Rahasia Seorang Perempuan

2:16:00 PM Mad Solihin 0 Comments

Kemarin sore saya berkesempatan untuk menemui teman kuliah yang kebetulan satu tempat dalam kegiatan PPL di SMK Takhasus Kalibeber, Wonosobo. Karena saya telat dan belum pernah masuk disebabkan satu minggu yang lalu ikut pergi ke Jombang, maka mau tidak mau saya harus bertanya kepada teman yang satu kelompok. Kebetulan kemarin saya pergi ke Wonosobo untuk mengembalikan buku di perpusda yang ternyata sudah telat 25 hari. Headeh .. lama juga ternyata. Dan seperti hukum alam “ada sebab pun juga muncul akibat”, telat buku selama 25 hari saya harus membayar denda Rp. 10.000,-. Karena memang udah aturan, ya sudah uang tersebut harus saya relakan.

Tak ada niat untuk bertemu pada awalnya karena kabar yang saya dapat ia sedang sakit. Namun ketika iseng-iseng telfon, ternyata ia sudah sehat dan ketika aku mengajak untuk bertemu iapun mengiyakan. Ah, sekalian aja bertanya untuk persiapan ketika besok senin saya berangkat. Beberapa informasi yang saya dapat adalah saya dengannya mendapat guru pamong namanya pak Edi. Jatah mapel yang diajarkan adalah PAI dan Fiqih. Hari senin selasa memakai Pakaian Seragam Harian (PSH), rabu kamis memakai batik dan hari jum’at memakai jas almamater. Lumayan deh sedikit punya gambaran untuk menyambut hari PPL.

Kami banyak cerita ngalor-gidul, seputar kegiatan PPL selama di SMK dan sampai masalah perjodohan. Di sini saya mendapat dua point penting yang cukup menyindir diri saya. Pertama adalah point ketika saya bertanya tentang bagaimana sikap dan karakter teman-teman PPL yang lain. Meskipun banyak yang ia tahu, ia lebih baik memilih diam dengan mengatakan semuanya “enakan”. Hingga pada akhirnya ia mengatakan, “besok rasakan saja sendiri”. Haha .. Satu ponit dimana ketika ada kejelekan orang lain, ia lebih baik diam dan supaya orang lain tahu sendiri. Sama seperti ketika ia menceritakan tentang Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) kami. Suatu ketika ia ditanya oleh seorang dosen yang ia kenal tentang bagaimana PPL nya. Setelah ia menjawab baik-baik saja, ia balik bertanya terkait prosedural penilaian PPL. Sontak dosen yang ia tanya balik bertanya, “Emang dosen pembimbing kamu gak jelasin?” Temanku yang bisa saja menjawab “tidak” karena memang kenyataannya demikian lebih baik memilih menjawab “terima kasih” tanpa mau mengatakan yang sebenarnya. Katanya ketika ia menjawab “tidak” terkesan kurang etis dan sangat buruk. Ya, sore itu saya belajar untuk tidak mengobral keburukan orang lain, lebih baik diam meskipun tahu dan saat orang lain ingin tahu, ia lebih memilih agar orang lain tahu dengan sendirinya.

Point yang kedua adalah tentang perasaan perempuan. Pernahkah kalian merasa  jatuh cinta? Atau dekat dengan seseorang dan diam-diam engkau menyukainya. Jika ia katakanlah apa yang engkau rasakan karena meskipun dari gelagat sikap kalian itu bisa menunjukan apa yang kalian rasakan, suka misal, tetapi selama rasa suka itu belum kalian sampaikan, bagi si perempuan itu masih kurang. Gak percaya?  Ini ungkapan langsung dari perempuan lho. So, katakanlah apa yang kalian rasakan, jika ia mempunyai perasaan yang sama maka jagalah hubungan tersebut dalam batas dan koridor yang sewajarnya. Jangan sampai melampai batas. Ingat, cinta itu menjaga bukan malah menyeret pada hal-hal yang negatif.

Eits ... itu dulu deh share pengalaman yang saya dapatkan kemarin. Pengalaman demi pengalaman memunculkan inspirasi baru, namun inspirasi baru tersebut akan hilang seiring berlalunya waktu. Sehingga menulis menjadi alat yang saya gunakan untuk mengabadikan inspirasi tersebut.


Rumah, 9 Agustus 2015 13:09 WIB

You Might Also Like

0 comments: