Hari Kedua di Jombang

14:58:00 Mad Solihin 0 Comments

Aksi di Pembukaan Muktamar NU 33
Sabtu, tepat tanggal 1 Agustus 2015 adalah hari kedua saya berada di Jombang. Tak ada agenda selain menyiapkan perlengkapan untuk aksi di malam pembukaan muktamar, menolak politisasi NU. Aksi yang pada awalnya saya masih agak bimbang untuk mengiyakan disebabkan ketidakpahaman atas ide aksi tersebut. Baru ketika saya membaca beberapa pernyataan tokoh-tokoh NU terkait persoalan yang senada dengan ide aksi yang akan kami lakukan, baru saya  sedikit mantap.

Pagi menjelang siang itu sekitar pukul 10 kami berempat berbagi tugas, saya ikut Kang Mizan untuk membuat petisi di warnet, sedangkan Dayat dan Lu-lu mendapat tugas untuk mencari kain putih. Selain membuat petisi 1500 lembar, kami juga membuat beberpa tulisan dan foto sebagai penjelas terhdap apa yang kami lakukan.

Kami berkumpul lagi di Masjid Agung Baitul Mu’minin saat waktu asar telah tiba. Seusai sholat asar kami bergegas mencari tempat untuk persiapan aksi. Setelah mondar-mandir, akhirnya kami memutuskan untuk mempersiapkan perlengkapannya di sebuah SD yang tak jauh dari masjid. Menuliskan penolakan pada selembar kain panjang seperti spanduk dan membuat beberapa lubang rsebutpada sebuah topeng bergambar buta. Gambar tersebut kami pilih karena menandakan kerakusan.
Sekitar setengah 6 sore kami baru selesai mempersiapkan perlengkapan untuk aksi. Kami sengaja memilih tempat yang sepi dan tak terlihat, sehingga ketika untuk kedua kalinya ada orang yang melihat kami segera bergegas untuk pergi yang kebetulan persiapan juga telah selesai.

Masjid Agung terlalu rame untuk kami singgahi. Maka pilihan kami jatuh pada masjid terrdekat di sebuah komplek perumahan. Walaupun rame tapi setelah isya cukup lenggang. Kesempatan ini kami gunakan untuk simulasi, berdandan dan bagaimana cara nanti kami melakukan aksinya. Dalam simulasi tersebut kami juga menghadihkan fatihah kepada para masyayih Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, Mbah Wahab Cahasbullah dsb supaya apa yang kami lakukan mendapat ridho dari Allah.

Setelah simulasi dianggap cukup, kami segera bergegas ke alun-alun untuk melihat prosesi pembukaan Muktamar NU yang ke 33. Ribuan orang telah memadapi alun-alun, bahkan di pintu masuk yang berbentuk seperti gapura orang-orang harus berdesak-desakan. Saya yang ingin melihat langsung acara pembukaan hanya bisa pasrah, ribuan orang tak memunginkan saya untuk menerobosnya. Ada sediit kecewa waktu itu, namun apalah daya sehingga sayapun kembali bergabung dengan teman-teman yang lain. Yang saya sayangkan, kenapa gak ada layar lebarnya sehingga mereka yang tak bisa masuk bisa melihatnya di luar.

Sambutan Presiden Jokowi terdengar dari pengeras suara yang artinya pembukaan hampir usai. Maka kami berempat segera bersiap-siap sesuai apa yang telah kami simulasikan sebelumnya. Ketika pembawa acara menutup acara, kami segera merapat di pojok dekat pintu keluar. Dengan bacaan shoawat kami mencoba menyedot perhatian massa. Benar saja, banyak pengunjung yang ketika keluar menyempatkan diri utuk melihat aksi kami, ada yang memfoto ada juga yang merekamnya dengan kamera vidio.

Sekitar setangah jam kami melakukan aksi. Beberapa wartawan juga meliput di antaranya adalah m.beritajatim(.)com dan beritasatu(.)com. Selain koran, salah satu pesawat televisi JTV sempat merekam dan wawancara dengan Mas Mizanto selaku koordinatornya. Dalam aksi tersebut, polisi datang menanyakan surat ijin. Awalnya satu, tetapi ketika kami jawab telah menerima ijin, polisi tersebut memanggil polisi yang lainnya bahkan salah satu intel berambut gondrong dengan wajah garangnya mengancam akan memukul jika dalam hitungan ketiga spanduk yang bertulisakan “Kader Muda NU Mengecam ‘Politisasi’ Muktamar NU Lahir-Batin” tidak diturunkan. Bahkan ketika kami masih membentangkan hanya untuk sekedar foto sebelum kami mengakhiri aksi, intel tersebut langsung merebut dan segera mengamankan spanduk yang kami bentangkan.

Selain perlakuan polisi, yang membuat kami down adalah ucapan dari salah satu kyai yang menyuruh untuk segera mengakhiri aksi. Ia merangkul mas Mizan, Lulu dan Dayat. Hanya saya yang tak dipeluk sehingga saya tak terlalu paham apa yang di ucapkan, hanya saja inti dari ucapan beliau adalah menyuruh kami untuk segera mengakhiri aksi dan jangan membuka aib. Ah, kami hanya menyuarakan apa yang kami yakini. Melakukan kritik kepada bapak kami sendiri ditingkatan NU.

Alhamdulillah ... Walau hanya berempat aksi tersebut berhasil kami lakukan. Sehingga kami tidak hanya datang sebagai penggembira saja tetapi datang sebagai subyek “pelaku”, berbuat untuk NU. Meskipun cibiran juga muncul, tetapi saya merasakan banyak hal yang saya pelajari. Terutama tentang mental. Ya, dihadapan ribuan orang yang berlalu lalang, kami berlaku seperto layaknya orang konyol yang jika mental tidak kuat pasti ngedown dan memalukan. Selain itu aksi dapat kita lakukan tanpa menunggu banyak orang. Awalnya kami mengabari lewat jaringan ipnu, namun karena tak banyak yang merenspon akhirnya kami berempat yang tetap maju untuk melakukan aksi. 
Petisi Penolakan Politisasi Muktamar NU

Beberapa point yang ada dalam aksi tersebut adalah :
> Menyebarkan petisi yang berisi penolakan “Politisasi” Muktamar NU
> Ajakan seribu fatihah untuk warga NU bagi siapapun yang membaca petisi tersebut
> Tiga orang dengan simbol-simbol tersendiri.
>) Dayat dengan simbol topeng Logo NU dan tubuh berbalut kain putih bertuliskan NU. Yang kami jadikan sebagai “obyek” untuk direbutkan dengan tali di lilitkan pada leher dan tangan. 
>) Lu-lu dengan topeng buta yang menandakan kerakusan. Di dadanya digantungkan tulisan “Kepentingan Pribadi dan Kursi Jabatan”. Tangannya menarik tambang yang dilitkan pada tangan dan lehernya Dayat.
>) Saya sendiri menggunkana topeng bergambang buta dengan tulisan “Politik Praktis”.

Dari tiga simbol ini menandakan bahwa NU menjadi rebutan bagi partai politik atau dimanfaatkan sebagai kepentingan pribadi untuk mengejar kursi jabatan. Itulah inti yang ingin kami sampaikan melalui aksi pada waktu selesai pembukaan Muktamar NU yang ke 33.

Seusai dibubarkan, datang salah satu peserta utusan dari Jambi yang mendukung dan simpati dengan aksi yang kami lakukan. Dia bercerita bahwa memang benar politik tak bisa dihndarkan. Bahkan ia mengatakan bahwa setiap pc atau apalah namanya (kurag jelas) mendapat uang 50 juta. Bukankah ini juga sebagai permainan politik?

Semoga Allah meridhoi dan mengampuni dosa-dosa kami.


Rumah (Banjarnegara), 9 Agustus 2015

You Might Also Like

0 comments: