Memaksa

01:41:00 Mad Solihin 0 Comments

Memaksa. Mungkin itulah yang harus saya lakukan. Memaksa diri sendiri untuk melakukan sesuatu yang baik. Memaksa diri untuk istiqomah dalam kebaikan. Memaksa diri untuk menaklukan kemalasan. Termasuk memaksa diri untuk menulis tulisan ini. Menekan tombol netbuk satu persatu. Meskipun hawa malas sebenarnya begitu kuat menyelimuti diri ini.

Pagi tadi sehabis sahur saya tak sengaja ketiduran dan terbangun ketika langit sudah cukup cerah. Rencana pulang sehabis shubuhpun batal. Saya pulang pukul 06.15 WIB dari Ungaran. Sekitar pukul 09.00 WIB saya sudah sampai di Banjarnegara. Waktu 3 jam, waktu yang saya butuhkan untuk perjalanan Ungaran-Banjarnegara.

Tak ada agenda pagi tadi. Saya habiskan waktu membaca buku novel “Dalam Harmoni ?”. Novel yang saya pinjam sudah satu minggu lebih dan belum juga selesai membcanya. Sebenarnya untuk urusan membaca buku saya bisa menyelesaikan dalam 1 atau 2 hari. Namun ketika lagi tidak mood (malas, read), maka bisa berminggu-minggu buku tak juga selesai. Sehingga memang butuh paksaaan.

Sampai pukul 11 saya membaca. Dan tanpa sadar sudah terlelap dan bangun sekitar pukul 2 siang. Segera setelah itu saya melakukan sholat Dhuhur. Kewajiban yang harus dilakukan oleh orang yang beragama islam.

Selesai wiridan saya menunggu konfirmasi sms dari Lu-lu terkait rencana untuk sowan ke Muslimat Mandiraja. Namun karena tak juga ada konfirmasi, saya melanjutkan untuk membaca buku. Lama-kelamaan saya terlelap lagi dan baru bangun ketika adzan maghrib berkumandang dari masjid dan mushola sekitar. Sayapun tak sholat asar karena tertidur. Dan semoga termasuk rukhsoh, karena untuk orang yang tidur tidaklah mempunyai tanggungan kewajiban sholat layaknya anak kecil.

Saya menyambet handuk yang ada di jemuran. Bergegas ke kamar mandi, membersihkan diri agar tubuh fresh. Selesai sholat magrib saya segera pergi ke warung makan untuk mengisi perut yang seharian tak terisi apapun.

Saya terawih di gd pcnu bersama Mislam. Biasanya saya akan pergi mencari mushola atau masjid karena jika sendiri saya begitu malas. Dan malam ini saya memutuskan untuk tetap tinggal di gd pcnu. Kebetulan Mislam datang lebih awal sebelum isya sehingga bisa menjadi teman untuk jama’ah sholat isya dan terawih.

Pukul sembilan kurang kami pergi ke terminal lama untuk membeli buah apel. Membeli roti tawar dan susu serta menyambangi Ahadun yang sedang bekerja di Topaz. Sebagaimana kesepakatan pagi tadi, malam ini kami akan menjenguk sahabat kami Muhammad Hidayatullah di Rumah Sakit Islam Bawang. Katanya ia terkena tipes dan penyakit jantung. Di sana ada ibu dan neneknya yang menunggui.

Di rumah sakit Itulah kami berujar “begitu beruntungnya orang yang sehat, begitu mahal dan harus disyukuri, dijaga dan dirawat”. Karena hanya dengan badan sehatlah segala sesuatu bisa kita lakukan dengan mudah. Di rumah sakit tersebut saya melihat kamar per kamar terisi oleh mereka yang sedang mendapat cobaan dari Sang Pemilik Kesehatan. Mungkin sebagai peringatan tentang betapa pentingnya arti sehat. Karena biasanya orang akan sadar ketika telah mengalami sesuatu yang berkebalikan. Paham tentang arti terang ketika mengalami suasana gelap. Peham arti kebebasan ketika pernah di kurung.

Rasa senang dan semangat terpancar dari wajah teman kami. Mungkin karena kehadiran kami yang tak pernah ia duga. Dan saya meyakini bahwa kehadiran orang lain bisa membawa semangat baru dan menghilangkan sedikit kegetiran bagi orang yang sedang sakit. Semoga cepat sembuh kawan. Sehingga bisa tertawa dan bermain bersama lagi.

Saya begitu malas untuk belajar. Tentang ujian besok saya tak terlalu memikirkan. Belajar? Apa yang harus dipejari? Saya tak pernah mencatat. Karena memang mencatat adalah hal yang sangat menyebalkan bagi saya. Mungkin memang butuh paksaan untuk belajar. Karena hanya paksaan terhadap diri sendiri lah yang akan mengubah kita. Terkait ujian besok, biarlah mengalir apa adanya.

Banjarnegara, 01 Juli 2015. 01:33 WIB

You Might Also Like

0 comments: