Ngaji Bersama Ahmad Baso

10:11:00 PM Mad Solihin 0 Comments

Saya selalu ingin tahu bagaimana cara orang hebat melakukan proses sebelum mereka menjadi hebat. Seperti tadi siang misal (Selasa, 04 Agustus 2015), ketika saya mengikuti acara Kongkow Bareng Pecinta NU di Kampus IAIBAFA (Institut Agama Islam Bani Fattah) Jombang dalam rangka Muktamar NU ke-33. Acara tersebut di isi oleh Ahmad Baso, seorang intelektual NU yang membedah bukunya tentang Islam Nusantara. Walaupun namanya sudah tidak asing bahkan akrab di telinga saya, namun baru kali ini bisa bertemu langsung dengannya. Pernah saya membaca buku karya beliau yang berjudul NU Studies namun karena waktu itu minat membaca saya masih lemah dan bahasanya ilmiah serta bukunya tebal membuat saya belum sempat menyelesaikannya. Waktu itu saya meminjamnya di Perpusda Wonosobo.

Pernah juga saya melihat dan membcanya sekilas buku karya beliau yang berjudul NKRI Harga Mati di Toko Buku Sabar Wonosobo, sebenarnya ingin membelinya akan tetapi kondisi dompet yang tak bersahabat membuat saya mengurungkan niat untuk membelinya dan semoga lain waktu bisa membelinya. Aamiin.

Beliau memulai pemaparannya dengan menjelaskan tentang Islam Nusantara yang saat ini menjadi tema besar Muktamar NU yang ke-33. Dulu pada zaman Sunan Giri namanya bukan Islam Nusantara tetapi Din Arab Jawi. Sebuah sebutan untuk  menunjukan bahwa orang Arab datang ke tanah Jawa. Ajaran-ajaran islam dari Arab ketika masuk ke Nusantara maka ijtihad arab tersebut kemudian di ubah dengan kamus Jawa. Seperti istilah Halal bi Halal, NKRI, Pancasila, Gotong royong dan lain sebagainya yang kesemua istilah itu hanya ada di Indoneisia.

Menurut beliau Islam Nusantara adalah ketika Ulama Indonesia mengajarkan islam yang ada di Indonesia ke bangsa lain atau misal Pengurus Cabang Istimewa NU di luar negeri itu bukan orang asli Indonesia tetapi orang orang asli Negara lain, Australia misal maka PCI NU adalah orang Australia. Atau dengan bahasa sederhanya menduniakan ajaran islam Ulama Indonesia.

Berkaitan dengan Halal bi Halal, beliau menyebutkan bahwa pelopor pertamanya adalah Mbah Wahab Chasbullah. Dari point ini kemudian Ahmad Baso menjelaskan mengenai sosok Mbah Wahab Chasbullah dari segi keilmuannya. Ketika kemarin Syaikh Maulana Mas’ud menyoroti Mbah Wahab Chasbullah dengan pandangan tasawufnya sebagaimana telah saya tuliskan kemrin pada Ngaji Bersama Syaikh Maulana Mas’ud, maka dalam perbincangan ini Ahmad Baso menyoroti beliau dari segi intelektualnya yang dari beliulah Islam Nusantara diajarkan. Menurut pengakuan Ahmad Baso, buku-buku karyanya tidak pernah lepas dari pemikiran Mbah Wahas Chasbullah. Karena memang dari Mbah Wahab inilah ajaran Islam Nusantara dikembangkan.

Hmm .. bingung ini mau nulis apa lagi. Berbicara masalah islam nusantara, jujur saya belum terlalu paham. Jika ingin lebih paham silahkan baca bukunya Ahmad Baso yang menjelsakan tentang Islam Nusantara. Sekilas tulisan ini hanya ingin mereview kembali apa yang saya tangkap dari Ngaji bersama Ahmad Baso tadi siang. Banyak hal yang di sampaikan. Tentang sosok Mbah Wahab Chasbullah yang namanya jarang di tulis dalam buku-buku sejarah di sekolah, padahal ia adalah guru dari Soekarno, guru dari para orang-orang nasionalis saat merumusakan pancasila, guru dari muhammadiyah ketika pengahapusan sila pertama menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa. Sayang, jasanya yang begitu besar kurang di hargai, pemberian gelar pahlawan nasional serasa terlambat.

Baiklah lain waktu mungkin saya bisa menyempurnakan tulisan ini yang masih amburadul dan tentu memberikan pehamahamn yang tidak lengkap. Tapi tak apalah, yang penting saya sudah menuliskan gagasan yang saya tangkap. Kalaupun ada kesalahan setidaknya bahwa tulisan ini adalah sebagai pembelajaran dalam proses kepenulisanku.

Selesai pemaparan dari Ahmad Baso, moderator memberikan kesempatan kepada para peserta yang ingin bertanya. Dalam sesi inilah hati saya selalu bergejolak. Tidak hanya tadi siang tetapi dalam semua forum ketika di situ ada sesi pertanyaan. Saya selalu tertantang untuk bertanya, sayang terkadang terganjal oleh ide yang tidak muncul atau kadang rasa tidak percaya diri takut pertanyaannya tidak mutu. Padahal bertanya adalah setengah dari kepemahaman, maka ketika ada yang bertanya biasanya dia cukup paham dengan apa yang disampaikan. Saya sebenarnya ingin bertanya, sayang waktunya terbatas sehingga kandas keinginan saya untuk bertanya.

Keplaksari, Jombang. Selasa, 4 Agustus 2015 22:05 WIB

You Might Also Like

0 comments: