Aplikasi Goodreads

Aplikasi Goodreads

22:45:00 Add Comment
Apa itu Goodreads.com ?

Goodreads menurut pengatahuan saya adalah sebuah aplikasi yang bisa kita gunakan untuk mencatat buku apa yang sudah kita baca, buku yang sedang kita baca dan buku yang ingin kita baca. Itu dalam bahasa sederhananya.

Sudah cukup lama sebenarnya saya dengar aplikasi goodreads.com ini, hanya saja waktu awal saya join saya merasa bingung karena buku yang muncul adalah buku-buku asing semua. Maklum belum tahu cara menggunakannya. Karena itulah saya enggan untuk mengunjunginya lagi. Keeangganan itu sebenarnya menyisakan sebuah tanda tanya karena beberapa blog yang saya kunjungi memasang aplikasi ini, salah satunya adalah milik Imam Rahmanto.

Malam ini saya iseng-iseng mencoba lagi, mengetik judul buku yang pernah saya baca dan ternyata muncul juga sehingga sayapun memasang widgetnya di dalam blog yang saya miliki. Setidaknya bisa menjadi media untuk menyimpan beberapa buku yang pernah saya baca.


Banjarnegara, 29 September 2015 22:43 WIB
Renungan untuk Jiwa yang Lalai

Renungan untuk Jiwa yang Lalai

09:04:00 Add Comment
“Jangan mengeluh pusing atau tidak bisa tidur. Memang sudah seharusnya tidak tidur. Kalau mau santai-santai jangan menjadi menteri.”

Demikianlah kata yang lamat-lamat saya dengar dari Ibu Ratna selaku aktivis media sosial dalam acara Indonesia Lawyers Club dengan tema “Siapa Pembakar Hutan Kita?”, Selasa malam (22/9) di sebuah stasiun televisi TVOne.

Jleb. Kata-kata itu benar-benar menelusup ke dalam relung jiwa mengingatkan pada status atau posisi saya sebagai ketua IPNU yang selama ini serasa lebih santai-santai dan banyak mengeuh. Ah, mengeluh bukan lah sesuatu yang produktif. Itu hanya sebagai pembelaan atas kelemahan diri yang tidak mau keluar dari zona nyaman, tidak mau mengambil resiko dan tidak mau berjuang dengan sepenuh tenaga.

Kalau sampai hari ini belum juga terbentuk PAC, padahal sudah satahun setengah ya itu pantas saja. Lha wong saya tidak mau bergerak. Saya lebih memilih santai dan tidak mau sedikit saja untuk bersusah-susah. Maka jangan heran jika selama satu periode tidak akan ada prestasi yang berarti tertoreh.

Maka cukuplah kata-kata di atas sebagai pengingat, bahwa memang menjadi orang yang di percaya harus melakukan sesuatu yang lebih. Ketika yang lain tidur nyenyak, seorang pemimpin harusnya lebh banyak terjaga untuk memikirkan apa yang akan dilakukan keseokan harinya. Ketika yang lain banyak diam, seorang pemimipin  harus banyak bicara mencari tahu perkembangan dari orang-orang yang dipimpinnya. Ya, harus melakukan sesuatu yang lebih. Jika tidak, jangankan bisa berprestasi, untuk mempertahankan sesuatu yang sebelumnya sudah baik pun belum tentu bisa.

Hmmm ... semoga tulisan ini bisa menjadi renungan dan pengingat untuk diri yang selama ini banyak mengeluh dan memilih pada zona nyaman. Ya, semoga bisa melakukan sesuatu yang lebih untuk kemajuan ipnu ippnu di Banjarnegara. Semoga.


Rumah II Pringamba Sigaluh Banjarnagara II Selasa, 22 September 2015 22:23 WIB
Membeli Tanah

Membeli Tanah

08:58:00 Add Comment
Gema takbir terdengar bertalu-talu. Sahut menyahut ketika satu selesai, suara lainnya menyambung dengan takbir yang sama. Terdengar begitu semangat yang menyiratkan suara kebahagiaan bagi yang melantunkan. Ya, suara kebahagiaan menyambut malam idul adha.

Kebahagian itu pula yang saya lihat dari wajah bapak ketika pulang dari desa Prigi, menandakan bahwa apa yang menjadi tujuannya terkabul. Pun dengan wajah ibu, menyadari bahwa bapak pulang dengan membawa kertas hijau yang berisi Surat Perjanjian Kesanggupan Penggarap Lahan (SKPPL) sebagai tanda telah sah memiliki tanah kontrak baru, ia pun tersenyum bahagia. Memperhatikan hal tersebut saya pun ikut tersenyum. Senang rasanya melihat orang yang sedari kecil menjadi tumpuan hidup tersenyum memburatkan kebahagiaan. Meskipun untuk mendapatkannya harus meminjam uang milik tetangga, Rehanto namanya. Namun ada kepuasaan tersendiri.

Pasalnya, tanah adalah aset yang sangat berharga. Apalagi kedua orang tua saya adalah seorang petani yang untuk mencukupi segala keperluan bertumpu kepada hasil tanah. Sehingga ketika bisa membeli tanah baru, harapan untuk bisa menghasilkan paneh lebih dari biasanya terbayang dalam angan pikiran. Selain itu, nilai jual sebuah tanah semakin maju pasti semakin bertambah mahal sehingga ketika kemarin bisa membeli dengan harga yang cukup sedang (Rp. 1.550.000,-) rasanya bagai mendapat keuntungan tersendiri.

Alhamdulillah. Terima kasih Ya Allah, Engkau telah membuat kedua orang tua saya bahagia. Semoga kesehatan dan kemudahan selalu engkau limpahkan kepada mereka berdua. Aamiin.


Rumah II Pringamba Sigaluh Banjarnegara II Jum’at, 25 Septemper 2015 00:13 WIB
#3 Mengenalkan Allah Swt kepada Anak Kecil

#3 Mengenalkan Allah Swt kepada Anak Kecil

19:00:00 2 Comments
a.      Wahai anak yang mulia, Allah Swt adalah Dzat yang menciptakanmu, membaguskan rupamu dengan memberikan kepadamu kedua mata sehingga dengannya engkau bisa melihat sesuatu. Kedua telinga sehingga dengannya engkau bisa mendengar. Lisan sehingga dengannya kamu berbicara. Kedua tangan sehingga dengannya engkau dapat mengerjakan kesibukanmu. Kedua kaki sehingga dengannya engkau berjalan. Akal sehingga dengannya engkau bisa tahu mana yang baik dan buruk. Memberikan nikmat berupa sehat wal afiat. Memberikan kasih sayang  di hati orang tuamu sehingga mendidikmu dengan pendidikan yang baik.
b.      Sehingga engkau wajib mengagungkan dan mencintahi pengeranmu (Allah). Bersyukur atas segala nimatnya dengan cara menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya. Begitupun juga wajib engkau mengagungkan dan mencintai seluruh malaikat-Nya, rasul-Nya, nabi-Nya dan orang-orang sholih diantara hamba-Nya karena sesungguhnya Allah mencintai mereka.

c.       Ketika engkau mencintai pangeranmu, menjalankan perintah-Nya, dan meninggalkan larangan-Nya, maka engkau akan ditambahi nikmatnya. Dan menjadikan engaku dicintai diantara manusia, menjagamu dari segala penyakit serta memberikan apa yang engaku inginkan baik itu rizki ataupun yang lainnya. 
#4 Kisah : Anak yang Bisa di Percaya

#4 Kisah : Anak yang Bisa di Percaya

14:32:00 Add Comment
Muhammad adalah anak yang bisa dipercaya. Ia takut kepada Allah dan menjalankan perintah-Nya. Dan pada suatu hari, Su’ad saudaranya berkata : “Wahai suadaraku, sesungguhnya ayah kita sedang tidak ada di rumah. Maka kesempatan bagi kita untuk membuka lemari makanan sehingga kita bisa makan makanan yang lezat, dan ayah tidak akan melihat kita”.
Maka Muhammad menjawab : “Sungguh saudaraku, memang ayah kita tidak melihat ita tetapi apakah engkau tidak mengetahui, sesungguhnya Allah adalah Dzat yang Maha Melihat apa yang kita lakukan.”.
Maka takutlah kamu kepada perbuatan jelek ini, kerena sesungguhnya ketika kamu mengambil sesuatu tanpa ridho dari ayah kita, Allah akan membencimu dan akan menyiksamu.

Maka Su’ad takut dan malu atas perbuatan jeleknya. Ia berkata : “Benar ucapanmu saudarraku. Terima kasih banyak atas nasehat baik ini”.
#2 Ciri-ciri Anak yang Berakhlak dan Tidak Berkahlak

#2 Ciri-ciri Anak yang Berakhlak dan Tidak Berkahlak

13:25:00 Add Comment
Ada beberapa ciri-ciri anak yang berakhlak dan tidak berakhlak yang di paparkan oleh Umar bin Ahmad Baraja dalam kitab Akhlaq lil Banin.  
a.      Ciri-ciri anak yang berkahlak
-          Anak yang berkahlak adalah anak yang menghormati orang tua dan gurunya, saudara yang lebih tua, dan semua orang yang lebih tua darinya. Menyayangi saudara yang lebih kecil dan semua orang yang lebih kecil darinya.
-          Jujur dalam berbicara, tawadu’, sabar ketika sakit, tidak menyakiti orang lain, tidak suka berbantah-bantahan dengan orang lain, tidak suka meninggikan suara ketika berbicara kepada orang lain atau ketika tertawa.
b.      Ciri-ciri anak yang tidak berahlak

Anak yang tidak berakhlak adalah anak yang tidak menghorati orang tau dan gurunya. Tidak menghormat orang yang lebih tua darinya, tidak menyayang orang yang lebih kecil darinya, berbohong ketika berbicara, meninggikan suaranya ketika tertawa, suka bantah-bantahan, berbicara yang jelek, mengejek dan sombong kepada orang lain serta tidak malu ketika melakukan kecelekan.
#1 Pentingnya Pendidikan Akhlak

#1 Pentingnya Pendidikan Akhlak

13:11:00 Add Comment
Beberapa hal kenapa akhlak sangat penting  adalah seorang anak wajib mempunyai akhlak yang terpuji mulai sejak kecil supaya di cintai ketika sudah besar. Diridhoi oleh Allah, keluarga dan semua orang. Begitupun dengan akhlak tercela, seorang anak harus dibiasakan menjauhinya sejak masih kecil supaya tidak dibenci oleh orang lain, tidak diridhoi oleh Allah, keluarga dan sesama manusia.
Contoh kisah :
Ada seorang anak kecil bernama ahmad. Ia adalah anak yang beradab sehingga ayahnya sangat mencintainya. Ia sangat suka mengajukan pertanyaan ketika ia belum memahami sesuatu.
Pada suatu hari, ia bersama dengan ayahnya membersihkan kebun. Disana ia melihat pohon yang indah tetapi bengkok. Maka ahmadpun bertanya : “Alangkah indahnya pohon ini. Tetapi kenapa pohon ini bengkok ayah?”.
Ayahnya menjawab : “Karena susungguhnya pohon yang ada di kebun ini tangkainya tidak terbentuk lurus sejak kecilnya. Maka jadilah ia bengkok.”
Ahmad berkata : “Mari kita luruskan tangkainya sekarang.”
Ayahnyapun tersenyum dan berkata : “Itu tidak bisa terjadi wahai anakku. Karena pohon ini sudah besar dan sudah kuat tangkainya.”.
Begitupuun dengan seorang anak. Apabila tidak mempunyai adab ketika kecil, maka tidak mungkin ia akan beradab ketika sudah besar.
Pengalaman Spiritual

Pengalaman Spiritual

04:21:00 Add Comment
Waktu menunjukan pukul 01.30 WIB ketika saya memutuskan untuk istirahat. Serasa lelah setelah perjalanan Banjarnegara-Kebumen dan bergadang sampai dini hari bersama teman-teman ipnu dalam acara Latfas, maka sayapun memilih untuk mengakhirinya dengan tidur.

Saya terbangun pukul 03.00 WIB. Ada yang aneh ketika saya membuka mata. Baru saja kejadian aneh saya alami dalam mimpi. Kalaupun saya menyebut itu kejadian spiritual, mungkinkah itu? Ada semacam bisikan yang entah datang dari mana begitu jelas terdengar di telinga. Bahkan bisikan yang terakhir sempat membuat saya menangis ketakutan. Meskipun ketika saya bangun ternyata saya juga tak menangis. Anehnya, sebelum suara itu muncul di telinga saya terdengar suara nyaring laiknya suara lebah hingga selang beberapa detik suara yang entah datang dari mana terdengar. Dalam mimpi itu ada satu teman saya yang juga bisa mendengar karena berada di dekat saya, semacam di loudspeker.

Tentang isi bisikan itu saya tak ingat karena dalam mimpi itu saya tak sempat mencatatnya. Ah, aneh.

Pukul 03.15 WIB. Saya mencoba bangun dan pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudlu. Sudah lama saya tak melakukan sholat tahajud. Malam ini saya paksakan untuk mencoba melakukannya lagi. Sholat tahajud dan sholat hajat.

Sayapun mencoba berdo’a seusai sholat. Doa sederhana. Saya ingin di sisa-sisa masa jabatan yang tinggal setengah tahun lagi saya bisa melakukan hal lebih demi memajukan ipnu ippnu Banjarnegara. Bagaimana tidak, satu setengah tahun berlalu saya belum juga membentuk pac. Ada beban moral tersendiri. Terkadang saya berpikir, saya yang tidak bisa memimpin atau memang karena begitu sulitnya sehingga serasa berjalan di tempat.

Allah harapan saya. Bagaimanapun semua terjadi atas kuasa-Nya. Kebaikan dan kelebihan yang di miliki oleh semua orang terjadi karena kehendak-Nya. Maka hanya Allah lah yang pantas untuk di mintai pertolongan. Mengeluh kepada manusia, saya sudah bosan dan malu sendiri. Mungkin yang mendengarpun juga bosan jika mendengar keluhan saya yang hanya itu-itu saja.

Bismillah semoga kehadiran saya di dunia ini bukan hanya manusia yang sholeh secara individu tetapi bisa membawa kemanfaatan untuk orang lain. Paradigma bisa pergi ke luar negeri karena ada yang membiayai bisa saya ubah menjadi saya bisa membiayai orang lain pergi ke luar negeri. Sederhananya, ketika saya pergi ke luar negeri karena biaya orang lain maka belum tentu saya bisa melakukannya lagi. Tetapi ketika saya bisa membiayai orang lain, maka kapanpun saya mau pergi ke luar negeri sayapun bisa melakukannya.

Kebumen, 20 Septermber 2015 04:18 WIB
Di Kejar Deadline Laporan

Di Kejar Deadline Laporan

23:40:00 Add Comment
Pagi tadi saat dalam perjalanan mau ke Wonosobo, saya bertemu dengan Pak Hadi. Sayapun berhenti untuk menyapa beliau. Dan tanpa basa-basi langsung saja ia menyuruh saya untuk segera membuat laporan yang sudah telat 4 bulan. Ah, malas sebenarnya apalagi sekarang juga harus menyelesaikan laporan PPL kemarin. Tambah suntuk deh.

Saya hanya diam dan mengiyakan saja ketika Pak Hadi berbicara mengenai laporan bla bla bla. Padahal pikiran saya bercabang entah kemana. Banyak hal yang di pikirkan. Maka dengan berbagai unek-enek di kepala saya melanjutkan perjalanan ke Wonosobo.

Sms Diana tak ada balasan, padahal kemarin sudah janji mau nitip laporan. Beruntung Pipit di rumah dan bersedia saya titipi laporan jadi lumayan lebih praktis satu jalur karena setelah itu tujuan saya ke Kretek, mengembalikan celana yang tertukar. Di Kretek saya hanya singgah sebentar, mengembalikan celana milik Rofik dan langsung pamit karena harus mengembalikan buku di Perpusda.

Waktu menunjukan pukul 11.00 WIB yang berarti masih cukup untuk perjalanan ke Banjarnegara. Kalaupun sholat jum’at, khotib naik mimbar biasanya jam 12 kurang lima menit. Jadi masih punya waktu untuk mengejar sholat jum’at di Banjarnegara.

Ba’da jum’at saya sempat bingung lantaran deadline laporan paling lambat senin padahal kalau jadi nanti saya harus ke Kebumen mengantar Rizka dan Eman mengikuti acara latfas. Walau sebenarnya kemarin juga sudah di kabari kalau Rizka tidak di ijinkan oleh Ibu pengasuh. Hanya saja konfirmasinya belum fix jadi sempat bingung. Hingga tepat pukul 14.00 WIB Rizka dan temannya datang mengabari kalau ternyata benar-benar tidak bisa ikut. Maka sayapun menyuruh Dayat dan Eman untuk berangkat, kalaupun ada kesempatan besok insya allah saya menyusul. Sayang sebenarnya, moment yang berharga yang berangkat hanya satu. Tetapi gimana lagi yang lain juga tidak bisa.

Tidak jadi ke Kebumen. Lumayan juga bisa saya gunakan untuk membuat laporan yang sudah di kejar-kejar oleh yang lain. Malas menjadi penghalang yang tidak bisa saya tolak. Namun, dengan paksaan dan terpaksa saya buat juga laporannya. Satu per satu saja membuatnya. Dan Alhamdulillah walau sampai saat ini belum selesai semua tetapi cukup lumayan, insya allah besok sudah beres.

Banjarnegara, 18 September 2015 23:38 WIB
Pantangan Seorang Guru

Pantangan Seorang Guru

01:12:00 Add Comment
Beberapa hari ini saya tak sempat atau mungkin lebih tepatnya tidak menyempatkan untuk menulis. Dan malam ini saya mencoba memaksakan diri untuk menulis karena memang untuk melakukan sesuatu terkadang membutuhkan paksaan.

Apa yang akan saya tulis ? Biarlah mengalir dengan sendirinya.

Cerita PPL. Itulah yang pada akhir-akhir ini bergeliat dalam angan-angan, menceritakan kisah pengalaman selama masa-masa praktek pengalaman lapangan di SMK Takhassus Al-Qur’an Wonosobo. Menyelami dunia pendidikan sebagai seorang pengajar, belajar besama dengan adik-adik kelas yang masih unyu-unyu.

Karena tulisan ini adalah paksaan, maka saya akan memulai dengan apa yang masih saya ingat yaitu pesan dari Pak Edy selaku guru pamong yang pada suatu kesempatan saya berbincang-bincang dengan beliau di kantor. Pesan itu berisi tentang beberapa tantangan menjadi seorang guru.

Okee lah langsung saja saya akan menceritakan pesan dari beliau terkait tantangan menjadi guru.

1) Jangan pernah berkata tidak bisa. Seorang guru ketika berada di hadapan seorang peserta didik jangan pernah berkata tidak bisa atau belum menguasi materi. Ini tidak lain karena kata-kata tersebut secara otomatis membuat peserta didik down terlebih dahulu. La wong tidak menguasai materi masa mau mengajar, kan wagu.

2) Jangan pernah berkata “tidak pantas mengajar ini”. Sama seperti pernyataan di atas bahwa merendahkan diri di hadapan seorang peserta didik sama halnya menjatuhkan diri sendiri. Walaupun mungkin niatnya merendah tetapi itu tidak lah baik untuk seorang guru. Bagaimanapun keadaannya seorang guru haruslah bersikap PD, meskipun sebenarnya memang seperti itulah keadaaannya (tidak pantas). Sehingga kemampuan untuk mengelola kelas sangatlah di butuhkan. Atau bahasa lain, harus kreatif.


Banjarnegara, 17 Septermber 2015 01:10 WIB
Lailatul Ijtima’

Lailatul Ijtima’

01:43:00 Add Comment
Malam ini saya berkesempatan mengikuti acara Lailatul Ijtima’ PCNU Banjarnegara yang bertempat di rumah Bapak H. Sohirun Wanadadi, bendahara PCNU. Yang karena itu saya harus menginap di Banjar, mengesampingkan menginap di rumah teman padahal besok masih ada PPL.

Awalnya sepat ragu antara berangkat atau tidak karena Lulu yang kemarin sore menyanggupi untuk bisa ikut ternyata mendadak berhalangan, pun dengan pengurus ipnu yang lain, semua berhalangan sehingga tinggallah saya seorang diri. Dalam pemikiranku, andai saya tidak ikut acara Lailatul Ijtima’ maka sia-sia lah saya menyempatkan untuk ke Banjar. Bagaimana tidak, jarak Wonosobo-Banjarnegara mungkin tidak lah terlalu jauh, hanya saja uang bensin yang harus saya keluarkan cukup membuat keningku berkerut lantaran uang yang saya miliki terbatas. Untuk satu minggu hanya cukup untuk beli bensin. Tidak hanya itu, tujuan saya ke Banjar juga karena untuk ikut Lailatul Ijtima’. Maka ketika saya sudah di Banjar kok tidak ikut, ah rasanya menyesal pulang.

Dalam kebingungan itu saya sms ke no nya Syafiq. Alhamdulillah nomornya aktif dan yang lebih menggembirakan dia bisa ikut menemaniku. Setidaknya saya punya teman untuk di ajak ngobrol.

Pukul delapan lebih akhirnya saya berangkat memaksa diri meskipun malas sebenarnya. Sampai di rumah Pak Sohirun suasana masih sepi. Hanya beberapa orang saja yang sudah ada di sana. Selang beberapa menit, rombongan pcnu dan muslimat datang menyusul. Saya pun cukup lega karena ternyata saya tidaklah terlambat walaupun jika mengacu pada jadwal undangan sudah telat satu jam. Biasalah jam Indonesia, molor.

Setelah semua berkumpul, di mulailah acara Lailatul Ijtima’ yang di pandu oleh Pak Pono sebagai MC. Seusai di buka dan membaca tahlil, Rois Syuriah memberikan Khutbah Iftitah. Di antara point yang beliau sampaikan adalah :

(1) Tentang kemulian Bani Adam. Dalam Al-Qur’an di sebutkan bahwa Allah itu memuliakan Bani Adam (manusia). Walaqod karromna Banii Adam, al-ayah. Salah satu cirinya adalah Bani Adam meninggal, jenazahnya suci berbeda dengan binatang. Kemulian ini di tandai dengan ilmu dan amal. Oleh karena itu ketika ada manusia tidak punya ilmu ataupun amal, maka ia pun setara dengan binatang.

(2) Manfaat silaturahim. Diantaranya adalah memanjangkan umur dan melapangkan rizki. Nah, terkait dengan silaturahim ini seyogyanya juga harus di niati juga dengan “ngaji”. Sehingga mendapat pahala wajib “tholabul ilmi” dan dapat pahala sunnah “silaturahim”.

(3) Sholawat. Dalam pengucapan sholawat ketika nama nabi Muhammad Saw. di sebutkan, ada yang membaca Shollallohu ‘alai wa sallam  dan ada pula yang menjawab dengan Allahumma sholli ‘alaih. Terkait dengan jawaban yang kedua ini sebaiknya di tambahi dengan Allahumma sholli ‘alaih wa’ala alih”. Di sini terdapat perbedaan pendapat mengenai penafsiran Alih yang artinya keluarga. Sebagian mengatakan bahwa keluarga itu adalah mereka yang keturuan Bani Hasyim dan Bani Tholib. Pendapat yang kedua merujuk kepada apa yang di sampaiakn oleh KH. Nawawi, bahwa kelurga di sini dalam maqom do’a adalah kaum muslim laki-laki dan perempuan.

Itulah tiga pesan utama yang disampaikan oleh Bapak KH. Mujtahidi dalam khutbah iftitahnya. Alhamdulillah dapat ilmu baru.

Selesai khutah iftitah acara di lanjut dengan musyawarah yang di pandu langsung oleh Gus Zahid, selaku ketua pcnu. Dalam musyawaroh itu di sampaikan beberapa informasi cukup penting yang kemudian di susul dengan laporan oleh Lembaga dan Banom, termasuk IPNU. Alhamdulillah, rasa syukur saya panjatkan kepada Allah Swt. Setidaknya saya pulang ke Banjar tidaklah sia-sia.


Banjarnegara, 8 September 2015 01:40 WIB
Kritik dari Siswa

Kritik dari Siswa

10:13:00 Add Comment
Butuh waktu untuk bisa menyelami sifat dan karakter peserta didik. Pertemuan satu atau dua kali adalah tahap penyesuaian yang tentunya menyisakan hal yang kurang mengenakan, apalagi karakter dan sifat yang saya miliki adalah tipikal pendiam dan jarang sekali humor. Wal hasil penangkapan peserta didik terhadap cara mengajarku banyak yang negatif. Itu saya tahu dari saran dan kritik yang diberikan oleh siswa-siswa ketika saya memintanya dalam salah satu kesempatan.

“Kurang keras” “Terlalu cepat” “Kurang tegas” “Terlalu sepaneng” “Gak ada humornya” dan berbagai kritik lainnya yang ketika saya membacanya membuat anggapan bahwa saya tidaklah cocok untuk menjadi guru semakin tebal. Ya, anggapan yang saya buat sendiri. Entah memang itu benar adanya ataupun hanya sebagai kambing hitam, menjadi tameng atas kemalasanku sendiri yang tidak mau berusaha agar bisa mengajar dengan baik. Entahlah. Mungkin hanya sekedar alasan karena memang saya tak berminat menjadi guru.

Saya tahu bahwa kritik itu bukanlah untuk menjadikan kita menjadi down namun sebagai salah satu pemicu untuk memperbaiki diri. Harapannya ke depan bisa lebih baik lagi. Seperti laiknya serangga yang berada di punggung, kita tidak akan tahu jika orang lain tidak memberitahu.

Dua hari ini saya merasakan jenuh yang luar biasa ketika akan masuk ke kelas. Rasa rendah diri karena anggapan saya tak bisa mengjar dengan baik membuat saya enggan untuk masuk ke kelas. Hanya saja jadwal ngajar yang memang sudah menjadi tanggung jawab memaksa saya untuk mau tidak mau harus masuk ke kelas, mengajar mereka. Namun, ada rasa haru dan senang ketika masuk mendapat tanggapan hangat dari siswa. Setidaknya anggapan yang kemarin di berikan oleh beberapa siswa sedikit ada perubahan. Dan untuk beberapa waktu saya menikmati sebagai hal yang membahagiakan.

Tak terasa PPL tinggal satu minggu lagi. Ah, ada rasa senang karena akan kembali kepada rutinitas tanpa batas. Setidaknya saya bisa bebas kemana saja saya mau pergi. Dan sabagiamana sebuah impian, itu akan tercapai manakala kita mau berusaha untuk mewujudkan. Maka anganku ketika sudah selesai nanti, saya akan mengajar mimpiku. Menjadi seorang jurnalis, bergelut sebagai seorang wartawan. Doa kan ya semoga bisa menjadi kenyataan. Karena menurutku, itu adalah passionku. Sesuai dengan sifat dan keinginaku.

Kalibeber Wonosobo, 5 September 2015 10:07 WIB

Saat menunggu waktu ngajar

Rumah Tanpa Jendela

07:13:00 Add Comment
Sumber : DokPri
Hari ini saya menyelesaikan satu novel lagi. Jika kemarin milik Laode, sekarang saya berkesempatan membaca karya milik Asma Nadia, penulis yang sekarang sedang naik daun. Namanya memang sudah tak asing lagi bahkan cukup akrab di telingaku, namun baru kali ini saya berkesempatan untuk membaca karya langsungnya. Sebuah novel berjudul “Rumah Tanpa Jendela” yang saya pinjam di Perpusda Wonosobo Rabu kemarin.

Selain namanya yang cukup heboh di internet, film “Assalamu’alaikum Beijing” dan “Ku Kejer Cintaku sampai Negeri Cina” membuat nama Asma Nadia lebih akrab di telingaku. Setidaknya lewat film “Assalamu’alaikum Beijing” membuat saya tahu bahwa Asma Nadia adalah seorang reporter di China, tentang kisah kehidupannya yang pernah mengalami masa-masa sulit dan sebagainya. Dari dua film tersebut saya pun punya mimpi baru untuk bisa berkunjung ke Beijing, sekedar untuk jalan-jalan dan berpose di tembok bersejarah yang masuk dalam salah satu kategori keajaiban dunia.

Tulisan ini bukanlah resensi melainkan refleksi atas buku yang telah saya baca sebagaimana postingan-postingan sebelumnya. Sebagai prasasti bahwa saya pernah membaca buku tersebut sebagai buktinya saya tahu isinya meskipun hanya sedikit. Karene tentunya tahu keseluruhannya tidaklah mungkin, paling pol ya tahu inti isi buku tersebut.

Sama seperti novel “Negeri Sapati” yang isinya mengaduk-aduk perasaan sehingga sayapun terbawa suasana hingga tanpa bisa ditahan titik-titik bening keluar dari dua bola mata ketika membaca pada bagian yang mengharukan. Padahal cowok lho, kok jadi cengeng ya. Seperti tadi sore misal, ketika pada bagian yang menceritakan tentang Aldo, anak autis yang karena ketidaksempurnaannya membuat keluarganya malu kepada orang lain. Puncaknya ketika Aldo merasa bahwa kehadirannya membuat sial dan hanya membauat kesalahan, terutama bagi Andini dan Ibunya. Terbawa oleh perasaan bersalah maka Aldo kabur dari rumah menggunakan taksi, pergi ke rumah sakit menemui Rara, temannya. Kepergian Aldo inilah yang membuat keluarganya sadar bahwa selama ini mereka bersikap egois, mementingkan diri sendiri. Ah, terharu membacanya.

* * *

Saya yakin bahwa buku yang kita baca pasti menambah wawasan baru. Hanya saja kemampuan untuk menyerap isi buku tidaklah lengkap, hanya pada bagian-bagian yang di rasa cukup penting. Pun demikian dengan pembaca, pengalaman setiap orang pasti berbeda-beda sehingga lain pembaca lain pula penangkapannya.

Novel karya Amsa Nadia yang satu ini dalam penangkapan saya, bercerita tentang mimpi atau cita-cita, tentang do’a, tentang anak autis dan tentang keluarga.

Mimpi menjadi hal yang penting dalam hidup. Karena dari mimpilah kita punya semangat dan kompas hidup kemana kita akan melangkah. Tanpanya, kita bagaikan berada di sebuah kapal tanpa nahkoda, tidak tahu kemana haru berlayar ataupun ke mana harus menepi. Seperti Rara, bocah perempuan kecil yang mempunyai mimpi untuk bisa punya jendela pada rumah trimpleksnya.

Berbicara masalah do’a terkadang cukup aneh. Pasalnya seseorang akan berdo’a ketika dalam keadaan kepepet. Jika longgar, kalaupun berdo’a tidaklah seserius  seperti dikala susah. Dan ingat, ketika berdo’a jangan lupa ditutup dengan Sholawat. Karena dalam sebuah hadits disebutkan bahwa do’a kita masih mengambang dan belum sampai kepada Allah ketika kita berdo’a tanpa ada sholawatnya.

Bersyukurlah jika kita lahir dalam keadaan sempurna, semua lengkap tanpa ada cacat satupun. Banyak orang yang terlahir dalam keadaan cacat. Di desa kelahiranku, saya menjumpai beberapa anak yang kurang berntung. Namun, bagaimanapun cacat yang mereka miliki bukanlah kemauan mereka. Ada Dzat yang menghendaki seperti itu. Sebagai bahan pembelajaran bagi orang-orang di sekitarnya. Sehingga kita tidak boleh mengejek mereka yang kurang sempurna karena itu sama halnya menghina penciptanya. Dalam novel ini, anak yang kurang beruntung itu di ilustrasikan oleh Aldo. Anak orang kaya, mempunyai kakak yang cantik dan tampan. Hanya dialah yang oleh ibunya di suruh bermain di belakang bersama pembantunya ketika teman-temannya datang. Tidak lain karena ia malu mempunyai anak yang kurang sempurna, atau dalam bahasa psikologi namanya autis.

Kehidupan seseorang memang berbeda-beda. Ada yang kaya, ada juga yang miskin. Ada yang lahir dalam keadaan yatim, ada juga yang lahir dalam keadaan lengkap. Dalam kelurga inilah terdapat pembelajaran yang sangat kompleks. Tentang arti memiliki, arti memberi, arti menyanyangi dan banyak hal yang bisa di dapat dalam keluarga.

Judul Buku       : Rumah Tanpa Jendela
Penulis             : Asma Nadia
Penertbit         : Kompas
Tebal               : 180 Halaman


Kretek Wonosbo, 5 September 2015 00:23 WIB
Rencana Hidup

Rencana Hidup

07:05:00 Add Comment
Siang itu kantor guru sudah mulai sepi. Guru yang habis jam ngajarnya satu per satu pergi dengan menenteng tas untuk pulang. Pun demikian dengan teman PPL, beberpa dari mereka telah pulang lebih dulu kecuali mereka yang mendapat jatah mengajar jam terakhir.

Riski yang sebenarnya telah habis jam ngajarnya masih duduk di meja kerjanya, duduk seorang diri dengan terus memandang layar netbook yang sedari tadi tak ia sentuh. Lembar kerja word pun masih kosong tanpa ada tulisan yang ia rangkai. Padahal sudah 3 jam ia hidupakan. Pikirannya melayang entah kemana. Sesekali ia melempar senyum kepada guru yang baru selesai mengajar ataupun kepada mereka yang pamit untuk pulang.

Apa yang akan ia lakukan setelah lulus. Itulah salah satu hal yang mengganjal pikirannya. Beberapa hari lalu ketika ia ikut Pak Edy mengajar dan mendengar nasehat yang di lontarkan kepada murid-muridnya tentang pentingnya rencana hidup, secara tak sadar mempengaruhi dirinya. Tuntutan untuk menjadi guru sesuai dengan fakultas yang ia pilih membuatnya cukup resah. Pasalnya belakangan ini setelah menyadari ending dari jurusan kuliah yang ia pilih, ia lebih tertarik dengan dengan dunia jurnalistik. Katanya ia ingin menjadi seorang wartawan. Menjadi guru, sama sekali tak menarik baginya.

Ada beberapa alasan mengapa ia tak tertarik menjadi guru. Kemampuan menjelaskan yang masih membingungkan di tambah sifat pendiamnya membuat ia cukup malas untuk masuk kelas. Ia menyadari bahwa dirinya masih butuh banyak belajar agar pelajaran yang ia sampaikan bisa diterima dengan mudah dan terkesan tidak membosankan. Ah, rasanya ingin cepat-cepat selesai PPL. Terkadang ia berpikir ingin ikut program Indonesia Mengajar. Ia merasa tertantang untuk mengikuti proses di tempatkan di pelosok negeri, jauh dari peradaban. Hatinya mengatakan bahwa ia ingin belajar untuk menjadi guru yang inspiratif dan bisa membuat muridnya menemukan bakat serta mimpi masa depannya. Bukan hanya guru yang hanya sekedar mengajar, memindahkan pengetahuan dari buku ke pikiran seorang murid. Seperti yang ia alami dulu.

Selain itu ia merasa masih butuh banyak belajar serta pengalaman. Apa yang ia alami dulu sewaktu masih menjadi seorang siswa tak ingin muridnya juga merasakannya. Pelajaran yang membosankan, guru yang hanya berorientasi pada materi yang penting sudah disampaikan dan sistem pembelajaran layaknya bayi yang makan hanya ketika di suapi. Sungguh hatinya membenci sistem pendidikan seperti itu.

“Belum pulang ?” tanya Zaim yang baru selesai mengajar dengan menenteng laptopnya.

“Belum. Bentar lagi, nyelesain ngedit RPP. Pengin cepet-cepet selesai lho, sudah bosan nie”, jawab Riski sekenanya.

“Ya kamu mengejarkan sesuatu yang gak kamu suka, pantas saja bosan. Jalani saja dulu. Toh juga tinggal 10 hari lagi. Baru setelah itu kamu cari jalan untuk mennggapai yang kamu suka”, nasehatnya setelah mendengar keluh yang Riski ucapkan.

Zaim yang sudah tahu jalan pikirannya hanya berpesan agar ia berusaha untuk berlatih menulis. Cari sesuatu yang sesuai passionya. Ya, dia cukup paham dengan keinginan Riski karena beberapa kali dalam suatu kesempatan mereka sering sharing terkait permasalahan yang dihadapinya. Bagi Zaim menjadi guru adalah impiannya sejak kecil sehingga ia pun enjoy dengan apa yang ia alami sekarang. Tetapi tidak untuk Riski. Ia masih di landa kegalauan, memikirkan rencana ke depan untuk membelok dari jalur yang ia tempuh sekarang. Kalaupun menjadi guru, ia ingin menempa diri terlebih dahulu agar kemampuannya bisa memotivasi dan mengsnpirasi muridnya untuk bisa berkarya. Bukan statis bahkan hanya mengikuti arus, laiknya kerbau yang di cocok hidungnya.

Kretek Wonosobo, 3 September 2015 00:37 WIB