Lailatul Ijtima’

01:43:00 Mad Solihin 0 Comments

Malam ini saya berkesempatan mengikuti acara Lailatul Ijtima’ PCNU Banjarnegara yang bertempat di rumah Bapak H. Sohirun Wanadadi, bendahara PCNU. Yang karena itu saya harus menginap di Banjar, mengesampingkan menginap di rumah teman padahal besok masih ada PPL.

Awalnya sepat ragu antara berangkat atau tidak karena Lulu yang kemarin sore menyanggupi untuk bisa ikut ternyata mendadak berhalangan, pun dengan pengurus ipnu yang lain, semua berhalangan sehingga tinggallah saya seorang diri. Dalam pemikiranku, andai saya tidak ikut acara Lailatul Ijtima’ maka sia-sia lah saya menyempatkan untuk ke Banjar. Bagaimana tidak, jarak Wonosobo-Banjarnegara mungkin tidak lah terlalu jauh, hanya saja uang bensin yang harus saya keluarkan cukup membuat keningku berkerut lantaran uang yang saya miliki terbatas. Untuk satu minggu hanya cukup untuk beli bensin. Tidak hanya itu, tujuan saya ke Banjar juga karena untuk ikut Lailatul Ijtima’. Maka ketika saya sudah di Banjar kok tidak ikut, ah rasanya menyesal pulang.

Dalam kebingungan itu saya sms ke no nya Syafiq. Alhamdulillah nomornya aktif dan yang lebih menggembirakan dia bisa ikut menemaniku. Setidaknya saya punya teman untuk di ajak ngobrol.

Pukul delapan lebih akhirnya saya berangkat memaksa diri meskipun malas sebenarnya. Sampai di rumah Pak Sohirun suasana masih sepi. Hanya beberapa orang saja yang sudah ada di sana. Selang beberapa menit, rombongan pcnu dan muslimat datang menyusul. Saya pun cukup lega karena ternyata saya tidaklah terlambat walaupun jika mengacu pada jadwal undangan sudah telat satu jam. Biasalah jam Indonesia, molor.

Setelah semua berkumpul, di mulailah acara Lailatul Ijtima’ yang di pandu oleh Pak Pono sebagai MC. Seusai di buka dan membaca tahlil, Rois Syuriah memberikan Khutbah Iftitah. Di antara point yang beliau sampaikan adalah :

(1) Tentang kemulian Bani Adam. Dalam Al-Qur’an di sebutkan bahwa Allah itu memuliakan Bani Adam (manusia). Walaqod karromna Banii Adam, al-ayah. Salah satu cirinya adalah Bani Adam meninggal, jenazahnya suci berbeda dengan binatang. Kemulian ini di tandai dengan ilmu dan amal. Oleh karena itu ketika ada manusia tidak punya ilmu ataupun amal, maka ia pun setara dengan binatang.

(2) Manfaat silaturahim. Diantaranya adalah memanjangkan umur dan melapangkan rizki. Nah, terkait dengan silaturahim ini seyogyanya juga harus di niati juga dengan “ngaji”. Sehingga mendapat pahala wajib “tholabul ilmi” dan dapat pahala sunnah “silaturahim”.

(3) Sholawat. Dalam pengucapan sholawat ketika nama nabi Muhammad Saw. di sebutkan, ada yang membaca Shollallohu ‘alai wa sallam  dan ada pula yang menjawab dengan Allahumma sholli ‘alaih. Terkait dengan jawaban yang kedua ini sebaiknya di tambahi dengan Allahumma sholli ‘alaih wa’ala alih”. Di sini terdapat perbedaan pendapat mengenai penafsiran Alih yang artinya keluarga. Sebagian mengatakan bahwa keluarga itu adalah mereka yang keturuan Bani Hasyim dan Bani Tholib. Pendapat yang kedua merujuk kepada apa yang di sampaiakn oleh KH. Nawawi, bahwa kelurga di sini dalam maqom do’a adalah kaum muslim laki-laki dan perempuan.

Itulah tiga pesan utama yang disampaikan oleh Bapak KH. Mujtahidi dalam khutbah iftitahnya. Alhamdulillah dapat ilmu baru.

Selesai khutah iftitah acara di lanjut dengan musyawarah yang di pandu langsung oleh Gus Zahid, selaku ketua pcnu. Dalam musyawaroh itu di sampaikan beberapa informasi cukup penting yang kemudian di susul dengan laporan oleh Lembaga dan Banom, termasuk IPNU. Alhamdulillah, rasa syukur saya panjatkan kepada Allah Swt. Setidaknya saya pulang ke Banjar tidaklah sia-sia.


Banjarnegara, 8 September 2015 01:40 WIB

You Might Also Like

0 comments: