Kunci “T”

3:19:00 PM Mad Solihin 1 Comments

Senin lalu (27 Juli 2015) bersama dengan Lulu Faizal, Abdul Rozak, Agus Priadi dan Seli Widiarti, tepatnya setelah mengisi acara Makesta di MA Al-Hidayah Purworejo Klampok, kami menyempatkan untuk silaturahim ke tempak Pak Muthori, ketua MWC NU Susukan. Mumpung masih syawal sekalian untuk meminta maaf kepada beliau.

Semangat atau lebih tepatnya muncul semangat baru ketika disana kami mendapat banyak wejangan dari beliau. Sebagaimana syair tombo ati yang sering kita dengar bahwa salah satunya adalah berkumpul dengan orang sholih. Saya meyakininya, karena apa yang diucapkan bukan tanpa dasar. Entah itu dasar ilmu agama ataupun dasar pengalaman yang selama ini telah di alaminya.

Beberapa pesan yang beliau sampaikan adalah tentang kunci “T”. T disini adalah Tahabbub, Ta’awun, Ta’amusy dan Ta’afi’. Dalam sebuah organisasi yang sangat dibutuhkan adalah menanamkan Tahabbub (rasa cinta). Ketika rasa cinta itu sudah tumbuh maka apapun akan dilakukannya. Laiknya ketika kita mencintai seseorang, apapun akan dilakukannya.

T yang kedua adalah Ta’awun (kerja sama). Dalam organisasi tentu kerja sama sangatlah dibutuhkan karena di situ banyak terdapat orang yang mempunyai sifat dan karakter berbeda. Mau tidak mau kerja sama menjadi kunci penting agar organisasi bisa berjalan lancar.

T yang ketiga adalah Ta’amusy (ada yang dimusayawarhkan). Tak ada gunanya organisasi jika disitu tidak ada hal manfaat yang bisa diperoleh. Maka musyawarah sangatlah dibutuhkan dalam suatu organisasi.

T yang keempat adalah Ta’afi’ (saling memaafkan). Hubungan dalam suatu organisasi tentu tidak selalu mulus tanpa masalah. Terkadang ada perbedaaan pendapat yang tanpa sengaja salah satunya mungkin tersakiti sehingga saling memaafkan menjadi salah satu hal yang penting pula dalam sebuah organisasi.

Selain wejangan 4 T diatas, beliau juga menyampaikan tentang pentingnya memperbaiki niat. Ketika niatnya baik maka kitapun akan mengunduh atau memperoleh hasil yang baik pula. Ketika niatnya ikhlas maka kita pun pasti akan memperoleh hasilnya, jika tidak saat ini, suatu saat pasti akan memperolehnya. Tentang komentar orang lain, biarkan saja. Laiknya penonton sepak bola, mereka hanya bisa berkomentar padahal main saja tidak bisa.

Beliau juga berpesan untuk berhati-hati kepada orang yang dalam suatu masyarakat telah menerima label “kyai”. Meskipun ia melakukan kesalahan tetapi pasti ada sisi positifnya. Dan yakin ketika ia meninggal pasti banyak orang yang menyesalinya.

“Serendah-rendahnya kyai kampung yang tidak baik yang dituakan di masyarakat pasti ada positifnya. Lebih baik diam jangan berkomentar”.

***
Selalu ada hikmah dari silaturahim. Saya meyakininya. Setidaknya ada kebahagiaan tersendiri saat bisa berjumpa dengan orang baru ataupun teman lama. Gurauan-gurauan itu membuat kita merasa bahagia dan itu salah satu hikmah terkecil dari silaturahim.


Banjarnegara, 29 Juli 2015 00:05 WIB

You Might Also Like

1 comment: