Lebaran

12:49:00 AM Mad Solihin 0 Comments

Langit pagi tadi terlihat begitu cerah seolah ikut merasakan kebahagian menyambut hari kemenangan. Pun dengan pepohonan, mereka terlihat hanyut dalam ketenangan.

Suasana masjid berlantai dua itu telah penuh dengan para jama’ah yang akan melaksanakan sholat idul fitri. Wajah mereka dihiasi dengan senyum kebahagian layaknya anak kecil yang baru saja dibelikan mainan oleh orang tuanya. Pakaian mereka pun terlihat masih baru, setidaknya itu keyakinanku. Sama seperti dulu ketika aku masih SD, hari raya pasti identik dengan baju ataupun pakaian baru. Entah itu hanya taradisi ataupun ada unsur filosofinya. Kalaupun tradisi, siapakah yang dulu mengawalinya ..?

Tak ada pakaian baru untuk lebaran tahun ini, sama seperti lebaran tahun lalu. Paling celana hitam, itupun ibu yang membelikan dan bukan atas kemauanku. Pakaian baru ataupun bukan kini sama saja menurutku. Salama ada yang masih bisa dipakai asal suci dan cocok di tubuh, why not ? Aku memandang bahwa pakaian baru hanyalah simbol atas status Idul Fitri, kembli suci layaknya baru bayi lahir. Bukan pakain baru yang penting tetapi pribadi yang barulah yang penting. Setelah selama satu bulan di tempa, maka ketika keluar bulan ramadhan diharapkan bisa menjadi pribadi yang baru. Dan tugas kita selanjutnya adalah menjaganya atau bisa lebih ditingkatkan lagi.

Sehabis sholat kami sekeluarga pergi ke kuburan untuk ziarah ke makam mbah kakung. Tradisi yang menurutku sangat bermnafaat untuk mengingatkan tentang asal usul siapa nasab keturunan kita. Dari mengetahui nenek moyang itulah kita tahu siapa saja orang-orang yang menjadi saudara kita. Atau bagaimana si A kok dikatakan sebagai saudara kita. Tanpa kita tahu siapa nenek moyang kita, maka kitapun tidak akan tahu urut-urutan atau sebab kenapa si A dikatakan sebagai saudara kita. Wal hasil mengetahui siapa nenek moyang kita menjadi hal yang sangat penting karena dari situlah akan diketahui siapa saja saudara kita yang selanjutnya hubungan silaturahim akan terjaga.

Selesai ziarah kubur, aku meminta maaf kepada kedua orang tua, mbah dan saudara-saudaraku. Tidak ketingggalan juga dengan para tentangga ataupun orang-orang yang sering berinteraksi di kampung. Suasan lebaran menjadi kesempatan untuk saling maaf dan memaafkan. Tetapi kenapa ya harus menunggu lebaran? Iya kalau umur kita sampai kalau tidak, masih ada dosa dong ..? Anehnya, baru saja bermaaf-maafkan tanpa sadar orang-orang langsung berbuat dosa lagi. Menggunjing orang yang baru saja bersalaman dengan dengan mereka, kejelekan-kejelekan tetangga menjadi topik pembahasan yang asyik untuk dibicarakan.


Pringamba, 18 Juli 2015 00:41 WIB

You Might Also Like

0 comments: