Kunci “T”

Kunci “T”

15:19:00 Add Comment
Senin lalu (27 Juli 2015) bersama dengan Lulu Faizal, Abdul Rozak, Agus Priadi dan Seli Widiarti, tepatnya setelah mengisi acara Makesta di MA Al-Hidayah Purworejo Klampok, kami menyempatkan untuk silaturahim ke tempak Pak Muthori, ketua MWC NU Susukan. Mumpung masih syawal sekalian untuk meminta maaf kepada beliau.

Semangat atau lebih tepatnya muncul semangat baru ketika disana kami mendapat banyak wejangan dari beliau. Sebagaimana syair tombo ati yang sering kita dengar bahwa salah satunya adalah berkumpul dengan orang sholih. Saya meyakininya, karena apa yang diucapkan bukan tanpa dasar. Entah itu dasar ilmu agama ataupun dasar pengalaman yang selama ini telah di alaminya.

Beberapa pesan yang beliau sampaikan adalah tentang kunci “T”. T disini adalah Tahabbub, Ta’awun, Ta’amusy dan Ta’afi’. Dalam sebuah organisasi yang sangat dibutuhkan adalah menanamkan Tahabbub (rasa cinta). Ketika rasa cinta itu sudah tumbuh maka apapun akan dilakukannya. Laiknya ketika kita mencintai seseorang, apapun akan dilakukannya.

T yang kedua adalah Ta’awun (kerja sama). Dalam organisasi tentu kerja sama sangatlah dibutuhkan karena di situ banyak terdapat orang yang mempunyai sifat dan karakter berbeda. Mau tidak mau kerja sama menjadi kunci penting agar organisasi bisa berjalan lancar.

T yang ketiga adalah Ta’amusy (ada yang dimusayawarhkan). Tak ada gunanya organisasi jika disitu tidak ada hal manfaat yang bisa diperoleh. Maka musyawarah sangatlah dibutuhkan dalam suatu organisasi.

T yang keempat adalah Ta’afi’ (saling memaafkan). Hubungan dalam suatu organisasi tentu tidak selalu mulus tanpa masalah. Terkadang ada perbedaaan pendapat yang tanpa sengaja salah satunya mungkin tersakiti sehingga saling memaafkan menjadi salah satu hal yang penting pula dalam sebuah organisasi.

Selain wejangan 4 T diatas, beliau juga menyampaikan tentang pentingnya memperbaiki niat. Ketika niatnya baik maka kitapun akan mengunduh atau memperoleh hasil yang baik pula. Ketika niatnya ikhlas maka kita pun pasti akan memperoleh hasilnya, jika tidak saat ini, suatu saat pasti akan memperolehnya. Tentang komentar orang lain, biarkan saja. Laiknya penonton sepak bola, mereka hanya bisa berkomentar padahal main saja tidak bisa.

Beliau juga berpesan untuk berhati-hati kepada orang yang dalam suatu masyarakat telah menerima label “kyai”. Meskipun ia melakukan kesalahan tetapi pasti ada sisi positifnya. Dan yakin ketika ia meninggal pasti banyak orang yang menyesalinya.

“Serendah-rendahnya kyai kampung yang tidak baik yang dituakan di masyarakat pasti ada positifnya. Lebih baik diam jangan berkomentar”.

***
Selalu ada hikmah dari silaturahim. Saya meyakininya. Setidaknya ada kebahagiaan tersendiri saat bisa berjumpa dengan orang baru ataupun teman lama. Gurauan-gurauan itu membuat kita merasa bahagia dan itu salah satu hikmah terkecil dari silaturahim.


Banjarnegara, 29 Juli 2015 00:05 WIB
Akumulasi

Akumulasi

22:20:00 Add Comment
Beberapa hari ini saya tak sempat menuliskan apa yang ingin saya tuliskan. Malas, mungkin itulah yang menjadi kendala utama. Sebuah penyakit kronis yang jika dibiarkan maka semakin lama semakin parah.

Sebenarnya ada ide yang beberapa waktu ingin saya tuliskan, namun lag-lagi kendala malas yang tak bisa saya terjang membuat ide itu hanya bergelayut dalam angan-angan saja. Diantara ide itu adalah tentang sebuah moment halal-bihalal alumni Pondok Pesantren Miftahussholihin yang dilaksanakan pada Hari Minggu, 19 Juli 2015 tepatnya tanggal 3 Syawal 1436 H. Tentang kondangan ke tempat Lilin tepat sebelum berangkat halal bihalal di pondok, teman sekelasku dulu waktu di MA yang akan nikah. Tentang mengantar Mas Sutras di Terminal Sawangan yang akan pulang ke Jambi. Setelah halal bihalal kemudian mampir ke tempatnya Abu Musa, Siti Ma’rifah, Nurul Hikmah dan terkahir ke tempat Bu Nikmah. Sayang, setelah sampai di depan rumah beliau, suasananya sepi dan baru saya ketahui keesokan harinya ketika beliau mengomentari status yang saya buat. Katanya beliau sudah tidur karena kelelahan setelah silaturahim dari Wonosobo.

Ide yang lain adalah mengenai perjalanan saya ke Purworejo. Saya ingin memberikan judul “Kampung Lempung” sebuah desa dimana ibu saya dilahirkan. Kenapa judulnya seperti itu, tidak lain adalah karena disana tanahnya tanah lempung sehingga ketika musim hujan siap-siap saja sandal yang kita kenakan menjadi berat untuk berjalan. Tanah-tanahnya pasti pada menempel di alas kaki yang kita gunakan. Ah, lagi-lagi kendala malas membuat saya tak sempat untuk menuliskannya.

Sempat juga muncul ide untuk menuliskan tentang perjalanan sowan-sowan part II. Diawali dengan silaturahim ke Kapolres Banjarnegara bersama dengan teman-teman Ansor. Kemudian bersama dengan Syafiq silaturahim ke tempat Pak Khozin, Bu Istinganah dan Pak Norma Ali. Banyak ilmu yang kami serap waktu itu. Terutama ketika di tempat Pak Norma Ali yang sempat berbicara tentang Banjarnegara. Tentang makna gilar-gilar yang katanya dicetuskan oleh Bupati sebelum Pak Djasri. Tentang tokoh-tokoh agama yang kebanyakan bahkan semua adalah orang luar Banjarnegara.

Perjalanan hari ini juga cukup menarik untuk dituliskan, namun entah kenapa ketika mau menulis rasanya kaku. Bingung apa yang ingin saya tulis. Termasuk tulisan ini adalah buah pemaksaan diri agar hari ini saya menulis. Entahlah, bahasanya mungkin ngalor ngidul, tetapi saya tak peduli, yang penting saya menulis. Sebuah proses untuk mengabadikan moment yang suatu saat mungkin akan berguna.

Kisah hari ini adalah tentang nembusi ke MA Al-Hidayah terkait kegiatan Makesta senin depan. Bersama dengan Lu-lu saya berkunjung ke sekolah menemui bu Tuti dan juga menemui Pak Sobirin di rumahnya. Selesai koordinasi terkait kegiatan makesta, kami langsung pulang dan mampir lagi ke tempat Lu-lu. Jam setengah 4 saya pamitan untuk silaturahim ke tempat Pak Pono.

Setelah magrib saya pergi ke Wonosobo bersama dengan Kang Mizan. Pergi menemui mas Sofyan dan selanjutnya silaturahim ke tempat Pak Arifin dan Pak Yai Rofiq. Di tempat Pak Yai Rofiq ini banyak ilmu yang kami dapat. Diantaranya adalah tentang kisah awal pendirian SMP. Sebuah kisah yang membuat saya tertawa kagum.

“Segenggam kekuasaan lebih baik daripada seribu kebaikan”

Tulisan apa ini? Entahlah, mungkin hanya sekedar mengabadikan moment. Memaksa diri untuk menulis. Apa judul bagusnya ya. Akumulasi. Ya mungkin bisa mewakili karena memang yang saya tulis adalah tentang beberpa kisah yang saya alami dalam kurun waku berbeda.


Banjarnegara, 26 Juli 2015 01:03 WIB
Sowan-Sowan

Sowan-Sowan

09:40:00 Add Comment
Dalam hidup terkadang atau bahkan sering apa yang kita inginkan tak terpenuhi. Entah apa itu faktor kendalanya, yang jelas dari situ sebuah kekecewaan muncul dan itu wajar bagi setiap orang. Namun, itulah kehidupan. Kita tak bisa menentukan apa yang akan terjadi, tugas kita hanya merencanakan dan berikhtyar supaya apa yang kita inginkan tercapai. Kalaupun keinginan itu gagal, semua sudah ada yang menentukan. Maka, yang harus kita lakukan adalah mengambil hikmah dari kekecewaan itu dan intropeksi diri sebagai wujud syukur kepada Allah Swt. Bukankan hal yang membuat kecewa itu tak sebanyak yang membuat hati kita lebih bahagia?

Sama halnya kemarin (Kamis, 23 Juli 2015) ketika saya mengagendakan untuk sowan-sowan ke sesepuh dan alumni ipnu ippnu. Dari sekian banyak pengurus yang saya sms, nyatanya hanya ada 4 orang yang hadir. Dayat, Yuli, Ety dan saya sendiri. Ah, memprihatinkan. Haruskah saya kecewa? Sempat mungkin rasa itu terselip di hati, namun apa toh guna kekecewaan itu? Ketidak hadiran pengurus yang lain mungkin karena mereka punya kesibukan sediri. Sibuk? Bicara masalah sibuk, semua orang pasti punya kesibukan. Saya misal, andaikan bukan karena sebuah tanggung jawab, mungkin akan beralasan sibuk dengan bermacam dalih ini dan itu.

Organisasi itu layaknya gado-gado. Terdiri dari banyak zak penyusun dan semua saling melengkapi serta mempunyai rasa sendiri-sendiri. Begitupun dengan pengurus, mereka punyak sifat dan karakter sendiri-sendiri. Tak sama dan tak mungkin disamakan. Maka ketika kemarin yang datang hanya 4 orang termasuk saya, saya hanya bisa merenung apakah karena faktor pengurus yang sibuk ataukan itu karena faktor diri saya sendiri yang ta bisa mengkoordinir? Ah, terkadang perasaan tidak siap untuk menjadi pemimpin muncul begitu saja.

Seberapun jumlahnya, agenda harus jalan. Karena menunggu banyak itu terlalu bermimpi dan jika dibatalkan maka yang hadir kemarin pasti merasa kecewa. Imbasnya, ketika pertemuan selanjutnya mereka akan berdalih dengan apa yang ia rasakan kemarin.

Hari itu sowan pertama yang kami kunjungi adalah ke tempat Abah Najib. Ada Gus Wahid juga yang ketika itu sedang duduk di ruang tamu. Setelah dipersilahkan masuk dan duduk, kami mengutarakan madksud kedatangan kami yang tidak lain adalah silaturahim lebaran. Di sini karena saya sebagai pemimpin, maka saya juga yang menjadi juru bicara. Sebuah pembelajaran yang sangat berharga.

“Pangapunten pak yai. Kepareng matur. Dalam sa’rencang sepindah silaturahim. Kaping kalih, ngaturaken sugeng riyadi. Taqobalallahu minna wa minkum minal aidzin wal faizin. Anggenipun serawung mpun masti katah klenta klentu, katah kelepatanipun, katah tindak tunduk ingkan mbten sopan. Dalam sa’rencang mewakili atas nama ipnu ippnu ngaturaken agunging panganpunten. Kaleh ndrek dedonga mugi panjengenan sa’kelurga diparingi sehat, digampilake sedoyo urusanipun, diparingi rizki ingkang katah lan barokah. Saking lare-lare ugi nyuwun pandonganipun, mugi-mugi anggenipun berjuang tansah diparingi sehat, semangat, angsal ilmu ingkang manfaat lan seged majengaken ipnu ippnu teng banjarnegara.”

Selalu ada hikmah dan ilmu baru ketika silaturahim. Itulah yang saya rasakan, termasuk ketika berada di kediaman Abah Najib. Salah satunya adalah tentang kreatifitas. Bagaimanapun pandainya seseorang kalau tidak kreatif, pasti statis. Apalagi menjadi seorang pemimpin, kreatifitas sangatlah dibutuhkan karena peranannya sebagai orang yang dituakan. Ketika orang yang dipimin tidak mempunyai gagasan, maka seorang pemimpin wajib punya gagasan. Dan gagasan itu muncul jika seorang pemimpin itu adalah orang yang kreatif. #tepuk jidat.
Selain itu yang cukup menjadi tamparan adalah ketika ditanya sudah punya pac berapa dari 20 kecamatan. Pertanyaan yang membuat diri saya malu. Bagaimana tidak, satu tahun lebih kepengurusan belum satupun saya membuat pac. Sesuatu yang cukup mendilematiskan buat saya. Maka, ketika saya menjawab baru 5. Abah Najib berpesan supaya mempunyai target, sehingga jelas. Selama periode kepengurusan ada bekas yang ditinggalkan. Bukankah itu prinsip pemimpin. Pandangan masa depan tentang apa yang akan diwariskan?
Setelah sowan ke Abah Najib, kami sowan ke tempat Gus Zahid selaku pembina sekaligus ketua pcnu. Disana kamipun mengutarakan maksud kami. Sebuah pesan yang saya tangkap adalah bahwa beliau menginginkan adanya dinamika perubahan ke araha yang lebih baik ketika beberapa kesempatan lalu saya dan teman-teman sowan kegiatan.

Tujuan selanjutnya adalah ke tempat Pak Wahid Basyari. Namun karena beliau tidak ada di rumah kami memutuskan untuk sowan di lain waktu. Kamipun kembai ke pcnu. Karena waktu sudah sore, Ety dan Yuli langsung pulang.

Ba’da isya saya melanjutkan sowan-sowan lagi. Kali ini saya bersama dengan Kang Mizan dan Galih. Tempat yang kami sowani adalah tempat Pak Nurudin, Pak Ali Hanan, Pak Yahya dan Bu Muhdi.

Saya merasakan bahwa silaturahim itu sangat menyenangkan adalah ketika sowan ke tempat Bu Muhdi. Disana banyak cerita yang kami dapat. Tentang perjalanan seorang pemimpin yang memang harus siap ketika mendapat getah dari apa yang ia perjuangkan. Atau kalau kang Mizan bilang, “Ketua itu harus siap menjadi tumbal”. Ya, dalam segala hal. Mengalah dalam segala hal demi kebaikan yang dipimpin. Ketika yang lain tidur, maka seorang pemimpin harus rela untuk berjaga.

Alhamdulillah banyak ilmu dan hikmah yang saya dapat. Setidaknya dari sowan-sowan itu bisa mendapat berkah berkumpul dengan orang-orang sholih.

Banjarnegara, 24 Juli 2015 07:44 WIB
Putri Barbie

Putri Barbie

23:46:00 Add Comment
Sabtu, 18 Juli 2015 / 2 Syawal 1436 H. Hari dan tanggal ini mungkin akan menjadi salah satu hal yang penting dalam hidup saya dan melalui tulisan ini hal tersebut akan terabadikan. Haha #layaknya musium yang suatu saat saya bisa mengunjunginya atau bahkan kapanpun saya mau. Setidaknya musium buat saya sendiri dan mungkin juga bagi orang yang menjadikan hari tersebut menjadi istimewa. Hehe

Jadikanlah tali sebagai pengikat binatang buruanmu dan jadikanlah tulisan sebagai pengikat ilmumu. Itulah pesan dari Saidina Ali bin Abi Tholib, khalifah ke empat sekaligus menantu dari Rasulullah Saw. Ya, saya percaya dengan pesan tersebut. Bukankah pemikiran orang zaman dahulu bisa kita pelajari sampai sekarang berkat tulisan mereka yang terabadikan? Dan bukankah Allah juga mengajarkan kepada kita melalui Al-Qur’an tentang mengabadikan masa lalu. Sejarah nabi Adam yang diturunkan dari surga karena memakan buah khuldi. Sejarah nabi Musa dengan Fir’aun, sejarah Nabi Ibrahim ketika mencari Tuhannya, sejarah kenapa syaitan menjadi mahluk yang dilaknat oleh Allah dan masih banyak kisah sejarah yang diabadikan dalam Al-Qur’an. Bukankah kisah mereka masih abadi karena diabadikan dalam Al-Qur’an? Dan bukankah Al-Qur’an salah satu nama lainya adalah tulisan?

Hey putri barbie. Itu sebutan baru buatmu yang semoga engkau bisa mempunyai sifat dan karakter barbie seperti yang engkau sebutkan. Perjuangannya membela kebenaran, wanita yang anggun dalam bicara dan tingkah lakunya. Sosok kartun idolamu yang anggun dan cantik. Meskipun engkau bilang sosokmu tidak secantik dan seanggun dirinya, setidaknya sosokmu anggun dan cantik dalam pandanganku. Hahaha #gombal sedikit gak papa lah. He

Baiklah putri barbie, meskipun kisah ini agak aneh karena sebulan saja juga belum kita saling kenal, tetapi jika kita merasa nyaman saya ingin banyak belajar bersama denganmu. Belajar tentang arti memahami, belajar tentang arti saling mengasihi, belajar saling berbagi, belajar saling menyemangati, belajar tentang harapan dan belajar untuk menemukan mimpi-mimpi baru.  

We will learn together. Ingatkan ketika saya salah atau lupa. Jika engkau dapati informasi tentang diri saya yang tak berkenan denganmu, tanyakan langsung padaku. Itu akan lebih baik dibandingkan engkau tahu dari orang lain. Hehe. This is my hope to you.

Semoga kita bisa saling melengkapi untuk berubah ke arah yang lebih baik. Menggapi cita-cita dan impian. Termasuk impian untuk berkunjung ke Beijing, berpose di atas tembok bersejarah Cina. Hehe


Pringamba, 18 Juli 2015 23:40 WIB
Lebaran

Lebaran

00:49:00 Add Comment
Langit pagi tadi terlihat begitu cerah seolah ikut merasakan kebahagian menyambut hari kemenangan. Pun dengan pepohonan, mereka terlihat hanyut dalam ketenangan.

Suasana masjid berlantai dua itu telah penuh dengan para jama’ah yang akan melaksanakan sholat idul fitri. Wajah mereka dihiasi dengan senyum kebahagian layaknya anak kecil yang baru saja dibelikan mainan oleh orang tuanya. Pakaian mereka pun terlihat masih baru, setidaknya itu keyakinanku. Sama seperti dulu ketika aku masih SD, hari raya pasti identik dengan baju ataupun pakaian baru. Entah itu hanya taradisi ataupun ada unsur filosofinya. Kalaupun tradisi, siapakah yang dulu mengawalinya ..?

Tak ada pakaian baru untuk lebaran tahun ini, sama seperti lebaran tahun lalu. Paling celana hitam, itupun ibu yang membelikan dan bukan atas kemauanku. Pakaian baru ataupun bukan kini sama saja menurutku. Salama ada yang masih bisa dipakai asal suci dan cocok di tubuh, why not ? Aku memandang bahwa pakaian baru hanyalah simbol atas status Idul Fitri, kembli suci layaknya baru bayi lahir. Bukan pakain baru yang penting tetapi pribadi yang barulah yang penting. Setelah selama satu bulan di tempa, maka ketika keluar bulan ramadhan diharapkan bisa menjadi pribadi yang baru. Dan tugas kita selanjutnya adalah menjaganya atau bisa lebih ditingkatkan lagi.

Sehabis sholat kami sekeluarga pergi ke kuburan untuk ziarah ke makam mbah kakung. Tradisi yang menurutku sangat bermnafaat untuk mengingatkan tentang asal usul siapa nasab keturunan kita. Dari mengetahui nenek moyang itulah kita tahu siapa saja orang-orang yang menjadi saudara kita. Atau bagaimana si A kok dikatakan sebagai saudara kita. Tanpa kita tahu siapa nenek moyang kita, maka kitapun tidak akan tahu urut-urutan atau sebab kenapa si A dikatakan sebagai saudara kita. Wal hasil mengetahui siapa nenek moyang kita menjadi hal yang sangat penting karena dari situlah akan diketahui siapa saja saudara kita yang selanjutnya hubungan silaturahim akan terjaga.

Selesai ziarah kubur, aku meminta maaf kepada kedua orang tua, mbah dan saudara-saudaraku. Tidak ketingggalan juga dengan para tentangga ataupun orang-orang yang sering berinteraksi di kampung. Suasan lebaran menjadi kesempatan untuk saling maaf dan memaafkan. Tetapi kenapa ya harus menunggu lebaran? Iya kalau umur kita sampai kalau tidak, masih ada dosa dong ..? Anehnya, baru saja bermaaf-maafkan tanpa sadar orang-orang langsung berbuat dosa lagi. Menggunjing orang yang baru saja bersalaman dengan dengan mereka, kejelekan-kejelekan tetangga menjadi topik pembahasan yang asyik untuk dibicarakan.


Pringamba, 18 Juli 2015 00:41 WIB

Takbiran

05:19:00 Add Comment
Tahun lalu saya meengabaikan malam yang penuh dengan kemuliaan. Malam di mana gema takbir diilantunkan sampai pagi. Karena itu malm ini saya tak mau mengabaikannya. Bukankah masa lalu adalah guru terbaik? Maka malam ini saya tak mau mengulangi lagi. Berbekal pengalaman masa lalu, malam ini saya memutuskan untuk menghidupkannya dengan takbir.

Waktu telah menunjukan pukul satu dini hari. Sejak pengumuman penetapan tanggal 1 Syawal 1436 H jatuh pada esok hari, Jum’at 17 Juli 2015 oleh KH Lukman Hakim selaku Menteri Agama Repubik Indonesia yang artinya besok sudah tidak berpuasa lagi, saya belum sempat ke masjid. Sholat isyapun saya memilih untuk di rumah. Atas dasar rindu untuk mengagungkan nama Allah saya pergi ke masjid, berkumpul dengan orang-orang yang sedang menikmati malam sambi melantunkan gema takbir.

Beberapa anak muda, teman sekampung yang saya kenal sedang duduk di serambi masjid. Saya menghampiri mereka, duduk bersama sambil bertanya ini dan itu sebelum akhirnya saya memutuskan untuk masuk ke dalam masjid. Saya menikmati bercengkerama dengan mereka. Ada perasaan bangga lantaran saya bisa bergabung dengan mereka. Itu tidak lain karena dulu saya adalah akan yang tak terlalu pandai bergaul. Ketika banyak teman-teman sekampung berkumpul saya banyak absennya, jarang saya terlihat bergabung dengan mereka. Apalagi setelah lulus SD saya tak lagi di rumah. Hubungan dengan teman-teman sekampungpun menjadi kurang akrab. Dan malam ini saya belajar untuk mengakrabi mereka walaupun masih agak canggung.

Ketika saya masuk ke masjid, di situ ada Pak Nurudin, Rohman, Pardi dan beberapa anak perempuan sedang bergantian mengalunkan takbiran. Saya mendekati mereka, menunggu giliran melantunkan takbir dengan pengeras suara. Tak lama setelah itu, Bambang, Rohmat, Kardi, Iid, lik Asor, Pak Yudi juga ikut meramaikan malam dengan takbir. Ah, indahnya. Saya belajar bermasyarakat, bercampur dengan mereka membangun keakraban yang selama ini tak pernah saya lakukan.

Takbir panjang saya mencoba melantunkannya. Ternyata ada yang terbalik. Seharusnya Walaa Na’budu Illa Iyyahdulu tetapi saya melantunkan Laa ilaha illallah wahdah dulu. Saya baru menyadari ketika saya brosing di internet dengan hp milik Iid. Tak apalah, salah bukanlah menjadi soal. Bukanlkah dengan melakukan kesalahan itu menjadikan kita belajar tentang sesuatu yang benar? Bukankah dengan kesalahan kita menjadi sadar dan membekas menjadi pengalaman yang pada akhirnya menuntun kita untuk tidak mengulanginya lagi di waktu yang akan datang?

Berteman dengan rokok L.A Mentol Hijau dan kopi, saya menghabiskan malam dengan tabir. Hingga ketika waktu menunjukan pukul 03.30 WIB saya pulang ke rumah. Bukan karena mengantuk dan ingin tidur, tetapi saya ingin sholat tasbih. Setelah satu bulan ramadhan yang telah berlalu saya tak pernah menghdupkan malam dengan bermunajat dengan Allah, maka di akhir malam kemenangan ini saya ingin berdoa kepada-Nya. Bukankah salah satu waktu yang mustajab untuk berdoa adalah dimalam hari raya? Dan saya tak ingin melewatinya begitu saja. 

Sumber : Google


Pringamba, 17 Juli 2015 05:07 WIB
Ramadhan Telah Berlalu

Ramadhan Telah Berlalu

00:35:00 Add Comment
Selamat Hari Raya Idul Fitri Mohon Maaf Lahir Batin 

Tak terasa Ramadhan telah berakhir. Bulan yang penuh dengan rahmat dan maghfiroh telah berlalu. Ah, haruskah aku merasa sedih. Entahlah, harusnya si begitu tetapi bagaimana aku bersedih jika akupun tak pernah merasa memiliki bulan yang benuh berkah ini. Aku terlalu sibuk dengan dunia dan hatiku semakin keras sehingga akupun merasa biasa-biasa saja.

Waktu maghrib beberapa saat yang lalu telah menandai masuknya bulan syawal. Bulan peningkatan. Bulan dimana semua manusia kembali suci layaknya bayi yang beru lahir. Bulan dimana dimulainya ujian agar bisa menjaga status kesucian yang diraih setelah sebulan penuh menjalankan puasa. Jika di bulan puasa rajin ke masjid, maka bulan syawal kedepan harus lebih rajin lagi. Ya, peningkatan. Tetapi biasanya berubah kebalikannya, tradisi ke masjid dan membaca al-qur’an yang di bulan ramadhan dijalankan hampir tak pernah absen akan menjadi masa lalu. Semoga aku bisa meningkatkan atau setidaknya mempertahankan.

Gema takbir bergema dari sudut-sudut masjid. Mengumandangkan nama Allah berkali-kali. Sebagai tanda kemenangan atas usaha sebulan penuh. Atau akumulasi kegembiraan setelah satu bulan penuh menjalankan puasa. Jika di bulan ramadhan kegembiraan itu berupa datangnya waktu buka, maka malam takbiran adalah puncak kebahagiaannya.

Kembali suci. Itulah yang diharapkan setelah melalui satu bulan penuh bulan ramadhan. Setidaknya hablum minallah, dosa-dosa yang berhubungan langsung dengan Allah diampuni. Namun, itu belumlah cukup karena masih ada hablum minnas, dosa-dosa yang kita lakukan kepada orang-orang disekitar kita tak akan Allah ampuni sebelum yang bersangkutan memaafkan kesalahan kita. Oleh karena itu melalui tulisan ini, aku ingin mengucapkan “Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436 H, Mohon Maaf Lahir Batin”. Semoga Allah benar-benar mengampuni dosa-dosa kita dan kita bisa mendapat predikat suci. Aamiin.


Pringamba, 17 Juli 2015 00:25 WIB
Kawan Baru

Kawan Baru

00:46:00 Add Comment
Hi kawan baru kenapa tak juga engkau balas sms dariku? Jika itu karena kata-kataku tadi siang, maaf deh. Mungkin terlalu cepat ya, tetapi aku cukup lega telah mengatakannya. Mengenai apa tanggapanmu, aku sudah menyiapkan diri. Hahaha

Tahukah engkau kenapa ku memanggilnya dengan sebutan kawan baru? Itu tidak lain karena memang kita baru kenal, belum satu bulan malah. Bertemu juga baru tiga kali.

Ingatkah ketika siang itu engkau memberikan tugas tulisanmu sebagai ganti atas ketidak ikutanmu pada postest. Saat itulah ketertarikanku padamu muncul. Aku kagum dengan tulisan tanganmu yang kalau gak salah ada 7 lembar, walaupun aku juga belum membacanya. Hanya sekilas petikan tentang biodata dan judul tulisannya.

Mau tahukah kenapa aku tertarik? Karena aku mungkin punya hobi yang sama denganmu. Bermain kata dan sesekali sibuk melihat kata-kata yang dibuat oleh orang lain. He

Soal kata-kataku tadi siang. Aku hanya ingin belajar besama denganmu. “Imam” ya imam sholat dan dalam segala hal mungkin. Aku memilih kata itu tentu aku juga paham konsekuensinya. Kualitas diriku yang saat ini belum cukup pantas untuk menjadi imam, aku menyadarinya. Namun, masih ada waktu untuk memperbaikinya setidaknya sampai saatnya tiba. #Saatnya apa hahaha.

Alhamdulillah malam ini aku bisa ikut khotmil qur’an di masjid. Moment yang tahun-tahun lalu sering aku abaikan karena jarang di rumah. Aku menyukai moment ini karena di mement inilah para malaikat ikut turun dan mendo’akan orang yang hadir dalam majelis tersebut.

Nb: Hanya sekedar berlatih menulis. Mengabadikan moment yang beberapa tahun kedepan aku akan tersenyum saat membacanya. Hehe


Pringamba, 16 Juli 2015 00:30 WIB
Menjadi Tuan Rumah SKB

Menjadi Tuan Rumah SKB

02:56:00 Add Comment
Putaran SKB ke dua, Banjarnegara mendapat giliran untuk menjadi tuan rumah. Tentu ini menjadi tugas saya dan teman-teman yang lain untuk mengusahan tempat dan semua kebutuhan yang diperlukan. Setelah dipikir-pikir dan berbagai pertimbangan maka saya menjatuhkan pilihan di Pondok Pesantren Riyadul Mustaqim Bantar Mandiraja asuhan Bapak KH. Abdul Halim. Alasannya adalah akses jangkauannya mudah dan yang paling penting urusan konsumsi beres. Hehe

Ada suka duka yang saya alami, tetapi tentunya lebih banyak sukanya. Hehe. Meskipun saya harus bolak balik untuk nembusi tempat, setelah beres nembusi konsumsi ke Pak Sumaryo selaku MWC Mandiraja. Ada cerita menarik terkait nembusi tempat, Lulu dan Fikri harus dua kali berkunjung ke pondok setelah sholat isya namun gagal terus karena pak yai sedang tindak. Baru untuk ketiga kalinya saya dan Fikri nembusi lagi dan itu harus janjian dulu.

Sabtu, 11 Juli 2015 adalah hari yang telah ditentukan untuk kegiatan SKB. Paginya saya sempat bingung lantaran tidak ada teman yang bisa saya ajak untuk mempersiapkan tempat. Lu-lu saya sms tak di jawab, ketika saya miscal hp nya sibuk. Ah, bingung rasanya. Baru ada balasan setelah beberapa jam setelahnya. Itupun bisanya ba’da dhuhur karena kataya sedang tanggung menyelesaikan membuat sangkar burung. Awalnya saya pikir kalau ba’da dhuhur terlalu siang, takut dikira tidak jadi. Namun setelah dipikir bahwa acaranya mulainya sore, mak tak apalah tata-tata tempat ba’da dhuhur. Toh saya juga harus bisa memahami orang lain, tak mungkin saya memaksa Lu-lu untuk meninggalkan kesibukannya membuat sangkar dan segera tata tempat.

Seusai sholat dhuhur saya segera meluncur ke Rakit. Menjemput Lu-lu untuk berangkat bersama ke pondok dan mempersiapkan tempat. Perjalanan siang itu membuat saya cukup nelangsa, hawa ngantuk yang masih menyelimuti diri ditambah panasnya terik matahari harus saya terjang. Sampai di tempat Lulu sekitar jam satu. Di sana ada Fikri yang baru saja pulang bekerja. Maka berangkatlah kami bertiga ke pondok. Menata tempat, menyapu ruangan, mengambil karpet di ndalem dan memasang bendera. Hanya bertiga, ya hanya bertiga.

Belum selesai memasang bendera, peserta dari Purbalingga sudah datang. Tepat jam tiga. Agak panik waktu itu, bagaimana tidak saya hanya seorang diri di sana. Lulu dan Fikri pulang setelah selesai memasang bendera di jalan. Beberapa teman banjar yang menjadi peserta saya telfon, dan alhamdulillah satu per satu sampai. Riska, Yuli, Galih, Eman dan Anis. Beberapa teman tersebut setidaknya membuat saya tak sendiri lagi.

Imam Faruq juga datang lebih awal. Mas Sakirin dan Rifki datang setelahnya. Peserta yang lain juga mulai datang satu persatu. Pukul lima sore acara pembukaan dimulai. Saat itulah saya harus mondar mandir kesana kemari. Menanyakan tentang bagaimana konsumsi untuk berbuka nanti yang ternyata di ndalemnya pak yai.

Setelah sholat magrib, bersama dengan galih saya mencari cemilan dan kopi. Inilah saat dimana saya harus kembali mondar madir. Meminjam tremos di ndalemnya pak yai. Meminjam dispenser kantor yang ternyata mati. Dan akhirnya sms lulu agar membawa dispesner ke smp. Saya beruntung ada anak smp yang stanby di sekolah, setidaknya bisa membatu saya mengambil gelas di ndalem karena kurang. Meminjam 3 tremos karena satu tak cukup dan sebagainya. Sebutan MCK (Manager Campur Kuli) pun saya terima. Sebutan yang saya dapat dari Pak Asep dulu ketika saya meminta pendapatnya tentang bagaimana menjadi seorang pemimpin. Ia pernah mewanti-wanti saya jangan sampai menjadi MCK, ah ternyata tak bisa saya hindari.

Rasa lelah dan letih mempersiapkan tempat dan segala kebutuhan yang diperlukan untuk acara SKB hilang ketika melihat banyak yang hadir. Setidaknya ketika pak kyai datang ke SMP ada teman-teman dari Banyumas dan Purbalingga yang menemani beliau mengobrol. Rasa lelah itu serasa melebur menjadi kenikmatan.

Pengalaman yang berharga. Ada rasa bahagia ketika bisa berkumpul dengan teman-teman yang lain. Setidaknya ada rasa semangat yang tumbuh lagi setelah beberapa lalu sempat redup.

NB: Tulisan ini saya buat hanya sekedar untuk membekukan apa yang saya lakukan agar tidak lupa. Mencoba menghargai diri sendiri, karena saya tahu bahwa penghargaan terbesar itu didapat dari diri sendiri bukan orang lain. Bagaimana orang lain akan menghargai jika diri sendiri saja tak menghargainya. Selain itu ini adalah cara saya untuk berlatih menulis. Suatu saat nanti, saya akan tersenyum ketika membacanya lagi.

Pringamba, 15 Juli 2015 02:43 WIB
Terharu

Terharu

01:25:00 Add Comment
Juli #15

Ini bukan pertama kalinya ketika Kang Sutras pulang ke Jawa kemudian rela menservis motor revo yang sering saya pakai. Kepulangannya dulu seingat saya ia menservis motor, mengganti pegangan rem depan, pegangan setang dan menyetel setang yang agak eror. Tak beda dengan kepulangannya sekarang, kemarin sore ia pun melakukan hal yang sama. Bersama dengan Mb’ Nur, ia menservis motor, mengganti sok belakang yang sudah mati, mengganti lampu belakang yang katanya juga mati, bostep belakang dan entah apalagi yang saya tak cukup paham namanya. Ah, saya menjadi terharu. Cukup malu sebenarnya karena saya yang sering memakai tak pernah memperdulikan hal itu. Semoga Allah membalas kebaikanmu Kang, dengan kebaikan yang berlipat. Aamiin.

Untuk urusan motor memang saya tak pernah memperdulikannya sampai detail, selama masih bisa untuk digunakan saya akan menggunakannya. Bahkan ketika menurut Kang Sutras sudah parah, saya tak pernah mempermasalahkan atau memperbaikinya. Jika Kang Sutras begitu detail, mendengar spion bergetar misal, ia akan segera mencari penyebabnya dan segera memperbaikinya. Berbanding terbalik dengan yang saya lakukan. Mencucinyapun nunggu dikomentari orang lain atau kalau debu yang nempel sudah setebal 10 cm. Hahaha, parah emang.

Kalau boleh jujur, saya juga ingin memperbaikinya ketika ada yang kurang beres. Seperti setelan setang yang gak beres misal, namun keterbatasan ekonomi membuat saya membiarkannya. Masih banyak yang lebih prioritas, pikir saya. Bisa membeli bensin untuk keperluan perjalanan sehari-hari sudah cukup membuat saya bersyukur. Bahkan keinginan untuk membeli sepatu fantofel seperti teman-teman lain juga cukup saya simpan dalam hati. Padahal saya begitu membutuhkan untuk keperluan kuliah dan sebentar lagi untuk kegiatan PPL. Ah, lagi-lagi masalah ekonomi membuat saya cukup memendam hal itu, memendam keinginan yang ... #ah tak bisa saya meneruskannya.

Terima kasih Kang Sutras dan Mb’ Nur, semoga saya bisa membalas kebaikan kalian suatu saat nanti. Semoga.


Pringamba, 15 Juli 2015 01:20 WIB
Mb' Nur Pulang

Mb' Nur Pulang

02:31:00 Add Comment
Beberapa hari terakhir ini saya tak pernah menyempatkan diri untuk menulis. Padahal saya sudah berniat untuk menulis setiap hari pada bulan juli. Sebuah niat menulis agar bisa melatih diri memperbaiki kosa kata, memperindah gaya bahasa dan tentunya menjadikan tulisan yang saya buat hidup. Atau setidaknya bisa enak ketika orang membacanya, mereka tidak bosan dan akan menyelesaikan hingga tulisan yang saya buat selesai mereka baca. Namun niat itupun akhirnya kandas di tengah jalan.

Konsisten. Istiqomah. Ah, betapa hal itu sulit sekali saya lakukan. Mungkin karena saking susahnya menjaga ke istiqomah an sehingga Rasulullahpun pernah bersabda bahwa “Istiqomah itu lebih baik dari seribu karomah”.

Banyak hal yang sebenarnya ingin saya tulis dari kemarin. Tentang SKB, tentang Kepulangan Mb’ Nur, tentang perasaan dan banyak lagi ide yang bergelayut dalam pikiran. Sayang, ide itu tak saya tangkap sehingga lenyap begitu saja. Dalam kesempatan kali ini saya ingin menuliskan tentang kepulangan saudara perempuan saya, Mb’ Nur Chasanah dan Kang Sutras (suaminya) ke kampung halaman.

Mb’ Nur dan suaminya sampai di rumah hari Sabtu sore (11 juli 2015) sekitar pukul 15.30 WIB. Bersamaan dengan mulainya acara SKB di Mandiraja. Sehingga sayapun tak bisa menyambut kepulangannya. Tak hanya itu, sangkar burung kacer yang ia pesan juga tak bisa saya antar waktu itu lantaran sebagai ketua saya tak bisa meninggalkan acara SKB karena yang bertanggung jawab secara penuh adalah saya. Telfon dan sms dari mb’ Nur agar saya segera mengantarkan sangkar burung pun menyerbu. Ada rasa bersalah sebenarnya, tetapi bagaimanapun saya tak bisa meninggalkan acara. Ada nada kesal dari Mb’ Nur, itu terlihat dari sms yang ia kirim menanyakan apakah tidak bisa ditinggal ? Tetapi biarlah, saya punya tanggung jawab yang lebih prioritas yang ketika saya kabur, acaranya bisa kacau.

Katanya ia berangkat dari Jambi pada hari Kamis sekitar pukul 11 siang. Perjalanan 2 hari 2 malam yang melelahkan. Ini terbukti ketika sampai di rumah, keduanya langsung tepar. Tidur hingga ketika beberapa saudara datang, tak bisa menemuinya.

Kalau tidak salah dua tahun ia tak pulang. Terakhir ia pulang pada waktu Idul Adha yang waktu itu bersama dengan Acit, teman kang Sutras di Jambi. Selama itu komunikasi paling lewat hp, baik itu bertukar kabar dengan sms ataupun dengan telfon.

Hari minggu pagi setelah sahur, saya menyempatkan untuk pulang mengantarkan sangkar burung yang saya tinggal di gedung pcnu. Hawa dingin dari Mandiraja-rumah tak saya hiraukan. Cuaca yang biasanya terang waktu itu mendung dan gerimis, menambah hawa dingin terpaan angin motor. Dua sangkar yang ia pesan saya gendong layaknya tas. Jam 6 lebih saya sampai di rumah dan kudapati Mb’ Nur dan suaminya masih tertidur.

Mengetahui saya pulang, ibuku membangunkan mb’ Nur. Setelah salaman, kamipun berpelukan untuk melepas rindu. Ya rindu setelah sekian lama tak bertemu dan hanya bertukar kabar lewat hp.

Jam delapan sayapun berangat ke Mandiraja lagi karena acaranya belum selesai. Dalam perjalanan ke sana beberapa kali saya terlelap, sehingga sayapun kaget dan mencoba konsentrasi lagi mengendari motor.

Saya baru pulang lagi sore harinya setelah membereskan acara di Mandiraja. Mencuci baju yang saya rendam di pcnu. Sebelum pulang saya mampir di Gumingsir untuk membeli sate kambing pesanan Kang Sutras. Lima porsi dengan harga 1 porsi Rp. 25.000,-. Tak selang lama setelah saya sampai rumah, adzan magrib berkumandang. Alhamdulillah, saatnya berbuka puasa.

Saya merasakan kebahagiaan yang tak terkira kitika menyantap hidangan bersama dengan keluarga. Kebahgiaan karena bisa berkumpul kembali dan lengap. Oh, keluarga. Kalian memang sumber kebahagiaan.

Senin kemarin satu kebahagiaan lagi saya rasakan. Mb’ Nur membelikan TV baru lengkap dengan digitalnya. Keinginan yang sering dicegah oleh Lik Nur. Alasannya, jika keluarga saya sudah punya tv pasti rumah lor (sebutan rumah lik Nur yang mbah putri tinggal disitu) sepi. Alasan berkunjung ke rumah lor untuk menonton tv mungkin sirna. Apalagi saya, kalau pulang pasti ke rumah lor. Maklum gak punya digitasl, chenel tv yang kami miliki hanyalah tvri. Setidaknya sekarang saya tak harus berebut remot atau kesal gara-gara program yang akan saya tonton gagal lantaran yang memegang remot adalah anak dari pemilik tv dan digital di rumah lor. Hehe


Pringamba, 14 Juli 2015 02:29 WIB
(Ber) Akhir

(Ber) Akhir

00:55:00 Add Comment
“Gmn si ya kak,aku nganggep jnengan ka”k aja... 10/07/2015 23:09:59”

Beberapa waktu lalu sejak pesan pendek terakhir itu kau kirim sebelum berangkat liburan dan berkumpul bersama keluarga, aku masih ragu dan bertanya-tanya. Benarkah semua itu? Hingga pesan pendek pun saya kirim untuk memastikannya.

Masih sama dan malah lebih terang. Jawaban yang kau kirim benar-benar membuat saya harus mengubur harapan yang selama ini terjaga. Harapan yang meskipun pada akhirnya hanyalah fatamorgana, cukuplah menjadikan diri saya mempunyai semangat. Kini, ketika saya tahu bahwa itu hanyalah fatamorgana, saya tak pernah menyesalinya. Saya malah banyak belajar. Belajar apa itu arti menerima. Belajar apa itu arti setia. Dan belajar tentang betapa pentingnya sebuah kejelasan hubungan.

Dulu ketika masih MTs, sayapun pernah merasakan tentang harapan yang pada akhirnya hanyalah fatamorgana, sama seperti yang sekarang saya alami. Hanya saja dulu memang saya tak pernah mengungkapankan apa yang saya rasa.

Ada banyak hal yang berubah darimu dan itu mutlak hakmu. Saya, tak punya kuasa apapun atas dirimu. Andaikan karena engkau telah bertemu dengan seseorang, itupun juga hak mu. Saya, lagi-lagi tak punya kuasa atas dirimu. Karena saya memang bukan siapa-siapa bagimu. Dan pesan pendek terakhir yang kau kirim cukuplah membuat saya untuk mengubur harapan yang selama ini saya jaga.

Kini saatnya membuka harapan baru. Cukuplah masa lalu menjadikan saya untuk memahami resiko apa yang akan saya terima. Ketika dulu saya bermain api tanpa memikirkan akibat panas yang akan saya terima, maka saat ini saya sudah cukup kuat untuk menerima resikonya. Hangat ataupun Panas.


Pringamba, 14 Juli 2015 00:48 WIB
Sahabat

Sahabat

08:57:00 Add Comment
Sahabat adalah aset berharga yang kita miliki. Ia menjadi teman belajar banyak hal, tentang kehidupan, cinta, pengalaman, suka duka, kegagalan, keberhasilan, senyum dan sebagainya. Mereka ada saat kita membutuhkan. Mereka akan menjadi tempat yang nyaman untuk berbagi cerita, menumpahkan segala yang kita rasa. Bisa dibilang mereka adalah keluarga kedua bagi kita. Ya, itu yang saya alami. Tak mungkin dong saya bercerita ngawur kepada orang tua tentang cinta monyet, tentang cemburu, tentang patah hati dan tentang kekesalan yang kita alami. Hahaha ... sebelum waktunya tiba urusan cinta masih menjadi rahasia untuk diketahui orang tua. Meskipun mereka menangkap gelagat kita, mereka mungkin hanya bisa menggelang kepala.

Di saat bersama mungkin kehadiran mereka (sahabat,red) biasa-biasa saja, namun disaat kita membutuhkan bantuan, semua berubah. Sahabat menjadi sesuatu yang istimewa dan mungkin dewa penyelamat. Sama seperti hari ini, saat hati ini sedang galau dilanda keresahan saya memutuskan untuk berbagi dengan sahabat semasa sekolah dulu. Banyak cerita dan hal lucu dalam percakapan itu, yang setidaknya bisa menjadi penawar kesepian. Walaupun menjadi pelampiasan kesepian (katanya .. Hahaha), tetapi saya menyadari bahwa sabahat adalah sesuatu yang istimewa.

Terima kasih telah berbagi cerita. J


Banjarnegara, 11 Juli 2015
Profesi

Profesi

07:33:00 Add Comment
Ramadhan #20 II Juli #7

Malam rabu kemarin saya menyempatkan diri untuk pulang ke rumah. Salah satu tujuannya adalah meminta amunisi, biasa anak rantau. Hehe. Dalam perjalanan pulang itu terpikir olehku tentang profesi, tentang pekerjaan apa yang harus saya pilih nantinya setelah lulus kuliah. Waktu itu saya berpikir bahwa saya tak mau pekerjaan yang monoton dan hanya berimabas pada keluarga saja. Petani, misal. Pekerjaan itu terlalu monoton dan efek kemanfaatannya hanya untuk keluarga. Dalam lingkup kecil dan pengamatan saya seperti itu, meskipun mungkin dalam lingkup yang lebih besar juga punya andil dalam meramaikan pasar. Manfaatkah..? Tentu manfaat.

Pemikiran itu semakin kuat ketika ba’da magrib saya pergi berobat ke polindes (piliklinik kesehatan desa). Kebetulan bidan yang namanya adalah Ulfiana ada. Saya tahu nama itu dari papan nama yang terpasang di depan pintu tralis yang dibawahnya tertulisan Bidan, Ada Tidak. Sehingga orang yang mau berobat akan tahu, kalau ada maka ada kalau tidak tulisannya tidak.

Saat ditensi darah saya 100. Masih tergolong rendah karena dalam kondisi normal tensi darah biasanya antara 120-140. Ah, biarlah yang penting saya tetap sehat. Aamiin. Melihat bidan muda yang sudah mempunyai satu anak dan kalau ditaksir umur mungkin 25 atau max 27 lah, terpikir olehku mengenai profesi yang ia jalani. Kemanafaatannya jelas, melantari kesembuhan orang yang berobat ke tempatnya. Kenapa melantari, karena sejatinya bukan ia yang mengobati tetapi Allahlah yang menyembuhkan hanya saja caranya lewat perantara bidan tersebut.

Sempat terpikir tentang guru. Bukankah itu manfaatnya langsung? Tetapi entahlah biar Allah yang menentukan jalan takdir terbaik bagi saya. Meskipun kalau boleh saya memilih, saya akan memilih pekerjaan yang sesuai passion saya. Pekerjaan yang nyaman dan bisa mengembangkan bakat yang saya miliki. Menjadi jurnalis. Itulah yang sering saya katakan kepada teman-teman saat berandai mau ngapa setelah lulus kuliah. Semoga bisa terwujud.

Banjarnegara, 9 Juli 2015 7:30 WIB
Distribusi Surat Laziznu

Distribusi Surat Laziznu

02:02:00 Add Comment
Ramadhan #21 II Juli #8

Hari ini saya berkesempatan untuk masuk ke sekolah-sekolah negeri di Banjarnegara. Bukan untuk sekolah karena tak mungkin donk saya kembali lagi ke masa SMA ataupun SMP. Masa dimana dulu saya masih kupel dan tentunya masih lugu. Masa dimana saya tak tahu apa-apa, mengikuti alur tanpa tahu dunia luar. Kegiatan sekolahpun monoton bahkan terkadang membosakan, tak ada estrakurikuler ataupun kegiatan yang menantang. Ah, masa lalu.

Menyesal. Tentu itu bukanlah kata yang tepat untuk mewakili perasaanku mengingat masa lalu. Walaupun mungkin sakarang baru terbesit seandainya dulu saya sekolah di tempat favorit dengan berbagai kegiatan yang bisa saya pilih. Kegiatan yang mungkin membuat saya lebih berani dan kritis. Benarkah demikian ? Hmm ... belum tentu juga sih. Namun, sayapun beruntung karena di tempat dulu saya sekolah saya medapat banyak pelajaran. Pelajaran yang mungkin tidak pernah didapat dari mereka yang sekolah di sekolah favorit. Toh semua sudah terjadi. So, masa lalu biarlah menjadi kenangan yang mendewasakan, sebagai pengalaman yang bisa menjadi bekal untuk menata masa depan yang lebih baik.

Kesempatan saya masuk ke beberapa sekolah di Banjarnegara adalah untuk mengantarkan surat Laziznu (Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama). Surat yang isinya proposal agar pihak sekolah mau mentasarufkan sebagian zakat yang terkumpul dari para siswa melalui Laziznu tersebut.

Ada 23 surat yang harus saya antar. Berangkat pukul 10 pagi karena saya harus membuat lembar disposisi yang intinya surat sudah masuk dengan bukti tanda tangan dari penerima surat (salah satu guru di sekolah yang saya kunjungi). Urutan sekolah yang saya kunjungi adalah pertama di SMP N 5 Banjarnegara. Berlanjut ke SMP N 2 Bna, SMK Panca Bakti, MTs N 2 Bna, SMP N 1 Bna, SMA N 1 Bna, MTs N 1 Bna, SMK N 1 Bawang, SMA N 1 Bawang, SMP N 1 Bawag, SMK N 2 Bawang, SMP N 1 Purwanagara, SMA N 1 Purwanegara, SMP N 3 Pwr-Klampok, SMA N 1 Pwrj-Klampok, SMP N 1 Prwj Klampok, SMK HKTI 1, dan SMK HKTI 2. Masih ada 3 surat yang belum yaitu SMA N 1 Sigaluh dan SMP N 1 Sigaluh. Sedankankan satunya adalah SMA N 1 Mandiraja, namun karena saya tak tahu sekolahnya, bairlah menjadi arsip saya. Dan untuk yang dua saya antar besok pagi.

Dalam proses distribusi surat tersebut saya mendapat satu ilmu baru. Ilmu tersebut adalah tentang ramah tamah ketika berhadapan denga orang lain. Betapa hati saya merasa senang dan lega ketika yang menerima dengan sikap yang ramah dihiasi senyum yang mengembang diwajahnya. Berbeda ketika yang saya temui memasang muka judes dan cuek. Terasa begitu menyebalkan.

Pengalaman diatas telah mengajarkan kepada saya tentang betapa pentingnya sikap ramah tamah kepada orang lain. Sikap yang membuat orang lain merasa dihargai dan tentunya bahagia. Semoga saya bisa menjadi orang yang ramah.


Banjarnegara, 9 Juli 2015 01:56 WIB
Kematian

Kematian

09:29:00 Add Comment
Ramadhan #19 II Juli #6

Hari senin lalu (6 Juli 2015) saya mendapat kabar duka. Tentang kematian Wa Tamid, saudara laki-laki dari Lik Tuwariyah dan Ibunya Pak Heri, teman saya di gedung hijau.

Kematian. Tak ada yang bisa menduga kapan ia datang, bagaimana caranyapun tak pernah ada yang bisa mengetahuinya. Ia bisa datang dengan tiba-tiba dan kepada siapapun. Yang telah sakit bertahun-tahun lamanya tiba-tiba sehat ataupun yang terlihat sehat kemudian tiba-tiba meninggalpun bisa terjadi.

Kematian adalah teka-teki yang tak bisa dirumuskan. Ia hak perogatif Allah dan mutlak urusan-Nya. Manusia tak ada yang bisa menolak ataupun memintanya, ketika waktunya tiba tak bisa diundur ataupun dipercepat. Umur tua bukan jaminan bahwa ia akan segera meninggal, umur muda juga bukan jaminan bahwa ia masih lama hidup di dunia. Sehingga yang harus dilakukan hanyalah waspada. Menyiapkan diri agar kapanpun ia datang, siap atau tidak siap, kita harus siap.

Senin sore, saya bersama dengan teman-teman ipnu berta’ziah ke tempat Pak Heri. Kematian ibunya membuat saya kaget. Pasalnya belum lama ini terakhir saya lihat ia masih begitu sehat. Kami turut berduka cita pak, semoga amal ibadahnya diterima dan segala dosa diampuni oleh Allah SWT. Aamiin.
Wa Tamid, saya tak sempat berta’ziah lantaran kabar kematiannya terlambat. Bukan terlambat sebenarnya, tetapi lebih tepatnya sudah terwakili oleh ibu dan bapak yang berta’ziah bersama rombongan keluarga yang lain. Keluarga saya dirumah tak mengabarinya sehingga ketika keluarga berombongan kesana saya tak tahu. Posisi saya yang sedang di Banjarpun tak memungkinkan untuk pulang karena sorenya saya punya acara. Hanya doa semoga amal ibadahmu diterima dan dosa-dosanya diampuni oleh Allah SWT. Aamiin.

Ba’da magrib saya menghadiri undangan tarling (terawih keliling) di Gembongan yang diadakan oleh Irmas (Ikatan Remaja Masjid) Kecamatan Sigaluh. Disana saya ditunjuk untuk menjadi MC. Ada rasa takut sebenarnya. Namun berbekal pengalaman dan sebagai ajang untuk melatih diri, saya menyanggupinya. Meskipun saya bisa saja menolak, tetapi yang saya pikir waktu itu adalah tentang kemanfaatan diri saya untuk orang disekitar. Walau beberapa kali saya tidak ikut tarling tetapi ketika saya ikut, saya punya andil di situ.

Selain tarling, agenda malam itu juga pengajian memperingati Nuzulul Qur’an dengan pembicara Bapak Kyai Saifurrahman, Kepala KAU Sigaluh sebeluh Pak Mukhijab yang sekarang. Beberapa point yang saya catat ketika mendengarkan cermah beliau adalah tentang waktu yang mustajab untuk berdoa di bulan ramadhan. Ada tiga waktu kata beliau, “Menjelang berbuka puasa, menjelang sahur (1/3 malam) dan di hari jum’at tepatnya ketika sholat jum’at diwaktu jeda antara dua khutbah”.

Point lain yang juga saya catat dari ceramah beliau adalah tentang 4 perkara yang harus disegerakan. Empat perkara itu adalah amal sosial, silaturahim, taubat dan membayar hutang. Salain empat itu saya juga mencatat tentang ibadah. Hanya saja saya bingung ketika ditambah ibadah maka bukan empat point tetapi lima. Biarlah, besok-besok saya akan cari haditsnya biar jelas dan lebih mantap.

Setelah selesai pengajian, para pengurus irmas berkumpul di tempat mas Husnan. Berembug tentang kegiatan selanjutnya yang waktu itu dibahas adalah mengenai halal bihahal. Saya hanya bisa mendengarkan karena saya tidak punya kepastian waktu mengingat kapasitas saya sebagai orang yang mempunyai tanggung jawab di ipnu. Biarlah, saya cukup belajar bagaimana cara mereka berembug dan nantinya bisa saya praktekan di ipnu ataupun ditempat manapun.

Jam setengah 12 baru selesai. Setelah itu saya pulang ke gedung hijau. Di tengah perjalanan motor saya tiba-tiba mogok. Kekahwatiran saya tentang kehabisan oli membuat saya mematikan mesinnya dan lebih memilih untuk mendorong. Ah, sial gerutuku waktu itu. Saya mendorngnya dari gembongan sampai Tekidadi. Alhamdulillah bengkel milik Pak Wahid masih buka. Rencana mendorong dari Sigaluh-Parakancanggah pun batal. Di sana saya meminta Pak Wahid untuk mengganti olinya. Selesai diganti olinya, ternyata yang membuat mogok adalah kran bensinnya ditutup. Mungkin ulah dari teman-teman irmas yang waktu berembug duduk-duduk di teras. Ah, sungguh mengerjai orang memang asyik tetapi mereka tak pernah berpikir akibatnya. Termasuk akibat yang saya terima malam itu.

Saya hanya bisa mengambil kesimpulan bahwa bolehlah bercanda dengan orang lain, tetapi bercandalah yang sewajar-wajarnya, jangan keterlaluan. Karena itu merugikan orang lain. Sama seperti ita tak ingin dirugikan, maka kitapun jangan merugikan orang lain.Jika kita tak mau makan nasi basi, maka jangan pula memberikan nasi basi kepada orang lain. Bercerminlah dengan diri sendiri, jika kita sakit ketika dipukul jangan pula kita memukul orang lain.

Pringamba, 8 Juli 2015 00:14 WIB


Nuzulul Qur’an

Nuzulul Qur’an

02:25:00 Add Comment
Ramadhan #18 II Juli#5

Malam ini (Minggu, 5 Juli 2015) saya berkesempatan mendengarkan ceramah dari Gus Muafiq secara langsung. Nama yang sudah sering saya dengar, baik dari teman-teman ataupun orang-orang yang menuliskan namanya dalam akun sosmednya. Pun dengan wajahnya, saya sudah cukup akrab mengenalnya lewat internet. Baik itu dari youtobe maupun foto beliau yang di uploud. Namun baru kali ini saya mendengar dan melihatnya secara langsung dalam acara pengajian peringatan Nuzulul Qur’an di Pendopo Kabupaten Banjarnegara. Acara yang diselenggarakan oleh Panitia Pengajian Umum (PPU) Kab. Banjarnegara.

Beliau mengawali ceramahnya dengan menguraikan tentang nikah. Syariat zaman dulu (kuno). Syariat yang diajarkan oleh Allah kepada Nabi Adam dan Siti Hawa. Sehingga seluruh dunia tahu apa itu nikah. Karena umurnya sudah bertahun-tahun lalu, maka bentuk dan carapun berbeda-beda.

Setelah itu beliau menguraikan tentang puasa. Sama seperti nikah, puasa juga termasuk syariat kuno yang telah diajarkan oleh Allah kepada Nabi Adam sampai nabi Muhammad. Nabi Adam diperintahkan oleh Allah untuk puasa 3 hari per bulan dengan membaca “Robbalan dzolamna angfusana wa illam taghfirlana watarhamna lanakuunanna minal khosirin”, sehingga beliau terlindungi dari godaan iblis. Nabi daud puasa satu hari buka satu hari puasa. Nabi Isya, Nabi Musa dan nabi-nabi lain juga diperintahkan berpuasa (bagaimana puasanya silahkan cari tahu sendiri .. hehe). Dan terakhir nabi Muhammad puasa selama satu bulan di bulan Ramadhan.

Tahukah kalian bahwa puasa adalah kebiasaan orang-orang hebat. Nabi sebelum mendapatkan wahyu juga tirakat selama 15 tahun naik turun gua Ghiro. Syaikh Abdul Qadir Jailani sebelum sampai kepada ma’rifat juga berpuasa selama 25 tahun di padang pasir. Syaikh Syadzilipun sama sebelum ma’arifat juga berpuasa selama 20 tahun. Bahkan salah satu Ulama Jawa sebelum ia terkenal karena ilmunya juga tirakat selama 3 tahun. Ia adalah Sunan Kalijaga, mantan perambok ulung yang mempunyai nama asli Raden Syahid.

Saat ini kehidupan banyak yang telah berubah tidak seperti dulu. Jika dulu banyak orang yang sakti atau setidaknya mempunyai kelebihan-kelebihan tetapi sekarang sudah jarang. Itu tidak lain karena zaman dahulu orang-orang banyak yang melakukan laku tirakat. Bangun malam, puasa mutih (khusus makan makanan yang tak bernyawa), puasa ngerowot (makan nasi tiwul yang terbuat dari ketela) dan sebagainya. Tetapi sekarang banyak yang telah meninggalkannya atau bahkan tidak mengenalnya.

Tentang Al-Qur’an beliau menyebutkan bahwa sekarang banyak orang yang membaca Al-Qur’an bukan sebagai Firman Allah, namun sebagai pengetahuan manusia. Sehingga yang muncul hanyalah perdebatan masalah bid’ah, tentang sholawat, tahlil dan sebagainya. Ia pun menceritakan tentang keajaiban kitab yang diturunkan oleh Allah kepda rasulnya jika benar-benar diamalkan isinya. Kitab Taurat yang diturunkan kepada nabi Musa adalah kitab yang berisi ajaran untuk bisa melawan Qorun. Tentang sihir dan sebagainya. Kitab Injil kepada nabi Isya juga sama. Isinya adalah membekali nabi Isya untuk menghadapi kaumnya yang waktu itu banyak yang sakit, maka nabi isya bisa menyembuhkan penyakit kaumnya. Bisa menghidupkan orang yang sudah mati dan sebagainya.

“Ihdinasshirootol mustaqiim. Shirootol Ladzina an’amta ‘alaihim .....”

Beliau mengutip salah satu ayat al-fatihah yang berisi tentang jalan lurus. Dan jalan lurus itu adalah mengikuti orang yang telah diberi kenikmatan oleh Allah. Maksud beliau adalah masa sekarang itu tidak lepas dari masa lalu. Sehingga jangan sesekali melupakan sejarah.

Pesan itu beliau sampaikan ketika menguraikan tentang Al-Qur’an. Bahwa nabi mengajarkan kepada sahabatnya secara utuh seperti yang ia peroleh dari malaikat jibril. Ketika beliau meninggal, maka tugas menyampaikan Al-Qur’an dipegang oleh para sahabat. Dari para sahabat di sampaikan oleh para tabi’in, kemudian tabi’ tabi’in dan seterusnya sampai ke kita hari ini. Dalam proses penyampaian itu tidak lepas dari masalah teknis terkait dulu al-qur’an itu masih berserakan sehingga dikumpulkan dalam bentuk mushaf pada zaman Usman bin Affan. Kemudian masalah al-qur’an yang dulu tanpa harakat dan titik sehingga dilengkapi oleh Abul Aswad Ad-Duali. Masalah tajwid dan sebagainya muncul belakangan. Sehingga untuk pada sirotol mustaqim atau jalan yang lurus, maka kitapun harus mengikuti orang-orang yang telah diberi kenikmatan mengetahui jalan lurus tersebut.

Terkait masalah jangan melupakan sejarah, saya cukup tersentuh untuk mengingat-ngingat kembali orang-orang yang telah berjasa mendidik dan menjadikan saya seperti sekarang ini. Orang tua dan guru, baik itu guru sekolah ataupun guru ngaji. Karena tanpa mereka kita tak mungkin bisa apa-apa.

Banjarnegara, 6 Juli 2015 02:18 WIB

*Semakin lama saya semakin sadar bahwa menuliskan gagasan bukanlah hal yang mudah. Meskipun kita paham, tetapi menuliskan dengan bahasa sederhana agar mudah dibaca dan mungkin memberi kemudahan pemahaman orang lain butuh latihan. Karena belum tentu yang kita pahami bisa dipahami oeh orang lain. So, latihan terus. Membaca membaca membaca dan menulis menulis dan menulis.  

Akhir Semester VI

02:18:00 Add Comment
Ramadhan #17 II Juli #4

Lagi-lagi saya tak sempet sahur. Saya terbangun ketika waktu telah menunjukan pukul 04.15 WIB yang artinya waktu imsak tinggal beberapa menit lagi. Padahal alarm hp telah saya aktifkan pukul 03.00 WIB. Mungkin karena saya tidur sudah pukul 12 malam sehingga sulit bangun seperti pengalaman-pengalaman sebelumnya, ketika tidur pukul 12 keatas bangun malam begitu sulit. Berbeda ketika tidur sebelum pukul 12 malam, kemungkinan bangun malam bisa terjadi. So, kalau ingin bangun malam maka tidurlah sebelum jam 12. Sebuah pesan yang saya tangkap dari pengalaman sebelumnya.

Mengetahui bahwa tak ada kesempatan untuk sahur maka saya tak segera bangkit bahkan terlelap kembali. Tahu-tahu waktu telah menunjukan pukul 06.10 WIB ketika saya terbangun kembali. #grubak. Kekagetan itu membuat saya segera bangkit menuju kamar mandi untuk wudlu guna memenuhi persyaratan sebelum saya sholat shubuh.

Hari ini adalah hari terakhir Ujian Semester VI dengan makul Sistem Evaluasi Pedidikan dan Management pendidikan. Ah, tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Semester depan saya sudah memasuki semester 7 yang artinya satu tahun lagi saya selesai, insya allah. Do’akan ya semoga Allah melencarkannya. Aamiin. 
Berpose sebelum ujian .. He (Dokpri)

Ada sebebuah kegelisahan yang menyeruak kedalam relung hatiku. Kegelisahan akan bayangan mau apa saya setelah lulus. Kerja ataukah melanjutkan S2. Ataukah memfokuskan kembali pada proyek hafalan Al-Qur’an yang selama ini terabaikan. Hmm ... Belum ada planning yang jelas. Haruskah saya mengikuti arus takdir saja. Membiarkan waktu yang menjawabnya. Entahlah. Saya hanya bisa berharap bahwa yang saya lakukan adalah yang terbaik. Bisa membahagiakan kedua orang tua dan orang-orang yang menaruh harapan pada saya. Karena merekalah sumber pijakan yang selama ini saya perjuangkan. Memperjuangkan apa yang telah mereka korbankan agar tak sia-sia.

Ujian terakhir ini cukup membuat saya bahagia. Terutama ketika ujian lisan makul Menegemen Pendidikan oleh Pak Ali Mu’tafi. Apa yang saya pelajari pada malam hari sebelum tidur tidak sia-sia. Beberapa pertanyaan yang diajukan oleh Pak Ali saya bisa menjawabnya dengan memuaskan. Meskipun maju pertama saya cukup siap dan menjawab pertanyaan dengan lancar. Dan beruntung karena maju pertama, saya dan empat teman (Ayu Maslahah, Dwi Prihatini, Tohirin dan Restu) tidak perlu merasa bosan lantaran antri menunggu giliran maju ujian seperti teman-teman saya yang lain. Saat yang lain masih antri menunggu giliran bahkan ada yang jam 4 sore baru selesai setelah menunggu dari jam 10 pagi, saya bisa bersantai-santai di rumah Restu. Bercerita masalah katifitas sehari-hari, masalah cewek, masalah harapan kedepan dan terakhir santai bermain PS. Haha .. sebuah keuntungan maju pertama. Dan yang lebih membahagiankan lagi nilai saya cukup tinggi daripada teman-teman yang lain, yaitu 86,5. Sebuah nilai yang saya dapat karena memilih 5 pertanyaan yang mempunyai bobot 20 poin. 
Foto Saat Ujian Lisan (Dari kiri: Saya, Restu, Tohirin, Dwi P, Ayu Maslahah dan Pak Ali Mu'tafi)

Selesai ujian saya tak segera pulang ke Banjar karena sora harinya ada agenda buka bersama dengan teman-teman kelas. Awalnya saya akan menghabiskan waktu dengan pergi ke perpusda, namun karena belum jelas juga akhirnya menerima tawaran Restu untuk pergi ke rumahnya. Disanalah saya menghabisakan waktu menunggu sampai waktu magrib tiba. Waktu yang ditunggu teman-teman untuk buka bersama. Sebuah kegiatan sebagai penutup kebersamaan di semester 6. Sungguh mengasyikan.


Purbalingga, 5 Juli 2015 02:05 WIB