Kematian

9:29:00 AM Mad Solihin 0 Comments

Ramadhan #19 II Juli #6

Hari senin lalu (6 Juli 2015) saya mendapat kabar duka. Tentang kematian Wa Tamid, saudara laki-laki dari Lik Tuwariyah dan Ibunya Pak Heri, teman saya di gedung hijau.

Kematian. Tak ada yang bisa menduga kapan ia datang, bagaimana caranyapun tak pernah ada yang bisa mengetahuinya. Ia bisa datang dengan tiba-tiba dan kepada siapapun. Yang telah sakit bertahun-tahun lamanya tiba-tiba sehat ataupun yang terlihat sehat kemudian tiba-tiba meninggalpun bisa terjadi.

Kematian adalah teka-teki yang tak bisa dirumuskan. Ia hak perogatif Allah dan mutlak urusan-Nya. Manusia tak ada yang bisa menolak ataupun memintanya, ketika waktunya tiba tak bisa diundur ataupun dipercepat. Umur tua bukan jaminan bahwa ia akan segera meninggal, umur muda juga bukan jaminan bahwa ia masih lama hidup di dunia. Sehingga yang harus dilakukan hanyalah waspada. Menyiapkan diri agar kapanpun ia datang, siap atau tidak siap, kita harus siap.

Senin sore, saya bersama dengan teman-teman ipnu berta’ziah ke tempat Pak Heri. Kematian ibunya membuat saya kaget. Pasalnya belum lama ini terakhir saya lihat ia masih begitu sehat. Kami turut berduka cita pak, semoga amal ibadahnya diterima dan segala dosa diampuni oleh Allah SWT. Aamiin.
Wa Tamid, saya tak sempat berta’ziah lantaran kabar kematiannya terlambat. Bukan terlambat sebenarnya, tetapi lebih tepatnya sudah terwakili oleh ibu dan bapak yang berta’ziah bersama rombongan keluarga yang lain. Keluarga saya dirumah tak mengabarinya sehingga ketika keluarga berombongan kesana saya tak tahu. Posisi saya yang sedang di Banjarpun tak memungkinkan untuk pulang karena sorenya saya punya acara. Hanya doa semoga amal ibadahmu diterima dan dosa-dosanya diampuni oleh Allah SWT. Aamiin.

Ba’da magrib saya menghadiri undangan tarling (terawih keliling) di Gembongan yang diadakan oleh Irmas (Ikatan Remaja Masjid) Kecamatan Sigaluh. Disana saya ditunjuk untuk menjadi MC. Ada rasa takut sebenarnya. Namun berbekal pengalaman dan sebagai ajang untuk melatih diri, saya menyanggupinya. Meskipun saya bisa saja menolak, tetapi yang saya pikir waktu itu adalah tentang kemanfaatan diri saya untuk orang disekitar. Walau beberapa kali saya tidak ikut tarling tetapi ketika saya ikut, saya punya andil di situ.

Selain tarling, agenda malam itu juga pengajian memperingati Nuzulul Qur’an dengan pembicara Bapak Kyai Saifurrahman, Kepala KAU Sigaluh sebeluh Pak Mukhijab yang sekarang. Beberapa point yang saya catat ketika mendengarkan cermah beliau adalah tentang waktu yang mustajab untuk berdoa di bulan ramadhan. Ada tiga waktu kata beliau, “Menjelang berbuka puasa, menjelang sahur (1/3 malam) dan di hari jum’at tepatnya ketika sholat jum’at diwaktu jeda antara dua khutbah”.

Point lain yang juga saya catat dari ceramah beliau adalah tentang 4 perkara yang harus disegerakan. Empat perkara itu adalah amal sosial, silaturahim, taubat dan membayar hutang. Salain empat itu saya juga mencatat tentang ibadah. Hanya saja saya bingung ketika ditambah ibadah maka bukan empat point tetapi lima. Biarlah, besok-besok saya akan cari haditsnya biar jelas dan lebih mantap.

Setelah selesai pengajian, para pengurus irmas berkumpul di tempat mas Husnan. Berembug tentang kegiatan selanjutnya yang waktu itu dibahas adalah mengenai halal bihahal. Saya hanya bisa mendengarkan karena saya tidak punya kepastian waktu mengingat kapasitas saya sebagai orang yang mempunyai tanggung jawab di ipnu. Biarlah, saya cukup belajar bagaimana cara mereka berembug dan nantinya bisa saya praktekan di ipnu ataupun ditempat manapun.

Jam setengah 12 baru selesai. Setelah itu saya pulang ke gedung hijau. Di tengah perjalanan motor saya tiba-tiba mogok. Kekahwatiran saya tentang kehabisan oli membuat saya mematikan mesinnya dan lebih memilih untuk mendorong. Ah, sial gerutuku waktu itu. Saya mendorngnya dari gembongan sampai Tekidadi. Alhamdulillah bengkel milik Pak Wahid masih buka. Rencana mendorong dari Sigaluh-Parakancanggah pun batal. Di sana saya meminta Pak Wahid untuk mengganti olinya. Selesai diganti olinya, ternyata yang membuat mogok adalah kran bensinnya ditutup. Mungkin ulah dari teman-teman irmas yang waktu berembug duduk-duduk di teras. Ah, sungguh mengerjai orang memang asyik tetapi mereka tak pernah berpikir akibatnya. Termasuk akibat yang saya terima malam itu.

Saya hanya bisa mengambil kesimpulan bahwa bolehlah bercanda dengan orang lain, tetapi bercandalah yang sewajar-wajarnya, jangan keterlaluan. Karena itu merugikan orang lain. Sama seperti ita tak ingin dirugikan, maka kitapun jangan merugikan orang lain.Jika kita tak mau makan nasi basi, maka jangan pula memberikan nasi basi kepada orang lain. Bercerminlah dengan diri sendiri, jika kita sakit ketika dipukul jangan pula kita memukul orang lain.

Pringamba, 8 Juli 2015 00:14 WIB


You Might Also Like

0 comments: