Menjadi Tuan Rumah SKB

2:56:00 AM Mad Solihin 0 Comments

Putaran SKB ke dua, Banjarnegara mendapat giliran untuk menjadi tuan rumah. Tentu ini menjadi tugas saya dan teman-teman yang lain untuk mengusahan tempat dan semua kebutuhan yang diperlukan. Setelah dipikir-pikir dan berbagai pertimbangan maka saya menjatuhkan pilihan di Pondok Pesantren Riyadul Mustaqim Bantar Mandiraja asuhan Bapak KH. Abdul Halim. Alasannya adalah akses jangkauannya mudah dan yang paling penting urusan konsumsi beres. Hehe

Ada suka duka yang saya alami, tetapi tentunya lebih banyak sukanya. Hehe. Meskipun saya harus bolak balik untuk nembusi tempat, setelah beres nembusi konsumsi ke Pak Sumaryo selaku MWC Mandiraja. Ada cerita menarik terkait nembusi tempat, Lulu dan Fikri harus dua kali berkunjung ke pondok setelah sholat isya namun gagal terus karena pak yai sedang tindak. Baru untuk ketiga kalinya saya dan Fikri nembusi lagi dan itu harus janjian dulu.

Sabtu, 11 Juli 2015 adalah hari yang telah ditentukan untuk kegiatan SKB. Paginya saya sempat bingung lantaran tidak ada teman yang bisa saya ajak untuk mempersiapkan tempat. Lu-lu saya sms tak di jawab, ketika saya miscal hp nya sibuk. Ah, bingung rasanya. Baru ada balasan setelah beberapa jam setelahnya. Itupun bisanya ba’da dhuhur karena kataya sedang tanggung menyelesaikan membuat sangkar burung. Awalnya saya pikir kalau ba’da dhuhur terlalu siang, takut dikira tidak jadi. Namun setelah dipikir bahwa acaranya mulainya sore, mak tak apalah tata-tata tempat ba’da dhuhur. Toh saya juga harus bisa memahami orang lain, tak mungkin saya memaksa Lu-lu untuk meninggalkan kesibukannya membuat sangkar dan segera tata tempat.

Seusai sholat dhuhur saya segera meluncur ke Rakit. Menjemput Lu-lu untuk berangkat bersama ke pondok dan mempersiapkan tempat. Perjalanan siang itu membuat saya cukup nelangsa, hawa ngantuk yang masih menyelimuti diri ditambah panasnya terik matahari harus saya terjang. Sampai di tempat Lulu sekitar jam satu. Di sana ada Fikri yang baru saja pulang bekerja. Maka berangkatlah kami bertiga ke pondok. Menata tempat, menyapu ruangan, mengambil karpet di ndalem dan memasang bendera. Hanya bertiga, ya hanya bertiga.

Belum selesai memasang bendera, peserta dari Purbalingga sudah datang. Tepat jam tiga. Agak panik waktu itu, bagaimana tidak saya hanya seorang diri di sana. Lulu dan Fikri pulang setelah selesai memasang bendera di jalan. Beberapa teman banjar yang menjadi peserta saya telfon, dan alhamdulillah satu per satu sampai. Riska, Yuli, Galih, Eman dan Anis. Beberapa teman tersebut setidaknya membuat saya tak sendiri lagi.

Imam Faruq juga datang lebih awal. Mas Sakirin dan Rifki datang setelahnya. Peserta yang lain juga mulai datang satu persatu. Pukul lima sore acara pembukaan dimulai. Saat itulah saya harus mondar mandir kesana kemari. Menanyakan tentang bagaimana konsumsi untuk berbuka nanti yang ternyata di ndalemnya pak yai.

Setelah sholat magrib, bersama dengan galih saya mencari cemilan dan kopi. Inilah saat dimana saya harus kembali mondar madir. Meminjam tremos di ndalemnya pak yai. Meminjam dispenser kantor yang ternyata mati. Dan akhirnya sms lulu agar membawa dispesner ke smp. Saya beruntung ada anak smp yang stanby di sekolah, setidaknya bisa membatu saya mengambil gelas di ndalem karena kurang. Meminjam 3 tremos karena satu tak cukup dan sebagainya. Sebutan MCK (Manager Campur Kuli) pun saya terima. Sebutan yang saya dapat dari Pak Asep dulu ketika saya meminta pendapatnya tentang bagaimana menjadi seorang pemimpin. Ia pernah mewanti-wanti saya jangan sampai menjadi MCK, ah ternyata tak bisa saya hindari.

Rasa lelah dan letih mempersiapkan tempat dan segala kebutuhan yang diperlukan untuk acara SKB hilang ketika melihat banyak yang hadir. Setidaknya ketika pak kyai datang ke SMP ada teman-teman dari Banyumas dan Purbalingga yang menemani beliau mengobrol. Rasa lelah itu serasa melebur menjadi kenikmatan.

Pengalaman yang berharga. Ada rasa bahagia ketika bisa berkumpul dengan teman-teman yang lain. Setidaknya ada rasa semangat yang tumbuh lagi setelah beberapa lalu sempat redup.

NB: Tulisan ini saya buat hanya sekedar untuk membekukan apa yang saya lakukan agar tidak lupa. Mencoba menghargai diri sendiri, karena saya tahu bahwa penghargaan terbesar itu didapat dari diri sendiri bukan orang lain. Bagaimana orang lain akan menghargai jika diri sendiri saja tak menghargainya. Selain itu ini adalah cara saya untuk berlatih menulis. Suatu saat nanti, saya akan tersenyum ketika membacanya lagi.

Pringamba, 15 Juli 2015 02:43 WIB

You Might Also Like

0 comments: