Experience is The Best Teacher

1:45:00 PM Mad Solihin 0 Comments

Beberapa hari ini saya tak sempat untuk menulis atau lebih tepatnya tak menyempatkan diri untuk menulis. Dua kata ini mengandung arti yang berbeda “tak sempat” dan “tak menyempatkan”. Jika kata pertama mengandung arti pasrah karena sibuk mungkin, tetapi kata kedua mengandung arti malas atau kalau malas terlalu kejam, maka adakah sebutan lain yang bisa mewakilinya .?

Banyak ide muncul setiap hari yang memaksaku untuk menuliskannya, namun lagi-lagi karena alasan malas sehingga mau gak mau ide itu harus saya relakan menghilang. Ah, betapa malangnya diri ini jika setiap kali rasa malas datang saya tak bisa mengalahkannya. Seperti dalam hal menulis misalnya, tentang hari-hari di Jombang yang ternyata baru samapi hari kedua yang saya tuliskan, tentang pengalaman kamarin, kemarin dan kemarin. Dan hari ini saya ingin memaksa diri untuk mengalahkan rasa malas.

Tak hanya malas saja yang merugikan, menunda-nunda pekerjaan juga mempunyai potensi yang sama. Dari menunda-nunda itu banyak pekerjaan menjadi menumpuk yang pada akhirnya membuat kita kewalahan. Salah satu penyebabnya adalah karena kita tidak pernah punya skala prioritas mana yang penting, agak penting dan tidak penting. Mana yang harus segera di kerjakan dan mana yang bisa dikerjakan nanti.

***

Pengalaman

“Experience is the best Teacher” saya mempercayainya. Kemarin siang (12/8) sehabis PPL saya langsung pulang ke rumah temanku, Rofiq. Karena hanya mengajar pagi, maka pukul dua siang saya memilih untuk pulang lebih awal. Rofiq yang juga baru saja PPL sudah berada di rumah lebih awal dariku. Hanya kami berdua di rumah, orang tua Rofiq sedang pergi dan belum pulang.

Kesempatan ini kami gunakan untuk menyambung kabel listrik buat saluran stop kontak. Sebenarnya sudah jadi, namun karena memanfaatkan tempat lampu yang ada colokannya, sehingga mau gak mau ketika stop kontak akan digunakan harus menghidupkan lampu. Iya kalau malam, kalau siang kan pemborosan namanya.

Untuk menyambung ke aliran listrik yang utama kami harus naik ke atas ternit. Melubangi ternit yang keras sehingga cukup kewalahan untuk di masuki kabel. Seperti pada umumnya aliran listrik, di situ ada dua kabel (-) dan (+). Maka sayapun menyambungkan kabel stop kontak di kabel yang berwarna hitam dan merah. Setelah sambungan selesai, saya meminta Rofiq untuk mencobanya. Alhamdulillah jadi.

Saya bisa menyambung dan cukup paham dengan dunia kelistrikan itu ketika saya masih duduk di bangku MA. Kebetulan waktu itu teman saya yang biasa menyambung kabel listrik berhalangan, ia hanya mengajariku di sertai dengan gambar. Maka saya pun mempraktekannya dan alhamdulillah berhasil. Setelah itu sayapun cukup paham ketika harus berurusan dengan dunia listrik, menyambung atauapun memasang lampu. Ada yang bilang kalau menyambung listrik itu seperti menyambung pralon (aliran air).


Kretek, 13-14 Agustus 2015 05:12 WIB

You Might Also Like

0 comments: