Hari Pertama PPL

8:01:00 AM Mad Solihin 0 Comments

Senin, 10 Agustus 2015 adalah hari pertama saya melakukan Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) di SMK Takhasus Al-Qur’an Wonosobo. Meskipun jadwal PPL sebenarnya sudah satu minggu yang lalu, namun karena kemarin saya pergi ke Jombang sehingga baru hari ini saya berkesempatan untuk mengikuti PPL. Ketika yang lain sudah lihai dan paham peta sekolah, saya baru memulai beradaptasi dengan lingkungan. But, it’s no problem, I like this it.

Berkaitan dengan PPL banyak cerita yang membuat saya cukup kagum dan menarik untuk direnungkan. Seperti tempat PPL misal, dulu saya pernah meminta kepada Pak Wahyu untuk menempatkan di Sukoharjo karena katanya ia yang mengusai daerah Sukoharjo. Harapannya biar dekat dan bisa laju dari Banjar. Sayang, semua harapan itu tinggal kenangan. Padahal dulu saya melihatnya menuliskan namaku dalam hp nya. Akan tetapi jika berkaca pada diri sendiri, saya sadar bahwa ingatan manusia terbatas seperti Pak Wahyu misal, ia yang mempunyai banyak kesibukan yang tak mungkin selalu ingat dengan apa yang telah berlalu. Selain itu, dari sayapun tak berusaha untuk mewujudkan keinginan itu. Seperti bertanya atau mengkonfirmasi jika pembagian kelompok ditempatkan di Sukoharjo. Saya sama sekali tak melakukan itu, saya hanya diam dan pasrah berharap Pak Wahyu ingat dengan apa yang pernah ia katakan, meskipun dalam hati saya juga telah menyadari hal itu. Hanya saja rasa enggan atau malas membuat saya tak melakukan hal tersebut. So, jika ingin mendapatkan apa yang diinginakan, ikhtiyar menjadi kunsi utamanya.

Saat mendapat kabar tentang tempat dimana saya PPL, saya sudah berada di Jombang. Ada rasa bersyukur ketika mendengar bahwa saya ditempatkan di SMK Takhasus Al-Qur’an. Pasalnya, sekolah ini adalah rintisan dari Almaghfurlah Mbah KH. Muntaha Al-Hafidz. Ulama wonosobo yang terkenal dengan Al-Qur’annya. Meskipun saya tak pernah bertemu langsung dengannya, namun rasa rindu pada beliau selalu muncul. Ya, saya rindu untuk bisa bertemu dengannya. Andai Tuhan mengizinkan, saya ingin bisa bertemu langsung dengannya meskipun hanya lewat mimpi. Dan harapan saya PPL di SMK Takhasus, salah satunya adalah bisa mendapat bekah dari Mbah Mun. Wallahu a’lam.

Layaknya seorang guru, PPL mengharuskan saya untuk datang pagi. Pukul 7 kurang seperempat harus sampai di sekolah. Ini menjadi masalah tersendiri. Jika tetap laju dari Banjar, tentu sangat melelahkan. Bagaimana tidak, saya harus berangkat jam 6 pagi dan laju motorpun harus ngebut. Headeh .. benar-benar melelahkan. Lelah tubuh juga lelah dompet.

Soal nginap maka pemikiran sayapun langsung tertuju kepada Camp Komsat PMII. Alasannya adalah karena disana saya cukup bebas, artinya tidak ada aturan mengekang laiknya tinggal di pondok. Selain itu saya ingin mengembangkan keilmuan yang saya miliki, gambaran saya di sana adalah diskusi. Ya, saya ingin belajar kepada teman-teman di sana. Bergadang sambil bercengkrama tentang banyak hal. Hingga pada hari sabtu kemarin ketika saya ingin bertemu dengan  teman sekelompok PPL, saya bertemu dengn Rofik teman sekelasku yang waktu itu sedang melatih anak didiknya permainan sepak bola. Ia menawari untuk main ke rumahnya hingga tawaran menginap di tempatnya.

Saat itu saya tak langsung mengiyakan. Walau kalau boleh jujur saya merasa bersyukur medapat tawaran tersebut. Dalam hati saya membatin betapa senangnya punya banyak teman. Saya pun langsung memikirkan sebuah ungkapan bahwa “seribu satu sahabat masih terlalu sedikit dan satu musuh sudah terlalu banyak”. Saya meyakininya karena saya sering mengalaminya. Saya sering meminta bantuan teman-teman ketika saya membutuhkannya.

Setelah dipikir-pikir lagi tentang dua hal di atas, saya memilih untuk menginap di tempat temanku Rofiq. Maka minggu sore dengan perlengkapan yang seadanya saya pergi ke tempat Rofiq. Mumpung masih syawal sekalian meminta maaf kepada kedua orang tuanya. Sudah sering merepotkan. Semoga Allah memberi balasan yang berlipat kepada mereka sekeluarga, di berkahi rezekinya, di mudahkan dalam segala urusannya . Aamiin.

Seperti halnya memilih pasangan, sayapun punya alasan kepana lebih memilih di tempat Rofiq. Itu tidak lain adalah karena saya ingin menjalin persahabatn lahir batin dengannya. Mengenal orang tuanya. Ketika hubungan kuliah formal telah usai, hubungan persahabatan masih tetap terjaga.

Malam senin kemarin saya telah berada di rumahnya Rofiq. Sebagai teman yang sering bercanda, gelak tawa saat bercerita membuat kegaduhan ruangan. Dalam percakapan itu saya belajar tentang arti menghargai orang lain. Ini berwal ketika Rofiq bercerita tentang sikap salah satu temannya yang menyela ketika ia sedang menginformasikan perihal upacara bendera untuk acara 17 Austus. Rofiq yang waktu itu cukup marah dan tersinggung dengan ucapan temannya yang menggampangkannya langsung berucap “Terkadang kita sangat perlu menghargai orang lain. Saya hanya menyampaikan informasi dan amanat. Jika kamu mau ya ayo, jika tidak mau saya juga tak berharap dan membutuhkanmu. Masih banyak yang lain yang lebih pintar”. Seketika itu ia langsung pamit pulang dan memilih untuk bermain sepak bola dengan teman-temannya.

***

Saya berangkat pukul setengah 7. Saat sampai di sekolah salah satu guru ada yang sedang mengkondisikan murid-murid berbaris di halaman untuk melaksanakan upacara bendera. Awal masuk saya seperti orang hilang. Menengok ke kanan dan ke kiri, tak ada yang saya kenal. Baru ketika lewat jendela kaca saya melihat teman-teman PPL saya tersenyum dan segera mnemui mereka. Saya cukup tenang karena dari ke 7 teman PPL ku, sebagian sudah saya kenal. Rofiqoh teman sekelasku, Zaim kenal ketika sama-sama di HMP, Diana kenal ketika ikut PMII, dan Pipit kenal ketika di HMP. Ada tiga yang belum saya kenal, Fitria, Khusnul dan Mega. Dari 8 anak, saya adalah anak paling tampan. Bagaimana tidak, saya laki-laki seorang diri. Dan menurut kabar, emang di SMK Takhasus saat PPL seringnya cowoknya satu. Seperti tahun kemarin hanya satu laki-laki dari sekian anak yang PPL, lainnya perempuan. Entah itu karena permintaan yayasan atau memang karena keputusan dari pihak Fakultas. I don’t know.

Sahabat menjadi hal yang penting dalam keseharian saya. Mereka adalah aset yang suatu saat kita butuhkan ataupun membutuhkan kita. Termasuk soal PPL, saya banyak mendapat informasi dari temanku, Zaim yang kebetulan satu pamong. Seusai upacara bendera saya langsung bertanya kepanya. Ia menyuruhku untuk menemui Pak Edi. Jatah saya adalah mengajar mapel Fiqih kelas XI.

Pagi tadi ketika yang lain sudah melakukan aktifitas mengajarnya, saya baru saja memulai beradaptasi dengan lingkungan, guru, jadwal dan anak-anak. Terlambatkah? Saya rasa tak pernah ada kata terlambat. Hanya kita saja yang harus “going extra time” melakukan sesuatu yang lebih dari orang lain.

Kelas XI TSM 2 adalah kelas pertama yang saya masuki. Karena saya baru saja berangkat, maka yang pertama saya lakukan adalah mengekor kepada Pak Edi selaku guru pamong. Melihat bagaimana cara ia mengajar dan bagaimana cara ia memperlakukan muridnya. Di akhir pertemuan ia memberiku waktu untuk memperkenalkan diri. Yes, I can. Saya merasa PD, karena anakya tak terlalu banyak jika saya hitung hanya ada 23 tak seperti apa yang dikatakan oleh teman-teman. Kata mereka sekalas 32 atau bahkan lebih, dan syukurlah di pertemuan pertama hanya sedikit sehingga tidak malu.

Selesai perkenalan saya segera kembali ke kantor. Setelah istirahat sebenarnya saya di suruh langsung ngajar tanpa mengekor lagi. Sayang, saya belum paham waktu itu hingga ketika saya bertanya kepada teman-teman perihal jadwal mengajar saya baru sadar bahwa saya tadi sebenarnya harus masuk.

Hari ini cukup spesial. Karena ada jadwal arisan di tempat Bu Badriyah Manggis, Leksono. Maka jam pelajaran hanya sampai jam 1. Tak ketinggalan kami yang sedang PPL juga di ajak untuk mengikuti acara arisan tersebut. Headeh jalannya, seperti lembah berkelok-kelok. Ektrim deh, beruntung sudah di aspal jika tidak gak berani deh. Katanya, acara ini rutin setiap tanggal 10 per bulan. Acaranya semacam pengajian kelas. Sambutan kepala sekolah, shohibut bait, tahlil, tausyiah dan arisan.

Acara ini adalah acara silaturahim yang di gilir, sebagai salah satu perekat hubungan emosial antar guru. Yes, I like this. Di sini saya banyak berbaur dan mendapat teman dan keluarga baru. Suatu kenikmatan tersendiri bagi saya.

Selesai acara arisan. Saya bersama teman-teman PPL yang lain mampir ke tempat Fitria yang rumahnya kebetulan satu desa. Sekali dayung, dua pulau terlampaui. Saya menikmati keluarga baru ini. Berbaur dan bercanda serta belajar. Dan ada yang unik di sini. Ada dua anak yang kreatif dan sama-sama pinter namun agak berbeda pendapat. Saya berada di tengah-tengah. Mendengar keluhan dari keduanya. Hahaha ...ada yang lucu dengan mereka. Sama-sama punya argument masing-masing.

Saya yang berniat untuk kondangan dan kembali ke Banjar akhirnya batal. Selain kondisi dompet yang menipis juga karena hujan. Wal hasil yang pulang ke tempat Rofiq. Namun sebelumnya saya sempatkan untuk membeli kabel dan stop kontak untuk di pasang di kamar. Biar ngecasnya gampang. Hehehe.

Selesai memasang stop kontak, bercengkrama dengan teman-teman desa yang kebetulan main ke rumah Rofiq dan setelah itu bermain olahraga jari, mengetik huruf demi huruf. Mengabadikan moment dan sebagai cara untuk berlatih menulis. Semoga saja ada manfaatnya. Atau mungkin ini adalah awal saya sebelum menjadi penulis terkenal dengan buku best sellernya . Hahaha, ngimpi. But, I bellieve from dream can be true. So, Never Stop Dreaming.

(Kedewan Sudung Dewa) Kretek, 10 Agustus 2015 22:44 WIB

You Might Also Like

0 comments: