Nuzulul Qur’an

02:25:00 Mad Solihin 0 Comments

Ramadhan #18 II Juli#5

Malam ini (Minggu, 5 Juli 2015) saya berkesempatan mendengarkan ceramah dari Gus Muafiq secara langsung. Nama yang sudah sering saya dengar, baik dari teman-teman ataupun orang-orang yang menuliskan namanya dalam akun sosmednya. Pun dengan wajahnya, saya sudah cukup akrab mengenalnya lewat internet. Baik itu dari youtobe maupun foto beliau yang di uploud. Namun baru kali ini saya mendengar dan melihatnya secara langsung dalam acara pengajian peringatan Nuzulul Qur’an di Pendopo Kabupaten Banjarnegara. Acara yang diselenggarakan oleh Panitia Pengajian Umum (PPU) Kab. Banjarnegara.

Beliau mengawali ceramahnya dengan menguraikan tentang nikah. Syariat zaman dulu (kuno). Syariat yang diajarkan oleh Allah kepada Nabi Adam dan Siti Hawa. Sehingga seluruh dunia tahu apa itu nikah. Karena umurnya sudah bertahun-tahun lalu, maka bentuk dan carapun berbeda-beda.

Setelah itu beliau menguraikan tentang puasa. Sama seperti nikah, puasa juga termasuk syariat kuno yang telah diajarkan oleh Allah kepada Nabi Adam sampai nabi Muhammad. Nabi Adam diperintahkan oleh Allah untuk puasa 3 hari per bulan dengan membaca “Robbalan dzolamna angfusana wa illam taghfirlana watarhamna lanakuunanna minal khosirin”, sehingga beliau terlindungi dari godaan iblis. Nabi daud puasa satu hari buka satu hari puasa. Nabi Isya, Nabi Musa dan nabi-nabi lain juga diperintahkan berpuasa (bagaimana puasanya silahkan cari tahu sendiri .. hehe). Dan terakhir nabi Muhammad puasa selama satu bulan di bulan Ramadhan.

Tahukah kalian bahwa puasa adalah kebiasaan orang-orang hebat. Nabi sebelum mendapatkan wahyu juga tirakat selama 15 tahun naik turun gua Ghiro. Syaikh Abdul Qadir Jailani sebelum sampai kepada ma’rifat juga berpuasa selama 25 tahun di padang pasir. Syaikh Syadzilipun sama sebelum ma’arifat juga berpuasa selama 20 tahun. Bahkan salah satu Ulama Jawa sebelum ia terkenal karena ilmunya juga tirakat selama 3 tahun. Ia adalah Sunan Kalijaga, mantan perambok ulung yang mempunyai nama asli Raden Syahid.

Saat ini kehidupan banyak yang telah berubah tidak seperti dulu. Jika dulu banyak orang yang sakti atau setidaknya mempunyai kelebihan-kelebihan tetapi sekarang sudah jarang. Itu tidak lain karena zaman dahulu orang-orang banyak yang melakukan laku tirakat. Bangun malam, puasa mutih (khusus makan makanan yang tak bernyawa), puasa ngerowot (makan nasi tiwul yang terbuat dari ketela) dan sebagainya. Tetapi sekarang banyak yang telah meninggalkannya atau bahkan tidak mengenalnya.

Tentang Al-Qur’an beliau menyebutkan bahwa sekarang banyak orang yang membaca Al-Qur’an bukan sebagai Firman Allah, namun sebagai pengetahuan manusia. Sehingga yang muncul hanyalah perdebatan masalah bid’ah, tentang sholawat, tahlil dan sebagainya. Ia pun menceritakan tentang keajaiban kitab yang diturunkan oleh Allah kepda rasulnya jika benar-benar diamalkan isinya. Kitab Taurat yang diturunkan kepada nabi Musa adalah kitab yang berisi ajaran untuk bisa melawan Qorun. Tentang sihir dan sebagainya. Kitab Injil kepada nabi Isya juga sama. Isinya adalah membekali nabi Isya untuk menghadapi kaumnya yang waktu itu banyak yang sakit, maka nabi isya bisa menyembuhkan penyakit kaumnya. Bisa menghidupkan orang yang sudah mati dan sebagainya.

“Ihdinasshirootol mustaqiim. Shirootol Ladzina an’amta ‘alaihim .....”

Beliau mengutip salah satu ayat al-fatihah yang berisi tentang jalan lurus. Dan jalan lurus itu adalah mengikuti orang yang telah diberi kenikmatan oleh Allah. Maksud beliau adalah masa sekarang itu tidak lepas dari masa lalu. Sehingga jangan sesekali melupakan sejarah.

Pesan itu beliau sampaikan ketika menguraikan tentang Al-Qur’an. Bahwa nabi mengajarkan kepada sahabatnya secara utuh seperti yang ia peroleh dari malaikat jibril. Ketika beliau meninggal, maka tugas menyampaikan Al-Qur’an dipegang oleh para sahabat. Dari para sahabat di sampaikan oleh para tabi’in, kemudian tabi’ tabi’in dan seterusnya sampai ke kita hari ini. Dalam proses penyampaian itu tidak lepas dari masalah teknis terkait dulu al-qur’an itu masih berserakan sehingga dikumpulkan dalam bentuk mushaf pada zaman Usman bin Affan. Kemudian masalah al-qur’an yang dulu tanpa harakat dan titik sehingga dilengkapi oleh Abul Aswad Ad-Duali. Masalah tajwid dan sebagainya muncul belakangan. Sehingga untuk pada sirotol mustaqim atau jalan yang lurus, maka kitapun harus mengikuti orang-orang yang telah diberi kenikmatan mengetahui jalan lurus tersebut.

Terkait masalah jangan melupakan sejarah, saya cukup tersentuh untuk mengingat-ngingat kembali orang-orang yang telah berjasa mendidik dan menjadikan saya seperti sekarang ini. Orang tua dan guru, baik itu guru sekolah ataupun guru ngaji. Karena tanpa mereka kita tak mungkin bisa apa-apa.

Banjarnegara, 6 Juli 2015 02:18 WIB

*Semakin lama saya semakin sadar bahwa menuliskan gagasan bukanlah hal yang mudah. Meskipun kita paham, tetapi menuliskan dengan bahasa sederhana agar mudah dibaca dan mungkin memberi kemudahan pemahaman orang lain butuh latihan. Karena belum tentu yang kita pahami bisa dipahami oeh orang lain. So, latihan terus. Membaca membaca membaca dan menulis menulis dan menulis.  

You Might Also Like

0 comments: