Ujian Semester 6

4:57:00 PM Mad Solihin 0 Comments

Ramadhan#16 II Juli#3

Ternyata sudah tanggal 3. Artinya apa yang aku rencanakan gagal. Rencana untuk menulis setiap hari yang niat awalnya akan aku mulai pada awal bulan Juli. Tetapi baru hari ini, hari ke 3 aku sempat menulis. Menulis apapun. Yang penting satu hari satu tulisan. Jika bisa lebih dari satu itu lebih baik, namun harus dipertahankan yang sehari satu tulisan. Kenapa ? Karena istiqomah, konsisten dan terus menerus itu butuh latihan. Bukankah istiqomah lebih baik dari seribu karomah? Menurut saya itu tidak lain karena menjaga keistiqomahan memang bukanlah perkara yang mudah.

“Jika tidak engkau dapat semua maka jangan pula engkau tinggal semua”

Okee, kali ini aku memang tak bisa memulai tulisan pada awal bulan tepatnya tanggal 1. Tetapi haruskah niat baik itu pupus kemudian menunggu awal bulan lagi? Ya kalau awal bulan depan bisa, kalau ada halangan, harus nunggu lagi bulan depan dong ? Ah, tidak jadi nulis nanti. Biarlah, aku akan memulainya walaupun bukan pada awal bulan. Sebagaimana ungkapan yang sering menjadi rujukan “Jika tidak engkau dapat semua maka jangan pula engkau tinggal semua”. Ketika tidak dapat menulis di awal bulan setidaknya bisa menulis di tanggal muda, toh juga itu bukan hal yang wajib hanya ketentuan yang ku buat sendiri.

Hari ini adalah hari ke 3 ujian semester 6. Dimulai pada tanggal 1 Juli kemarin dan selesai besok sabtu. Di hari pertama aku hampir saja terlambat atau bahkan nyaris tak ikut ujian. Pasalnya, aku bangun jam 7 pagi. Hari untuk yang ke 2 kalinya aku tak makan sahur. Untung saja terbangun, kalau tidak bisa-bisa ujiannya kacau. Berawal ketika pukul setengah 3 aku memutuskan untuk tidur karena semalam belum terlelap. Sebenarnya aku sudah menyuruh temanku Mislam untuk membangunkan ketika waktu telah menunjukan pukul 3 atau setengah 4 pagi untuk makan sahur. Tetapi sampai pukul 7 aku merasa tak dibangunkan. Mungkin Mislam juga ikut tertidur, hanya saja ketika aku bangun ia sudah pergi. Konsekuensinya, saya harus negbut ketika berangkat. Dan rasanya kecepatan adalah teman setiaku.

Ujian pertama adalah makul Bimbingan Konseling dan Kapita Selekta Pendidikan. Tak ada belajar dimalam hari seperti dulu ketika masih SD-MA. Rasanya ujian hanya sebagai formalitas belaka. Mungkin banyak teman yang lain belajar semalam suntuk untuk persiapan ujian, tetapi bagiku belajar hanya menambah bingung saja. Karena yang diperlukan itu penalaran, kalaupun ada yang keluar dari apa yang disampaikan di kelas, memang seharusnya seperti itu.

Hari kedua ujian aku lebih santai. Aku datang lebih awal dan tak terlalu ngebut seperti hari pertam ujian. Namun ini juga termasuk hari sialku, lantaran gara-gara tertidur setelah nonton film Zending Ferrester dan Ku Kejar Cintaku Sampai ke Negeri Cina, aku terbangun pukul 5 pagi. Dan ini kali ketiganya aku tak makan sahur. Nasib emang hidup di perantaun, tak seperti di rumah ada orang tua yang membangunkan, makananpun sudah siap tinggal menyantap.

Makul ujian kedua adalah Kewirausahaan dan Metodologi Penelitian Pendidikan. Di makul MPP inilah aku bahkan satu kelas klepek-klepek kaya ikan terlempar ke darat. Soalnya bikin mumet dan pengin nyobek soal pertanyaannya. Hehe. Hitung-menghitung dan menggunaan rumus. Ah, soal yang begitu aku benci. Ya, aku benci matematika. Bukan pelajarannya, tetapi karena aku yang tak bisa. Sehingga mengerjakannya lirik tetangga bangku sebelah alisa nyontek. Hahaha.

Hari ketiga ujian terasa mulus. Baik itu berangkatnya ataupun mengerjakan soalnya. Mulus karena aku berangkat dari rumah. Soal sahur tentu tidak ketinggalan. Ada ibuku yang rela bolak-balik membangunkanku, bersabar atas kebandelanku. He Terima kasih ibu. Kebaikanmu memang begitu tulus dan tak mungkin aku bisa membalasnya dengan yang sepadan. Nikmatnya bisa sahur bersama keluarga. Bagi yang tiinggal dirumah mungkin hal yang biasa, tetapi bagiku, bagi orang yang pernah sahur sediri di tempat rantau itu kenikmatan tersendiri.

Masalah ujianpun aku anggap lancar. Makul PTK dan Profesi Keguruan. Untuk makul PTK meskipun close book cukup ringan karena soalnya berbentuk pilihan ganda. Meskipun harus mikir juga, setidaknya mengarang jawabannya lebih mudah tinggal nyilang a,b,c atau d. Hehe Makul profesi keguruan ini memang butuh penalaran. Meskipun open book tetep saja harus dibikin pusing dengan pertanyaan yang di buku catatan tak ada. Tentu protes karena masalah “belum diajarkan” bukanlah sikap yang tepat untuk seseorang yang mengkantongi gelar mahasiswa. Sikap kreatif lah yang harus tumbuh. Kreatif untuk mencari solusi tentunya.

Besok adalah ujian terakhir. Ujian yang menandakan bahwa semester depan sudah masuk ke semseter 7. Tak terasa kurang satu tahun lagi aku akan mengenakan toga kebanggaan bagi mahasiswa. Toga yang menandakan bahwa seseorang harus memulai hidup dan tantangan baru. Semoga Allah melancarkannya. Aaamiin.

Banjarnegara, 3 Juli 2015 16:47 WIB

You Might Also Like

0 comments: