Akumulasi

22:20:00 Mad Solihin 0 Comments

Beberapa hari ini saya tak sempat menuliskan apa yang ingin saya tuliskan. Malas, mungkin itulah yang menjadi kendala utama. Sebuah penyakit kronis yang jika dibiarkan maka semakin lama semakin parah.

Sebenarnya ada ide yang beberapa waktu ingin saya tuliskan, namun lag-lagi kendala malas yang tak bisa saya terjang membuat ide itu hanya bergelayut dalam angan-angan saja. Diantara ide itu adalah tentang sebuah moment halal-bihalal alumni Pondok Pesantren Miftahussholihin yang dilaksanakan pada Hari Minggu, 19 Juli 2015 tepatnya tanggal 3 Syawal 1436 H. Tentang kondangan ke tempat Lilin tepat sebelum berangkat halal bihalal di pondok, teman sekelasku dulu waktu di MA yang akan nikah. Tentang mengantar Mas Sutras di Terminal Sawangan yang akan pulang ke Jambi. Setelah halal bihalal kemudian mampir ke tempatnya Abu Musa, Siti Ma’rifah, Nurul Hikmah dan terkahir ke tempat Bu Nikmah. Sayang, setelah sampai di depan rumah beliau, suasananya sepi dan baru saya ketahui keesokan harinya ketika beliau mengomentari status yang saya buat. Katanya beliau sudah tidur karena kelelahan setelah silaturahim dari Wonosobo.

Ide yang lain adalah mengenai perjalanan saya ke Purworejo. Saya ingin memberikan judul “Kampung Lempung” sebuah desa dimana ibu saya dilahirkan. Kenapa judulnya seperti itu, tidak lain adalah karena disana tanahnya tanah lempung sehingga ketika musim hujan siap-siap saja sandal yang kita kenakan menjadi berat untuk berjalan. Tanah-tanahnya pasti pada menempel di alas kaki yang kita gunakan. Ah, lagi-lagi kendala malas membuat saya tak sempat untuk menuliskannya.

Sempat juga muncul ide untuk menuliskan tentang perjalanan sowan-sowan part II. Diawali dengan silaturahim ke Kapolres Banjarnegara bersama dengan teman-teman Ansor. Kemudian bersama dengan Syafiq silaturahim ke tempat Pak Khozin, Bu Istinganah dan Pak Norma Ali. Banyak ilmu yang kami serap waktu itu. Terutama ketika di tempat Pak Norma Ali yang sempat berbicara tentang Banjarnegara. Tentang makna gilar-gilar yang katanya dicetuskan oleh Bupati sebelum Pak Djasri. Tentang tokoh-tokoh agama yang kebanyakan bahkan semua adalah orang luar Banjarnegara.

Perjalanan hari ini juga cukup menarik untuk dituliskan, namun entah kenapa ketika mau menulis rasanya kaku. Bingung apa yang ingin saya tulis. Termasuk tulisan ini adalah buah pemaksaan diri agar hari ini saya menulis. Entahlah, bahasanya mungkin ngalor ngidul, tetapi saya tak peduli, yang penting saya menulis. Sebuah proses untuk mengabadikan moment yang suatu saat mungkin akan berguna.

Kisah hari ini adalah tentang nembusi ke MA Al-Hidayah terkait kegiatan Makesta senin depan. Bersama dengan Lu-lu saya berkunjung ke sekolah menemui bu Tuti dan juga menemui Pak Sobirin di rumahnya. Selesai koordinasi terkait kegiatan makesta, kami langsung pulang dan mampir lagi ke tempat Lu-lu. Jam setengah 4 saya pamitan untuk silaturahim ke tempat Pak Pono.

Setelah magrib saya pergi ke Wonosobo bersama dengan Kang Mizan. Pergi menemui mas Sofyan dan selanjutnya silaturahim ke tempat Pak Arifin dan Pak Yai Rofiq. Di tempat Pak Yai Rofiq ini banyak ilmu yang kami dapat. Diantaranya adalah tentang kisah awal pendirian SMP. Sebuah kisah yang membuat saya tertawa kagum.

“Segenggam kekuasaan lebih baik daripada seribu kebaikan”

Tulisan apa ini? Entahlah, mungkin hanya sekedar mengabadikan moment. Memaksa diri untuk menulis. Apa judul bagusnya ya. Akumulasi. Ya mungkin bisa mewakili karena memang yang saya tulis adalah tentang beberpa kisah yang saya alami dalam kurun waku berbeda.


Banjarnegara, 26 Juli 2015 01:03 WIB

You Might Also Like

0 comments: