Rumah Tanpa Jendela

7:13:00 AM Mad Solihin 0 Comments

Sumber : DokPri
Hari ini saya menyelesaikan satu novel lagi. Jika kemarin milik Laode, sekarang saya berkesempatan membaca karya milik Asma Nadia, penulis yang sekarang sedang naik daun. Namanya memang sudah tak asing lagi bahkan cukup akrab di telingaku, namun baru kali ini saya berkesempatan untuk membaca karya langsungnya. Sebuah novel berjudul “Rumah Tanpa Jendela” yang saya pinjam di Perpusda Wonosobo Rabu kemarin.

Selain namanya yang cukup heboh di internet, film “Assalamu’alaikum Beijing” dan “Ku Kejer Cintaku sampai Negeri Cina” membuat nama Asma Nadia lebih akrab di telingaku. Setidaknya lewat film “Assalamu’alaikum Beijing” membuat saya tahu bahwa Asma Nadia adalah seorang reporter di China, tentang kisah kehidupannya yang pernah mengalami masa-masa sulit dan sebagainya. Dari dua film tersebut saya pun punya mimpi baru untuk bisa berkunjung ke Beijing, sekedar untuk jalan-jalan dan berpose di tembok bersejarah yang masuk dalam salah satu kategori keajaiban dunia.

Tulisan ini bukanlah resensi melainkan refleksi atas buku yang telah saya baca sebagaimana postingan-postingan sebelumnya. Sebagai prasasti bahwa saya pernah membaca buku tersebut sebagai buktinya saya tahu isinya meskipun hanya sedikit. Karene tentunya tahu keseluruhannya tidaklah mungkin, paling pol ya tahu inti isi buku tersebut.

Sama seperti novel “Negeri Sapati” yang isinya mengaduk-aduk perasaan sehingga sayapun terbawa suasana hingga tanpa bisa ditahan titik-titik bening keluar dari dua bola mata ketika membaca pada bagian yang mengharukan. Padahal cowok lho, kok jadi cengeng ya. Seperti tadi sore misal, ketika pada bagian yang menceritakan tentang Aldo, anak autis yang karena ketidaksempurnaannya membuat keluarganya malu kepada orang lain. Puncaknya ketika Aldo merasa bahwa kehadirannya membuat sial dan hanya membauat kesalahan, terutama bagi Andini dan Ibunya. Terbawa oleh perasaan bersalah maka Aldo kabur dari rumah menggunakan taksi, pergi ke rumah sakit menemui Rara, temannya. Kepergian Aldo inilah yang membuat keluarganya sadar bahwa selama ini mereka bersikap egois, mementingkan diri sendiri. Ah, terharu membacanya.

* * *

Saya yakin bahwa buku yang kita baca pasti menambah wawasan baru. Hanya saja kemampuan untuk menyerap isi buku tidaklah lengkap, hanya pada bagian-bagian yang di rasa cukup penting. Pun demikian dengan pembaca, pengalaman setiap orang pasti berbeda-beda sehingga lain pembaca lain pula penangkapannya.

Novel karya Amsa Nadia yang satu ini dalam penangkapan saya, bercerita tentang mimpi atau cita-cita, tentang do’a, tentang anak autis dan tentang keluarga.

Mimpi menjadi hal yang penting dalam hidup. Karena dari mimpilah kita punya semangat dan kompas hidup kemana kita akan melangkah. Tanpanya, kita bagaikan berada di sebuah kapal tanpa nahkoda, tidak tahu kemana haru berlayar ataupun ke mana harus menepi. Seperti Rara, bocah perempuan kecil yang mempunyai mimpi untuk bisa punya jendela pada rumah trimpleksnya.

Berbicara masalah do’a terkadang cukup aneh. Pasalnya seseorang akan berdo’a ketika dalam keadaan kepepet. Jika longgar, kalaupun berdo’a tidaklah seserius  seperti dikala susah. Dan ingat, ketika berdo’a jangan lupa ditutup dengan Sholawat. Karena dalam sebuah hadits disebutkan bahwa do’a kita masih mengambang dan belum sampai kepada Allah ketika kita berdo’a tanpa ada sholawatnya.

Bersyukurlah jika kita lahir dalam keadaan sempurna, semua lengkap tanpa ada cacat satupun. Banyak orang yang terlahir dalam keadaan cacat. Di desa kelahiranku, saya menjumpai beberapa anak yang kurang berntung. Namun, bagaimanapun cacat yang mereka miliki bukanlah kemauan mereka. Ada Dzat yang menghendaki seperti itu. Sebagai bahan pembelajaran bagi orang-orang di sekitarnya. Sehingga kita tidak boleh mengejek mereka yang kurang sempurna karena itu sama halnya menghina penciptanya. Dalam novel ini, anak yang kurang beruntung itu di ilustrasikan oleh Aldo. Anak orang kaya, mempunyai kakak yang cantik dan tampan. Hanya dialah yang oleh ibunya di suruh bermain di belakang bersama pembantunya ketika teman-temannya datang. Tidak lain karena ia malu mempunyai anak yang kurang sempurna, atau dalam bahasa psikologi namanya autis.

Kehidupan seseorang memang berbeda-beda. Ada yang kaya, ada juga yang miskin. Ada yang lahir dalam keadaan yatim, ada juga yang lahir dalam keadaan lengkap. Dalam kelurga inilah terdapat pembelajaran yang sangat kompleks. Tentang arti memiliki, arti memberi, arti menyanyangi dan banyak hal yang bisa di dapat dalam keluarga.

Judul Buku       : Rumah Tanpa Jendela
Penulis             : Asma Nadia
Penertbit         : Kompas
Tebal               : 180 Halaman


Kretek Wonosbo, 5 September 2015 00:23 WIB

You Might Also Like

0 comments: