Fatamorgana

10:45:00 PM Mad Solihin 0 Comments

Ternyat hanya lelulon. Hanya gurauan dan lebih tepatnya hanya fatamorgana. Laiknya berada di padang gurun pasir dengan terik matahari begitu menyengat sehingga tenggorokanpun kering. Dari kejauhan terlihat pancaran air, namun semakin didekati semakin menjauh dan menjauh. Padahal itu hanyalah fatamorgana. Pandangan semu.

Mungkin itulah gambaran perasaan yang saya alami saat ini. Kurang lebih dua tahun semenjak saya dekat dengan seseorang dan ku anggap ia sebagai “adik”. Dan tak bisa saya pungkiri bahwa sayapun menyukainya. Menyukai lebih dari seorang adik. Dalam kurun waktu dua tahun tersebut sayapun sering komunikasi, bercanda dan terkadang mengungkapkan perasaan layaknya seorang yang sedang kasmaran. Sssttt ... jangan dibayangkan. Hehe

Mungkin perlu digaris bawai bahwa kata “sering” di sini lain dengan kebanyakan anak muda zaman sekarang. Karena ia di pondok dan tidak boleh membawa hp, maka kami hanya komunikasi ketika ia pulang. Atau ketika ia kebetulan online lewat fb, pun mencuri-curi kesempatan karena onlinenya memanfaatkan jam praktek pelajaran komputer.

Kebetulan kemarin ia pulang karena mau puasa ramadhan, mungkin sekalian libur bersama keluarga.  Kesempatan itu pula yang membuat saya bisa berkomunikasi lagi dengannya. Namun, berbeda dengan sebelumnya. Ada sedikit perubahan yang saya rasakan. Gaya dan bahasa smsnya agak kaku. Dan yang membuat saya agak kaget adalah ketika ia bilang “hanya adik”.

Maka sore kamarin saya menuliskan surat yang isinya untuk menegaskan dan meminta kepastian, apa sebenarnya yang ia rasakan. Surat itu saya selipkan pada hadiah yang akan saya berikan kepadanya. Dan saya berikan tadi pagi ketika saya mau berangkat ke Semarang.

Dalam perjalanan ke Semarang itulah masuk sms darinya. Yang intinya ..... bla bla. Dan kesimpulan saya, apa yang selama ini saya katakan dan mungkin ia menjawabnya hanya sekedar untuk “membong-bongkan” hati. Duh, kenapa selama ini saya tak menyadarinya.

Baiklah, karena itu keputusannya. Mulai hari ini sayapun tak akan terlalu berharap. Setidaknya sayapun akan intropeksi diri, bahwa orang baik hanya untuk orang yang baik. Dan tentunya ketika kita ingin memiliki pasangan yang baik, terlebih dahulu perbaiki kualitas diri kita.

Banjarnegara, 15 Juni 2015

You Might Also Like

0 comments: