Diskusi Badan Hukum

01:25:00 Mad Solihin 0 Comments

Hari ini saya berkesempatan untuk ke Semarang lagi dan ini untuk yang kesekian kalinya. Dalam perjalanan, saya sudah tak lagi bingung ketika di Temanggung seperti pada awal-awal dulu. Saya sudah cukup hafal jalur mana yang harus saya pilih ketika ingin lewat jalur Sumowono-Bandungan. Jalur alternatif yang lebih cepat dan lebih sepi dibandingkan lewat Ambarawa. Tentu ketidakbingungan itu saya alami ketika sudah berkali-kali mengalami kebingungan lantaran banyak tikungan dan terobosan yang bisa dilewati. Sehingga saya menyimpulkan bahwa untuk memahami sesuatu butuh proses dan pengalaman. Dan pengalaman itu bisa didapat ketika kita mau mencoba dan sering mencoba. Bukan hanya dalam perjalanan tetapi dalam segala hal.

Saya berangkat pukul 3 sore. Dalam perjalanan tersebut saya sempat berkejar-kejaran dengan pengendara motor metic. Cukup menyenangkan, setidaknya menghibur diri. Di Temanggung saya bertemu dengan Mas Hadi dan istrinya yang kebetulan sedang istirahat untuk sholat asar di sebuah masjid. Karena tujuan kami sama, akhirnya kami berangkat bersama dengan saya lebih memilih untuk di belakang motornya mengiringi di belakang. Di sebuah warung yang sudah dekat dengan Ungaran kami berhenti untuk berbuka puasa. Saya dan istrinya memilih mie ayam dan mas Hadi memilih bakso. Lumayan saya dapat gratisan. Hehe

Inilah manfaat teman. Ketika bertemu bisa saling membantu, setidaknya karena kami pernah bersama di gedung pcnu dan umur saya lebih muda darinya, saya bisa makan gratis (dibayari). Keuntungan yang saya tak pernah menduga sebelumnya. Kesan bahwa teman adalah aset yang sangat berharga saya temukan sore tadi. Sehingga menjalin pertemanan dengan siapapun adalah sesuatu yang sangat bermanfaat. Sebagaimana ungkapan bahwa mempunyai seribu teman masih kurang tetapi mempunyai satu musuh itu terlalu banyak.

Saya sampai di Ungaran sekitar pukul 7 kurang. Istrirahat sebentar dan setelah itu sholat terawih dengan teman-teman. Terawih yang begitu singkat dan cukup membuat saya tertawa pada rokaat pertama lantaran teman saya yang menjadi imam hanya membaca “Yaasiiin” pada rakaat pertama setelah al-fatihah. Saya merasa lucu saja, walaupun memang membaca surat setelah al-fatihah bukanlah termasuk dalam rukun sholat.

Setengah 9, diskusi dimulai. Diskusi yang menjadi alasan kenapa saya pergi ke Semarang. Tema yang kami bahas adalah tentang Badan Hukum. Tema yang diambil untuk menanggapi isu yang sedang menjadi tendring topik berita di media massa saat ini.

Badan Hukum itu sebenarnya sudah ada pada zaman dulu ketika zaman kerajaan yang dulu bentuknya adalah Tanah Perdikan atau Sima. Tanah yang bebas dari membayar pajak kepada kerajaan.

Diskusi yang begitu menarik. Diskusi yang membuat saya terkesan. Diskusi yang menelurkan gagasan brilian tentang prediksi atas kemungkian-kemungkian yang terjadi kedepan. Diskusi yang dilakukan oleh para pemuda brilian. Sebagaimana pada zaman dahulu ketika memperjuangkan kemerdekaan, peran pemuda menjadi sentral perubahan. Dan kali ini saya menemukan ilmu baru dalam diskusi ini, tentang sebuah perubahan dan itu digagas oleh para pemuda. Bukan dalam usia, tetapi dalam hal pemikiran.

Hmm .. terlalu banyak materi yang saya tangkap namun begitu sulit untuk saya uraikan. Tentang kebijakan MK yang membatalkan UU Badan Hukum Tahun 2015 sehingga yang dipake UU Sisdiknas Tahun 2003. Tentang dampak jika UU yang baru tidak dibatalkan oleh MK. Tentang Pergub no 70. Tentang gugatan Yusril kepada ganjar. Tentang Lembaga yang belum berbadan Hukum dan sebagainya.

Tulisan ini bukan saya maksudkan untuk merangkum hasil diskusi. Namun hanya sebagai pengingat dan membekukan apa yang saya lakukan. Sebagai dokumentasi pribadi yang mungkin suatu saat saya memerlukan. Dan ketika saya membacanya saya akan tersenyum sendiri ketika membayangkannya. Selain untuk melatih diri dalam hal menulis. Karena untuk merangkai kata agar bisa mudah dipahami membutuhkan latihan dan ini adalah cara saya melatihnya. Semoga tulisan saya kelak akan lebih bagus dan tentunya mudah dicerna oleh siapapun yang membacanya. Semoga.


Ungaran, 30 Juni 2015. 01:17

You Might Also Like

0 comments: