Takbiran

5:19:00 AM Mad Solihin 0 Comments

Tahun lalu saya meengabaikan malam yang penuh dengan kemuliaan. Malam di mana gema takbir diilantunkan sampai pagi. Karena itu malm ini saya tak mau mengabaikannya. Bukankah masa lalu adalah guru terbaik? Maka malam ini saya tak mau mengulangi lagi. Berbekal pengalaman masa lalu, malam ini saya memutuskan untuk menghidupkannya dengan takbir.

Waktu telah menunjukan pukul satu dini hari. Sejak pengumuman penetapan tanggal 1 Syawal 1436 H jatuh pada esok hari, Jum’at 17 Juli 2015 oleh KH Lukman Hakim selaku Menteri Agama Repubik Indonesia yang artinya besok sudah tidak berpuasa lagi, saya belum sempat ke masjid. Sholat isyapun saya memilih untuk di rumah. Atas dasar rindu untuk mengagungkan nama Allah saya pergi ke masjid, berkumpul dengan orang-orang yang sedang menikmati malam sambi melantunkan gema takbir.

Beberapa anak muda, teman sekampung yang saya kenal sedang duduk di serambi masjid. Saya menghampiri mereka, duduk bersama sambil bertanya ini dan itu sebelum akhirnya saya memutuskan untuk masuk ke dalam masjid. Saya menikmati bercengkerama dengan mereka. Ada perasaan bangga lantaran saya bisa bergabung dengan mereka. Itu tidak lain karena dulu saya adalah akan yang tak terlalu pandai bergaul. Ketika banyak teman-teman sekampung berkumpul saya banyak absennya, jarang saya terlihat bergabung dengan mereka. Apalagi setelah lulus SD saya tak lagi di rumah. Hubungan dengan teman-teman sekampungpun menjadi kurang akrab. Dan malam ini saya belajar untuk mengakrabi mereka walaupun masih agak canggung.

Ketika saya masuk ke masjid, di situ ada Pak Nurudin, Rohman, Pardi dan beberapa anak perempuan sedang bergantian mengalunkan takbiran. Saya mendekati mereka, menunggu giliran melantunkan takbir dengan pengeras suara. Tak lama setelah itu, Bambang, Rohmat, Kardi, Iid, lik Asor, Pak Yudi juga ikut meramaikan malam dengan takbir. Ah, indahnya. Saya belajar bermasyarakat, bercampur dengan mereka membangun keakraban yang selama ini tak pernah saya lakukan.

Takbir panjang saya mencoba melantunkannya. Ternyata ada yang terbalik. Seharusnya Walaa Na’budu Illa Iyyahdulu tetapi saya melantunkan Laa ilaha illallah wahdah dulu. Saya baru menyadari ketika saya brosing di internet dengan hp milik Iid. Tak apalah, salah bukanlah menjadi soal. Bukanlkah dengan melakukan kesalahan itu menjadikan kita belajar tentang sesuatu yang benar? Bukankah dengan kesalahan kita menjadi sadar dan membekas menjadi pengalaman yang pada akhirnya menuntun kita untuk tidak mengulanginya lagi di waktu yang akan datang?

Berteman dengan rokok L.A Mentol Hijau dan kopi, saya menghabiskan malam dengan tabir. Hingga ketika waktu menunjukan pukul 03.30 WIB saya pulang ke rumah. Bukan karena mengantuk dan ingin tidur, tetapi saya ingin sholat tasbih. Setelah satu bulan ramadhan yang telah berlalu saya tak pernah menghdupkan malam dengan bermunajat dengan Allah, maka di akhir malam kemenangan ini saya ingin berdoa kepada-Nya. Bukankah salah satu waktu yang mustajab untuk berdoa adalah dimalam hari raya? Dan saya tak ingin melewatinya begitu saja. 

Sumber : Google


Pringamba, 17 Juli 2015 05:07 WIB

You Might Also Like

0 comments: