Hari Pertama di Jombang

22:50:00 Mad Solihin 0 Comments

Waktu menunjukan pukul 4 pagi ketika rombongan pcnu yang saya tumpangi sampai di base camp tempat dimana rombongan dari Banjarnegara transit. Tepatnya di Jalan Soekarnoe-Hatta No 12 Keplaksari, Peterongan, Jombang. Rumah milik saudaranya Pak Khozin.

Sambil menunggu waktu subuh kami merebahkan tubuh untuk mengistirahatkan badan yang kelelahan setelah 12 jam perjalanan. Terutama Pak Khozin yang terlihat begitu lelah bahkan sempat dipijeti ketika istirahat dalam perjalanan. Baru ketika usai sholat subuh semua tepar kecuali saya dan kang Mizan. Kami berdua lebih memilih jalan keluar dan memasang banner ucapan selamat & sukses Muktamar ke 33 Nahdlatul Ulama.

Pukul 9 setelah sarapan dan mandi, kami berempat (Saya, Lulu, Dayat dan Mas Mizan) atas inisiatif dari Mas Mizan pamitan untuk memishkan diri rombongan. Bukan karena enggan di sana, siapa si yang menolak mendapat fasilitas dan kemudahan seperti mandi, makan, ngecas hp, jalan-jalan ada kendaraannya dsb yang semua itu gratis. Tetapi kami memisahkan diri untuk belajar menempa diri, beajar untuk bertahan hidup, tidak bergantung kepada orang lain dan tidak ingin banyak merepotkan, sudah untung bisa mendapat tumpangan berangkat ke Jombang. Selesai Mas Mizan menyampaikan tentang pemisahan diri, kami segera berangkat mbolang. Alhamdulillah dapat uang saku 100 ribu dari Pak Khozin dan beberapa obat-obatan yang di bawa oleh Pak Sohirun, ada tolak angin, frescare, diapet, bodrek flu dan batun, dan hansaplas. Pokoknya lengkap deh.

Kami berjalan ke arah barat untuk menuju alun-alun. Beberapa ratus meter seelah kami berjalan, kami berhenti dan membuat kesepakatan. Diantaranya adalah tidak ada rasa grundel “marah yang ditahan” apapun yang nantinya terjadi. Masalah makan, tidur dsb itu gampang. Intinya kita belajar untuk bertahan hidup. Jangan hanya nginduk saja, nanti kita tidak pernah bisa belajar. Katanya ini adalah pengalaman dari Konggres dulu di Makasar. 
Setelah selesai membuat kesepakatan :)

Saya cukup tercengang ketika di Taman Keplaksari Mas Mizan berkata tentang kebanggaannya berada di Jombang. Tempat kelahiran para Ulama yang namanya dikenang oleh masyarakat, tempat kelahiran orang-orang hebat yang jasanya membuatnya seolah tak pernah mati. Ada Mba Hasyim Asy’ari, Mbah Wahab Chasbullah, Mbah Wahid Hasyim, Gus Dur, Mbah Bisri Syamsuri dan seabreg ulama lain yang jasanya selalu membuatnya hidup. Ya, di Jombang inilah lahir orang-orang hebat. 
Saat berada di Taman Keplaksari

Cukup lama kami berada di Taman Keplaksari. Ada pemandangan unik disana. Sebuah patung gajah yang terbuat dari rongsokan alat-alat elektronik seperti tv, komputer, telfon genggam, kalkulator dsb. Patung jerapah yang terbuat dari potongan kayu-kayu. Ada juga tulisan yang cukup nyleneh “Ini Fasilitas Umum Bukan Kamar Hotel”, tulisan yang seolah-olah menandakan bahwa di situ banyak digunakan sebagai tempat mesum. Haha 

  
Setelah cukup puas berada di Taman, kami melanjutkan perjalanan kaki menuju ke alun-alun. Tampak spanduk dan banner ucapan selamat dan sukses Muktamar NU terpampang di sepanjang jalan yang menambah kemeriahan acara. Pun dengan bendera, sepanjang jalan terpasang bendera NU berkibar.
Tak terasa beratus langkah telah kami lampaui, jarak 10 km kami tempuh dengan jalan kaki. Layaknya bolang, maka kami pun melakukan hal yang sama berkelana, menggelandang layaknya orang tak punya uang, menggendong tas berjalan menyusuri ruas jalan yang belum kami ketahui dimana letak persisnya. Ah, perjalanan yang mungkin akan menjadi kenang-kenganan tak terlupakan. Berjalan dari Keplaksari sampai ke makam Mbah Hasyim dan Gus Dur Tebuireng. Perjalanan kaki yang melelahkan tetapi mengesankan.

Seusai berziaroh kami istirahat di masjid komplek Pon-pes Tebuireng sekalian sholat asar. Saat mau wudlu saya mendapat kabar tentang PPL. Dari Tohirin saya tahu bahwa saya mendapat sekolah SMK Takhussus Al-Qur’an dengan kelompok yang ia kenal adalah Rofiqoh dan Zaim. Dari Izah saya tahu bahwa DPL yang mendampingi kelompok saya adalah Bu Rani. Di saat-saat seperti inilah seorang teman menjadi sangat penting keberadaannya. Ialah yang akan membantu kita kekita membutuhkan. Seperti yang saya alami sekarang, keaadaan saya yang berada di Jombang dan tak bisa mengikuti pembekalan PPL hanya bisa meminta teman (dalam hal ini Tohirin dan Izah) untuk mengabari tentang informasi PPL. Ah, seribu teman masih kurang sedangkan satu musuh sudah terlalu banyak.

Awalnya saya agak bingung karena nomor milik Rofiqoh teman yang kebetulan sekalas denganku dan satu kelompok tak dapat dihubungi. Ketika bisa dihubungi, tanpa sepengetahuanku saya ditunjuk untuk menjadi ketua kelompok. Headeh ... orangnya lagi di Jombang kok di tunjuk jadi ketua. Kenapa gak nunjuk yang ada saja. Katanya karena sekelompok laki-lakinya cuma satu, yaitu saya. Hahaha aduh repot ini.

Baterei tinggal 7%. Sebenarnya masih banyak yang akan saya tulisakan tentang menginap di masjid dan suasana masjid yang begitu sejuk, tetapi karena sebentar lagi netbooknya mati maka saya cukupkan sekian.


Masjid Baitul Mukminin, Jombang, 2 Agustus 2015 07:59 WIB

You Might Also Like

0 comments: