Ngaji Bareng Syaikh Maulana Musthofa Mas’ud

01:35:00 Mad Solihin 0 Comments

Habib Ali dan Syaikh Maulana mas'ud
Sore tadi (Senin, 4 Agustus 2015) saya berkesempatan mengikuti istighosah penutupan forum Musyawarah Kaum Muda NU yang diisi oleh Syaikh Musthofa Mas’ud di Universitas Wahab Hasbullah, Jombang. Sebagai acara terakhir setelah dua hari kaum muda NU dari berbagai daerah dan latar belakang yang berbeda berkumpul dalam berbagai forum.

Acara ini berlangsung begitu khidmad dan tenang. Pesan-pesan yang disampaikan oleh Syaikh Maulana Musthofa Mas’ud yang begitu dalam membuat para peserta menjadi terpukau. Semua terdiam dan begitu takdhim mengikuti intrusksi supaya menirukan apa yang beliau ucapkan. Beliau memulai pidatonya dengan bercerita tentang awal pendirian NU yang di lakukan oleh Mbah Hasyim Asy’ari dan Mbah Wahab Hasbullah tidak lepas dari kerendahan hati dan atas dasar mencintai Rasulullah, Muhammad SAW.

Beliau bercerita tentang sosok Mbah Wahab yang berparas kecil dan kurus tetapi mempunyai kharisma yang tinggi. Karena berdasar cinta kepada Rasulullah maka Saja’ah “Keberanian” dari Nur Muhammad terpancar dari dalam dirinya. Ini terbukti ketika ia menghadap Raja Saud mewakili Ulama Nusantara dengan menggunakan Komite Hijaz mengatakan keberatannya jika makam Rasulullah dan para sahabatnya akan dibongkar. Saja’ah dari Nur Muhammad inilah yang membuat Raja Saud tak bergeming dan mengabulkan permintaan dari Mbah Wahab Hasbullah. Sebagaimana pada perang Badar ketika jumlah pasukan Rasulullah Saw lebih kecil tetapi “saja’ah/keberanian” para sahabat begitu tinggi sehingga perangpun menang. Saja’ah para sahabat itu muncul tidak lain karena dasar cinta kepada Rasulullah SAW.

Selanjutnya beliau menerangkan tentang bacaan Tahyat. Di situ ada bacaan “Assalamu‘alaika ayyuhannabiyu warahmatullahi wa barakatuh” (Semoga keselamatan, rahmat dan berkah Allah tercurahkan kepamu wahai Nabi Muhammad saw). Di sini ada dhomir mukhottob (percakapan) “Assalamu‘alaika yang mana artinya adalah kamu. Otomatis ketika kata “kamu”, maka orang yang bersangkutan berada di dekat kita. Tak mungkin donk kata kamu digunakan jika orang tersebut berada jauh dengan kita, misal “eh kamu tolong donk berikan permen!”. Maka orang tersebut pasti berada di dekat kita. Oleh karenanya, ketika membaca tahyat harus di resapi membayangkan bahwa Rasulullah dekat dengan kita.

Setelah itu beliau menyuruh para peserta yang ikut istighosah untuk mengacungkan jari dan menirukan apa yang beliau ucapkan. “Allahu Nadhirii, Allahu Syahidii, Allahu Ma’ii” (Allah melihatku, Allahu menyaksikanku, Allah bersamaku). “Rasulullah Nadhiri, Rasulullah Syahidii, Rasulullah Ma’ii”. Mbah Wahab Nadhirii, Mbah Wahab Syahidii, Mbah Wabah Ma’ii”. Ini adalah ucuapan “Nadhir” yang artinya menghadirkan Allah, Rasul dan Aulia’. Merasa bahwa Allah, rasul, ataupun Aulia’ melihat kita, menyaksikan kita dan bersama kita. Maka ketika itu terjadi kita akan malu untuk berbuat maksiat.

Dan tahukah kalian bahwa mereka para koruptor juga sholat. Tetapi kenapa mereka tetap melakukan hal yang terlarang. Itu tidak lain karena sholatnya hanya sekedar sholat tanpa menghadirkan Allah di hatinya.

“Allah Allah Allahul Haq, Allah Allah Allahul Haq, Allah Allah Allahul Haq”. Akhlak adalah konsistensi antara mulut, pikiran dan hati. itulah NU. NU tidak lain adalah mereka yang mengikuti perintah Allah, Rasul serta para Aulia’. Ulama yang merendahkan hatinya, tidak seperti sekarang rebutan jabatan. Dulu ketika Muktamar saat terpilihnya Kyai Bisri Syamsuri sebagai Rais Aam. Ketika beliau berpidato malah menyerahkan jabatan Rais Aam kepada Mbah Wahab, selama beliau masih hidup, padahal sudah terpilih oleh peserta Muktamirin. Inilah NU dengan “akhlak” kerendahan hatinya.
Sungguh pesan-pesan yang membuat kami semua merenungi tentang perjuangan yang harus didasari niat atas dasar cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Selesai menyampaikan pesan-pesan sejuk itu, beliau memimpin beberapa bacaan istighosah. Setelah itu iapun memberikan waktu kepada Habib Ali (Qomar) untuk mendo’akan para peserta. Semoga do’a kami dikabulkan oleh Allah. Aamiin.

***

Layaknya buruan. Ia akan lari jika tak diikat. Pun demikian, karena saya tak ingin ilmu yang saya dapat hilang begitu saja, maka menuliskannya adalah salah satu cara untuk mengikat agar tak lupa. Atau kalaupun lupa suatu saat saya bisa membanya kembali.

Institut Agama Islam Bani Fattah (IAIBAFA) Jombang, 04 Agustus 2015 01:29 WIB

You Might Also Like

0 comments: