Balasan Kebaikan

09:25:00 Mad Solihin 0 Comments

“Sudah malam. Dingin-dingin. Jalannya rusak. Berangkat besok pagi saja”, begitulah ibu menasehati ketika saya mengatakan akan ke Wonosobo.

Nasehat itu selalu terulang ketika saya pulang dan dalam hitungan jam pergi lagi. Terkadang ada si keinginan untuk tetap di rumah sekedar untuk bersantai ataupun bisa membantu meringankan beban orang tau, namun sudah jalan takdir memang saya harus menjalani hidup berkelana. Kalaupun pulang hanya untuk singgah meminta amunisi sebagai bekal selama hidup di jalanan.

“Hati-hati”, demikian doa yang saya dengar dari ibu dan bapak ketika mengantar saya sampai depan pintu. Selepas itu hanya terlihat tas coklat yang selalu saya gendong ketika pergi hingga di persimpangan jalan masjid saya sudah tak lagi terlihat oleh mereka.

Dalam perjalanan, saya selalu terpikir bahwa do’a tulus merekalah yang selama ini menjadikan saya sampai hari ini bisa tetap sehat dan bisa menuliskan coretan kecil ini. Tanpa do’a mereka saya tak mungkin bisa berkelana sambil merajut mimpi dan berusaha untuk mewujudkannya. Maka harapan saya adalah membuat mereka tersenyum bahagia. Tentang kebaikan yang selama ini mereka berikan, semoga saya bisa membalas meskipun tak mungkin sepadan bahkan untuk ukuran secuil kuku hitampun saya tak sanggup. Semoga Allah selalu memberi kesehatan kepada mereka berdua dan mengasihi sebagaimana mereka mengasihiku sewaktu kecil. Aamiin.

***

Pukul 19.00 WIB sehabis sholat isya saya meluncur ke Wonosobo tepatnya di Kedewan Sudungdewo Kretek, rumah teman sekelas kuliah saya, Rofik. Di rumahnyalah saya menginap selama masa PPL dan ini adalah minggu ke tiga. Nasehat ibu untuk tetap di rumah dan berangkat pagi tak saya endahkan karena sepatu dan baju berada di rumah temanku. Maka mau tidak mau, walaupun cukup lelah karena siangnya baru dari Temanggung, saya tetap berangkat ke Kretek. Dinginnya angin malam sudah menjadi bagian dari hidupku. Bulan pun seolah tak tega melihatku sendiri hingga dengan malu-malu iapun menampakan wajah cantiknya, menemani perjalanan malamku.

Terpaan angin malam karena meninggalkan desa yang baru saja berduka sebab salah satu penduduk baru saja meninggal, membuat pikiranku melayang selama perjalanan. Dua kuburan yang saya lewati menambah anganku tentang kematian begitu dekat. Ya, kematian memang begitu dekat, waktunya pun tak bisa di majukan ataupun dimundurkan. Jika tiba saatnya, tak peduli bagaimana keadaannya ia akan datang kepada kita dan tidak bisa ditolaknya. Sudah siapkah kita?

Selain angan-angan tentang kematian, sayapun terbayang oleh orang-orang yang berada di sekitarku. Mba’ dan Mas ku yang begitu tulus ikhlas memberikan motor sehingga dengannya saya bisa berkelana. Semoga kebaikan yang muncul lantaran motor yang mereka berikan, pahalanya juga mengalir kepada mereka sebagai amal jariyah. Yang karena lantaran kebaikan mereka, Allah mengabulkan do’a dan harapan mereka. Aamiin.

Pun demikian dengan keluarganya Rofiq. Atas kebaikannya menerima saya menginap di rumahnya semoga Allah melimpahkan keberkahan rezeki yang berlimpah, umur yang barokah dan dimudahkan dalam segala urusan. Aamiin.

***

Perihal kebaikan yang saya dapat dengan menginap di rumah Rofiq, sayapun berpikir bahwa dimanapun tempat kita tak mungkin bisa hidup sendiri. Kita membutuhkan bantuan orang lain, yang kitika saya angan-angan kebaikan yang kita berikan pasti Allah membalasnya. Hanya saja obyeknya berbeda tidak seperti hutang. Ketika kita hutang kepada si A, maka kitapun mengembalikan kepada si A. Berbeda ketika kita memberikan kebaikan kepada si B, maka tidak mesti kita mendapat kebaikan dari si B. Husnudzon saya, Allah membalasnya lewat perantara si C.

“Jika kita berbuat satu kebaikan maka Allah akan membalasnya dengan sepuluh kebaikan. Dan jika kita melakukan kejelekan, tidak lain kita akan mendapat kejelakan yang serupa”.


Kretek Wonosobo, 31 Agustus 2015 00:11 WIB

You Might Also Like

0 comments: