Sowan-Sowan

09:40:00 Mad Solihin 0 Comments

Dalam hidup terkadang atau bahkan sering apa yang kita inginkan tak terpenuhi. Entah apa itu faktor kendalanya, yang jelas dari situ sebuah kekecewaan muncul dan itu wajar bagi setiap orang. Namun, itulah kehidupan. Kita tak bisa menentukan apa yang akan terjadi, tugas kita hanya merencanakan dan berikhtyar supaya apa yang kita inginkan tercapai. Kalaupun keinginan itu gagal, semua sudah ada yang menentukan. Maka, yang harus kita lakukan adalah mengambil hikmah dari kekecewaan itu dan intropeksi diri sebagai wujud syukur kepada Allah Swt. Bukankan hal yang membuat kecewa itu tak sebanyak yang membuat hati kita lebih bahagia?

Sama halnya kemarin (Kamis, 23 Juli 2015) ketika saya mengagendakan untuk sowan-sowan ke sesepuh dan alumni ipnu ippnu. Dari sekian banyak pengurus yang saya sms, nyatanya hanya ada 4 orang yang hadir. Dayat, Yuli, Ety dan saya sendiri. Ah, memprihatinkan. Haruskah saya kecewa? Sempat mungkin rasa itu terselip di hati, namun apa toh guna kekecewaan itu? Ketidak hadiran pengurus yang lain mungkin karena mereka punya kesibukan sediri. Sibuk? Bicara masalah sibuk, semua orang pasti punya kesibukan. Saya misal, andaikan bukan karena sebuah tanggung jawab, mungkin akan beralasan sibuk dengan bermacam dalih ini dan itu.

Organisasi itu layaknya gado-gado. Terdiri dari banyak zak penyusun dan semua saling melengkapi serta mempunyai rasa sendiri-sendiri. Begitupun dengan pengurus, mereka punyak sifat dan karakter sendiri-sendiri. Tak sama dan tak mungkin disamakan. Maka ketika kemarin yang datang hanya 4 orang termasuk saya, saya hanya bisa merenung apakah karena faktor pengurus yang sibuk ataukan itu karena faktor diri saya sendiri yang ta bisa mengkoordinir? Ah, terkadang perasaan tidak siap untuk menjadi pemimpin muncul begitu saja.

Seberapun jumlahnya, agenda harus jalan. Karena menunggu banyak itu terlalu bermimpi dan jika dibatalkan maka yang hadir kemarin pasti merasa kecewa. Imbasnya, ketika pertemuan selanjutnya mereka akan berdalih dengan apa yang ia rasakan kemarin.

Hari itu sowan pertama yang kami kunjungi adalah ke tempat Abah Najib. Ada Gus Wahid juga yang ketika itu sedang duduk di ruang tamu. Setelah dipersilahkan masuk dan duduk, kami mengutarakan madksud kedatangan kami yang tidak lain adalah silaturahim lebaran. Di sini karena saya sebagai pemimpin, maka saya juga yang menjadi juru bicara. Sebuah pembelajaran yang sangat berharga.

“Pangapunten pak yai. Kepareng matur. Dalam sa’rencang sepindah silaturahim. Kaping kalih, ngaturaken sugeng riyadi. Taqobalallahu minna wa minkum minal aidzin wal faizin. Anggenipun serawung mpun masti katah klenta klentu, katah kelepatanipun, katah tindak tunduk ingkan mbten sopan. Dalam sa’rencang mewakili atas nama ipnu ippnu ngaturaken agunging panganpunten. Kaleh ndrek dedonga mugi panjengenan sa’kelurga diparingi sehat, digampilake sedoyo urusanipun, diparingi rizki ingkang katah lan barokah. Saking lare-lare ugi nyuwun pandonganipun, mugi-mugi anggenipun berjuang tansah diparingi sehat, semangat, angsal ilmu ingkang manfaat lan seged majengaken ipnu ippnu teng banjarnegara.”

Selalu ada hikmah dan ilmu baru ketika silaturahim. Itulah yang saya rasakan, termasuk ketika berada di kediaman Abah Najib. Salah satunya adalah tentang kreatifitas. Bagaimanapun pandainya seseorang kalau tidak kreatif, pasti statis. Apalagi menjadi seorang pemimpin, kreatifitas sangatlah dibutuhkan karena peranannya sebagai orang yang dituakan. Ketika orang yang dipimin tidak mempunyai gagasan, maka seorang pemimpin wajib punya gagasan. Dan gagasan itu muncul jika seorang pemimpin itu adalah orang yang kreatif. #tepuk jidat.
Selain itu yang cukup menjadi tamparan adalah ketika ditanya sudah punya pac berapa dari 20 kecamatan. Pertanyaan yang membuat diri saya malu. Bagaimana tidak, satu tahun lebih kepengurusan belum satupun saya membuat pac. Sesuatu yang cukup mendilematiskan buat saya. Maka, ketika saya menjawab baru 5. Abah Najib berpesan supaya mempunyai target, sehingga jelas. Selama periode kepengurusan ada bekas yang ditinggalkan. Bukankah itu prinsip pemimpin. Pandangan masa depan tentang apa yang akan diwariskan?
Setelah sowan ke Abah Najib, kami sowan ke tempat Gus Zahid selaku pembina sekaligus ketua pcnu. Disana kamipun mengutarakan maksud kami. Sebuah pesan yang saya tangkap adalah bahwa beliau menginginkan adanya dinamika perubahan ke araha yang lebih baik ketika beberapa kesempatan lalu saya dan teman-teman sowan kegiatan.

Tujuan selanjutnya adalah ke tempat Pak Wahid Basyari. Namun karena beliau tidak ada di rumah kami memutuskan untuk sowan di lain waktu. Kamipun kembai ke pcnu. Karena waktu sudah sore, Ety dan Yuli langsung pulang.

Ba’da isya saya melanjutkan sowan-sowan lagi. Kali ini saya bersama dengan Kang Mizan dan Galih. Tempat yang kami sowani adalah tempat Pak Nurudin, Pak Ali Hanan, Pak Yahya dan Bu Muhdi.

Saya merasakan bahwa silaturahim itu sangat menyenangkan adalah ketika sowan ke tempat Bu Muhdi. Disana banyak cerita yang kami dapat. Tentang perjalanan seorang pemimpin yang memang harus siap ketika mendapat getah dari apa yang ia perjuangkan. Atau kalau kang Mizan bilang, “Ketua itu harus siap menjadi tumbal”. Ya, dalam segala hal. Mengalah dalam segala hal demi kebaikan yang dipimpin. Ketika yang lain tidur, maka seorang pemimpin harus rela untuk berjaga.

Alhamdulillah banyak ilmu dan hikmah yang saya dapat. Setidaknya dari sowan-sowan itu bisa mendapat berkah berkumpul dengan orang-orang sholih.

Banjarnegara, 24 Juli 2015 07:44 WIB

You Might Also Like

0 comments: