Distribusi Surat

8:28:00 PM Mad Solihin 0 Comments

“Sial, kesiangan lagi” hati saya membatin. Jam telah menunjukan pukul 09.30 WIB. Padahal sudah janji mau ke tempat Lu-lu jam 10.00 WIB. Dan ini untuk kedua kalinya saya harus membatalkan apa yang telah saya katakan. Kemarin saya membatalkan juga karena bangun kesiangan. Lagi-lagi, hal yang sama saya ulangi. Sebenarnya, saya sudah mengatakan bahwa saya akan berangkat ke Banjar pukul 08.00 WIB ketika ibu tanya, namun karena tak ada yang membangunkan, bablas deh sampai jam setengah 10.

“Harus menyebarkan surat ke pengurus dan mwcnu . . !”, itulah yang ada dalam pikiranku. Maka sayapun bergegas untuk mandi dan sesegera mungkin meluncur ke Banjar, mengambil surat yang ada di gd. pcnu, menstabilo nama yang di undang seperti pesan gus Zahid kemarin dan langsung meluncur ke alamat tempat yang dituju sebagaimana tertera di amplop.

Al-Fatah adalah tujuan pertama. Surat-surat yang untuk keluarga Al-Fatah saya titipkan ke pengurus pondok untuk di sampaikan sesuai nama dalam amplop. Tak lama setelah itu saya langsung ke Telagawera, surat untuk Pak Nur Kholis. Karena tak ada orang di rumah, surat saya masukan lewat bawah pintu.

Kemenag adalah tujuan selanjutnya. Beruntung ketika saya sampai disana, orang yang saya tuju sedang telfon di luar sehingga saya tak perlu repot untuk mencarinya. Pak Karyono, ya dialah ketua Lakspedam sekarang. Saya memberikan surat kepadanya setelah beliau selesai menelfon dan sekalian titip buat yang Pak Sugeng Mulyadi.

Setelah dari Kemenag, saya langsung menuju ke Kantor Dindikpora untuk menemui Pak Hendro, ketua LP Ma’arif. Sebelum saya masuk, beliau saya telfon untuk memastikan bahwa beliau ada di kantor. Alhamdulillah sesuai harapan. Maka sayapun langsung menuju ke ruangannya yang berada di lantai 2 dan ini untuk pertama kalinya. Selain surat yang dari PCNU, saya juga membawa surat yang dari PW Ma’arif. Dalam kesempatan tersebut saya ditanya tentang hasil pertemuan di semarang mengenai SIMNU. Glagapan, begitulah reaksiku. Saya tak cukup persiapan untuk menjelaskannya dengan bahasa sederhana meskipun saya paham ketika harus mengoprasikan hasil pelatihannya.

Karena masih banyak surat yang harus di distribusikan, sayapun segera pamit untuk melanjutkan perjalanan. Kali ini yang saya tuju adalah kantor Sekda. Disana ada dua orang yang namanya tercantum dalam surat, yaitu Pak Fahrudin dan Pak Sugeng. Surat yang buat pak sekda saya titipkan ke ajudannya, sedangkan yang untuk Pak Sugeng saya berikan langsung kepada orangnya di lantai dua ruang bagian pembangunan.

Dari kantor sekda saya langsung menuju ke Wanadadi, tempatnya Pak Haji Sohirun. Ada rasa senang ketika dalam perjalanan menuju ke sana, karena akan meminta anggaran yang jatahnya IPNU. Sayang, sampai disana hanya bisa tepuk jidat. Pasalnya, ketika saya meminta tak di kasih. Harus ada surat rekomendasi dari ketua dan satu lagi harus mengajak bendaharanya. Wah, sial-sial. Kenapa kemarin gak di kasih rekomendasi sekalian. Layu deh, rencana besok sudah bisa free dari hutang malah tidak cair. Payah.

Danakerta, sebuah desa paling barat di Kecamtan Punggelan yang berbatasan dengan Purbalingga. Itulah tujuan saya selanjutnya. Mengantar surat untuk Pak Imam Sodikin, Ketua MWC Punggelan. Bertanya dan bertanya, demikianlah yang saya lakukan untuk sampai ke tempat tujuan. Dan merupakan kebahagiaan tersendiri manakala menemui orang yang ramah saat ditanya letak alamat yang dituju. Selain itu, kebahagiaan yang muncul adalah dapat pengalaman baru, setidaknya saya tahu daerah tersebut.

Dari Punggelan, saya langsung ke Rakit, ke tempat Pak Pono. Selanjutnya ke Mandiraja, disana ada tiga surat yaitu untuk Bu Istinganah, Pak Norma Ali, dan Pak Sumaryo, ketua MWC Mandiraja. Dari Mandiraja langsung ke Purworejo Klampok. Karena tak tahu rumah Pak Sobirin, surat yang untuk beliau saya titipkan ke Pak Haji Basirun yang rumahnya di belakang pasar.

Daerah barat selasai. Kini balik ke timur. Purwonegoro, ke tempat Mas Ulil Albab, ke tempat Pak Daryanto di Desa Parakan dan ke Tempat Pak Sya’roni Pucungbedug. Bablas ke Bawang, Majalengka Sabrang tempat Pak Khozin Alwi selaku ketua MWC. Selanjutnya ke Bawang proyek, rumahnya Pak Sukirman. Dan Terakhir di parakancanggah, Pak Ir. Ahmad Nurudin.

Waktu telah menunjukan pukul 16.34 WIB ketika saya tiba di pcnu. Perjalanan yang cukup melelahkan. Namun, inilah jalan hidup yang saya jalani. Mencintai petualangan dan tantangan.


Banjarnegara, 24 Juni 2015

You Might Also Like

0 comments: