Harmoni dalam ?

16:31:00 Mad Solihin 0 Comments

Sumber : melviyendra.com
Selesai juga ternyata Novel yang berjudul “Harmoni dalam ?” karya Melvy Yendra & Andriyati saya baca. Sudah satu minggu lebih novel ini saya pinjam dari Perpusda Wonosobo. Tanggal 29 Juni 2015 adalah waktu jatuh tempo akhir pengembalian, namun sampai hari ini tanggal 2 Juli 2015 belum sempet saya kembalikan. Terlambat tiga hari. Konsekuensinya siap-siap aja kena denda dengan nominal Rp. 300 per hari satu buku. Padahal ada dua buku yang saya pinjam, berarti kalau saya kembalikan besok menjadi 4 hari. Jika dihitung jumlah total denda adalah Rp. 2.400,-.

Konsekuensi dan tanggung jawab. Itulah yang harus kita terima dan lakukan. Dalam hal apapun pasti ada konsekuensi yang harus kita pertanggungjwabkan. Meminjam buku misal, ketika saya memilih untuk mengembalikan terlambat, maka konsekuensinya adalah kena denda dan itu harus saya terima. Begitupun kehidupan kita hari ini adalah akumulasi konsekuensi yang harus kita terima atas pilihan-pilihan hidup kita dimasa lalu.

Baiklah, dalam tulisan kali ini saya sedikit akan mengulas pemahaman dari apa yang saya baca dari Novel “Harmoni dalam ?”. Sebagai pengingat dan bukti bahwa saya pernah membaca novel tersebut.

Novel yang diterbitkan oleh Mahaka Publishing ini berceita tentang kehidupan masyarakat yang menurut saya, nilai yang diangkat bertutur tentang toleransi beragama. Ini bisa dilihat dari cerita tokoh-tokoh yang ada didalamnya. Mulai dari sebuah Restoran Chinese Foodmilik Koh Tan dan Cik Sien yang notebenenya beragama Budha. Beberapa karyawan di situ adalah orang Islam sehingga ada kelonggaran bagi yang akan melakukan sholat kemudian kembali bekerja lagi. Pun demikian, meskipun di situ juga terpampang hewan babi, ada pembedaan antara yang babi dan bukan. Mulai dari penggorengan, minyak goreng, sendok, piring dsb. Sehingga keduanya terpisah.

Tolenransi bergama disitu juga ditunjukan dengan sebuah sebuah adegan dimana ada perayaan Penyaliban Yesus, beberapa Banser NU ikut menjaga keamanan acara tersebut.

Ada adegan cinta segitiga, permasalahan dalam rumah tangga serta susahnya cari pekerjaan. Tiga topik ini yang saya tangkap ketika membayangkan kembali apa yang telah saya baca. Novel yang terinspirasi oleh film yang di sutradarai oleh Hanung Bramantyo “?” (Tanda Tanya, read) ini adalah sebuah pelengkap untuk meluruskan logika dan bolong-bolongnya argument dalam versi film.

Pilihan-pilihan yang membuat para tokoh harus berpikir keras. Tentang Ibunya Menuk misal, disuguhi pilihan antara tetap menganggur atau bekerja di Restoran China yang notabenenya orang Budha dengan Babi sebagai salah satu menunya. Makanan haram bagi umat islam.

Rika, dihadapkan pada pilihan antara menerima Panji suaminya pologami atau tidak yang berakhir pada perceraian. Pilihan lain untuk pindah agama dari Islam ke Katolik pun menyusul setelah 2 tahun perceraiannya dengan suaminya.

Beberapa hal diatas adalah penafsiran saya. Sudut pandang dalam pembacaan kembali atas apa yang saya baca. Benar atau salah, itu bukan persoalaan. Yang penting saya sudah berani berpendapat.


Banjarnegara, 2 Juli 2015

You Might Also Like

0 comments: