Turun Lagi

8:27:00 AM Mad Solihin 0 Comments

Kamis lalu saya sempatkan untuk pulang ke rumah. Berharap di jum’at pagi saya bisa ikut ziarah ke makam mbah kakung. Tradisi yang telah keluarga kami lakukan mulai setahun lalu setelah mbah kami meninggal.

Setengah 6 sore saya sampai di rumah. Di halaman rumah, saya dapati buah salak berserak yang menandakan bahwa orang tua saya baru saja panen. Namun ada kegelisahan ketika saya menemui bapak yang waktu itu sedang duduk di ruang tamu. Kegelisahan itu tergambar dari raut wajahnya. Kegelisahan karena harga salak yang baru-baru ini sudah naik sampai tiga ribu lebih, ternyata harus turun lagi. Katanya, harganya dua ribu rupiah. Belum lagi para tengkulak yang biasanya membeli salak dari petani saat ini banyak yang sedang libur alias berhenti.

Prihatin. Itulah yang ada dalam benak saya. Pasalnya, buah salak adalah sumber penghidupan bagi keluarga kami, bahkan bagi mayoritas masyarakat di desa kami. Padahal hasil panen hanya sekitar 2 kwintal, itu pun masih kotor belum di potong dengan berat keranjang dan tetek bengek lainnya. Jadi kalau menerima uang hanya sekitar 400 ribu rupiah dan itu harus dipotong dengan berat keranjang seperti keterangan diatas. Rasanya uang segitu hanya habis untuk nyerutang dan membeli keperluan masak.

Bersyukur. Itulah yang harus keluarga kami lakukan. Bagaimanapun itu juga bagian dari skenario Tuhan. Toh juga selama ini saya hasil panen yang keluarga kami dapatkan selalu kurang. Tapi semua itu cukup. Masih bisa untuk bertahan hidup dan melenggang seperti orang lain.

Masalah rezeki, Allah Maha Adil. Dia memberikan sesuai kebutuhan hidup hamba-Nya. Bahkan ketika di renungkan dan hitung-hitung pemasukan itu lebih sedikit di banding pengeluran, dan itu selalu cukup.
Banjarnegara, 27 Juni 2015


You Might Also Like

0 comments: