Sebuah Jawaban

03:59:00 Mad Solihin 0 Comments

Sore ini aku memutuskan untuk menuliskan kembali apa yang telah berlalu, tentang sebuah kata yang aku susun untuknya. Seseorang yang istimewa dan akhir-akhir lalu membuatku merasa bagai orang yang paling beruntung bisa dekat dengannya. Karena selain parasnya yang cantik, akhlaknya juga cantik. Atau orang sering menyebutnya dengan ungkapan inner beuty, cantik dari dalam.

Akan tetapi dekat dengannya juga perlu kesabaran, karena ia susah di tebak dan memegang teguh prinsip. Dan tahukah kalian, selama dekat dengannya belum pernah aku menyentuh kulitnya. Selama kurang lebih hampir dua tahun, selama itu pula aku hanya komunikasi lewat hp –sms atau telfon-. Pernah kami bertemu, dan berbeda dengan kebanyakan ramaja sekarang yang bisa kapan saja janjian dan dengan mudah bertemu, kencan berdua. Ia tak pernah mau mau melakukan itu, ketika kami bertemu ada dua cewek yang menemaninya. Dan yang begitu aneh adalah ketika di warung memesan mia ayam, ia duduk menjauh atau lebih tepatnya menjaga jarak. Ah, sungguh hal yang langka.

Pun demikian dengan komunikasi, karena ia berada di pondok maka komunikasi kami hanya ketika ia pulang saja. Kalaupun punya kesempatan, paling lewat fb dan itupun memanfaatkan jam pelajaran praktik komputer.

Sebagaimana lazimnya di pondok, kegiatan mengaji harian akan di tutup dulu manakala memasuki bulan Ramadhan. Bukan berhenti, tetapi diganti dengan mengaji kitab-kitab tertentu yang target dalam satu bulan selesai. Dan kesempatan ini, ia gunakan untuk pulang dan akan menjalankan puasa bersama dengan orang tuanya.

Kesempatan ini pulalah yang membuat aku bisa berkomunikasi dengannya. Namun, ada sesuatu yang berubah menurutku. Sifat dan gaya komunikasi sms nya sedikit acuh. Dan yang yang membuatku kaget adalah ketika ia menyangka aku dekat dengan orang Wonosobo. Dapat gosip dari siapa? Kok bisa berperasangka seperti itu. Dan ketika ku konfirmasi, ia menjawab yang salah satu isinya adalah ungkapan “Hanya adik”. Ungkapan inilah yang membuatku gelisah dan memunculkan banyak tanda tanya.

Maka pada sore itu, 14 Juni 2015 aku merangkai kata yang akan aku selipkan bersamaan dengan hadiah yang telah aku beli. Sebuah tulisan semacam surat yang isinya pertanyaan dan kejelasan tentang aku ia anggap apa selama ini. Aku sengaja menulisnya untuk memastikan bahwa aku tak ingin mengambang. Setidaknya aku akan lega apapun jawabannya.
***
To : Sumber Semangatku

Assalamu’alaikum wr wb . (saya menuliskan dengan tulisan arab)

Gimana kabarnya dek? Semoga selalu dalam lindungan-Nya. Dalam keadaan sehat dan selalu ceria. Aamiin.

Hmmm .... Lama juga tangan ini tak merangkai kata untuk seorang gadis dan tentunya seseorang itu adalah orang yang istimewa dalam hidupku.Lewat tulisan ini aku hanya ingin menyampaikan bahwa aku merindukanmu. Ya, rindu yang selam ini terkadang terobati oleh balasan pesan inbox di fb. Percayakah engkau bahwa aku bisa tersenyum sendiri ketika tanpa sengaja aku buka fb dan ku dapati engkau yang sedang online. Ah, rasanya ada kebahagiaan tersendiri.

O ya, kemarin engkau singgung bahwa aku sudah dengan orang Wonosobo. Kalau boleh tahu, dari mana engkau dapatkan informasi itu? Siapa yang mengatakannya? Dan percayakah engkau, wahai putri yang selalu ceria?

Tentang adik-kakak yang selama ini begitu akrab kita pakai dalam tegur sapa. Bolehkah aku tahu apa penafsiranmu? Jika engkau menganggap bahwa itu “hanya” dan tidak lebih tidak kurang, maka maafkanlah jika selama ini aku terlalu berlebihan.

Kalau boleh jujur dan mungkin berkali-kali aku katakan, aku ingin yang lebih dari sekedar itu. Entah engkau menganggap bahwa kata-kataku hanya sekedar gurauan.
Namun, aku akan kembalikan penafsiran itu padamu dek. Mengembalikan segala keputusan yang terbaik menurut mu. Dan ketika penafsiranmu berbeda denganku, anggap saja aku angin lalu.

Bertemu. Melihat langsung wajahmu. Kenapa begitu sulit. Ada apa gerangan. Tidakkah Tuhan mengijinkannya. Atau haruskah aku menunggu sampai Allah meridhoinya.Atau adakah ditempat barumu, sosok yang lebih bijaksana yang jikalu saja seseorang bidadari melihatnya, ia tak kuasa mengerjapkan matanya?

Ya, Allah bolehkah aku memohon pada-Mu?Berilah kesehatan dan kemudahan kepada orang yang membaca tulisan ini. Berilah ia kekuatan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaanku.

“Dek aku mencintaimu. Lebih dari sekedar adik-kakak. Adakah engaku mempunyai perasaan yang sama denganku?”

Jika kata-kataku yang lalu adalah gurauan dan mungkin engkau anggap lelucon. Maka lewat tulisan ini aku ingin menegaskan bahwa “aku serius”.

Wassalamu’alaikum wr wb.  (saya menuliskan dengan tulisan arab)

Yang menanti jawabanmu

14 Juni 2015

Ditandatangani

(Mad Solihin)
***
Setelah itu aku selipkan pada lipatan hadiah yang akan aku berikan padanya. Ku bungkus dengan kertas kado. Laiknya ulang tahun, meskipun membungkusnyapun tidak rapi. Maklum itu bukan keahlianku. He

Hadiah itu aku berikan kepadanya di pagi hari (15 Juni 2015) sebelum aku berangkat ke Semarang. Dan tahukah kalian bahwa untuk bertemu walau hanya sebentar, aku membutuhkan berkali-kali untuk meyakinkan dan mengiyakan. Sifat pemalunya begitu luar biasa jika dalam hal yang seperti ini.

Hanya beberapa menit kami bertemu. Setelah ku berikan hadiahnya aku segera pamit. Karena tidak enak dengan orang-orang desa yang lewat.

Tambah dewasa. Itulah prasangkaku ketika melihatnya. Dan ini adalah perjumpaan pertama setelah 1 tahun yang lalu aku melihatnya, tepatnya ketika aku berkunjung ke rumah mbahnya sewaktu lebaran.

Dalam perjalanan ke Semarang. Hp ku bergetar dan ketika ku lihat ia mengrimkan sms. Sms yang membuat harapanku pupus. Dan baru ku tahu bahwa selama ini aku hanya bergurau. Apa yang ku ucapkan dan ia tanggapi, itu semua hanya lelucon belaka. Dan dalam tulisan sebelumnya, aku menyebutnya sebagai fatamorgana.
***
Aku gk tau mau jawab apa :

1.      Mksh
2.      Aku gk tau hrus mnjwb apa dari isi surat itu
3.      Slma ini aku nganggep ka”k yg slalu mnjdi motivator q
4.      Aku mohon untuk jnengan untuk tidak menyakiti diri sendiri karna hanya menunggu & menunggu
5.      Aku juga tidak tau takdir berkata apa nantinya
6.      Tapi untuk sekarang aku belum bisa menaruh hati untuk siapapun, sekali lagi maaf
Aku sering berkata kepada mereka & mereka, aku ya aku, jgn smakan aku dengan orang lain, aku menjaga prinsipku dan aku tidak ingin menyakiti kalian ... ini aku kak ..............*
***
Jawaban itu membuatku harus berpikir ulang. Apa sebenarnya yang terjadi. Benarkah ia tak mempunyai perasaan apapun terhadapku?

Biarlah. Yang jelas aku sudah mengungkapkan apa yang aku rasa. Setidaknya aku telah memberanikan diri untuk tidak menyakiti diri sendiri dalam ketidakpastian. Pengalaman sebelumnya, ketssika waktu itu aku pernah memendam perasaan kepada teman sekelas namun itu hanya aku simpan dalam hati. Tak pernah aku ungkapkan. Hingga ketika aku tahu bahwa ia berhubungan dengan teman dekatku, aku baru menyadarinya. Dan itu terlalu menyakitkan.

Terima kasih dek atas jawabannya. Meskipun aku bukanlah siapa-siapa bagimu, aku bangga padamu. Bangga karena engkau begitu teguh memegang prinsipmu. Jika Tuhan berkehendak, semoga aku bisa memilkimu atau setidaknya lebih baik lagi.

Banjarnegara, 16 Juni 2015

You Might Also Like

0 comments: