Gelisah

18:59:00 Mad Solihin 0 Comments

Sore itu ia kemudikan motornya dengan cepat, menyalip kendaraan yang ada di depannya. Dan itu sudah menjadi hal biasa baginya. Seolah kecepatan adalah teman setianya, apalagi ketika sedang gugup. Tak peduli apa yang ada di depannya segera saja ia salip, bahkan meskipun ia juga menyadari bahwa yang ia lakukan akan berdampak pada kesehatannya. Mungkin saat ini belum terasa, tetapi beberapa tahun ke depan efek angin motor sebagaimana pengalaman dari orang tua yang sering ia dengar, katanya tidak kuat kalau perjalanan jauh menggunakan motor.  
Setengah jam. Itulah waktu yang dibutuhkan dari kampus sampai ke tempat dimana ia tinggali sekarang. Ia parkirkan motor dan segera saja ia masuk, menaiki tangga menuju lantai 3. Disanalah ia sekarang banyak menghabiskan waktunya. Ia letakan tas gendong yang selalu setia menemani kemanapun ia pergi. Ia lirik jam dinding putih yang berada di bawah bersandar pada tembok. Pukul 15.50 WIB. Ah, sudah asar ternyata. Ia rebahkan badan untuk mengendorkan otot-otot tubuh. Pikirannya kacau, bercabang dan begitu rumit. Hingga tanpa terasa iapun terlelap dan terbangun pukul 5. Segera ia ambil wudlu dan sholat asar.
Selesai sholat ia segera keluar menuju serambi. Ia renungkan dan mencoba mengurai satu per satu beban pikiran yang sedari tadi mengganngunya.
“Tidak boleh mengeluh,” katanya dalam hati.
Haruskah keadaan akan berjalan seperti ini terus? Ia selalu berpikir kapan bisa mengumpulkan para pengurus, sekedar untuk duduk bersama dan membahas agenda untuk memajukan organisasi yang ia pimpin. Terkadang ia pun serasa ingin memutuskan sendiri apa yang akan dilakukan, namun lagi-lagi ia berpikir apakah yang lain siap. Beberapa kali iapun berkunjung ke tempat anggota, namun kendala ekonomi juga sering mengganggu pikirannya sehingga keinginan untuk mendatangi satu persatu belum juga tercapai. Belum lagi waktu, karena masih kuliah sehingga harus mencari waktu yang luang. Pun demikian, ketika ada waktu luang tak ada teman yang menemani sehingga harus mengelus dada.
Rumit, gelisah dan kompleks. Itulah gambaran pikirannya sekarang. Rumit karena banyak hal yang ia pikirkan sekarang. Bagaimana mungkin ia harus meminta kepada orang tua terus menerus, padahal jika tergolong usia, usianya sudah 20 tahun lebih. Gelisah, karena sejak kepengurusannya sampai sekarang ia merasa belum bisa melakukan apa-apa. Waktu terasa begitu cepat baginya, satu tahun sudah ia menjadi pemimpin. Namun, belum juga ada perubahan yang berarti.
Serahkan dan mengeluhlah kepada Allah. Begitulah nasehat yang sering ia terima dari gurunya. Nasehat yang begitu singkat namun begitu mendalam artinya. Dia-lah tempat meminta pertolongan. Keluhan hanya akan menjadi beban yang mendengarnya.
Bismillah ... Jalani saja, ikhtiyar terus menerus. Nikmati prosesnya dan biarlah waktu yang akan menjawabnya. Katanya dalam hati.

Banjarnegara, 4 Juni 2015

You Might Also Like

0 comments: