan molen di warung milik teman saya sudah habis. Maka kamipun memutuskan untuk menonton pertunjukan kesenian tradisional “Kuda Kepang” atau kami sering menyebutnya dengan “Imblig”. Ya, buat hiburan toh tempatnya juga tidak terlalu jauh dari pasar yang kami tonggkrongi.

Hay kompasianer, tahukah kalian apa itu Kuda Kepang? Sudah pernahkah nonton pertunjukan Kuda Lumping ini? Kalau belum, maka saya akan sedikit menguraikan apa itu Kuda Kepang. Jika kurang puas silahkan browsing di internet. Hehe

Kuda Kepang atau Imblig ada juga yang menyebut Kuda Lumping adalah kesenian tradisional yang dimainkan oleh sekelompok grup (yang baru saya lihat, ada 9 pemain) dengan menggunakan benda tiruan yang terbuat dari anyaman bambu menyerupai bentuk kuda.

Kesenian ini diiringi oleh musik berupa alat tabuh seperti gendang, angklung, gong besar, gong kecil, dan alat gamelan seperti piano, hanya saja bentuknya menyerupai lesung dan cara membunyikannya dengan di pukul. Udah pernah nonton wayang atau OVJ ..? Seperti itulah alat-alat musiknya.

Dalam kesenian ini ada juga yang namanya Sinden. Sinden ini bertugas untuk meramaikan pertunjukan dengan menyanyikan lagu-lagu jawa. Saya kira itu lagu khusus bagi sinden, pasalnya bahasanya sulit ditangkap ditelinga. Selain itu, sinden ini juga terkadang bernyanyi laiknya supporter namun nadanya seperti “nyuraki”. Jika di pertandingan sepak bola, sinden ini laiknya komentator.

“Ha’e. Ha’e. He’a. Ha’ eeeeee, ya ya yaaa,” ini sepotong nyanyian yang saya denger dari seorang Sinden. Selian itu entah nyanyian apa yang digubahnya. Paling tembang gambang suling yang lamat-lamat saya dengar di tengah asyik menikmati pertunjukan Kuda Kepang yang sudah dimualai.

Pertunjukan Kuda Kepang ini awalnya hanya sembilan. Pun demikian karena permulaan, cara mainnya masih santai dan rileks. Dengan pakaian khas yang terdiri dari bagian kepala di ikat dengan “slayer bermotif batik warna gelap dan putih”, bagian badan dengan mengenakan baju rompi seragam, bagian pinggang diikat dengan kain semacam jarit. Tak lupa kuda kepangnya di tunggangi seperti naik kuda beneran.

Saat Pemain Mulai Mendem
Lima belas menit telah berlalu. Permainan pun masih biasa-biasa saja. Hingga beberapa pemain mengakhiri dengan masuk ke ruang ganti sedang sisanya masih tetap memainkan kuda kepangnya. Hanya saja suasanaya berbeda. Mereka terlihat lebih garang dan seperti ada yang mengendalikan dirinya. Inilah yang dinamakan dengan Mendem. Mendem adalah memainkan tarian kuda lumping dengan tarian yang tak wajar bak orang kesurupan. Atau bisa di bilang seperti pemain film yang sedang mempraktekan jurus dewa mabuk.

Bagian inilah yang paling seru dan saya kira paling disukai oleh para penonton. Saya pun terkesima melihatnya. Seru deh pokoknya. Di bagian ini tingkah aneh para penari kuda kepang mulai muncul, dari makan kembang, menggerang-gerang, berguling di tanah dan lain sebagainya. Karakter setiap penari pun berbeda-beda, ada yang sepeti kera, ada yang seperti ulang dan bahkan menyerupai jenazah, ditutup pakai kain jait mulai dari kepala sampai kaki. Tak hanya itu, penari yang mendem dengan bertingkah laiknya jenazah tersebut di cambut dengen cemeti dibagian kaki dan badan. Bayangkan, di cambuk brow. Kalau raganya asli pasti mengerang kesakitan.

Seru memang iya. Tetapi hati juga was-was ketika para penari sedang mendem. Pasalnya beberapa dari penari ada yang mendatangi penonton dan mengajaknya menari dan tak butuh waktu lama penonton yang rangkul oleh penari yang sedang mendem itu ikut tertular mendem, tak sadarkan diri (bukan dirinya yang asli). Anehnya, gerakannya begitu lihai seperti sering berlatih menari. Akh ... mungkin itulah yang disebut dengan makhluk halus. Tak terlihat tetapi memang benar adanya. Kejadian semacam ini disebut dengan Jantur, Penari yang sudah mendem mempengarhi penari yang lain.

Penari yang Mendem Mulai Bertambah
Pertunjukan semakin seru. Satu persatu peneri yang mendem bertambah. Bukan hanya karena di Jantur saja, tetapi beberapa penonton juga ikut mendem. Mungkin tersugesti melihat penari-penari lain pada mendem apalagi iringan suara gamelan yang begitu syahdu.

Jam telah menunjukan waktu 00.30 WIB. Pukul satu dini hari. Dari arah corong pengeras suara terdengar himbauan dari penanggung jawab acara agar pertunjukan segera di selesaikan. Katanya sudah mendapat peringatan dari kepolsek bahwa kegiatan diijinkan hanya sampai pukul 12 malam. Maka, para pawang pun segera beraksi. Mereka berusaha untuk menyadarkan para penari yang mendem agar kembali normal seperti biasa. Umumnya para penari yang mendem mengusapkan kedua tangannya yang dibantu oleh beberapa pawang pada bagian muka sampai telapak kakli. Dan satu persatu penari yang mendempun kembali normal seperti biasa.


Banjarnegara, 25 Oktober 2015 03:28 WIB

You Might Also Like

0 comments: