Terima Kasih Ibu Bapak

8:11:00 AM Mad Solihin 0 Comments

Ada rasa iba dan tak tega ketika melihat paras wajah kedua orang tua yang selama ini menjadi sandaran dalam segala hal terlihat bingung dan mengeluhkan tentang kondisi perekonomian keluarga. Seperti tadi sore misal, ketika saya mau berangkat ke Wonosobo dan miminta uang untuk membayar registrasi semester 7. Hasil panen salak terakhir yang hanya dua kwintal dengan harga Rp. 3.500,-/ kg pun sudah di pakai untuk keperluan ini dan itu.

Awalnya bapak hanya memberikan uang Rp. 650.000,- sesuai yang saya informasikan pertama bahwa registrasi sebesar itu. Sebenarnya registrasi yang benar adalah Rp. 615.000,- hanya saja waktu itu saya belum sempat untuk memastikan jumlah tepatnya, sehingga sayapun sms dengan nominal sebesar Rp. 650.000,-. Hanya sisa Rp. 35.000,- dan itu artinya saya tak bisa membayar batik yang harganya Rp. 60.000,-, padahal harus besok juga. Ah, galau ini.

Bapak bilang untuk uang saku, saya di suruh untuk meminjam milik teman terlebih dahulu. Saya hanya diam mendengarnya, tak beranjak dari tempat duduk. Bagaimanapun terdesaknya diriku, saya tak tega untuk memaksakan orang tuaku memenuhi keinginanku walaupun kebutuhanku masih tannggung jawab mereka sepenuhnya. Pikiranku melayang, membayangkan jika besok ketika di tagih untuk membayar batik dan saya tak bisa. Hmmm ... Haruskah saya mengatakan bahwa belum ada uang ..?

Melihat saya yang hanya diam dan tak beranjak setelah mengatakan segala kebutuhan yang harus saya penuhi, bapak saya keluar dan meminjam uang milik Lik Tuwar yang kebetulan sedang di ruang tamu. Ketika babak kembali menemuiku, ia sodorkan uang sebesar Rp. 150.000,- has il pinjaman dari Lik Tuwar. Ada rasa lega dan iba bercampur dalam hatiku. Lega karena untuk urusan batik dan bensin insya allah beres. Iba karena melihat kondisi keluarga yang ternyata jauh dari kata kaya. Hmm ... hanya bisa membatin, berharap seusai kuliah saya bisa mencukupi diri sendiri. Setidaknya untuk urusan tetek bengek yang berhubungan dengan keperluan pribadi, saya bisa mencukupinya. Untuk bisa membatu keluarga itu pasti harapan yang tak perlu saya utarakan, namun sebelum sejauh itu, untuk urusan diri sendiri harus selesai terlebih dahulu.

Tulisan ini bukanlah keluhan atas kondisi keluarga yang mungkin jauh dari kata kaya. Hanya saja sebagai salah satu mengabadikan saat-saat sulit yang saya alami. Sebagai sebuah cerminan ketika saya sukses nanti, saya juga pernah mengalami saat-saat sulit. Saat dimana saya harus berkaca bahwa tak ada yang bisa saya banggakan. Ataupun sebagai pengingat bahwa saya harus berusaha lebih giat lagi, ketika orang lain cukup membaca satu buku saya harus lebih, minimal dua buku. Semoga Allah memudahkan segala urusanku.

Teruntuk kedua orang tuaku, semoga Allah selalu memberikan kesehatan dan kemudahan kepada kalian. Maafkan anakmu yang saat ini belum bisa membantu apa-apa. Terima kasih atas setiap kebaikan dan doa yang selalu kalian berikan tanpa meminta saya harus menggantinya. Semoga Allah membalas kebaikan kalian dengan kebaikan yang belipat ganda dan menempatkan kalian pada derajat yang tingggi. Aamiin.


Kretek Wonosobo, 17 Agustsu 2015 23:08 WIB

You Might Also Like

0 comments: