Balasan Kebaikan

Balasan Kebaikan

09:25:00 Add Comment
“Sudah malam. Dingin-dingin. Jalannya rusak. Berangkat besok pagi saja”, begitulah ibu menasehati ketika saya mengatakan akan ke Wonosobo.

Nasehat itu selalu terulang ketika saya pulang dan dalam hitungan jam pergi lagi. Terkadang ada si keinginan untuk tetap di rumah sekedar untuk bersantai ataupun bisa membantu meringankan beban orang tau, namun sudah jalan takdir memang saya harus menjalani hidup berkelana. Kalaupun pulang hanya untuk singgah meminta amunisi sebagai bekal selama hidup di jalanan.

“Hati-hati”, demikian doa yang saya dengar dari ibu dan bapak ketika mengantar saya sampai depan pintu. Selepas itu hanya terlihat tas coklat yang selalu saya gendong ketika pergi hingga di persimpangan jalan masjid saya sudah tak lagi terlihat oleh mereka.

Dalam perjalanan, saya selalu terpikir bahwa do’a tulus merekalah yang selama ini menjadikan saya sampai hari ini bisa tetap sehat dan bisa menuliskan coretan kecil ini. Tanpa do’a mereka saya tak mungkin bisa berkelana sambil merajut mimpi dan berusaha untuk mewujudkannya. Maka harapan saya adalah membuat mereka tersenyum bahagia. Tentang kebaikan yang selama ini mereka berikan, semoga saya bisa membalas meskipun tak mungkin sepadan bahkan untuk ukuran secuil kuku hitampun saya tak sanggup. Semoga Allah selalu memberi kesehatan kepada mereka berdua dan mengasihi sebagaimana mereka mengasihiku sewaktu kecil. Aamiin.

***

Pukul 19.00 WIB sehabis sholat isya saya meluncur ke Wonosobo tepatnya di Kedewan Sudungdewo Kretek, rumah teman sekelas kuliah saya, Rofik. Di rumahnyalah saya menginap selama masa PPL dan ini adalah minggu ke tiga. Nasehat ibu untuk tetap di rumah dan berangkat pagi tak saya endahkan karena sepatu dan baju berada di rumah temanku. Maka mau tidak mau, walaupun cukup lelah karena siangnya baru dari Temanggung, saya tetap berangkat ke Kretek. Dinginnya angin malam sudah menjadi bagian dari hidupku. Bulan pun seolah tak tega melihatku sendiri hingga dengan malu-malu iapun menampakan wajah cantiknya, menemani perjalanan malamku.

Terpaan angin malam karena meninggalkan desa yang baru saja berduka sebab salah satu penduduk baru saja meninggal, membuat pikiranku melayang selama perjalanan. Dua kuburan yang saya lewati menambah anganku tentang kematian begitu dekat. Ya, kematian memang begitu dekat, waktunya pun tak bisa di majukan ataupun dimundurkan. Jika tiba saatnya, tak peduli bagaimana keadaannya ia akan datang kepada kita dan tidak bisa ditolaknya. Sudah siapkah kita?

Selain angan-angan tentang kematian, sayapun terbayang oleh orang-orang yang berada di sekitarku. Mba’ dan Mas ku yang begitu tulus ikhlas memberikan motor sehingga dengannya saya bisa berkelana. Semoga kebaikan yang muncul lantaran motor yang mereka berikan, pahalanya juga mengalir kepada mereka sebagai amal jariyah. Yang karena lantaran kebaikan mereka, Allah mengabulkan do’a dan harapan mereka. Aamiin.

Pun demikian dengan keluarganya Rofiq. Atas kebaikannya menerima saya menginap di rumahnya semoga Allah melimpahkan keberkahan rezeki yang berlimpah, umur yang barokah dan dimudahkan dalam segala urusan. Aamiin.

***

Perihal kebaikan yang saya dapat dengan menginap di rumah Rofiq, sayapun berpikir bahwa dimanapun tempat kita tak mungkin bisa hidup sendiri. Kita membutuhkan bantuan orang lain, yang kitika saya angan-angan kebaikan yang kita berikan pasti Allah membalasnya. Hanya saja obyeknya berbeda tidak seperti hutang. Ketika kita hutang kepada si A, maka kitapun mengembalikan kepada si A. Berbeda ketika kita memberikan kebaikan kepada si B, maka tidak mesti kita mendapat kebaikan dari si B. Husnudzon saya, Allah membalasnya lewat perantara si C.

“Jika kita berbuat satu kebaikan maka Allah akan membalasnya dengan sepuluh kebaikan. Dan jika kita melakukan kejelekan, tidak lain kita akan mendapat kejelakan yang serupa”.


Kretek Wonosobo, 31 Agustus 2015 00:11 WIB

Membeli Buku

10:07:00 Add Comment
Sumber: Dokpri
Pameran atau Bazzar Buku adalah salah satu moment yang menarik buat saya. Sebegaimana hari ini seusai dari sekolah sebelum pergi ke masjid untuk menunaikan Sholat Jum'at saya menyempatkan untuk mampir ke pameran buku di Gedung Kopri Wonosobo. Rasa penasaran beberapa hari lalu yang belum sempat saya penuhi memaksaku untuk mengunjunginya hari ini.

Awalnya saya tidak berminat untuk membeli karena uang yang saya miliki hanya tinggal Rp. 40.000,- Uang untuk jaga-jaga dan beli bensin ke sana kemari. Di ruangan yang cukup luas tergelatak bermacam-macam buku. Walau tidak terlalu rame, tapi cukuplah menandakan bahwa masih ada orang yang menyempatkan waktu untuk membeli buku.

Setelah mengitari buku demi buku, rasanya tak ada yang menarik. Kalaupun ada, uang yang saya miliki tak cukup untuk membelinya. Maka saya pun berencana untuk pergi. Namun, ketika sudah di dekat pintu saya melihat satu hamparan tempat buku yang menarik untuk di lihat. Saya amati satu persatu buku yang ada di hamparan dekat pintu hingga pandangan saya tertuju pada gambar sosok yang tak asing lagi bagiku. Sosok tersebut adalah sosok Dahlan Iskan, Sandiago dan beberapa tokoh lain yang namanya cukup terkenal di kalangan pengusaha. Saya pun melihat label harga yang tertempel pada sampul plastik pelindung buku.

Pilihan saya akhirnya jatuh pada dua buku yaitu “Inspirasi T.P. Rachmat” dan “Dahlan Iskan From Zero to Hero”. Niat untuk tidak membeli buku akhirnya terkalahkan juga oleh keinginanku yang memang cukup kranjingan dalam hal buku. Meskipun kadang tidak selalu langsung di baca. Kondisi dompet yang menyisakan uang Rp. 40.000,- pun tak saya gubris. Maka dengan  langkah percaya diri saya menghampiri kasir. Setidaknya label harga telah memberikan saya pertimbangan bahwa saya akan membayar sebesar Rp. 25.000,- dengan harga buku Isnpirasi T.P. Rachmat sebesar Rp. 10.000,- dan buku Dahlan Iskan sebesar Rp. 15.000,-.

Entah kenapa virus untuk membeli buku menjangkiti saya. Atau setidaknya saya punya pertimbangan bahwa buku adalah salah satu aset berharga yang tahan lama. Sehingga ketika ada buku menarik yang harganya murah saya tak sungkan untuk mengocek dompet meski saat itu terkadang dalam kondisi minus. Selain itu, saya meyakini bahwa ada kata-kata atau ilmu baru yang akan saya dapat dari buku yang saya beli.


Kretek Wonosobo, 28 Agustus 2015 16:26 WIB

Negeri Sapati

09:54:00 Add Comment
Sumber : Dok. Pribadi
Hari ini selesai juga Novel yang berjudul “Negeri Sapati” saya baca. Novel karya Laode M. Insan ini saya pinjam dari Perpusda Wonosobo senin lalu. Sehingga jika di htung, saya membutuhkan waktu 5 hari untuk menyelesaikan novel setebal 360 halaman tersebut. Waktu yang cukup lama untuk orang yang katanya hobi membaca. Tetapi tak apalah daripada tidak pernah membaca sama sekali.

Dalam pengamatan saya, novel ini bercerita tentang persahabatan. Kisah beberapa anak kecil yang terdiri dari Dayan, Odi, Poci dan Surman. Keempat serangkai inilah yang menggambarkan tentang tingginya nilai persahabatan. Dari mereka berempatlah, penulis memasukan pesan-pesan kehidupan, terutama sosok Surman, sosok yang selau optimis, pantang menyerah dan mempunyai jiwa entrepreneurship yang tinggi. Sangat cocok untuk bacaan anak muda.

Agak tersindir sebenarnya ketika membacanya. Bagaimana tidak, sampai hari ini saya belum bisa mandiri dan masih mengandalkan orang tua sebagai penopang kebutuhan. Berbeda jauh dengan sosok Surman yang sedari kecil telah terlatih hidup mandiri dengan bekerja di pelelangan ikan. Apalagi setelah ayahnya meninggal, ia harus menanggung beban keluarga untuk mencukupi kebutuhan ibu dan adiknya. Selang beberapa bulan setelah ibunya menjadi gila yang akhirnya meninggal, ia dan adiknyapun harus hidup sebagai yatim piatu. Sungguh mengharukan.

Dalam membaca novel Negeri Sapati ini, saya larut ke dalam alur cerita seolah saya ikut menjadi tokoh yang ada dalam novel tersebut. Beberapa kali saya terpecut semangatnya ketika melihat sosok Surman dan teman-temannya begitu giat dalam bekerja. Hanyut dalam suasana sedih bahkan ikut mengeluarkan air mata haru ketika pada bagian yang mengharukan, seperti ketika pengusiran keluarga Surman oleh rentenir bernama La Mesake, ketika tahu bahwa Bu Sarnia adalah putri dari La Mesake yang mencari rumah baru pembelian ayahnya yang ternyata adalah rumahnya dsb. Ataupun ikut tertawa ketika ada beberapa peristiwa yang di alami oleh ke empat sahabat tersebut.

Banyak nilai yang bisa di ambil dari novel ini tentang kerja keras, semangat, persahabatan dan kejujuran. Selain itu, novel ini juga bercerita tentang keindahan alam Pulau Buton. Tentang terumbu karang dan berbagai keindahan laut lainaya yang di tulis dengan gaya bahasa sederhana tetapi enak dibaca.

Novel yang Inspiratif. Tinggal cari sekuel lanjutannya Mas Laode M. Insan.

Judul Buku     : Negeri Sapati
Penulis             : Laode M. Insan
Penerbit         : Best Practice
Tahun Terbit  : 2012
Tebal               : 360 Halaman


Kretek Wonosbo, 28 Agustus 2015

Manfaat

15:13:00 Add Comment
Dari kiri (Saya, KH. Mustamar Marzuki, Banser, Giono)
Bagi sebagian orang, bersalaman dengan kyai yang berceramah dalam suatu pengajian merupakan kebanggan tersendiri, apalagi kyai tersebut sudah terkenal dengan ke’alimannya. Seperti hari ini misal, saya merasakan sebuah kebanggaan bisa bersalaman dengan Bapak KH. Mustamar Marzuki, M.Ag. setelah beliau selesai mengisi tausyiah di hadapan ratusan jama’ah di halaman Masjid Abu Bakar Purwasari, Klampok, Banjarnegara. Pengajian ini merupakan salah satu bentuk pembentengan akidah Ahlussunah wal Jama’ah bagi warga NU sekaligus rangkain acara dalam rangka pelantikan MWC NU Klampok.

Selain bersalaman, saya juga berkesempatan foto bersama beliau. Ah, rasanya moment ini adalah moment istimewa yang semoga bisa membawa keberkahan bagi saya sendiri. Laiknya penjual minyak, semoga saya bisa mendapat keharuman kebaikan bisa dekat dengan beliau. 

Seusai Sholat Dhuhur
Ada aura tersendiri ketika melihat beliau di kerumuni oleh orang-orang di sekitarnya. Pasalnya, orang seperti beliau adalah orang yang di nanti kehadirannya dan di rindukan ketika pergi. Saya pun membayangkan, bagaimana dengan diri saya. Adakah efek yang timbul atas kehadiran saya. Jangan-jangan ada ataupun tidak, sama saja tak berpengaruh apapun. Sungguh tragis.

Hhmmm ... kalau boleh saya menyimpulkan, keberadaan kita akan di akui jika kita membawa kemanfaatan. Dan untuk bisa bermanfaat tentunya harus berbeda dengan orang lain yang salah satunya punya skiil ataupun ilmu lebih dari yang lain.

Banjarnegara, 23 Agustus 2015 14:54 WIB
Sensitif

Sensitif

09:13:00 Add Comment
Seperti biasa di ruang kantor itu semua guru berkumpul sebelum akhirnya menyebar mencari kelas sesuai jadwal yang mereka terima. Maka ketika semua guru telah habis tinggallah sekelompok gerombolan yang masih setia dengan tempat duduknya. Hiasan canda tawa sesekali memekik keramaian. Mereka adalah para mahasiswa yang sedang belajar mengajar sebagai salah satu tuntutan program kampus. Sesuatu yang katanya menjenuhkan.

Ada pemandangan unik dari gerombolan tersebut, dari delapan mahasiswa, Riski adalah satu-satunya anak laki-laki yang berada di sana. Sehingga ketika awal pembagian kelompok, serta-merta ia di tunjuk sebagai ketua kelompok. Well, mau tidak mau ia pun akhirnya mengiyakan.

“Stttttt .... “, Riski memulai membuka pembicaraan. “Sebenarnya ada gak si uang konsumsi?” lanjutnya.

“Ada, pas kemarin penyerahan dari DPL juga memberikan amplop, katanya si sekitar 500 ribu. Ada kwitansinya juga dan di situ tertera uang konsumsi”, jawab Nisa menjelaskan.

“Tapi kenapa di sini gak ada ya?”, tanya Fatimah heran.

“Gini ...” Riski mencoba menjawab. “Kemarin ketika saya ketemu sama Bu Endang, dia bilang kita tak mungkin di spesialkan karena ruangan kita kan kumpul sama yang lain. Misal ada konsumsi buat kita, masa yang lain gak, kan gak enak”, lanjutnya.

Diam sejenak, mereka saling pandang mencoba memahami apa yang di sampaikan oleh Riski.

“Terkait uang ini kan biasanya sensitif, sudahlah kita gak usah terlalu memikirkan. Tetapi kita juga tidak boleh diam, hanya menerima tanpa tahu kemana uang itu pergi. Orang tua kita sudah jungkir balik mencari uang, betapa susahnya mereka. Bayangkan, jika iuran yang kita bayarkan gak jelas. Sakit kan? Untuk sementara waktu biarlah semua berjalan apa adanya dulu, di akhir katanya kan ada budaya makan-makan, nah uang itulah yang akan kita gunakan.” Lanjut Riski memberi pengarahan.

Semua mengangguk. Beberapa guru yang telah selasai mengajar kembali ke kantor. Beberapa dari kamipun bersiap-siap untuk mengjar yang kebetulan jadwalnya setelah istirahat pertama.


Kretek Wonosobo, 22 Agustus 2015 07:06 WIB

Buku Membangun Kualitas Bangsa

08:39:00 Add Comment
Sumber: Dokumen Pribadi
Budaya baca di Indonesia masih sangatlah lemah. Fakta ini saya dapatkan dari membaca buku yang berjudul “Buku Membangun Kualitas Bangsa” yang dalam buku tersebut terdapat tulisan dari beberapa penulis, di antaranya adalah Franz Magnis-Suseno, Jaya Suprana, Rozali Usman, Alfons Taryadi, Daniel Dhakidae, Magdalena Sukartono, Agam Suchad, Bakdi Soemanto, Dwianto Setyawan, Wisnhubroto Widarso dan Mastini Hardjoprakoso.

Buku yang diterbitkan oleh Penerbit Kanisius ini meskipun bisa di bilang jadul karena terbit pada tahun 1997, tetapi isinya bisa mewakili kondisi saat ini. Tentang lemahnya budaya baca yang bisa di buktikan dengan sedikitnya buku yang diterbitkan dalam kurun waktu satu tahun.

Baiklah tulisan ini tidak akan mengulas secara rinci isi dari buku yang saya baca karena memang saya tak terlalu telaten mencatat poin-poin inti dalam buku tersebut. Namun yang jelas buku tersebut berisi tentang keprihatinan melihat budaya masyarakat Indonesia yang sanga lemah sekaligus sedikitnya buku yang dicetak dalam waktu satu tahun.

Ada beberapa hal yang saya dapat dari membaca buku tersebut. Di antaranya adalah tentang cara belajar mengajar yang menurut istilah Paulo Freire, disebut proses “sistem bank”, yaitu proses mengajar murid denga memperlakukannya seolah-olah sebagai bank yang secara pasif menerima apa saja yang dimasukan orang kedalamnya. Bukankah seperti itu kenyataannya ..?

Selain itu dalam buku tersebut juga terdapat tulisan yang menyinggung tentang pemeo yang diyakini kebenarannya dalam perguruan tinggi. Pameo tersebut adalah “All scienstists are the same, untul one of them writes a book” (Semua ilmuwan adalah sama, sampai satu diantara mereka menulis buku”. Pameo ini mengindikasikan tentang pentingnya sebuah buku yang mana untuk menulis sebuah buku yang tidak boleh tidak adalah “membaca”.

“If you don’t read, you don’t write” (Kalau engkau tidak (punya kebiasaan) membaca, engkau tidak bisa menulis). {Pater Bolsuis, SJ}

“One learn to write by reading good books, as one learns to talk by hearing good talkers”. (Seseorang belajar menulis dengan membaca buku-buku yang baik, seperti halnya dia belajar bicara dengan mendengarkan pembicara yang baik). {Frank Laurence Lucas}

Wonosobo, 21 Agustus 2015 08:31 WIB
Pendidikan Seperti Sistem Bank

Pendidikan Seperti Sistem Bank

12:35:00 Add Comment
Berbicara masalah pendidikan, dalam pengamatan saya di beberapa sekolah masih sama seperti yang saya rasakan dulu. Kita datang, menjalani rutinitas yang sama setiap hari, mencatat, menunggu guru menerangkan materi pelajaran, sistem ceramah yang membosankan dan yang cukup ironis adalah sekolah itu sebagaimana istilah Paulo Freire seperti sistem Bank, yaitu proses mengajar murid dengan memberlakukannya seolah-olah sebagai bank yng secara pasif menerima apa saja yang dimasukan orang ke dalamnya.

Bukankah ini memprihatinkan ..? Mereka menunggu materi di sampaikan yang artinya ketika guru berhalangan mengajar maka mereka tak dapat apa-apa. Mereka cenderung pasif layaknya anak bayi yang menunggu ibunya untuk menyuapi.


Dalam situasi seperti inilah peran guru sangat menentukan. Karena siswa cenderung pasif maka seorang guru harus mencari metode yang bisa membangkitkan keaktifan sisawa. Jika seorang guru juga mewarisi tradisi lama yang hanya mengandalkan diktat atau buku paket kemudian menyuruh siswa-siswanya mencatat, maka sampai lulus seorang siswapun akan cenderung menjadi orang yang pasif. 

Wonosobo, 20 Agustus 2015
Terima Kasih Ibu Bapak

Terima Kasih Ibu Bapak

08:11:00 Add Comment
Ada rasa iba dan tak tega ketika melihat paras wajah kedua orang tua yang selama ini menjadi sandaran dalam segala hal terlihat bingung dan mengeluhkan tentang kondisi perekonomian keluarga. Seperti tadi sore misal, ketika saya mau berangkat ke Wonosobo dan miminta uang untuk membayar registrasi semester 7. Hasil panen salak terakhir yang hanya dua kwintal dengan harga Rp. 3.500,-/ kg pun sudah di pakai untuk keperluan ini dan itu.

Awalnya bapak hanya memberikan uang Rp. 650.000,- sesuai yang saya informasikan pertama bahwa registrasi sebesar itu. Sebenarnya registrasi yang benar adalah Rp. 615.000,- hanya saja waktu itu saya belum sempat untuk memastikan jumlah tepatnya, sehingga sayapun sms dengan nominal sebesar Rp. 650.000,-. Hanya sisa Rp. 35.000,- dan itu artinya saya tak bisa membayar batik yang harganya Rp. 60.000,-, padahal harus besok juga. Ah, galau ini.

Bapak bilang untuk uang saku, saya di suruh untuk meminjam milik teman terlebih dahulu. Saya hanya diam mendengarnya, tak beranjak dari tempat duduk. Bagaimanapun terdesaknya diriku, saya tak tega untuk memaksakan orang tuaku memenuhi keinginanku walaupun kebutuhanku masih tannggung jawab mereka sepenuhnya. Pikiranku melayang, membayangkan jika besok ketika di tagih untuk membayar batik dan saya tak bisa. Hmmm ... Haruskah saya mengatakan bahwa belum ada uang ..?

Melihat saya yang hanya diam dan tak beranjak setelah mengatakan segala kebutuhan yang harus saya penuhi, bapak saya keluar dan meminjam uang milik Lik Tuwar yang kebetulan sedang di ruang tamu. Ketika babak kembali menemuiku, ia sodorkan uang sebesar Rp. 150.000,- has il pinjaman dari Lik Tuwar. Ada rasa lega dan iba bercampur dalam hatiku. Lega karena untuk urusan batik dan bensin insya allah beres. Iba karena melihat kondisi keluarga yang ternyata jauh dari kata kaya. Hmm ... hanya bisa membatin, berharap seusai kuliah saya bisa mencukupi diri sendiri. Setidaknya untuk urusan tetek bengek yang berhubungan dengan keperluan pribadi, saya bisa mencukupinya. Untuk bisa membatu keluarga itu pasti harapan yang tak perlu saya utarakan, namun sebelum sejauh itu, untuk urusan diri sendiri harus selesai terlebih dahulu.

Tulisan ini bukanlah keluhan atas kondisi keluarga yang mungkin jauh dari kata kaya. Hanya saja sebagai salah satu mengabadikan saat-saat sulit yang saya alami. Sebagai sebuah cerminan ketika saya sukses nanti, saya juga pernah mengalami saat-saat sulit. Saat dimana saya harus berkaca bahwa tak ada yang bisa saya banggakan. Ataupun sebagai pengingat bahwa saya harus berusaha lebih giat lagi, ketika orang lain cukup membaca satu buku saya harus lebih, minimal dua buku. Semoga Allah memudahkan segala urusanku.

Teruntuk kedua orang tuaku, semoga Allah selalu memberikan kesehatan dan kemudahan kepada kalian. Maafkan anakmu yang saat ini belum bisa membantu apa-apa. Terima kasih atas setiap kebaikan dan doa yang selalu kalian berikan tanpa meminta saya harus menggantinya. Semoga Allah membalas kebaikan kalian dengan kebaikan yang belipat ganda dan menempatkan kalian pada derajat yang tingggi. Aamiin.


Kretek Wonosobo, 17 Agustsu 2015 23:08 WIB
Komunikasi

Komunikasi

06:53:00 1 Comment
Hari ini adalah hari ke 5 saya PPL di SMK Takhassus Al-Qur’an. Walaupun pada awalnya kurang begitu mood tetapi hari demi hari saya mulai menikmatnya. Ya, menikmati kebersamaan dengan keluarga baru. Teman-teman PPL yang dulu biasa-biasa saja atau bahkan ada yang belum saya kenal, dengan berjalannya waktu menjadi akrab. Mungkin karena mempunyai nasib yang sama sehingga mau tidak mau harus bersama, namun dari situlah hubungan emosional terbangun. Saling melengkapi dan menyemangati. Dan saya menyukainya, proses belajar bersama yang beberapa tahun kemudian akan menjadi cerita tak terlupakan. Yes, masa-masa percobaan dalam mengenal dunia pendidikan.

Selain teman-teman PPL, saya juga menikmati kebersamaan dengan guru-guru yang ada di sekolah yang jika di lihat dari tampang mukanya, kesemuanya masih muda. Tak ketinggalan dengan siswa-siswa yang menjadi obyek dalam kami mengajar. Mereka adalah generasi luar biasa penerus masa depan. Sebagaimana yang di katakan oleh Bapak Drs. Mufid Fadly dalam amanatnya sebagai pembina upacara memperingati Hari Pramuka yang ke-54 tadi pagi, “Kalian semua adalah Syubanul yaum Rijalul Ghod, pemuda di era sekarang yang disipakan untuk menjadi pemimpin di masa depan”.

***

Komunikasi

Seusai upacara saya bersama teman-teman PPL yang lain dengan dibantu oleh pengurus OSIS melakukan agenda lomba-lomba dalam rangka memperingati HUT RI yang ke 70. Di antara lomba yang kami adakan adalah balap karung, estafet kelereng, memasukan sedotan ke dalam botol dan koran aqua. Sebenarnya ada 7 lomba yang sudah kami persiapkan, namun dengan pertimbangan waktu dan biaya maka saat rapat dengan pengurus osis dan waka kesiswaan, akhirnya kita ambil yang permainannya cukup ringan.

Terkait dengan lomba, saya punya cerita tersendiri yang jika dibahasakan dengan sederhana ada satu kata yang mewakilinya yaitu “komunikasi”. Memang keresahan untuk mengadakan lomba telah kami dengungkan di internal teman-teman PPL. Namun itu baru menjadi wacana hingga pada hari Rabu pagi setelah brefing dengan teman-teman PPL, saya dan Zaim pergi menemui Pak Ahmad Mufid selaku waka kesiswaan. Ternyata kegiatan memperingati HUT RI belum masuk dalam agenda kegiatan. Namun Pak Mufid dan Pak Hayat sebenarnya sudah mempunyai gambaran, hanya saja karena banyak kesibukan lain akhirnya gambaran kegiatan terebut hanya menjadi anngan-angan belaka. Maka ketika saya dan Zaim bertanya terkait kegiatan untuk memperingati HUT RI yang ke 70, beliau berdua langsung menyambutnya dengan antusias.

Pada istirahat kedua, maka dilakukanlah rapat yang mengundang perwakilan OSIS, teman-teman PPL yang ditemani Pak Mufid dan Pak Hayat. Dalam rapat tersebut di bahas terkait dengan masalah perlombaan dengan hasil 4 macam perlombaan sebagimana yang telah saya singgung di atas.

Adanya kegiatan perlombaan tidak lain adalah karena adanya komunikasi. Saya tak bisa membayangkan jika dari teman-teman PPL tak ada perwakilan yang berkomunikasi dengan pihak sekolah. Maka wacana lomba juga pasti hanya akan menjadi angan-angan belaka. Dan sebagai ketua kelompok, mungkin sayalah yang akan menerima beban moral. Bagaimana tidak, ketua masa gak mau komunikasi dengan pihak sekolah. Sebagaimana layaknya dalam perkumpulan, ketua biasanya akan menjadi kambing hitam jika di situ terjadi hal yang kurang beres. Namun di situ juga ada sesuatu yang tidak bisa dirasakan oleh seseorang ketua, seperti ketika masalah perlombaan beres misal, saya merasa ada kelegaan tersendiri. Entah dengan yang lain, yang jelas saya merasa bahwa keberadaan kami sedikit membawa keramaian di sekolah. Atau kalau dengan bahasa yang vulgar, keberadaan kami di sekolah tidak memalukan yang jika tak ada kegiatan mungkin akan terkesan kurang kreatif –untuk tidak mengatakan bodoh-. Hahaha .. Ya, di sini kami sedang belajar untuk menjadi pribadi yang bermanfaat.


Kretek, 14 Agustus 2015 21:43 WIB
Experience is The Best Teacher

Experience is The Best Teacher

13:45:00 Add Comment
Beberapa hari ini saya tak sempat untuk menulis atau lebih tepatnya tak menyempatkan diri untuk menulis. Dua kata ini mengandung arti yang berbeda “tak sempat” dan “tak menyempatkan”. Jika kata pertama mengandung arti pasrah karena sibuk mungkin, tetapi kata kedua mengandung arti malas atau kalau malas terlalu kejam, maka adakah sebutan lain yang bisa mewakilinya .?

Banyak ide muncul setiap hari yang memaksaku untuk menuliskannya, namun lagi-lagi karena alasan malas sehingga mau gak mau ide itu harus saya relakan menghilang. Ah, betapa malangnya diri ini jika setiap kali rasa malas datang saya tak bisa mengalahkannya. Seperti dalam hal menulis misalnya, tentang hari-hari di Jombang yang ternyata baru samapi hari kedua yang saya tuliskan, tentang pengalaman kamarin, kemarin dan kemarin. Dan hari ini saya ingin memaksa diri untuk mengalahkan rasa malas.

Tak hanya malas saja yang merugikan, menunda-nunda pekerjaan juga mempunyai potensi yang sama. Dari menunda-nunda itu banyak pekerjaan menjadi menumpuk yang pada akhirnya membuat kita kewalahan. Salah satu penyebabnya adalah karena kita tidak pernah punya skala prioritas mana yang penting, agak penting dan tidak penting. Mana yang harus segera di kerjakan dan mana yang bisa dikerjakan nanti.

***

Pengalaman

“Experience is the best Teacher” saya mempercayainya. Kemarin siang (12/8) sehabis PPL saya langsung pulang ke rumah temanku, Rofiq. Karena hanya mengajar pagi, maka pukul dua siang saya memilih untuk pulang lebih awal. Rofiq yang juga baru saja PPL sudah berada di rumah lebih awal dariku. Hanya kami berdua di rumah, orang tua Rofiq sedang pergi dan belum pulang.

Kesempatan ini kami gunakan untuk menyambung kabel listrik buat saluran stop kontak. Sebenarnya sudah jadi, namun karena memanfaatkan tempat lampu yang ada colokannya, sehingga mau gak mau ketika stop kontak akan digunakan harus menghidupkan lampu. Iya kalau malam, kalau siang kan pemborosan namanya.

Untuk menyambung ke aliran listrik yang utama kami harus naik ke atas ternit. Melubangi ternit yang keras sehingga cukup kewalahan untuk di masuki kabel. Seperti pada umumnya aliran listrik, di situ ada dua kabel (-) dan (+). Maka sayapun menyambungkan kabel stop kontak di kabel yang berwarna hitam dan merah. Setelah sambungan selesai, saya meminta Rofiq untuk mencobanya. Alhamdulillah jadi.

Saya bisa menyambung dan cukup paham dengan dunia kelistrikan itu ketika saya masih duduk di bangku MA. Kebetulan waktu itu teman saya yang biasa menyambung kabel listrik berhalangan, ia hanya mengajariku di sertai dengan gambar. Maka saya pun mempraktekannya dan alhamdulillah berhasil. Setelah itu sayapun cukup paham ketika harus berurusan dengan dunia listrik, menyambung atauapun memasang lampu. Ada yang bilang kalau menyambung listrik itu seperti menyambung pralon (aliran air).


Kretek, 13-14 Agustus 2015 05:12 WIB
Hari Pertama PPL

Hari Pertama PPL

08:01:00 Add Comment
Senin, 10 Agustus 2015 adalah hari pertama saya melakukan Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) di SMK Takhasus Al-Qur’an Wonosobo. Meskipun jadwal PPL sebenarnya sudah satu minggu yang lalu, namun karena kemarin saya pergi ke Jombang sehingga baru hari ini saya berkesempatan untuk mengikuti PPL. Ketika yang lain sudah lihai dan paham peta sekolah, saya baru memulai beradaptasi dengan lingkungan. But, it’s no problem, I like this it.

Berkaitan dengan PPL banyak cerita yang membuat saya cukup kagum dan menarik untuk direnungkan. Seperti tempat PPL misal, dulu saya pernah meminta kepada Pak Wahyu untuk menempatkan di Sukoharjo karena katanya ia yang mengusai daerah Sukoharjo. Harapannya biar dekat dan bisa laju dari Banjar. Sayang, semua harapan itu tinggal kenangan. Padahal dulu saya melihatnya menuliskan namaku dalam hp nya. Akan tetapi jika berkaca pada diri sendiri, saya sadar bahwa ingatan manusia terbatas seperti Pak Wahyu misal, ia yang mempunyai banyak kesibukan yang tak mungkin selalu ingat dengan apa yang telah berlalu. Selain itu, dari sayapun tak berusaha untuk mewujudkan keinginan itu. Seperti bertanya atau mengkonfirmasi jika pembagian kelompok ditempatkan di Sukoharjo. Saya sama sekali tak melakukan itu, saya hanya diam dan pasrah berharap Pak Wahyu ingat dengan apa yang pernah ia katakan, meskipun dalam hati saya juga telah menyadari hal itu. Hanya saja rasa enggan atau malas membuat saya tak melakukan hal tersebut. So, jika ingin mendapatkan apa yang diinginakan, ikhtiyar menjadi kunsi utamanya.

Saat mendapat kabar tentang tempat dimana saya PPL, saya sudah berada di Jombang. Ada rasa bersyukur ketika mendengar bahwa saya ditempatkan di SMK Takhasus Al-Qur’an. Pasalnya, sekolah ini adalah rintisan dari Almaghfurlah Mbah KH. Muntaha Al-Hafidz. Ulama wonosobo yang terkenal dengan Al-Qur’annya. Meskipun saya tak pernah bertemu langsung dengannya, namun rasa rindu pada beliau selalu muncul. Ya, saya rindu untuk bisa bertemu dengannya. Andai Tuhan mengizinkan, saya ingin bisa bertemu langsung dengannya meskipun hanya lewat mimpi. Dan harapan saya PPL di SMK Takhasus, salah satunya adalah bisa mendapat bekah dari Mbah Mun. Wallahu a’lam.

Layaknya seorang guru, PPL mengharuskan saya untuk datang pagi. Pukul 7 kurang seperempat harus sampai di sekolah. Ini menjadi masalah tersendiri. Jika tetap laju dari Banjar, tentu sangat melelahkan. Bagaimana tidak, saya harus berangkat jam 6 pagi dan laju motorpun harus ngebut. Headeh .. benar-benar melelahkan. Lelah tubuh juga lelah dompet.

Soal nginap maka pemikiran sayapun langsung tertuju kepada Camp Komsat PMII. Alasannya adalah karena disana saya cukup bebas, artinya tidak ada aturan mengekang laiknya tinggal di pondok. Selain itu saya ingin mengembangkan keilmuan yang saya miliki, gambaran saya di sana adalah diskusi. Ya, saya ingin belajar kepada teman-teman di sana. Bergadang sambil bercengkrama tentang banyak hal. Hingga pada hari sabtu kemarin ketika saya ingin bertemu dengan  teman sekelompok PPL, saya bertemu dengn Rofik teman sekelasku yang waktu itu sedang melatih anak didiknya permainan sepak bola. Ia menawari untuk main ke rumahnya hingga tawaran menginap di tempatnya.

Saat itu saya tak langsung mengiyakan. Walau kalau boleh jujur saya merasa bersyukur medapat tawaran tersebut. Dalam hati saya membatin betapa senangnya punya banyak teman. Saya pun langsung memikirkan sebuah ungkapan bahwa “seribu satu sahabat masih terlalu sedikit dan satu musuh sudah terlalu banyak”. Saya meyakininya karena saya sering mengalaminya. Saya sering meminta bantuan teman-teman ketika saya membutuhkannya.

Setelah dipikir-pikir lagi tentang dua hal di atas, saya memilih untuk menginap di tempat temanku Rofiq. Maka minggu sore dengan perlengkapan yang seadanya saya pergi ke tempat Rofiq. Mumpung masih syawal sekalian meminta maaf kepada kedua orang tuanya. Sudah sering merepotkan. Semoga Allah memberi balasan yang berlipat kepada mereka sekeluarga, di berkahi rezekinya, di mudahkan dalam segala urusannya . Aamiin.

Seperti halnya memilih pasangan, sayapun punya alasan kepana lebih memilih di tempat Rofiq. Itu tidak lain adalah karena saya ingin menjalin persahabatn lahir batin dengannya. Mengenal orang tuanya. Ketika hubungan kuliah formal telah usai, hubungan persahabatan masih tetap terjaga.

Malam senin kemarin saya telah berada di rumahnya Rofiq. Sebagai teman yang sering bercanda, gelak tawa saat bercerita membuat kegaduhan ruangan. Dalam percakapan itu saya belajar tentang arti menghargai orang lain. Ini berwal ketika Rofiq bercerita tentang sikap salah satu temannya yang menyela ketika ia sedang menginformasikan perihal upacara bendera untuk acara 17 Austus. Rofiq yang waktu itu cukup marah dan tersinggung dengan ucapan temannya yang menggampangkannya langsung berucap “Terkadang kita sangat perlu menghargai orang lain. Saya hanya menyampaikan informasi dan amanat. Jika kamu mau ya ayo, jika tidak mau saya juga tak berharap dan membutuhkanmu. Masih banyak yang lain yang lebih pintar”. Seketika itu ia langsung pamit pulang dan memilih untuk bermain sepak bola dengan teman-temannya.

***

Saya berangkat pukul setengah 7. Saat sampai di sekolah salah satu guru ada yang sedang mengkondisikan murid-murid berbaris di halaman untuk melaksanakan upacara bendera. Awal masuk saya seperti orang hilang. Menengok ke kanan dan ke kiri, tak ada yang saya kenal. Baru ketika lewat jendela kaca saya melihat teman-teman PPL saya tersenyum dan segera mnemui mereka. Saya cukup tenang karena dari ke 7 teman PPL ku, sebagian sudah saya kenal. Rofiqoh teman sekelasku, Zaim kenal ketika sama-sama di HMP, Diana kenal ketika ikut PMII, dan Pipit kenal ketika di HMP. Ada tiga yang belum saya kenal, Fitria, Khusnul dan Mega. Dari 8 anak, saya adalah anak paling tampan. Bagaimana tidak, saya laki-laki seorang diri. Dan menurut kabar, emang di SMK Takhasus saat PPL seringnya cowoknya satu. Seperti tahun kemarin hanya satu laki-laki dari sekian anak yang PPL, lainnya perempuan. Entah itu karena permintaan yayasan atau memang karena keputusan dari pihak Fakultas. I don’t know.

Sahabat menjadi hal yang penting dalam keseharian saya. Mereka adalah aset yang suatu saat kita butuhkan ataupun membutuhkan kita. Termasuk soal PPL, saya banyak mendapat informasi dari temanku, Zaim yang kebetulan satu pamong. Seusai upacara bendera saya langsung bertanya kepanya. Ia menyuruhku untuk menemui Pak Edi. Jatah saya adalah mengajar mapel Fiqih kelas XI.

Pagi tadi ketika yang lain sudah melakukan aktifitas mengajarnya, saya baru saja memulai beradaptasi dengan lingkungan, guru, jadwal dan anak-anak. Terlambatkah? Saya rasa tak pernah ada kata terlambat. Hanya kita saja yang harus “going extra time” melakukan sesuatu yang lebih dari orang lain.

Kelas XI TSM 2 adalah kelas pertama yang saya masuki. Karena saya baru saja berangkat, maka yang pertama saya lakukan adalah mengekor kepada Pak Edi selaku guru pamong. Melihat bagaimana cara ia mengajar dan bagaimana cara ia memperlakukan muridnya. Di akhir pertemuan ia memberiku waktu untuk memperkenalkan diri. Yes, I can. Saya merasa PD, karena anakya tak terlalu banyak jika saya hitung hanya ada 23 tak seperti apa yang dikatakan oleh teman-teman. Kata mereka sekalas 32 atau bahkan lebih, dan syukurlah di pertemuan pertama hanya sedikit sehingga tidak malu.

Selesai perkenalan saya segera kembali ke kantor. Setelah istirahat sebenarnya saya di suruh langsung ngajar tanpa mengekor lagi. Sayang, saya belum paham waktu itu hingga ketika saya bertanya kepada teman-teman perihal jadwal mengajar saya baru sadar bahwa saya tadi sebenarnya harus masuk.

Hari ini cukup spesial. Karena ada jadwal arisan di tempat Bu Badriyah Manggis, Leksono. Maka jam pelajaran hanya sampai jam 1. Tak ketinggalan kami yang sedang PPL juga di ajak untuk mengikuti acara arisan tersebut. Headeh jalannya, seperti lembah berkelok-kelok. Ektrim deh, beruntung sudah di aspal jika tidak gak berani deh. Katanya, acara ini rutin setiap tanggal 10 per bulan. Acaranya semacam pengajian kelas. Sambutan kepala sekolah, shohibut bait, tahlil, tausyiah dan arisan.

Acara ini adalah acara silaturahim yang di gilir, sebagai salah satu perekat hubungan emosial antar guru. Yes, I like this. Di sini saya banyak berbaur dan mendapat teman dan keluarga baru. Suatu kenikmatan tersendiri bagi saya.

Selesai acara arisan. Saya bersama teman-teman PPL yang lain mampir ke tempat Fitria yang rumahnya kebetulan satu desa. Sekali dayung, dua pulau terlampaui. Saya menikmati keluarga baru ini. Berbaur dan bercanda serta belajar. Dan ada yang unik di sini. Ada dua anak yang kreatif dan sama-sama pinter namun agak berbeda pendapat. Saya berada di tengah-tengah. Mendengar keluhan dari keduanya. Hahaha ...ada yang lucu dengan mereka. Sama-sama punya argument masing-masing.

Saya yang berniat untuk kondangan dan kembali ke Banjar akhirnya batal. Selain kondisi dompet yang menipis juga karena hujan. Wal hasil yang pulang ke tempat Rofiq. Namun sebelumnya saya sempatkan untuk membeli kabel dan stop kontak untuk di pasang di kamar. Biar ngecasnya gampang. Hehehe.

Selesai memasang stop kontak, bercengkrama dengan teman-teman desa yang kebetulan main ke rumah Rofiq dan setelah itu bermain olahraga jari, mengetik huruf demi huruf. Mengabadikan moment dan sebagai cara untuk berlatih menulis. Semoga saja ada manfaatnya. Atau mungkin ini adalah awal saya sebelum menjadi penulis terkenal dengan buku best sellernya . Hahaha, ngimpi. But, I bellieve from dream can be true. So, Never Stop Dreaming.

(Kedewan Sudung Dewa) Kretek, 10 Agustus 2015 22:44 WIB

Hari Kedua di Jombang

14:58:00 Add Comment
Aksi di Pembukaan Muktamar NU 33
Sabtu, tepat tanggal 1 Agustus 2015 adalah hari kedua saya berada di Jombang. Tak ada agenda selain menyiapkan perlengkapan untuk aksi di malam pembukaan muktamar, menolak politisasi NU. Aksi yang pada awalnya saya masih agak bimbang untuk mengiyakan disebabkan ketidakpahaman atas ide aksi tersebut. Baru ketika saya membaca beberapa pernyataan tokoh-tokoh NU terkait persoalan yang senada dengan ide aksi yang akan kami lakukan, baru saya  sedikit mantap.

Pagi menjelang siang itu sekitar pukul 10 kami berempat berbagi tugas, saya ikut Kang Mizan untuk membuat petisi di warnet, sedangkan Dayat dan Lu-lu mendapat tugas untuk mencari kain putih. Selain membuat petisi 1500 lembar, kami juga membuat beberpa tulisan dan foto sebagai penjelas terhdap apa yang kami lakukan.

Kami berkumpul lagi di Masjid Agung Baitul Mu’minin saat waktu asar telah tiba. Seusai sholat asar kami bergegas mencari tempat untuk persiapan aksi. Setelah mondar-mandir, akhirnya kami memutuskan untuk mempersiapkan perlengkapannya di sebuah SD yang tak jauh dari masjid. Menuliskan penolakan pada selembar kain panjang seperti spanduk dan membuat beberapa lubang rsebutpada sebuah topeng bergambar buta. Gambar tersebut kami pilih karena menandakan kerakusan.
Sekitar setengah 6 sore kami baru selesai mempersiapkan perlengkapan untuk aksi. Kami sengaja memilih tempat yang sepi dan tak terlihat, sehingga ketika untuk kedua kalinya ada orang yang melihat kami segera bergegas untuk pergi yang kebetulan persiapan juga telah selesai.

Masjid Agung terlalu rame untuk kami singgahi. Maka pilihan kami jatuh pada masjid terrdekat di sebuah komplek perumahan. Walaupun rame tapi setelah isya cukup lenggang. Kesempatan ini kami gunakan untuk simulasi, berdandan dan bagaimana cara nanti kami melakukan aksinya. Dalam simulasi tersebut kami juga menghadihkan fatihah kepada para masyayih Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, Mbah Wahab Cahasbullah dsb supaya apa yang kami lakukan mendapat ridho dari Allah.

Setelah simulasi dianggap cukup, kami segera bergegas ke alun-alun untuk melihat prosesi pembukaan Muktamar NU yang ke 33. Ribuan orang telah memadapi alun-alun, bahkan di pintu masuk yang berbentuk seperti gapura orang-orang harus berdesak-desakan. Saya yang ingin melihat langsung acara pembukaan hanya bisa pasrah, ribuan orang tak memunginkan saya untuk menerobosnya. Ada sediit kecewa waktu itu, namun apalah daya sehingga sayapun kembali bergabung dengan teman-teman yang lain. Yang saya sayangkan, kenapa gak ada layar lebarnya sehingga mereka yang tak bisa masuk bisa melihatnya di luar.

Sambutan Presiden Jokowi terdengar dari pengeras suara yang artinya pembukaan hampir usai. Maka kami berempat segera bersiap-siap sesuai apa yang telah kami simulasikan sebelumnya. Ketika pembawa acara menutup acara, kami segera merapat di pojok dekat pintu keluar. Dengan bacaan shoawat kami mencoba menyedot perhatian massa. Benar saja, banyak pengunjung yang ketika keluar menyempatkan diri utuk melihat aksi kami, ada yang memfoto ada juga yang merekamnya dengan kamera vidio.

Sekitar setangah jam kami melakukan aksi. Beberapa wartawan juga meliput di antaranya adalah m.beritajatim(.)com dan beritasatu(.)com. Selain koran, salah satu pesawat televisi JTV sempat merekam dan wawancara dengan Mas Mizanto selaku koordinatornya. Dalam aksi tersebut, polisi datang menanyakan surat ijin. Awalnya satu, tetapi ketika kami jawab telah menerima ijin, polisi tersebut memanggil polisi yang lainnya bahkan salah satu intel berambut gondrong dengan wajah garangnya mengancam akan memukul jika dalam hitungan ketiga spanduk yang bertulisakan “Kader Muda NU Mengecam ‘Politisasi’ Muktamar NU Lahir-Batin” tidak diturunkan. Bahkan ketika kami masih membentangkan hanya untuk sekedar foto sebelum kami mengakhiri aksi, intel tersebut langsung merebut dan segera mengamankan spanduk yang kami bentangkan.

Selain perlakuan polisi, yang membuat kami down adalah ucapan dari salah satu kyai yang menyuruh untuk segera mengakhiri aksi. Ia merangkul mas Mizan, Lulu dan Dayat. Hanya saya yang tak dipeluk sehingga saya tak terlalu paham apa yang di ucapkan, hanya saja inti dari ucapan beliau adalah menyuruh kami untuk segera mengakhiri aksi dan jangan membuka aib. Ah, kami hanya menyuarakan apa yang kami yakini. Melakukan kritik kepada bapak kami sendiri ditingkatan NU.

Alhamdulillah ... Walau hanya berempat aksi tersebut berhasil kami lakukan. Sehingga kami tidak hanya datang sebagai penggembira saja tetapi datang sebagai subyek “pelaku”, berbuat untuk NU. Meskipun cibiran juga muncul, tetapi saya merasakan banyak hal yang saya pelajari. Terutama tentang mental. Ya, dihadapan ribuan orang yang berlalu lalang, kami berlaku seperto layaknya orang konyol yang jika mental tidak kuat pasti ngedown dan memalukan. Selain itu aksi dapat kita lakukan tanpa menunggu banyak orang. Awalnya kami mengabari lewat jaringan ipnu, namun karena tak banyak yang merenspon akhirnya kami berempat yang tetap maju untuk melakukan aksi. 
Petisi Penolakan Politisasi Muktamar NU

Beberapa point yang ada dalam aksi tersebut adalah :
> Menyebarkan petisi yang berisi penolakan “Politisasi” Muktamar NU
> Ajakan seribu fatihah untuk warga NU bagi siapapun yang membaca petisi tersebut
> Tiga orang dengan simbol-simbol tersendiri.
>) Dayat dengan simbol topeng Logo NU dan tubuh berbalut kain putih bertuliskan NU. Yang kami jadikan sebagai “obyek” untuk direbutkan dengan tali di lilitkan pada leher dan tangan. 
>) Lu-lu dengan topeng buta yang menandakan kerakusan. Di dadanya digantungkan tulisan “Kepentingan Pribadi dan Kursi Jabatan”. Tangannya menarik tambang yang dilitkan pada tangan dan lehernya Dayat.
>) Saya sendiri menggunkana topeng bergambang buta dengan tulisan “Politik Praktis”.

Dari tiga simbol ini menandakan bahwa NU menjadi rebutan bagi partai politik atau dimanfaatkan sebagai kepentingan pribadi untuk mengejar kursi jabatan. Itulah inti yang ingin kami sampaikan melalui aksi pada waktu selesai pembukaan Muktamar NU yang ke 33.

Seusai dibubarkan, datang salah satu peserta utusan dari Jambi yang mendukung dan simpati dengan aksi yang kami lakukan. Dia bercerita bahwa memang benar politik tak bisa dihndarkan. Bahkan ia mengatakan bahwa setiap pc atau apalah namanya (kurag jelas) mendapat uang 50 juta. Bukankah ini juga sebagai permainan politik?

Semoga Allah meridhoi dan mengampuni dosa-dosa kami.


Rumah (Banjarnegara), 9 Agustus 2015
Rahasia Seorang Perempuan

Rahasia Seorang Perempuan

14:16:00 Add Comment
Kemarin sore saya berkesempatan untuk menemui teman kuliah yang kebetulan satu tempat dalam kegiatan PPL di SMK Takhasus Kalibeber, Wonosobo. Karena saya telat dan belum pernah masuk disebabkan satu minggu yang lalu ikut pergi ke Jombang, maka mau tidak mau saya harus bertanya kepada teman yang satu kelompok. Kebetulan kemarin saya pergi ke Wonosobo untuk mengembalikan buku di perpusda yang ternyata sudah telat 25 hari. Headeh .. lama juga ternyata. Dan seperti hukum alam “ada sebab pun juga muncul akibat”, telat buku selama 25 hari saya harus membayar denda Rp. 10.000,-. Karena memang udah aturan, ya sudah uang tersebut harus saya relakan.

Tak ada niat untuk bertemu pada awalnya karena kabar yang saya dapat ia sedang sakit. Namun ketika iseng-iseng telfon, ternyata ia sudah sehat dan ketika aku mengajak untuk bertemu iapun mengiyakan. Ah, sekalian aja bertanya untuk persiapan ketika besok senin saya berangkat. Beberapa informasi yang saya dapat adalah saya dengannya mendapat guru pamong namanya pak Edi. Jatah mapel yang diajarkan adalah PAI dan Fiqih. Hari senin selasa memakai Pakaian Seragam Harian (PSH), rabu kamis memakai batik dan hari jum’at memakai jas almamater. Lumayan deh sedikit punya gambaran untuk menyambut hari PPL.

Kami banyak cerita ngalor-gidul, seputar kegiatan PPL selama di SMK dan sampai masalah perjodohan. Di sini saya mendapat dua point penting yang cukup menyindir diri saya. Pertama adalah point ketika saya bertanya tentang bagaimana sikap dan karakter teman-teman PPL yang lain. Meskipun banyak yang ia tahu, ia lebih baik memilih diam dengan mengatakan semuanya “enakan”. Hingga pada akhirnya ia mengatakan, “besok rasakan saja sendiri”. Haha .. Satu ponit dimana ketika ada kejelekan orang lain, ia lebih baik diam dan supaya orang lain tahu sendiri. Sama seperti ketika ia menceritakan tentang Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) kami. Suatu ketika ia ditanya oleh seorang dosen yang ia kenal tentang bagaimana PPL nya. Setelah ia menjawab baik-baik saja, ia balik bertanya terkait prosedural penilaian PPL. Sontak dosen yang ia tanya balik bertanya, “Emang dosen pembimbing kamu gak jelasin?” Temanku yang bisa saja menjawab “tidak” karena memang kenyataannya demikian lebih baik memilih menjawab “terima kasih” tanpa mau mengatakan yang sebenarnya. Katanya ketika ia menjawab “tidak” terkesan kurang etis dan sangat buruk. Ya, sore itu saya belajar untuk tidak mengobral keburukan orang lain, lebih baik diam meskipun tahu dan saat orang lain ingin tahu, ia lebih memilih agar orang lain tahu dengan sendirinya.

Point yang kedua adalah tentang perasaan perempuan. Pernahkah kalian merasa  jatuh cinta? Atau dekat dengan seseorang dan diam-diam engkau menyukainya. Jika ia katakanlah apa yang engkau rasakan karena meskipun dari gelagat sikap kalian itu bisa menunjukan apa yang kalian rasakan, suka misal, tetapi selama rasa suka itu belum kalian sampaikan, bagi si perempuan itu masih kurang. Gak percaya?  Ini ungkapan langsung dari perempuan lho. So, katakanlah apa yang kalian rasakan, jika ia mempunyai perasaan yang sama maka jagalah hubungan tersebut dalam batas dan koridor yang sewajarnya. Jangan sampai melampai batas. Ingat, cinta itu menjaga bukan malah menyeret pada hal-hal yang negatif.

Eits ... itu dulu deh share pengalaman yang saya dapatkan kemarin. Pengalaman demi pengalaman memunculkan inspirasi baru, namun inspirasi baru tersebut akan hilang seiring berlalunya waktu. Sehingga menulis menjadi alat yang saya gunakan untuk mengabadikan inspirasi tersebut.


Rumah, 9 Agustus 2015 13:09 WIB
Ngaji Bersama Ahmad Baso

Ngaji Bersama Ahmad Baso

22:11:00 Add Comment
Saya selalu ingin tahu bagaimana cara orang hebat melakukan proses sebelum mereka menjadi hebat. Seperti tadi siang misal (Selasa, 04 Agustus 2015), ketika saya mengikuti acara Kongkow Bareng Pecinta NU di Kampus IAIBAFA (Institut Agama Islam Bani Fattah) Jombang dalam rangka Muktamar NU ke-33. Acara tersebut di isi oleh Ahmad Baso, seorang intelektual NU yang membedah bukunya tentang Islam Nusantara. Walaupun namanya sudah tidak asing bahkan akrab di telinga saya, namun baru kali ini bisa bertemu langsung dengannya. Pernah saya membaca buku karya beliau yang berjudul NU Studies namun karena waktu itu minat membaca saya masih lemah dan bahasanya ilmiah serta bukunya tebal membuat saya belum sempat menyelesaikannya. Waktu itu saya meminjamnya di Perpusda Wonosobo.

Pernah juga saya melihat dan membcanya sekilas buku karya beliau yang berjudul NKRI Harga Mati di Toko Buku Sabar Wonosobo, sebenarnya ingin membelinya akan tetapi kondisi dompet yang tak bersahabat membuat saya mengurungkan niat untuk membelinya dan semoga lain waktu bisa membelinya. Aamiin.

Beliau memulai pemaparannya dengan menjelaskan tentang Islam Nusantara yang saat ini menjadi tema besar Muktamar NU yang ke-33. Dulu pada zaman Sunan Giri namanya bukan Islam Nusantara tetapi Din Arab Jawi. Sebuah sebutan untuk  menunjukan bahwa orang Arab datang ke tanah Jawa. Ajaran-ajaran islam dari Arab ketika masuk ke Nusantara maka ijtihad arab tersebut kemudian di ubah dengan kamus Jawa. Seperti istilah Halal bi Halal, NKRI, Pancasila, Gotong royong dan lain sebagainya yang kesemua istilah itu hanya ada di Indoneisia.

Menurut beliau Islam Nusantara adalah ketika Ulama Indonesia mengajarkan islam yang ada di Indonesia ke bangsa lain atau misal Pengurus Cabang Istimewa NU di luar negeri itu bukan orang asli Indonesia tetapi orang orang asli Negara lain, Australia misal maka PCI NU adalah orang Australia. Atau dengan bahasa sederhanya menduniakan ajaran islam Ulama Indonesia.

Berkaitan dengan Halal bi Halal, beliau menyebutkan bahwa pelopor pertamanya adalah Mbah Wahab Chasbullah. Dari point ini kemudian Ahmad Baso menjelaskan mengenai sosok Mbah Wahab Chasbullah dari segi keilmuannya. Ketika kemarin Syaikh Maulana Mas’ud menyoroti Mbah Wahab Chasbullah dengan pandangan tasawufnya sebagaimana telah saya tuliskan kemrin pada Ngaji Bersama Syaikh Maulana Mas’ud, maka dalam perbincangan ini Ahmad Baso menyoroti beliau dari segi intelektualnya yang dari beliulah Islam Nusantara diajarkan. Menurut pengakuan Ahmad Baso, buku-buku karyanya tidak pernah lepas dari pemikiran Mbah Wahas Chasbullah. Karena memang dari Mbah Wahab inilah ajaran Islam Nusantara dikembangkan.

Hmm .. bingung ini mau nulis apa lagi. Berbicara masalah islam nusantara, jujur saya belum terlalu paham. Jika ingin lebih paham silahkan baca bukunya Ahmad Baso yang menjelsakan tentang Islam Nusantara. Sekilas tulisan ini hanya ingin mereview kembali apa yang saya tangkap dari Ngaji bersama Ahmad Baso tadi siang. Banyak hal yang di sampaikan. Tentang sosok Mbah Wahab Chasbullah yang namanya jarang di tulis dalam buku-buku sejarah di sekolah, padahal ia adalah guru dari Soekarno, guru dari para orang-orang nasionalis saat merumusakan pancasila, guru dari muhammadiyah ketika pengahapusan sila pertama menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa. Sayang, jasanya yang begitu besar kurang di hargai, pemberian gelar pahlawan nasional serasa terlambat.

Baiklah lain waktu mungkin saya bisa menyempurnakan tulisan ini yang masih amburadul dan tentu memberikan pehamahamn yang tidak lengkap. Tapi tak apalah, yang penting saya sudah menuliskan gagasan yang saya tangkap. Kalaupun ada kesalahan setidaknya bahwa tulisan ini adalah sebagai pembelajaran dalam proses kepenulisanku.

Selesai pemaparan dari Ahmad Baso, moderator memberikan kesempatan kepada para peserta yang ingin bertanya. Dalam sesi inilah hati saya selalu bergejolak. Tidak hanya tadi siang tetapi dalam semua forum ketika di situ ada sesi pertanyaan. Saya selalu tertantang untuk bertanya, sayang terkadang terganjal oleh ide yang tidak muncul atau kadang rasa tidak percaya diri takut pertanyaannya tidak mutu. Padahal bertanya adalah setengah dari kepemahaman, maka ketika ada yang bertanya biasanya dia cukup paham dengan apa yang disampaikan. Saya sebenarnya ingin bertanya, sayang waktunya terbatas sehingga kandas keinginan saya untuk bertanya.

Keplaksari, Jombang. Selasa, 4 Agustus 2015 22:05 WIB

Ngaji Bareng Syaikh Maulana Musthofa Mas’ud

01:35:00 Add Comment
Habib Ali dan Syaikh Maulana mas'ud
Sore tadi (Senin, 4 Agustus 2015) saya berkesempatan mengikuti istighosah penutupan forum Musyawarah Kaum Muda NU yang diisi oleh Syaikh Musthofa Mas’ud di Universitas Wahab Hasbullah, Jombang. Sebagai acara terakhir setelah dua hari kaum muda NU dari berbagai daerah dan latar belakang yang berbeda berkumpul dalam berbagai forum.

Acara ini berlangsung begitu khidmad dan tenang. Pesan-pesan yang disampaikan oleh Syaikh Maulana Musthofa Mas’ud yang begitu dalam membuat para peserta menjadi terpukau. Semua terdiam dan begitu takdhim mengikuti intrusksi supaya menirukan apa yang beliau ucapkan. Beliau memulai pidatonya dengan bercerita tentang awal pendirian NU yang di lakukan oleh Mbah Hasyim Asy’ari dan Mbah Wahab Hasbullah tidak lepas dari kerendahan hati dan atas dasar mencintai Rasulullah, Muhammad SAW.

Beliau bercerita tentang sosok Mbah Wahab yang berparas kecil dan kurus tetapi mempunyai kharisma yang tinggi. Karena berdasar cinta kepada Rasulullah maka Saja’ah “Keberanian” dari Nur Muhammad terpancar dari dalam dirinya. Ini terbukti ketika ia menghadap Raja Saud mewakili Ulama Nusantara dengan menggunakan Komite Hijaz mengatakan keberatannya jika makam Rasulullah dan para sahabatnya akan dibongkar. Saja’ah dari Nur Muhammad inilah yang membuat Raja Saud tak bergeming dan mengabulkan permintaan dari Mbah Wahab Hasbullah. Sebagaimana pada perang Badar ketika jumlah pasukan Rasulullah Saw lebih kecil tetapi “saja’ah/keberanian” para sahabat begitu tinggi sehingga perangpun menang. Saja’ah para sahabat itu muncul tidak lain karena dasar cinta kepada Rasulullah SAW.

Selanjutnya beliau menerangkan tentang bacaan Tahyat. Di situ ada bacaan “Assalamu‘alaika ayyuhannabiyu warahmatullahi wa barakatuh” (Semoga keselamatan, rahmat dan berkah Allah tercurahkan kepamu wahai Nabi Muhammad saw). Di sini ada dhomir mukhottob (percakapan) “Assalamu‘alaika yang mana artinya adalah kamu. Otomatis ketika kata “kamu”, maka orang yang bersangkutan berada di dekat kita. Tak mungkin donk kata kamu digunakan jika orang tersebut berada jauh dengan kita, misal “eh kamu tolong donk berikan permen!”. Maka orang tersebut pasti berada di dekat kita. Oleh karenanya, ketika membaca tahyat harus di resapi membayangkan bahwa Rasulullah dekat dengan kita.

Setelah itu beliau menyuruh para peserta yang ikut istighosah untuk mengacungkan jari dan menirukan apa yang beliau ucapkan. “Allahu Nadhirii, Allahu Syahidii, Allahu Ma’ii” (Allah melihatku, Allahu menyaksikanku, Allah bersamaku). “Rasulullah Nadhiri, Rasulullah Syahidii, Rasulullah Ma’ii”. Mbah Wahab Nadhirii, Mbah Wahab Syahidii, Mbah Wabah Ma’ii”. Ini adalah ucuapan “Nadhir” yang artinya menghadirkan Allah, Rasul dan Aulia’. Merasa bahwa Allah, rasul, ataupun Aulia’ melihat kita, menyaksikan kita dan bersama kita. Maka ketika itu terjadi kita akan malu untuk berbuat maksiat.

Dan tahukah kalian bahwa mereka para koruptor juga sholat. Tetapi kenapa mereka tetap melakukan hal yang terlarang. Itu tidak lain karena sholatnya hanya sekedar sholat tanpa menghadirkan Allah di hatinya.

“Allah Allah Allahul Haq, Allah Allah Allahul Haq, Allah Allah Allahul Haq”. Akhlak adalah konsistensi antara mulut, pikiran dan hati. itulah NU. NU tidak lain adalah mereka yang mengikuti perintah Allah, Rasul serta para Aulia’. Ulama yang merendahkan hatinya, tidak seperti sekarang rebutan jabatan. Dulu ketika Muktamar saat terpilihnya Kyai Bisri Syamsuri sebagai Rais Aam. Ketika beliau berpidato malah menyerahkan jabatan Rais Aam kepada Mbah Wahab, selama beliau masih hidup, padahal sudah terpilih oleh peserta Muktamirin. Inilah NU dengan “akhlak” kerendahan hatinya.
Sungguh pesan-pesan yang membuat kami semua merenungi tentang perjuangan yang harus didasari niat atas dasar cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Selesai menyampaikan pesan-pesan sejuk itu, beliau memimpin beberapa bacaan istighosah. Setelah itu iapun memberikan waktu kepada Habib Ali (Qomar) untuk mendo’akan para peserta. Semoga do’a kami dikabulkan oleh Allah. Aamiin.

***

Layaknya buruan. Ia akan lari jika tak diikat. Pun demikian, karena saya tak ingin ilmu yang saya dapat hilang begitu saja, maka menuliskannya adalah salah satu cara untuk mengikat agar tak lupa. Atau kalaupun lupa suatu saat saya bisa membanya kembali.

Institut Agama Islam Bani Fattah (IAIBAFA) Jombang, 04 Agustus 2015 01:29 WIB