Terawih

1:45:00 AM Mad Solihin 0 Comments

Saya lebih suka menulis hal sepele yang saya alami daripada tugas kuliah ataupun tulisan-tulisan lain yang sebenarnya menuntut untuk segera diselesaikan. Walaupun saya sadar resiko yang akan terjadi. Bingung dan klabakan. Begitulah biasanya. Sehingga sistem kebut semalam menjadi hal yang sering saya lakukan ketika waktu benar-benar mepet. Atau kalau teman-teman sering menyebutnya dengan “The Power of Kepepet”. Tapi biarlah, saya menikmatinya. Setidaknya, ini adalah tulisan yang membuat saya lebih ikhlas. Bukan karena iming-iming nilai ataupun sekedar memenuhi tuntutan tugas.

Malam ini adalah malam ke 8 puasa. Artinya 8 malam pula setelah isya kaum muslim menjalankan sholat terawih. Tapi, berbeda dengan yang saya alami. Sudah 2 malam aku lewatkan tanpa sholat terawih. Alasannya, karena saya tak ada teman untuk berjamaah. Alasan yang naif mungkin. Karena tanpa jamaahpun sebenarnya bisa, tetapi dasar penyakit malas telah menjangkiti sehingga saya kalah.

Hidup di alam bebas. Itulah yang saya jalani saat ini. Bermalam di sebuag gedung berlantai 3, gedung pcnu namanya. Disinilah saya sering menghabiskan malam. Layaknya kost, bebas sebebasnya. Tak ada yang komentar ketika tidak sholat, tidak ada yang memarahi ketika tidak terawih dan tidak ada yang membangunkan ketika sahur. Betul-betul mandiri. Tak ada makan ketika tidak keluar untuk mencari makan. Sebuah pembelajaran yang membutuhkan menajemen diri. Ya, kesadaran dirilah yang berfungsi.

Berbeda dengan malam ini. Saya keluar dari zona nyaman untuk berdiam diri di gedung lantai 3. Yang biasanya tidak terawih dan mugkin asyik dengan netbuk dan internet, setelah adzan isya terdengar, saya mencoba mencari mushola yang jaraknya tidak terlalu jauh. Motif saya satu, biar bisa tetap sholat terawih karena jika berdiam diri di gedung sudah dipastikan saya tidak akan sholat terawih. Paling sholat isya.

Agak kaget manakala di sebuah mushola, imamnya begitu pelan dan dengan surat panjang-panjang. Untuk dua rokaat butuh waktu 5 menit. Wah, pegel deh. Namun, sayapun mengira-ngira bahwa bukan 20 jumlah rakaatnya melainkan 8 rakaat. Dan ternyata benar, 8 rakaat. Dan ini pengalaman pertama di bulan ramadhan ini terawih dengan 8 rakaat karena biasanya ikut yang 20 rakaat. Tapi itu bukanlah masalah bagiku, bukankah perbedaan itu rahmat.

Berbeda ketika di rumah, saya lebih mudah untuk menjalankan sholat terawih karena bisa jamaah di masjid. Sahur atau buka, makanan sudah tersedia. Kalaupun sholat telat, ada yang mengingatkan.


Banjarnegara, 25 Juni 2015. 01:42 WIB

You Might Also Like

0 comments: