Dua Kebahagiaan

01:56:00 1 Comment
Pernah merasakan kesedihan kawan? Akh ... Pertanyaan yang mungkin tidak perlu jawaban. Karena saya yakin setiap orang pasti pernah mengalaminya. Kesediahan, kebahagiaan, penyesalan dan entah perasaan apalagi adalah bagian dari kehidupan, yang kesemuanya itu berputar laiknya roda. Tak selamanya kesedihan menyapa kita, pun dengan kebahagiaan tak selamanya hidup itu bahagia. Dan menurut saya itu lumrah adanya karena seperti itulah hukum alam digariskan.

Sama halnya dengan yang saya alami hari ini. Ada dua kebahagiaan yang membuat hati ini merasakan kepuasan tersendiri, khatam membaca Al-Qur’an dan membentuk kepengurusan PAC IPNU IPPNU baru.

Tentang khatam membaca Al-Qur’an, ini adalah untuk yang kedua kalinya semenjak saya memulainya pasca bulan Ramadhan lalu. Tujuannya tidak lain agar di antara waktu bulan ramadhan kemarin dengan Ramadhan yang akan datang ada sesuatu yag telah saya capai. Karena biasanya saat mendekati bulan Ramadhan, seolah waktu begitu singkat “padahal rasanya baru puasa kemarin kok tiba-tiba sudah mau puasa lagi”. Ketika tidak ada target yang dikejar, maka selama satu tahun seolah-olah kita tidak pernah mencapai apapun.

Dalam membaca al-Qur’an ini saya menggunakan teknik satu hari satu juz. Waktu yang saya ambil adalah ba’da maghrib sampai isya. Hanya saja terkadang karena beberapa kesibukan atau ada sesuatu yang harus dilakukan ba’da maghrib, terpaksa program membaca al-qur’annya terbengkelai. Tetapi ketika masih bisa diusahakan untuk membaca al-Qur’an, maka sayapun tak ingin melewatkannya. Bisa saja sie sebenarnya saya menggantinya di waktu yang lain, namun saya tak melakukannya. Alasan saya sederhana, saya ingin istiqomah. Satu juz ba’da maghrib setiap hari.

Bukankah Istiqomah itu lebih baik dari seribu karomah ?

Selain itu, alasan kenapa saya memilih membaca al-Qur’an adalah karena itulah yang saya kira cocok dengan diri saya. Pernah pada waktu saya sowan kepada Pak Kyai Abdul Mutholib Mandiraja untuk nembusi tempat buat acara SKB, beliau memberikan wejangan tentang Syair Tombo Ati Lima Perkaranya. Syair yang di gubah oleh Sunan Bonang ini menjadi wejangan yang beliau sampaikan kepada kami.

Tombo ati iku limo perkarane
Kaping pisan moco Quran lan maknane
Kaping pindo sholat wengi lakonono
Kaping telu wong kang sholeh kumpulono
Kaping papat kudu weteng ingkang luwe
Kaping limo zikir wengi lingkang suwe
Salah sawijine sopo bisa ngelakoni
Mugi-mugi gusti Allah nyembadani

(Obat hati ada lima perkaranya. Pertama baca Quran dengan maknanya. Kedua, shalat malam dirikanlah. Ketiga, berkumpullah dengnan orang sholeh. Keempat perbanyaklah berpuasa. Kelima, dzikir malam perbanyaklah. Salah satunya siapa bisa menjalani. Semoga Allah mencukupi).

Beliau menyampaikan bahwa siapa yang mengamalkan salah satunya maka Allah akan mengabulkan hajat kita seperti pada syair. “Amalkan salah satunya saja. Jangan kesemuanya, asalkan istiqomah”pesan beliau menasehati. Beliaupun telah membuktikannya sendiri dan yang beliau amalkan adalah Manaqib Syaikh Abdul Jalil.

Struktur PH IPNU IPPNU Kec Bawang
Kebahagian yang kedua adalah membentuk pac ipnu ippnu baru. Dan ini merupakan kebahagian yang luar biasa melebihi makan makanan yang lezat. Pasalnya, pac ipnu ippnu Kecamatan Bawang ini adalah pac pertama yang saya bentuk selama menjabat jadi ketua padahal sudah satu setengah tahun. Namun, tak apalah toh selama ini juga saya sudah berusaha semaksimal mungkin. Dan semoga ini bisa menjadi kebagkitan terbentuknya pac-pac yang lain. Semoga.

Pembentukannya pun sederhana. Berawal dari ide untuk silaturahim ke Bawang pada hari Minggu. Malamnya saya sms ke Ali dan Nurul, memberitahukan bahwa besok saya dan Eman akan berkujung ke Sekolah, mohon rekan/ita yang lain di koordinir. Senin siang sesuai janji sayapun berkunjung ke Bawang bersama dengan Eman. Awalnya bukan untuk pembentukan pac namun hanya untuk memastikan bisa tidaknya mengadakan Makesta bulan Nopember.

Dalam perjalanan menuju ke Bawang, terlintas ide untuk sekalian membentuk kepengurusan yang saya sampaikan kepada Eman. Pemikiran saya, yang penting struktural Pengurus Harian (PH) nya sudah ada. Maka ketika musyawarah dengan rekan/ita ipnu ippnu Bawang yang alumni Dikaltama II, saya cetuskan ide untuk membentuk kepengurusan. Alhamdulillah ide tersebut ditanggapi dengan antusias. Maka dengan kesepakatan bersama, ditunjuklah Rekan Dartomo sebagai ketua IPNU dan Nurul Cholifah sebagai Ketua IPPNU. Selamat, semoga amanah dan bisa bersama-sama berjuang memajukan IPNU IPPNU di Banjarnegara.

Banjarnegara, 27 Oktober 2015 II 01:46 WIB

Mendem, Aksi Paling Seru dalam Pertunjukan Kuda Kepang

04:00:00 Add Comment
Malam ini saya menyempatkan untuk mengunjungi teman seperjuangan di ipnu. Organisasi yang kini menjadi tanggung jawab saya selaku nahkoda, mau berhenti, jalan atau apapun, bahkan berlari itu terserah saya. Susah si sebenarnya, apalagi harus mengordinir rekan pengurus yang saya yakin tak ada yang sama, punya pikiran dan kesibukan masing-masing yang manakala saya ingin mengumpulkan mereka, itu bisa menjadi “alasan” (lebih tepatnya pemakluman) atas ketidakhadirannya. Dan ini lumrah adanya, apalagi organisasi tanpa profit. Ditambah lagi kebanyakan mereka adalah para pelajar yang untuk urusan “uang”, masih menengadahkan tangan kepada orang tua.

“Membangun hubungan emosional. Menyatukan cara berpikir. Menyelami dan memahami satu sama lain.”

Itulah tujuan yang saya lakukan ketika mengunjungi mereka. Bercerita ngalor ngidul, tertawa yang diselingi dengan ngopi dan rokok bersama. Menjalin pertemanan sejati. Itulah yang akan menunjang keberhasilan sebuah organisai karena seorang pemimpin tak mungkin bisa berjalan sendiri. Kesuksesan pemimpin adalah berkat rekan pengurus di bawahnya yang rela dan mau untuk bersama-sama bergerak mewujudkan program kerja menjadi aksi nyata. Nah, salah satu cara agar rekan pengurus dibawahnya bisa rela dan mau, salah satunya adalah dengan membangun hubungan emosional terlebih dahulu. Ketika hubungan emosional telah terbangun maka secara otomatis cara berpikir pun sama yang pada akhirnya sang pemimpin punya patner yang bisa diandalkan. Tidak hanya dalam lingkup konsep (ide) saja, tetapi juga dalam eksekutor (kerja lapangan).

***
Kami bertiga. Satu teman saya adalah penjual molen di sebuah pasar Madukara. Ia standby dari sore hingga malam. Satunya lagi adalah Dayat, mahasiswa awal Fakultas Syari’ah yang baru saja pulang dari kampus dan baru saja sampai rumah. Setelah saya tanya katanya tidak lelah (entah kebenarannya .. hehe), maka saya mengajaknya ngumpul di tempatnya Anam, warung penjual molen. Karena motornya di pake bapaknya, maka sayapun menjemputnya dan segera meluncur ke warung pasar.

Kesenian Kuda Kepang (Sumber: Dokpri)
Waktu menunjukan pukul 10.00 malam. Masih terlalu sore bagi kami yang suka bergadang. Kebetulan molen di warung milik teman saya sudah habis. Maka kamipun memutuskan untuk menonton pertunjukan kesenian tradisional “Kuda Kepang” atau kami sering menyebutnya dengan “Imblig”. Ya, buat hiburan toh tempatnya juga tidak terlalu jauh dari pasar yang kami tonggkrongi.

Hay kompasianer, tahukah kalian apa itu Kuda Kepang? Sudah pernahkah nonton pertunjukan Kuda Lumping ini? Kalau belum, maka saya akan sedikit menguraikan apa itu Kuda Kepang. Jika kurang puas silahkan browsing di internet. Hehe

Kuda Kepang atau Imblig ada juga yang menyebut Kuda Lumping adalah kesenian tradisional yang dimainkan oleh sekelompok grup (yang baru saya lihat, ada 9 pemain) dengan menggunakan benda tiruan yang terbuat dari anyaman bambu menyerupai bentuk kuda.

Kesenian ini diiringi oleh musik berupa alat tabuh seperti gendang, angklung, gong besar, gong kecil, dan alat gamelan seperti piano, hanya saja bentuknya menyerupai lesung dan cara membunyikannya dengan di pukul. Udah pernah nonton wayang atau OVJ ..? Seperti itulah alat-alat musiknya.

Dalam kesenian ini ada juga yang namanya Sinden. Sinden ini bertugas untuk meramaikan pertunjukan dengan menyanyikan lagu-lagu jawa. Saya kira itu lagu khusus bagi sinden, pasalnya bahasanya sulit ditangkap ditelinga. Selain itu, sinden ini juga terkadang bernyanyi laiknya supporter namun nadanya seperti “nyuraki”. Jika di pertandingan sepak bola, sinden ini laiknya komentator.

“Ha’e. Ha’e. He’a. Ha’ eeeeee, ya ya yaaa,” ini sepotong nyanyian yang saya denger dari seorang Sinden. Selian itu entah nyanyian apa yang digubahnya. Paling tembang gambang suling yang lamat-lamat saya dengar di tengah asyik menikmati pertunjukan Kuda Kepang yang sudah dimualai.

Pertunjukan Kuda Kepang ini awalnya hanya sembilan. Pun demikian karena permulaan, cara mainnya masih santai dan rileks. Dengan pakaian khas yang terdiri dari bagian kepala di ikat dengan “slayer bermotif batik warna gelap dan putih”, bagian badan dengan mengenakan baju rompi seragam, bagian pinggang diikat dengan kain semacam jarit. Tak lupa kuda kepangnya di tunggangi seperti naik kuda beneran.

Saat Pemain Mulai Mendem
Lima belas menit telah berlalu. Permainan pun masih biasa-biasa saja. Hingga beberapa pemain mengakhiri dengan masuk ke ruang ganti sedang sisanya masih tetap memainkan kuda kepangnya. Hanya saja suasanaya berbeda. Mereka terlihat lebih garang dan seperti ada yang mengendalikan dirinya. Inilah yang dinamakan dengan Mendem. Mendem adalah memainkan tarian kuda lumping dengan tarian yang tak wajar bak orang kesurupan. Atau bisa di bilang seperti pemain film yang sedang mempraktekan jurus dewa mabuk.

Bagian inilah yang paling seru dan saya kira paling disukai oleh para penonton. Saya pun terkesima melihatnya. Seru deh pokoknya. Di bagian ini tingkah aneh para penari kuda kepang mulai muncul, dari makan kembang, menggerang-gerang, berguling di tanah dan lain sebagainya. Karakter setiap penari pun berbeda-beda, ada yang sepeti kera, ada yang seperti ulang dan bahkan menyerupai jenazah, ditutup pakai kain jait mulai dari kepala sampai kaki. Tak hanya itu, penari yang mendem dengan bertingkah laiknya jenazah tersebut di cambut dengen cemeti dibagian kaki dan badan. Bayangkan, di cambuk brow. Kalau raganya asli pasti mengerang kesakitan.

Seru memang iya. Tetapi hati juga was-was ketika para penari sedang mendem. Pasalnya beberapa dari penari ada yang mendatangi penonton dan mengajaknya menari dan tak butuh waktu lama penonton yang rangkul oleh penari yang sedang mendem itu ikut tertular mendem, tak sadarkan diri (bukan dirinya yang asli). Anehnya, gerakannya begitu lihai seperti sering berlatih menari. Akh ... mungkin itulah yang disebut dengan makhluk halus. Tak terlihat tetapi memang benar adanya. Kejadian semacam ini disebut dengan Jantur, Penari yang sudah mendem mempengarhi penari yang lain.

Penari yang Mendem Mulai Bertambah
Pertunjukan semakin seru. Satu persatu peneri yang mendem bertambah. Bukan hanya karena di Jantur saja, tetapi beberapa penonton juga ikut mendem. Mungkin tersugesti melihat penari-penari lain pada mendem apalagi iringan suara gamelan yang begitu syahdu.

Jam telah menunjukan waktu 00.30 WIB. Pukul satu dini hari. Dari arah corong pengeras suara terdengar himbauan dari penanggung jawab acara agar pertunjukan segera di selesaikan. Katanya sudah mendapat peringatan dari kepolsek bahwa kegiatan diijinkan hanya sampai pukul 12 malam. Maka, para pawang pun segera beraksi. Mereka berusaha untuk menyadarkan para penari yang mendem agar kembali normal seperti biasa. Umumnya para penari yang mendem mengusapkan kedua tangannya yang dibantu oleh beberapa pawang pada bagian muka sampai telapak kakli. Dan satu persatu penari yang mendempun kembali normal seperti biasa.


Banjarnegara, 25 Oktober 2015 03:28 WIB

Stand Up Comedy

09:57:00 Add Comment
Sumber; Tabloidbintang.com
Tahukah kalian apa itu Stand Up Comedy ? Hmmm ... Saya yakin kalian sudah tahu. Kalau belum tahu silahkan browsing di internet. Hehe

Stand Up Comedy Academic yang ditayangkan di stasiun tv Indosiar menjadi salah satu acara favorit yang saya suka. Tentu bukan tanpa alasan donk kenapa saya menyukainya, laiknya suka pada seorang cewek. Ada alasan yang mendasarinya.

Dalam tulisan ini saya akan mengulas sedikit alasan kenapa saya menyukai acara Stand Up Comedy Academic.
1)      Imajinatif
Membuat sebuah cerita menurut saya bukanlah hal yang mudah. Apalagi ketika cerita tersebut dipentaskan yang menuntut agar pendengarnya menjadi tertawa. Butuh kreatifitas dan imajinasi yang tinggi. Dan inilah alasan pertama kenapa saya menyukai acara stand up comedy.

Selain itu saya juga suka dengan desainer, pelukis, novelis dan berbagai profesi lainnya yang disitu mengasah seseorang untuk berimajinasi. Bagi mereka yang sudah terbiasa, mungkin beberapa hal di atas bukanlah hal yang sulit. Namun bagi para pemula, saya yakin itu menjadi sesuatu yang sangat sulit.
Gila-gila-gila. Ya, untuk mencapai titik puncak mudah kita harus menjadi gila. Bukan gila dalam arti tidak waras tetapi gila-gila-gila-gila, dilakukan terus menerus, berulang-ulang. Seperti naik sepeda motor. Awalnya tidak bisa, namun berkat latihan terus-menerus, diulang berkali-kali, akhirnya menjadi bisa bahkan begitu lihay. Bukankah begitu kawan ?

Perlu diingat dan saya yakin kalian sudah akrab mendengarnya, bahwa di dalam proses untuk mencapai titik mudah kita akan mengalami jatuh bangun. Dan itu sudah menjadi hukum alam. Tinggal bagaiama kita menyikapi, kapok kemudian berhenti atau tetap berlatih hingga mencapai titik lihay.
2)      Awet Muda
Jangan suka ngambek (cemberut), nanti jadi cepet tua lho.Pernah dengar guyonan semacam ini ? Tahukah kalian bahwa goyonan tersebut ternyata ada benarnya lho. Pasalnya ketika seseorang memasang muka cemberut, dibutuhkan 43 otot yang berada di bawah kulit wajah untuk digerakan. Berbeda ketika tersenyum, kita hanya menggerakan 17 otot wajah. Artinya, banyak cemberut menjadikan cepat tua dan tersenyum membuat awet muda. Gak percaya? Buktikan saja sendiri. Hehe

Nah acara stand ap comedy ini adalah acara yang membuat para penonton menjadi tersenyum. Kelucuan-kelucuan yang di buat oleh para comica memaksa kita untuk tertawa. Dan ini cocok buat para pekerja yang sehari-harinya berkutat pada rutinitas pekerjaan yang membosankan. Semacam hiburan.

Terlepas dengan hal diatas, tersenyum itu banyak memberikan manfaat yang salah satunya adalah memberikan kenyamanan kepada orang lain di sekitar kita. Diakui atau tidak bahwa berteman dengan orang yang ramah itu lebih menyenangkan dan menentramkan. Berbeda ketika berteman dengan orang yang serius dan memasang muka kaku. Rasanya canggung.
3)      Media Belajar
Ada sebagian orang yang punya karakter kaku yang ketika bersama dengan temannya lebih banyak memasang muka serius. Hal ini tentu bukan hal yang salah. Tetapi bagi mereka yang bergelut dalam bidang pendidikan, guru misal, hal ini saya kira kurang baik. Pasalnya, hal ini akan membuat peserta didik menjadi bosan. Ketika bosan, besar kemungkinan materi yang disampaikan lebih banyak tidak bisa dicerna dengan baik.

Acara Stand Up Comedy ini bagi saya merupakan salah satu media untuk belajar bagaimana menciptakan suasana santai dan menyenangkan. Karena pengalaman saya, ketika di ajar oleh dosen yang kaku tanpa ada humor sedikitpun membuat suasana menjadi membosankan. Bukan hanya guru saja sebenarnya, setiap orang juga perlu punya humor apalagi dalam dunia pertemanan, humor menjadi salah satu perekat hubungan emosional antara teman satu dengan yang lainnya.

Selain ketiga alasan diatas, acara stand up comedy juga menjadi penular energi positif. Pasalnya ketika menonton para comica tampil, penonton pun akan berimajinasi membayangkan hal-hal sederhana yang kira-kira bisa untuk di buat menjadi hiburan.

Akhirnya, saya merekomendasikan bagi para pekerja yang tak sempat piknik karena tak punya waktu libur untuk menonton acara ini. Daripada menonton hal-hal yang membuat kita baper dan kurang bermanfaat. Lebih baik acara ini donk. Mendidik untuk berpikir kreatif. Hehe


Banjarnegara, 23 Oktober 2015 02:43 WIB

Aku Bangga Jadi Santri

08:20:00 Add Comment
Selamat Hari Santri Nasional
Saya pernah menjadi santri. Walau hanya beberapa tahun yang mungkin terlalu sebentar. Saya pernah menjadi santri. Walau selama itu saya banyak mengabaikan sesuatu yang lazim dilakukan oleh seseorang yang berstatus santri, mengaji. Tetapi saya bangga pernah menjadi santri, setidaknya dari situlah saya memulai kehidupan baru. Kehidupan yang pada akhirnya membuat saya tumbuh berbeda dengan kebanyakan orang desa lainnya, mulai dari pergaulan, sifat dan tentunya cara pandang dalam menjalani kehidupan.

Jika kebanyakan remaja di desa seumuranku hanya sampai level SD dan mentok tingkat SMP kemudian lebih memilih untuk menjadi petani seperti umumnya masyarakat lainnya, maka saya beruntung bisa sampai pada tingkat mahasiswa “kuliah”. Tingkat pendidikan yang untuk saat ini masih sedikit peminatnya, ya bisa dihitung dengan jari. Itu tidak lain karena pengaruh pergaulan, selain kondisi ekonomi. Kenapa sekolah tinggi-tinggi, toh pada akhirnya jadi petani. Itulah cara pandang masyarakat di desaku saat ini yang masih cukup kental.

Banyak hal yang saya pelajari sewaktu menjadi santri. Tentang kebersamaan, kesederhanaan, ketawadhu’an dan tentunya tentang ilmu agama.

Di pesantren kerbersamaan antar santri terjalin begitu kuat meskipun berlatar belakang dan berasal dari daerah yang berbeda. Itu terjadi karena kesamaan nasib, sama-sama mencari ilmu. Intensitas pertemuan karena satu kamar atau sewaktu mengaji membuat hubungan emosioal terbangun laiknya sebuah keluarga.

Cuci baju sendiri, tidur dengan alas seadanya, makan makanan seadanya dan entah apalagi yang di situ kami belajar tentang arti kesederhanaan. Ya, di pesantren kami belajar tentang arti sederhana. Menjalani rutinitas dengan mandiri dan tentunya jauh dari kemewahan. Tak ada televisi, bangun pagi. Pokoknya serba sederhana.

Ketadhu’an. Dalam dunia pesantren, jargon sami’na wa ato’na begitu kental. Ketika seorang kyai menyuruh sesuatu, maka seorang santripun bergegas untuk segera melakukan titah kyai tersebut. Itu adalah bagian dari ketawadhu’an seorang santri kepada seorang guru. Sesuatu yang jarang di temukan di dunia pendidikan umum. Tak ada santri yang berani dengan kyai nya. Menunduk ketika berhadadapan, duduk tak sejajar dengan tempat duduk kyai, bahkan dalam jarak satu meter pun ada seorang santri yang berjalan dalam keadaan jongkok.

Tentang ilmu agama. Jangan ditanya lagi. Pesantren adalah gudangnya. Hanya saja segala sesuatu tergantung pada diri masing-masing santri. Artinya mereka yang bersungguh-sungguh, maka mereka pun akan menguasai ilmu agama. Pun sebaliknya.
***

Selamat Hari Santri Nasional. Semoga dengan penetapan hari santri ini bisa membuat kaum pesantren menjadi lebih baik lagi. Bisa menangkal mereka yang salama ini berpikir negatif tentang pesantren. Bahwa pesantren dengan segala unsurnya adalah pondasi akhlak sebuah bangsa.


Banjarnegara, 22 Oktober 2015 08:17 WIB
Membeli Charger Lagi

Membeli Charger Lagi

09:37:00 Add Comment
Alhamdulillah akhirnya notebook nya hidup lagi.

Beberapa hari yang lalu setelah charger kualitas KW yang baru seminggu saya beli rusak, saya memilih untuk mendiamkan notebook, itung-itung buat istirahat lah. Karenanya, aktivitas menulis pun terhenti. Bahkan tugas membuat proposal skripsi pun belum saya sentuh sedikitpun. Parah.

Sebenarnya ketika charger kualitas KW yang saya beli rusak, saya masih punya simpanan uang di ATM. Hanya saja uang tersebut akan saya gunakan untuk registrasi acara Indonesia Younth Dream jika nantinya terpilih menjadi peserta. Sayang, harapan menjadi peserta pun pupus ketika tanggal 17 kemarin, saya mendownload pengumuman dan tak ada nama saya dalam daftar peserta tersebut. Ah, mungkin karena kualiatas tulisan dan jawaban yang saya berikan ketika pendaftaran masih terlalu dangkal. Tapi tak apalah, setidaknya saya sudah berani mencoba untuk ikut berkompetisi dengan 1200 lebih pendaftar lainnya.

Gagal menjadi peserta membuat saya merasa senang sekaligus sedih. Senang karena uang yang telah saya siapkan untuk registrasi bisa saya gunakan untuk membeli charger lagi, tentu yang orisinil donk. Kapok membeli charger kualitas KW, gampang rusak. Sedih karena acara yang saya harapkan bisa saya ikuti tak tercapai. Artinya kesempatan untuk menempa diri dan belajar dengan orang hebat pun hangus. Bukankah menempa diri dan belajar merupakan keharusan ?

Hampa. Begitulah rasanya ketika notebook yang menjadi tumpuan berbagai aktivitas tak kunjung bisa dihidupkan. Ngedrop.Menulis, membuat tugas, berselancar di internet, membuat laporan, dokumen kegiatan, membuat proposal skripsi dan berbagai kegiatan lainnya harus terhenti. Maka, kemarin sore sepulang kuliah saya pun menyempatkan untuk membeli charger lagi. Kali ini yang saya beli adalah yang orisinil dengan harga Rp. 345.000,-. Lebih mahal memang, tetapi dengan pertimbangan bahwa charger tersebut akan saya gunakan dalam rentan waktu yang lama maka mahal tidaklah menjadi masalah. Bandingkan saja dengan kualitas KW yang harganya Rp. 150.000,-. Lebih murah, tetapi jika hanya bisa di pake satu minggu bukankah itu menjadi masalah tersendiri.

Siap menulis lagi? Tentunya.


Rumah II 21 Oktober 2015 06:28 WIB
Charger Rusak Lagi

Charger Rusak Lagi

02:51:00 Add Comment
Malam ini charger yang belum lama ini (6 Oktober 2015) saya beli, rusak. Pada bagian adaptor mengeluarkan percikan api seperti terbakar. Awalnya saya santai-santai saja, tetapi ketika saya mencoba untuk mengecas lagi karena batere hampir habis ternyata tidak berfungsi. Rusak.

Ternyata benar apa yang dikatakan oleh penjual charger waktu itu. Kualitas charger KW itu tidak bertahan lama, mending yang orisinil. Tetapi kondisi keungan yang tidak memungkinkan membuat saya tetap bertahan untuk membeli charger kualitas KW bukan yang orisinil. Ah, menyesal deh.

Memang terkadang kita harus mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Seperti harga mahal misal, jika dengannya bisa mendapat kualitas charger terbaik kenapa harus memilih yang murah. Kapok deh. Tetapi apa boleh buat, sudah terlanjur. Ibarat nasi udah jadi bubur.

Hmmm ... Rugi juga. Tetapi ambil hikmahnya saja lah. Setidaknya dari pengalaman ini bisa membuat saya berpikir ulang ketika mau membeli charger lagi. Harga memang mempengaruhi kualitas. Seperti hukum pasar dan saya meyakininya.

Ya sudah lah. Nikmati saja masa-masa harus tanpa netbook. #Tepuk jidat.

Banjarnegara, 13 Oktober 2015 02:49 WIB

Kuota Internet

01:01:00 Add Comment
Ilustrasi (Mad Solihin)
Tiga hari yang lalu kuota internet saya habis. Maka serasa hampa dan ada yang kurang, bahkan hp android pun seperti tak ada gunanya. Mungkin memang karena sudah kecanduan kali ya, sehingga saya pun tak bisa bertahan lama untuk tidak membeli kuota internet yang baru.

Saya akui, bahwa seperti kebanyakan orang zaman sekarang, mereka begitu akrab dengan sosmed, baik fb maupun twitter. Namun, di balik kecanduan yang saya alami, internet menjadi sumber kreatifitas terutama dalam hal menulis. Karena tanpanya, tulisan yang sudah siap saya posting hanya akan mengendap di folder komputer.

Bagi saya segela sesuatu tergantung pada niat dan kemanfaatannya. Termasuk ketika membeli kuota internet baru. Pertimbangan saya adalah karena internet sering saya gunakan untuk tathering netbook. Arus informasi juga lebih cepat di akses melalui internet.

Jika kemanfaatan itu lebih banyak, berkorban sedikit bagi saya tidaklah masalah. Termasuk ketika membeli kuota internet. Pertimbanngan asas manfaatlah yang saya gunakan.


Banjarnegara, 13 Oktober 2015 00:59 WIB
Rantau 1 Muara

Rantau 1 Muara

00:16:00 Add Comment
Rantau 1 Muara (Negeri 5 Menara, #3)
Sumber: Goodreads.com
Rantau 1 Muara. Novel ini adalah novel kedua karya Ahmad Fuadi yang saya baca. Novel pertamanya adalah Negeri 5 Menara yang bercerita perihal kehidupannya sewaktu hidup di pesantren. Novel yang bercerita tentang kehidupannya pasca selesai kuliah ini adalah novel ke tiga dari Trilogi Negeri 5 Menara. Inspiratif dan penuh dengan motivasi. Sayapun terpacu untuk bermimpi bisa ke luar negeri ketika membaca cerita Alif, tokoh utama dalam novel tersebut yang mendapat beasiswa S2 di Amerika. Ah, rasanya memang mimpi itu sangatlah penting.

Sebagaimana keyakinanku bahwa setiap buku membawa ilmu dan pengetahuan baru, maka di novel Rantau 1 Muara pun saya mendapat pengetahuan baru. Dan sebagai salah satu cara untuk menyimpan pengetahuan baru agar suatu saat tak usah membaca bukunya secara keseluruhan, maka sayapun mencatat point-point yang cukup penting.

Man saara ala darbi washala, siapa yang berjalan di jalannya, akan sampai di tujuan” (29)

“Berusahalah untuk mencapai sesuatu  yang luar biasa dalam hidup kalian setiap tiga sampai lima tahun. Konsistenlah selama itu, maka insya Allah akan ada terobosan prestasi yang tercapai” (29)

Man yazra yahsud. Siapa yang menanam, dia menunai” (30)

Setelah merasa cukup di masa pengasingan, dia berjuang keras merobek kepompongnya yang liat. Pelan-pelan dia meregangkan badannya. Sayap yang basah dan ringkih dikepek-kepakkan sehingga kering dan kuat. Dia hirup udara untuk menguatkan badannya. Dulu hanya merayap di ranting, kini terbang bebas ke angkasa. Dulunya ulat yang lemah dan jelek, kini jadi rama-rama bersayap indah. Sesuatu itu bisa indah pada waktunya.

Aku mungkin perlu memprkatekan ilmu rama-rama ini, setelah lama jadi kepompong kuliah di Bandung. Aku harus berani merobek keterbatasan dan keluar dari zona nyaman ini. jangan jadi ulat terus, aku harus jadi rama-rama, merantau ke dunia baru di Jakarta. Tempat aku terbang mencari bunga dan madu. Ulat dan rma-rama jadi contohku. Alam takambang jadi guru. (34)

Menulis bisa di pelajari dan dilatih. Tetapi karakter dan sifat itu tidak digampang berubah karena sudah tertanam sejak kecil. (39)

Pondasi kerja kita bukan jurnalisme yang memihak sau golongan. Kami percaya bahwa kebajikan, juga ketidakbajikan, tidak menjadi monopoli satu pihak. Kami percaya bahwa tugas pers bukan menyebarkan prasangka, justru melengkapinya. Bukan membenihkan kebencian, melainkan mengkomunikasikan saling pengertian. Jurnalisme majalah ini bukan tidak dimaksudkan untuk menjilat atau menghamba. Yang menjadi komando bukan kekuasaan atau uang, tetapi niat baik, sikap adil dan akal sehat. (56)

Apapun tulisannya, jangn lupa riset dulu. Riset itu hukumnya fardhu ‘ain. Kalau mau wawancara narasumber, kalian perlu tahu hobinya, dia suka makan apa, berapa anaknya, berapa istrinya, dimana simpanannya, siapa sopirnya, apa rahasianya, apa kelemahannya, dan apa kelebihannya. Semua kalian endus dulu semaksimal mungkin. Kalau kalian sudah menguasai latar belakang yang akan diwawancara, maka kalian akan mudah memahami kepribadiannya. Pertanyaan harus berbobot, strategis dan mencerahkan.

Find what you want to do and do it. Temukan apa yang ingin kamu lakukan dan lakukan itu. Love what you are doing. Cintai apa yang kamu lakukan. (111)

When you love what you are doing, you do not look at the clock. It is just wonderful.
Give yourself more than expected. Memberikan sesuatu yang lebih dari yang diharapkan. Kalau perlu bangun jam 4 subuh untuk memulai bekerja. No way you can not to to the top.

Carilah pekerjaan yang kamu cintai dan kamu tidak akan pernah lagi bekerja satu haripun sepanjang hayat. (Konfusius, Filsuf China) (111)

Dibalik kesuksesan seorang laki-laki, pasti ada sosok seorang perempuan yang hebat. Pilihlah perempuan terbaik. Karena dia yang mengingatkan dan menguatkan kita kaum laki-laki. Dan kalau nanti dianugerahi anak, perempuan pulalah yang menjadi madrasatul ula, sekolah pertama setiap anak manusia. (266)

Dalam hidup ada tiga manusia terdekat. Orangtua, pasangan dan anak. Semua diberikan sebagai takdir. Kita tidak bisa memilih untuk dilahirkan oleh ibu yang mana. Kita juga tidak akan pernah bisa memilih mendaptkan anak seperti apa. Tapi, kita masih mungkin memilih pasangan kita. walau jodoh di tangan Tuhan, tapi kita diberi kesempatan untuk berupaya keras mendapat pasangan terbaik. (267)

Itulah beberapa point di Novel Rantau 1 Muara karya Ahmad Fuadi yang saya kira penting. Semoga bisa membaca ke duanya yang berjudul Ranah 3 Warna. Semoga.


Banjarnegara, 12 Oktober 2015 20:06 WIB
#5 Kisah anak yang Taat

#5 Kisah anak yang Taat

06:24:00 Add Comment
Hasan adalah anak yang taat. Ia selalu sholat lima waktu setiap hari dan bersemangat ketika berangkat ke madrasah, membaca Al-Qur’an dan mengulang pelajarannya di rumah. Oleh karena itu ayah dan ibunya menyanyanginya, begitupun dengan guru-guru dan semua orang.

Adapun kebiasaan yang ia miliki ketika akan tidur adalah mengingat Allah, bersyukur karena Allah selalu menjaganya sepanjang hari dari balak dan penyakit. Dan berdo’a : ”Bismika Allahumma ahyaa wa amuut” (Dengan menyebut nama-Mu, Ya Allah Dzat yang menghidupkan dan mematikanku). Dan ketika bangun dari tidurnya, ia bersyukur atas kenikmatan tidurnya seraya berdoa: “Alhamdulillahilladzii ahyaanaa ba’da amaatanaa wa ilaihin nusyur” (Segala puji hanya milik Allah yang telah menghidupkan setelah mematikan kita, dan kepada-Nya kita kembali).

Adapun kebiasaan lain yang dilakukan oleh Hasan ketika akan makan adalah mengawalinya dengan berdo’a : “Bismillahirrahmanirrohim”. Dan dan ketika selesai makan, ia bersyukur atas kenikmatan makan, karena sesungguhnya ia tahu bahwa sesungguhnya Allah lah yang menciptakan makanan untuknya. Seraya berdo’a : “Alhamdulillahilladzii ath’amanii hadza tho’am, wa rozaqonihi min ghoiri haulin wala quwwatin”.

Alangkah indahnya anak yang taat ini : Allah meridhoinya dan ia akan dimasukan ke dalam surga.


Banjarnegara, 8 Oktober 2015
Aku Pandai Menulis Cerpen

Aku Pandai Menulis Cerpen

19:09:00 Add Comment
Hari ini saya menamatkan satu buku bacaan yang berjudul “Aku Pandai Menulis Cerpen” karya A. Kristiawan Muryanto. Buku setebal 76 halaman ini sebagaiman judul bukunya, mengupas seluk-beluk cerpen. Mungkin karena isinya sudah cukup familier dari SD sampai MA di ajari sehingga bisa neyelonong dan lihai deh membacanya. Saya mulai membaca di pagi hari dan selesai sekitar pukul dua siang. Gak sampai setengah hari malah.

Meskipun sudah cukup familier tetapi banyak ilmu yang saya dapat. Baik itu ilmu baru ataupun endapan ilmu lama yang karena membacanya menjadi ingat lagi. Selain itu yang membuat saya cukup cepat dalam membacanya adalah faktor tulisannya yang menurut saya enak di baca. Nah, bagian inilah yang tidak semua penulis bisa melakukannya.

Sebagaimana sebuah buruan, hasil bacaan dan ingatan dari membaca buku tersebut akan mudah lepas manakala tidak di ikat. Sehingga melalui tulisan ini saya ingin mengikatnya. Tujuannya tidak lain adalah jika suatu saat saya membutuhkan saya bisa segera membukanya kembali.  Apalagi menyimpannya di blog yang terhubung oleh internet tentu lebih mudah dan praktis. Berbeda jika di buku, harus membolak-balik kertas. Ya kalau langsung ketemu, kalau tidak kan tambah lama. Pasalnya kita biasanya tidak ingat di buku mana kita mencatatnya.

Baiklah itu sedikit pengantar. Langsung saja lah dari pada blundet membaca tulisan yang gak genah. Beberapa point yang saya tangkap dalam buku tersebut.

(a) Pengertian cerpen : Cerpen adalah salah satu karya sastra yang berbentuk prosa. Sesuai dengan namanya, cerpen (cerita pendek) haruslah pendek sebatas selesai baca dalam sekali duduk dan harus harus menimbulkan kesan selesai, tidak lagi mengusik dan menggoda karena ceritanya seperti masih berlanjut. Menurut A. Bakar Hamid, dalam cerpen banyaknya perkataan yang dipakai antara 500-20.000 kata, adanya satu plot, adanya satu watak dan adanya satu kesan.

(b) Unsur-unsur cerpen. Unsur-unsur cerpen ini ada dua, unsur ekstrinsik (di luar) dan unsur intrinsik (di dalam). Contoh unsur ekstrinsik cerpen ini lebih banyak berhubungan dengan pengarang, seperti budaya, agama, falsafah hidup, pendidikan, dan lain sebagainya.
Sekarang lanjut ke unsur instrinsik sebuah cerpen.

(1) Tema dan amanat. Tema merupakan suatu gagasan, ide, atau pikiran utama yang mendasari suatu cerpen. Ibarat rumah, tema adalah pondasi. Tema ini dagi menjadi tema besar dan tema sederhana. Tema besar atau umum ini berkaitan dengan masyarakat luas. Contoh ; masalah sosial, agama atau ketuhanan, politik, pendidikan, dsb. Sedangkan tema sederhana adalah tema yang berkaitan dengan hubungan personal atau individu. Contoh ; tentang persahabatan, kekeluargaan, percintaan dan sebagainya. Amanat adalah pesan atau ajaran moral yang ingin disampaikan oleh seorang pengarang. Amanat ini juga dibagi dua, amanat yang ditampikan secara tersirat (implisit) dan amanat yang ditampilkan secara tersurat (eksplisit).

(2) Alur dan Pengaluran. Aluratau plot dapat diartikan dengan rangkain peristiwa yang terjalin secara seksama yang berguna untuk mencapai tujuan tertentu, yang dalam hal ini adalah akhir sebuah cerita. Menurut Effendi sebagaiman dikutip oleh Muryanto, bagian-bagian alur ada enam, yaitu :

> Awal. Berisi lukisan waktu dan tempat yang menuntun pembaca mengikuti jalan cerita.
> Tikaian. Berisi penampilan permasalahan atau persoalan yang dihadapi pelaku.
> Gawatan atau rumitan. Bagian ini menggambarkan permasalahan yang sdah semakin mengkhawatirkan dan gawat.
> Puncak. Bagian ini menggambarkan permasalahan sudah mencapai puncak.
> Leraian. Bagian ini menggambarkan permasalahan  yang telah berangsur-angsur dapat diatasi dan kekhawatiran mulai hilang.
> Akhir. Bagian ini menggambarkan bahwa permasalahan sudah dapat diatasi oleh sang pelaku.

Pengaluran. Selain alur ada juga pengaluran yang bisa dianggap sebagai pengaturan urutan pembentuk cerita. Pengaluran ini dibagi menjadi dua : (1) Pengaluran lurus yaitu penampilan alur dengan deretan peristiwa yang disusun secara kronologis. (2) Pengaluran sorot balik (flashback) yaitu pengaluran yang urutan kronologis atau peristiwa-peristiwa dalam cerita disela dengan peristiwa yang terjadi sebelumnya.

(3) Tokoh dan Penokohan. Tokoh dalam sebuah cerpen merupakan unsur yang penting. Istilah tokoh mengacu pada pelaku dalam cerita dapat berupa manusia, binatang dan lain sebegainya. Tokoh ini dibagi menjadi dua : (1) Tokoh sentral yaitu tokoh yang mempunyai peranan penting sehingga disebut tokoh utama atau protagonis. Umumnya, tokoh protagonis mempunyai lawan yang disebut dengan tokoh antagonis. (2) Tokoh bawahan yaitu tokoh yang kedudukannya tidak terlalu penting dalam cerita, tetapi kehadiarannya diperlukan untuk menunjang atau mendukung tokoh utama.

Ponokohan. Dalam setiap cerpen seorang tokoh pasti mempunyai watak tersendiri dan berbeda antara satu dengan yang lainnya. Watak para tokoh baik ataupun buruk disajikan dengan teknik penokohan. Jadi, penokohan adalah cara penggambaran tokoh dalam suatu cerita.

Penokohan ini berfungsi agar pembaca dapat memahami watak-watak tokoh yang ditampilkan dalam cerpen. Dalam penokohan, ada dua metode yang dapat digunakan oleh pengarang. (1) Metode analitik atau langsung, yaitu pengarang dapat memaprkan langsung secara naratif, atau juga menambahkan komentar tentang watak tokoh tersebut. Selain itu pengarang juga dapat mengisahkan sifat-sifat, hasrat, pikiran maupun perasaan tokoh melaui pencerita. (2) Metode dramatik atau tidak langsung. Dengan metode ini, seorang pembaca dapat menyimpulkan watak tokoh dari pikiran, cakapan, dan perilaku tokoh yang disajikan dalam cerpen oleh si pengarang. Selain itu, watak tokoh juga dapat disimpulkan dari penampilan fisik, kesan tokoh lain terhdap dirinya, serta gambaran hal-hal disekitar tokoh.

(4) Latar dan pelataran. Latarmerupkan keterangan dan petunjuk yang mengacu pada waktu, tempat maupun suasana di dalam cerpen. Latar tempat menyatkan lokasi dimana cerita berlangsung dan latar waktu menyatakan waktu berlangsungnya cerita. Sedangkan latar suasana menyatakan suasana yang terungakp dalam cerpen, seperti mengharukan, menyedihkan, lucu, mencekam dan sebagainya.

Teknik untuk menampilkan latar di sebut dengan pelataran. Ada dua jenis pelataran ; (1) Pelataran sejalan yaitu apabila keadaan lingkungan sama dengan keadaan tokoh. Contoh, latar yang muram dan mendung untuk mendukung tokoh yang sedang berduka. (2) Pelataran Kontras yaitu apabila latar yang digunakan tidak senada dengan keadaan tokoh. Contoh, tokoh menangis sedih di tengah pesta yang meriah.

(5) Sudut Pandang atau Point of View. Sudut pandang merupakan visi pengarang yang dijelmakan ke dalam pandangan toko-tokohnya dengan cara bercerita. Ada tiga sudut pandang bisa digunakan oleh pengaranga. (1) Sudut pandang orang pertama. Dalam sudut pandang orang pertama ini, pengarang menggunakan kata ganti orang pertama, “aku” atau “saya’. Jadi, pencerita atau narator termasuk tokoh dalam cerpen. (2) Sudut pandang orang ketiga. Dalam sudut pandang orang ketiga ini, pengarang menggunakan kata ganti, “ia” atau “dia”. Selain itu, pencerita dapat menyebut langsung nama tokoh-tokoh di dalam cerpen. Jadi, pencerita berada di luar cerita. (3) Sudut pandang campuran. Dalam sudut pandang campuran ini pengarang menggunakan kata ganti orang petama dan ketiga untuk membaurkan anatar pendapat pengarang dan tokoh-tokohnya.

Mungkin hanya ini yang bisa saya review dari buku “Aku Pandai Menulis Cerpen”. Selebihnya silahkan baca sendiri. Pokokny asyik deh isinya dan mudah di pahami. Dan akhirnya selamat membaca. Semoga bermanfaat.

Judul Buku       : Aku Pandai Menulis Cerpen
Penulis             : A. Kristiawan Muryanto
Penerbit          : PT. Citra Aji Parana Yogyakarta
Tebal               : 76 Halaman
Tahun terbit    : 2008

Banjarnegara, 7 Oktober 2015 19:04 WIB

Menikmati Indahnya Puncak Gunung Prau Dieng

12:45:00 Add Comment
Menikmati Indahnya Pagi di Puncak Gunung Prau
Sabtu kemarin (26/9), saya berkesempatan ikut naik ke Puncak Gunung Prau Dieng  Wonosobo bersama dengan rakan/ita ipnu ippnu Banjarnegara. Acara yang telah di agendakan cukup lama sebagai penghibur di sela-sela kebosanan ketika kegiatan hanya kumpul-kumpul saja.

Dalam sebuah organisasi tentunya kegiatan ini sangatlah penting. Selain untuk refresh juga sebagai pengingat hubungan emosional satu sama lain. Karena hubungan emosional biasanya banyak terbangun dalam kegiatan-kegiatan yang bersifas santai.

Perjalanan di mulai dari Banjarnegara, tepatya di gedung pcnu Parakancanggah. Setelah semua berkumpul dan di rasa sudah siap semua, maka kami pun melucur dengan mobil truck yang Syafiq sewa di Mandiraja sekitar pukul setengah 4 sore. Serasa sepeeti sapi, hehehe. Tapi tidak dengan dengan saya, saya duduk di depan dengan Nuzul. Setengah 6 kami sampai di Desa Patang Banteng, pos pedakian menuju ke Gunung Prau. 
Istirhat Sebelum Naik Puncak
Saat Transite di Rumah Pak Lik'y Habib
Karena hampir magrib dan dum/tenda belum sampai, maka Habib mengajak kami istirhat dulu di tempat Pak Lik nya. Kami yang berjumlah 42 orangpun menurut. Di sela-sela istirahat, saya bersama dengan Syafiq dan Habib pergi ke tempat registrasi untuk membeli tiket. Ternyata tarifnya sudah naik menjadi Rp. 10.000,-/orang. Waktu mendaftar kami juga di beri brosur yang isinya beberpa larangan ketika berada di Puncak Gunung Prau. Di antaranya adalah tidak boleh membuat api unggun, jika ketahuan akan di denda Rp. 35.000,-.Tidak boleh membawa senjata tajam, tidak boleh membawa alat musik dsb. Intinya ketika melanggar akan dikenakan sanksi.

Pukul setengah 9 kami mulai mendaki Puncak Gunung Prau. Gunung yang berada di ketinggian 2.565 MPDL ini kami tempuh dengan waktu dua jam tepatnya pukul setangah 11 kami sampai. Maklum banyak cewek yang ikut sehingga banyak istirahatnya. Pos Patak Banteng ini adalah salah satu rute pendakian menuju Puncak Prau yang paling dekat. Hanya saja medannya cukup ekstrim, menanjak dan berdebu. 

 Sesampainya di puncak kami segera memasang tenda yang kami bawa. Sialnya, ternyata tendanya tidak cukup menampung semua. Wal hasil saya bersama Habib dan Ishak mengalah untuk tidak masuk ke tenda, memilih untuk bergadang sampai pagi. Indahnya cahaya rembulan cukup menjadi penghibur meskipun udara dingin tak kuasa kami halau dengan jaket dan sarung yang telah kami balutkan ke tubuh. Tetapi itu bukanlah masalah, melihat rekan/ita yang lain senang sudah cukup menjadi obat tersendiri bagi saya. Ya, saya merasa cukup puas bisa mengawal mereka, ya karena memang itulah tugas yang saya emban. Semoga kegiatan muncak ke Gunung Prau ini bisa menambah semangat mereka untuk melestarikan ipnu ippnu di Banjarnegara. 
CBP KPP IPNU IPPNU Banjarnegera
Berpose Sebelum Pulang
Pukul 5 pagi langit sudah terlihat cerah. Semburat cahaya orange dari ufuf timur terlihat begitu indah. Para pendaki satu persatu mulai keluar dari tenda, mencari tempat yang indah untuk berpose. Berharap bisa melihat sunrise meuncul. Sayang, keberuntungan sedang tak berpihak kepada kami para pendaki Gunung Prau. Sunrise yang di tunggu ternyata tidak muncul seperti yang diharapkan. Tetapi itu tidaklah masalah. Setidaknya kami bisa melihat indahnya pagi di Puncak Gunung Prau Dieng.

Saya pun tak ketinggalan mengabadikan moment istimewa ini dengan kamera. Ya, foto adalah salah satu hal yang lazim untuk menyimpan hal terindah yang kita lalui. Moment-moment yang bisa menjadi bekal cerita untuk anak-cucu kita nanti. Hehehe nikah juga belum udah negomongin cucu.

Petani Menjadi Pedadang

“Tidak ada yang sulit bagi Allah untuk menunjukan jalan rizki hamba-Nya.”

Tahukah kalian kawan, bahwa destinasi keindahan Puncak Gunung Prau ini ternyata membawa berkah tersendiri bagi masyarakt sekitar. Banyak para petani yang menyulap lahannya menjadi warung-warung dan home stay. Bahkan tidak hanya di pos pendakian di mana kita registrasi warung-warung berdiri, di beberapa titik jalan pendakian juga berdiri warung-warung yang menjual makanan ringan dan minumanan.

Inilah kenapa tempat wisata juga perlu perhatian khusus, baik dari pemerintah maupun masyarakat lokal. Karena selain untuk menjaga kenyamanan pengunjung juga sebagai tambahan penghasilan masyarakat sekitar.

Semoga next time bisa muncak lagi di tempat yang berbeda.


Perpusda Wonosobo II Kamis, 01 Oktober 2015 II 11:48 WIB