Wisata Religi dan Tadabur Alam

14:47:00 Mad Solihin 0 Comments

Selasa kemarin (02 Juni 2015) saya berkesempatan untuk mengikuti acara wisata religi dan tadabur alam bersama teman-teman dari BEM FITK UNSIQ Periode 2015. Ini adalah agenda terakhir sebelum kami MUSMA dan mengakhiri masa jabatan sebagai pengurus BEM FITK UNSIQ Periode 2015. Tujuan wisata religi (ziarah) kami adalah ke Makam Mbah Dalhar dan Raden Santri di Watucongol Muntilan Magelang. Setelah itu kami menghabiskan waktu untuk tadabur alam di Pantai Indrayanti dan Malioboro.
***
Di antara teman-teman yang ikut, mungkin saya adalah orang yang harus berjuang keras terlebih dahulu. Pasalnya, saya berangkat dari Banjarnegara dan harus sampai di Kampus jam 6 pagi. Sedangkan yang lain walau ada yang bukan asli Wonosobo namun berdomisili di Wonosobo sehingga lebih santai.
Awalnya ada keraguan untuk ikut karena kendala finansial. Namun setelah di pikir-pikir kembali, acara ini adalah moment yang menurut saya sangat berharga. Selain untuk menjalin kebersamaan juga sebagai salah satu ajang untuk menghibur diri, setidaknya meremajakan tubuh dengan kesenangan. Karena disadari atau tidak, tubuh kita juga butuh hiburan dan butuh refresing. Terkait dengan finansial, saya berpikir bahwa itu bisa dicari dan saya yakin pasti ada cara. Namun, untuk bisa pergi bersama, jarang ada kesempatan karena setiap orang punya kesibukan masing-masing. Dan ini adalah agenda terakhir BEM yang tahun depan tidak mungkin ada, kalaupun ada saya sudah tidak ikut di kepengurusan karena sudah semester tua.
Saya berangkat dari Banjarnegara pukul setengah 6 dan sampai di kampus pukul 6. Masih sepi dan ketika saya tanya sama Lutfhi, katanya sedang OTW bersama supir mobilnya. Biasa, setiap orang punya kesibukan dan pemikiran berbeda-beda sehingga ketika jadwal berangkat pukul 6 harus mulur sampai jam 7. Nunggu ini dan itu. Dan sepertinya sudah menjadi ciri khas umum, bahwa setiap acara pasti ngaret. Seolah budaya disipilin itu wagu dan tidak lazim. Lihat saja, setiap acara yang ada di kebanyakan masyarakat kita pasti banyak molornya.
Cus .. berangkat juga akhirnya. Lutfhi, Restu, Tohirin, Arif, Irsyad, Faizin, Fahrul, Naya, Deska, Nurul, Hima, Umi dan saya. Itulah pengurus yang ikut dalam kegiatan kali ini. Dari sekian banyak pengurus, hanya 12 yang ikut. Dan tentunya bisa di ambil pelajaran, ketika kegiatan berharap semua ikut maka yang ada kegiatan itu yang gagal, so apapun kegiatannya dan siapapun orangnya walau jumlah tidak sesuai yang kita inginkan, terus saja maju. Jangan terpengaruh dengan jumlah, yang penting kegiatan terlaksana. 
Dok. Pribadi 
Sebagaimana rencana awal, agenda yang pertama adalah ziarah di Watucongol. Ke makam Mbah Dalhar dan Raden Santri. Sebenarnya banyak ulama di situ, namun hanya itu yang saya hafal. Maklum jarang berkesempatan ziarah, kalaupun ziarah ikut-ikutan rombongan sehingga tidak terlalu menghafalkan namaya. Hehe. Di sana, sekitar pukul setengah 10 pagi. Selesai ziarah dan sarapan pagi, kami langsung ke Gunungkidul, tepatnya ke Pantai Indrayanti.
Foto Setelah Ziaroh (Dokpri)
Karena di beberapa titik ada perbaikan jalan, maka kemacetanpun tak bisa dihindari. Kesempatan di perjalanan saya gunakan untuk membaca buku tentang Gajah Mada, karena dasarnya saya adalah orang pendiam maka buku menjadi teman yang sangat mengerti. Sampai di Pantai Indrayati sekitar dhuhur. Di dalam hati saya membatin, sampai juga saya di Pantai Indrayanti. Tidak hanya mendengar dongeng keindahannya saja, tetapi kali ini saya biasa merasakan keindahan pemandangan alamnya. Birunya air laut, cerahnya langit biru, lembutnya pasir pantai, sejuknya angin laut dan asinnya air laut. Ada kepuasaan tersendiri rasanya. Mungkin karena dari dulu jarang piknik, jadi sekali punya kesempatan rasanya senangnya bukan main. Maklum, keadaan keluarga yang memang kurang mendukung. Tapi itu bukan alasan sebenarnya, karena sekarang saya bisa menikmati keindahan Indonesia. 











Setelah agak lama foto-foto, gaya ini gaya itu, pindah tempat sana sini, tenggorokan terasa kering. Maka, bersama dengan Restu dan Tohirin, saya mampir warung dan menikmati segarnya es kelapa muda. Hmm ... seger. Setelah itu, karena waktu semakin sore akhirnya kami memutuskan untuk mencukupkan diri menikmati keindahan pantai Indrayati. Dan tujuan kami selanjutnya adalah mampir di Malioboro. 
Menikmati Es Kelapa Muda

Setengah lima kami mampir di POM Bensin untuk sholat Jama’ Takhir Dhuhur dan Asar. Setelah itu mancari warung untuk mengganjal perut. Dan setelah dirasa cukup, kami melanjutkan perjalanan menuju Maliboro. Saat sampai di Malioboro, waktu masih menunjukan pukul 19.30 dan kesepatakan jalan-jalan dibatasi dan berkumpul kembali pukul 21.00 WIB. Dari sekian banyak teman, semua berpencar sendiri-sendiri. Saya, bersama dengan Tohirin dan Restu jalan dulu. Tujuan saya adalah untuk mencari batik. Sampai di toko batik, ternyata Tohirin dan Restu juga ikut membeli. Di toko pertama, belum ada yang cocok karena yang saya cari ukurannya tidak pas. Maka kami pergi mencari ke toko yang lain. Di toko kedua inilah apa yang saya cari tersedia. Batik coklat, kalem dan semoga ia menyukainya. Hanya saja ukurannya yang tinggal L. Tidak ada yang M. Tapi, biarlah toh juga bisa dikecilkan.
Tak terasa, hampir dua jam setengah kami keliling dan mondar-mandir. Dan saatnya ke mobil. Sampai mobil, ternyata masih sepi dan belum ada yang kembali. Baru setelah beberapa menit, Umi, Nurul dan Naya datang. Sambil menunggu yang lain, saya gunakan untuk mengirim foto-foto dari hpnya Restu. Dan memang dasar suka narsis, Restu mengajakku untuk memfotokan di depan kereta. Heleh, jadi ikut-ikutan juga ternyata. 

Jam setengah 10 kami pulang. Dalam perjalanan pulang itu, saya gunakan untuk tidur. Terbangun ketika sudah sampai Sepuran. Dan sekitar jam 12 kami sampai di depan kampus tarbiyah. Awalnya saya akan menginap di BEM, namun atas saran Arif dan Restu, saya ahirnya menginap di camp PMII Komsat. Dan karena di mobil sudah tidur, akhirnya ketika di camp sudah tidak ngantuk lagi. Dan sampai jam 3 baru tidur setelah mengcopy film Marmut Merah Jambu dan Jika Tuhan Mencintai Hambanya.

Banjarnegara, 3 Juni 2015

You Might Also Like

0 comments: