Aku Pandai Menulis Cerpen

7:09:00 PM Mad Solihin 0 Comments

Hari ini saya menamatkan satu buku bacaan yang berjudul “Aku Pandai Menulis Cerpen” karya A. Kristiawan Muryanto. Buku setebal 76 halaman ini sebagaiman judul bukunya, mengupas seluk-beluk cerpen. Mungkin karena isinya sudah cukup familier dari SD sampai MA di ajari sehingga bisa neyelonong dan lihai deh membacanya. Saya mulai membaca di pagi hari dan selesai sekitar pukul dua siang. Gak sampai setengah hari malah.

Meskipun sudah cukup familier tetapi banyak ilmu yang saya dapat. Baik itu ilmu baru ataupun endapan ilmu lama yang karena membacanya menjadi ingat lagi. Selain itu yang membuat saya cukup cepat dalam membacanya adalah faktor tulisannya yang menurut saya enak di baca. Nah, bagian inilah yang tidak semua penulis bisa melakukannya.

Sebagaimana sebuah buruan, hasil bacaan dan ingatan dari membaca buku tersebut akan mudah lepas manakala tidak di ikat. Sehingga melalui tulisan ini saya ingin mengikatnya. Tujuannya tidak lain adalah jika suatu saat saya membutuhkan saya bisa segera membukanya kembali.  Apalagi menyimpannya di blog yang terhubung oleh internet tentu lebih mudah dan praktis. Berbeda jika di buku, harus membolak-balik kertas. Ya kalau langsung ketemu, kalau tidak kan tambah lama. Pasalnya kita biasanya tidak ingat di buku mana kita mencatatnya.

Baiklah itu sedikit pengantar. Langsung saja lah dari pada blundet membaca tulisan yang gak genah. Beberapa point yang saya tangkap dalam buku tersebut.

(a) Pengertian cerpen : Cerpen adalah salah satu karya sastra yang berbentuk prosa. Sesuai dengan namanya, cerpen (cerita pendek) haruslah pendek sebatas selesai baca dalam sekali duduk dan harus harus menimbulkan kesan selesai, tidak lagi mengusik dan menggoda karena ceritanya seperti masih berlanjut. Menurut A. Bakar Hamid, dalam cerpen banyaknya perkataan yang dipakai antara 500-20.000 kata, adanya satu plot, adanya satu watak dan adanya satu kesan.

(b) Unsur-unsur cerpen. Unsur-unsur cerpen ini ada dua, unsur ekstrinsik (di luar) dan unsur intrinsik (di dalam). Contoh unsur ekstrinsik cerpen ini lebih banyak berhubungan dengan pengarang, seperti budaya, agama, falsafah hidup, pendidikan, dan lain sebagainya.
Sekarang lanjut ke unsur instrinsik sebuah cerpen.

(1) Tema dan amanat. Tema merupakan suatu gagasan, ide, atau pikiran utama yang mendasari suatu cerpen. Ibarat rumah, tema adalah pondasi. Tema ini dagi menjadi tema besar dan tema sederhana. Tema besar atau umum ini berkaitan dengan masyarakat luas. Contoh ; masalah sosial, agama atau ketuhanan, politik, pendidikan, dsb. Sedangkan tema sederhana adalah tema yang berkaitan dengan hubungan personal atau individu. Contoh ; tentang persahabatan, kekeluargaan, percintaan dan sebagainya. Amanat adalah pesan atau ajaran moral yang ingin disampaikan oleh seorang pengarang. Amanat ini juga dibagi dua, amanat yang ditampikan secara tersirat (implisit) dan amanat yang ditampilkan secara tersurat (eksplisit).

(2) Alur dan Pengaluran. Aluratau plot dapat diartikan dengan rangkain peristiwa yang terjalin secara seksama yang berguna untuk mencapai tujuan tertentu, yang dalam hal ini adalah akhir sebuah cerita. Menurut Effendi sebagaiman dikutip oleh Muryanto, bagian-bagian alur ada enam, yaitu :

> Awal. Berisi lukisan waktu dan tempat yang menuntun pembaca mengikuti jalan cerita.
> Tikaian. Berisi penampilan permasalahan atau persoalan yang dihadapi pelaku.
> Gawatan atau rumitan. Bagian ini menggambarkan permasalahan yang sdah semakin mengkhawatirkan dan gawat.
> Puncak. Bagian ini menggambarkan permasalahan sudah mencapai puncak.
> Leraian. Bagian ini menggambarkan permasalahan  yang telah berangsur-angsur dapat diatasi dan kekhawatiran mulai hilang.
> Akhir. Bagian ini menggambarkan bahwa permasalahan sudah dapat diatasi oleh sang pelaku.

Pengaluran. Selain alur ada juga pengaluran yang bisa dianggap sebagai pengaturan urutan pembentuk cerita. Pengaluran ini dibagi menjadi dua : (1) Pengaluran lurus yaitu penampilan alur dengan deretan peristiwa yang disusun secara kronologis. (2) Pengaluran sorot balik (flashback) yaitu pengaluran yang urutan kronologis atau peristiwa-peristiwa dalam cerita disela dengan peristiwa yang terjadi sebelumnya.

(3) Tokoh dan Penokohan. Tokoh dalam sebuah cerpen merupakan unsur yang penting. Istilah tokoh mengacu pada pelaku dalam cerita dapat berupa manusia, binatang dan lain sebegainya. Tokoh ini dibagi menjadi dua : (1) Tokoh sentral yaitu tokoh yang mempunyai peranan penting sehingga disebut tokoh utama atau protagonis. Umumnya, tokoh protagonis mempunyai lawan yang disebut dengan tokoh antagonis. (2) Tokoh bawahan yaitu tokoh yang kedudukannya tidak terlalu penting dalam cerita, tetapi kehadiarannya diperlukan untuk menunjang atau mendukung tokoh utama.

Ponokohan. Dalam setiap cerpen seorang tokoh pasti mempunyai watak tersendiri dan berbeda antara satu dengan yang lainnya. Watak para tokoh baik ataupun buruk disajikan dengan teknik penokohan. Jadi, penokohan adalah cara penggambaran tokoh dalam suatu cerita.

Penokohan ini berfungsi agar pembaca dapat memahami watak-watak tokoh yang ditampilkan dalam cerpen. Dalam penokohan, ada dua metode yang dapat digunakan oleh pengarang. (1) Metode analitik atau langsung, yaitu pengarang dapat memaprkan langsung secara naratif, atau juga menambahkan komentar tentang watak tokoh tersebut. Selain itu pengarang juga dapat mengisahkan sifat-sifat, hasrat, pikiran maupun perasaan tokoh melaui pencerita. (2) Metode dramatik atau tidak langsung. Dengan metode ini, seorang pembaca dapat menyimpulkan watak tokoh dari pikiran, cakapan, dan perilaku tokoh yang disajikan dalam cerpen oleh si pengarang. Selain itu, watak tokoh juga dapat disimpulkan dari penampilan fisik, kesan tokoh lain terhdap dirinya, serta gambaran hal-hal disekitar tokoh.

(4) Latar dan pelataran. Latarmerupkan keterangan dan petunjuk yang mengacu pada waktu, tempat maupun suasana di dalam cerpen. Latar tempat menyatkan lokasi dimana cerita berlangsung dan latar waktu menyatakan waktu berlangsungnya cerita. Sedangkan latar suasana menyatakan suasana yang terungakp dalam cerpen, seperti mengharukan, menyedihkan, lucu, mencekam dan sebagainya.

Teknik untuk menampilkan latar di sebut dengan pelataran. Ada dua jenis pelataran ; (1) Pelataran sejalan yaitu apabila keadaan lingkungan sama dengan keadaan tokoh. Contoh, latar yang muram dan mendung untuk mendukung tokoh yang sedang berduka. (2) Pelataran Kontras yaitu apabila latar yang digunakan tidak senada dengan keadaan tokoh. Contoh, tokoh menangis sedih di tengah pesta yang meriah.

(5) Sudut Pandang atau Point of View. Sudut pandang merupakan visi pengarang yang dijelmakan ke dalam pandangan toko-tokohnya dengan cara bercerita. Ada tiga sudut pandang bisa digunakan oleh pengaranga. (1) Sudut pandang orang pertama. Dalam sudut pandang orang pertama ini, pengarang menggunakan kata ganti orang pertama, “aku” atau “saya’. Jadi, pencerita atau narator termasuk tokoh dalam cerpen. (2) Sudut pandang orang ketiga. Dalam sudut pandang orang ketiga ini, pengarang menggunakan kata ganti, “ia” atau “dia”. Selain itu, pencerita dapat menyebut langsung nama tokoh-tokoh di dalam cerpen. Jadi, pencerita berada di luar cerita. (3) Sudut pandang campuran. Dalam sudut pandang campuran ini pengarang menggunakan kata ganti orang petama dan ketiga untuk membaurkan anatar pendapat pengarang dan tokoh-tokohnya.

Mungkin hanya ini yang bisa saya review dari buku “Aku Pandai Menulis Cerpen”. Selebihnya silahkan baca sendiri. Pokokny asyik deh isinya dan mudah di pahami. Dan akhirnya selamat membaca. Semoga bermanfaat.

Judul Buku       : Aku Pandai Menulis Cerpen
Penulis             : A. Kristiawan Muryanto
Penerbit          : PT. Citra Aji Parana Yogyakarta
Tebal               : 76 Halaman
Tahun terbit    : 2008

Banjarnegara, 7 Oktober 2015 19:04 WIB

You Might Also Like

0 comments: