Merokok

16:11:00 Mad Solihin 0 Comments

Keputusan itu sepenuhnya ada di tanganku. Tak ada larangan seperti dulu ketika aku masih SD. Itulah yang aku lihat dari sikap ayahku. Sosok yang selama ini aku segani, sosok yang selama ini aku takdzimi dan sosok yang selama ini mendukungku.

Hari ini selepas aku sholat magrib aku keluar dari kamar dengan membawa satu batang rokok LA. Aku lihat ayahku sedang “ngelinting” di ruang tamu. Aku duduk di bangku tepat di depannya. Memang aku sengaja untuk merokok di hadapannya. Walau aku sebenarnya rikuh untuk menunjukannya. Untuk menyalakannya, aku harus memain-mainkannya terlebih dahulu. Sambil bertanya tentang Yusron, saudara sepupuku apakah benar di Kalimantan? Pertanyaan untuk sekedar basa-basi. Hingga akhirnya rokok yang ada di tanganpun aku nyalakan.

Tak ada reaksi. Diam tanpa kata. Tak ada tanggapan. Walau mungkin dalam hati bertanya-tanya, kenapa anaknya merokok. Ah, benarkah engkau tidak melarangku lagi.

Sudah besar. Sudah bisa berpikir. Mungkin itulah yang ada dipikirannya. Iapun sekarang lebih membiarkan segala keputusan ada ditanganku. Bahkan ketika di rumah, iapun tidak pernah menyuruhku untuk ke kebun. Meskipun banyak kerjaan yang harus dikerjakan. Ia lebih membiarkanku untuk tidur. Ya, aku lebih banyak tidur dan menganggur ketika di rumah. Dan semua itu, tak membuat ayahku lantas menyuruhku ini dan itu. Hanya, perasaan malu sebenarnya muncul dalam diriku.

Terima kasih ayah. Engkau telah mendidik dan mengajariku banyak hal. Semoga anakmu ini tak mengecewakanmu.

Tok tok tok dung dung dung. Bedug masjid terdengar dipukul. Lantunan adzan isyapun dikumandangkan. Sebuah panggilan untuk manusia agar segera ke masjid guna menunaikan sholat isya dan terawih yang ke dua kalinya.

Pringamba (Sigaluh, Banjarnegara), 18 Juni 2015

You Might Also Like

0 comments: