Mb' Nur Pulang

2:31:00 AM Mad Solihin 0 Comments

Beberapa hari terakhir ini saya tak pernah menyempatkan diri untuk menulis. Padahal saya sudah berniat untuk menulis setiap hari pada bulan juli. Sebuah niat menulis agar bisa melatih diri memperbaiki kosa kata, memperindah gaya bahasa dan tentunya menjadikan tulisan yang saya buat hidup. Atau setidaknya bisa enak ketika orang membacanya, mereka tidak bosan dan akan menyelesaikan hingga tulisan yang saya buat selesai mereka baca. Namun niat itupun akhirnya kandas di tengah jalan.

Konsisten. Istiqomah. Ah, betapa hal itu sulit sekali saya lakukan. Mungkin karena saking susahnya menjaga ke istiqomah an sehingga Rasulullahpun pernah bersabda bahwa “Istiqomah itu lebih baik dari seribu karomah”.

Banyak hal yang sebenarnya ingin saya tulis dari kemarin. Tentang SKB, tentang Kepulangan Mb’ Nur, tentang perasaan dan banyak lagi ide yang bergelayut dalam pikiran. Sayang, ide itu tak saya tangkap sehingga lenyap begitu saja. Dalam kesempatan kali ini saya ingin menuliskan tentang kepulangan saudara perempuan saya, Mb’ Nur Chasanah dan Kang Sutras (suaminya) ke kampung halaman.

Mb’ Nur dan suaminya sampai di rumah hari Sabtu sore (11 juli 2015) sekitar pukul 15.30 WIB. Bersamaan dengan mulainya acara SKB di Mandiraja. Sehingga sayapun tak bisa menyambut kepulangannya. Tak hanya itu, sangkar burung kacer yang ia pesan juga tak bisa saya antar waktu itu lantaran sebagai ketua saya tak bisa meninggalkan acara SKB karena yang bertanggung jawab secara penuh adalah saya. Telfon dan sms dari mb’ Nur agar saya segera mengantarkan sangkar burung pun menyerbu. Ada rasa bersalah sebenarnya, tetapi bagaimanapun saya tak bisa meninggalkan acara. Ada nada kesal dari Mb’ Nur, itu terlihat dari sms yang ia kirim menanyakan apakah tidak bisa ditinggal ? Tetapi biarlah, saya punya tanggung jawab yang lebih prioritas yang ketika saya kabur, acaranya bisa kacau.

Katanya ia berangkat dari Jambi pada hari Kamis sekitar pukul 11 siang. Perjalanan 2 hari 2 malam yang melelahkan. Ini terbukti ketika sampai di rumah, keduanya langsung tepar. Tidur hingga ketika beberapa saudara datang, tak bisa menemuinya.

Kalau tidak salah dua tahun ia tak pulang. Terakhir ia pulang pada waktu Idul Adha yang waktu itu bersama dengan Acit, teman kang Sutras di Jambi. Selama itu komunikasi paling lewat hp, baik itu bertukar kabar dengan sms ataupun dengan telfon.

Hari minggu pagi setelah sahur, saya menyempatkan untuk pulang mengantarkan sangkar burung yang saya tinggal di gedung pcnu. Hawa dingin dari Mandiraja-rumah tak saya hiraukan. Cuaca yang biasanya terang waktu itu mendung dan gerimis, menambah hawa dingin terpaan angin motor. Dua sangkar yang ia pesan saya gendong layaknya tas. Jam 6 lebih saya sampai di rumah dan kudapati Mb’ Nur dan suaminya masih tertidur.

Mengetahui saya pulang, ibuku membangunkan mb’ Nur. Setelah salaman, kamipun berpelukan untuk melepas rindu. Ya rindu setelah sekian lama tak bertemu dan hanya bertukar kabar lewat hp.

Jam delapan sayapun berangat ke Mandiraja lagi karena acaranya belum selesai. Dalam perjalanan ke sana beberapa kali saya terlelap, sehingga sayapun kaget dan mencoba konsentrasi lagi mengendari motor.

Saya baru pulang lagi sore harinya setelah membereskan acara di Mandiraja. Mencuci baju yang saya rendam di pcnu. Sebelum pulang saya mampir di Gumingsir untuk membeli sate kambing pesanan Kang Sutras. Lima porsi dengan harga 1 porsi Rp. 25.000,-. Tak selang lama setelah saya sampai rumah, adzan magrib berkumandang. Alhamdulillah, saatnya berbuka puasa.

Saya merasakan kebahagiaan yang tak terkira kitika menyantap hidangan bersama dengan keluarga. Kebahgiaan karena bisa berkumpul kembali dan lengap. Oh, keluarga. Kalian memang sumber kebahagiaan.

Senin kemarin satu kebahagiaan lagi saya rasakan. Mb’ Nur membelikan TV baru lengkap dengan digitalnya. Keinginan yang sering dicegah oleh Lik Nur. Alasannya, jika keluarga saya sudah punya tv pasti rumah lor (sebutan rumah lik Nur yang mbah putri tinggal disitu) sepi. Alasan berkunjung ke rumah lor untuk menonton tv mungkin sirna. Apalagi saya, kalau pulang pasti ke rumah lor. Maklum gak punya digitasl, chenel tv yang kami miliki hanyalah tvri. Setidaknya sekarang saya tak harus berebut remot atau kesal gara-gara program yang akan saya tonton gagal lantaran yang memegang remot adalah anak dari pemilik tv dan digital di rumah lor. Hehe


Pringamba, 14 Juli 2015 02:29 WIB

You Might Also Like

0 comments: