Berkunjung ke YuasaFood, Perusahaan Makanan Khas Wonosobo (Carica)

01:46:00 Mad Solihin 0 Comments

YuasaFood
Jum’at kemarin (5 Juni 2015) bersama dengan teman-teman kelas di kampus, saya melakukan kunjungan ke sebuah perusahaan makanan di Wonosobo. Tepatnya di Desa Munggang Kecamatan Mojotengah. Nama perusahaan tersebut adalah YuasaFood, salah satu perusahaan yang sukses dalam mengolah makanan khas Wonosobo, yaitu Carica. Kegiatan ini adalah kegiatan terakhir makul kewirausahaan yang di ampu oleh Bapak Suwondo. 
Foto dengan Bapak Suuwondo
Mengenai Bapak Suwondo yang dijadikan dosen untuk makul kewirausahaan, agak sedikit kurang pas menurut saya. Alasannya, dia bukan pelaku usaha. Beberapa pengalaman yang ia alami dan ceritakan ketika awal masuk perkuliahan, ia lebih banyak bekerja sebagai pegawai. Diantaranya adalah Camat. Pun demikian dengan perkuliahannya dulu, ia mengambil bidang Administrasi. Yang jika boleh saya sebut, ia bukan pengusaha tetapi pegawai. Terus, kok bisa ya jadi dosen Makul Kewirausahaan? Entahlah, itu urusan instasi kampus. Yang jika saya boleh mengeritik, sebenarnya bukanlah hal yang bagus. Kenapa? Karena tentunya, pemahaman dan cara mengajarnya akan lain sehingga point dari Mata Kuliah agak kurang maksismal –untuk tidak mengatakan maksimal-. 
Penyampaian Materi oleh Bapak Trisula
Saat Seminar
Dalam kunjungan tersebut, kami diterima oleh pihak perusahaan yang selanjutnya di tempatkan pada salah satu aula guna mendengarkan paparan dari pemilik perusaaahn YuasaFood, yaitu Trisula Yuwantara. Dalam seminar tersebut, Trisula Yuwantara banyak bercerita tentang kewirausahaan dan ini lebih mengena menurut saya. Pengalaman yang ia alami hingga proses sukses yang tidak instan ia jabarkan. Saat itu saya langsung berpikir mengenai uang Rp. 10.000,- yang digunakan untuk iuran buat berkunjung ke YuasaFood. Dalam hati saya langsung membatin, itu bukanlah masalah dengan imbalan ilmu yang diberikan berupa tips dan trik cara memulai usaha dari tingkatan nol. Belum tentu ada kesempatan yang berharga ini saya dapatkan. 
Foto dengan Bapak Trisula
YuasaFood ini didirikan pada tahun 2001. Saat itu, Trisula Yuwantara terkena PHK di perusahaannya. Selama 14 tahun ia bekerja mulai dari tingkat paling bawah hingga tertinggi, Manager. Namun, nasib siapa yang tahu. Ia terkena PHK dan tanpa ada uang tunjangan. Sebenarnya ia ditawari untuk bekerja di Jawa Timur, namun ia menolak dan lebih memilih untuk membangun usahanya sendiri.
Awal mula ia mendirikan YuasaFood ini, hanya bermodalkan uang Rp. 500.000,-. Waktu itu carica belum dikenal seperti sekarang. Hanya bermodalkan tempat dan alat seadanya. Namun, ia juga punya beberapa modal penting yang menjadi tumpuan usahanya :
1.         Modal suka pada teknologi pengelolaan
2.         Modal keahlian, pengalaman di bidangnya
3.         Modal kemauan dan semangat
4.         Modal tidak takut capek dan tidak malu
5.         Modal relasi, teman, mitra, keluarga dan komunitas
Modal point 1 dan 2. Pengalaman selama 14 tahun bekerja di perusahaan tentu menjadi hal yang sangat berharga. Apalagi ia pernah bekerja dari tingkatan paling bawah sampai puncak. Sehingga wajar, jika ia punya pandangan dan gambaran kedepan. Pandangan dan gambarannya itu ia masukan dalam Visi perusahaannya “Act Local – Think Global” Industri Cacica yang Berkearifan Lokal Pemasaran Global. Tak lupa, ia juga mencantumkan Misi serta Value perusahaannya.
Untuk menentukan Visi, Misi dan Value tentu bukan hal yang mudah jika yang bersangkutan bukanlah orang yang berpengalaman. Dan sebagaimana halnya perusahaan/organisasi, Pak Trisula sebelumnya sudah mempunyai perencanaan yang matang terkait usaha yang akan dilakukannya. Ia mengatakan bahwa ia menggunakan Analisis SWOT. Kekuatan, Kelemahan, Kesempatan atau Peluang dan Hambatan.
Sebagai contoh, kenapa ia memilih Carica. Karena peluang kedepan bahwa yang memproduksi carica hanya di Dieng, maka itu salah satu peluang yang bagus yaitu tidak banyak saingan. Dan karena carica hanya di Dieng, maka untuk pemasaran ke tempat lain lebih mudah dan tanpa saingan sehingga menjadi peluang yang sangat bagus.
Point 3 dan 4. Menurut Pak Tri, modal inilah yang paling berharga. Kemauan, semangat, tidak takut capet dan tidak malu adalah modal besar yang jika diuangkan mungkin 2 miliar belum bisa membelinya.
Terkait dengan malu. Pak Tri bercerita mengenai pengalamannya sewaktu awal menjalankan usahanya. Ia membwa carica dari warung ke warung yang tidak semuanya menerimanya. Naik turun Rita. Dan situ kadang apa perasaan malu saat bertemu dengan teman-temannya sehingga ia mengggunakan topi. Bagaimana tidak malu, ia pernah menjadi Manager dengan 1000 anak buah, sekarang harus mengangkat dagangan naik turun tangga. Namun, karena kepepet oleh masalah finansial, akahirnya ia abaikan rasa malu itu. “Daripada tidak punya uang”,katanya mengenang masa lalu.
Point 5. Sebagai manusia, tentu tidak bisa hidup sendiri. Ia butuh orang lain dalam segala hal. Dan inilah yang juga menjadi modal penting bagi Pak Tri. Ia memanfaatkan jaringan dengan membuat proposal kerja sama dengan orang lain. Tentunya dengan perjanjian yang jelas. Jika perlu hitam di atas putih. Menurutnya, lebih baik berantem atau ribut di depan daripada ribut di belakang. Sehingga kejelasan hitam di atas putih menjadi point penting tersendiri jika akan melakukan usaha.
Pun demkian, tidak selamanya orang suka atau mendukung dengan apa yang kita lakukan. Pak Tri, pawa awal memulai bisnis cacrica, istrinya tidak mendukung dan tidak terlalu suka. Namun, seiring berjalannya waktu dengan pembuktian apalagi terlihat hasilnya, akhrinya istrinya menjadi mendukung.
Dan tentunya dalam berusaha tidaklah semulus yang kita bayangkan ketika melihat kesuksesan orang lain. Banyak kendala dan hambatan yang harus dialami sebelum akhirnya merasakan manisnya usaha, YuasaFood sendiri baru di kenal pada tahun 2009 yaitu dengan memenangkan beberapa perlombaan baik tingkat Local, Provinsi maupun Nasional. Artinya butuh proses yang lama dan kedisiplinan.
Diantara Produk yang sudah dipatenkan adalah BUAVICA CARICA dan JUSICA.
Setelah pemamparan selesai, Pak Suwondo membuka seasan tanya jawab. Sesean pertama ia berikan kesempatan pada 5 penanya, dan saya termasuk salah satunya. Mengenai bertanya, saya merasa tertantang dalam suatu forum bahwa saya bisa dan saya berani. Salah satunya adalah dengan cara bertanya.
Yang saya tanyakan adalah mengenai rencana Pak Tri dalam membuka usaha di Banjarnegara terkait dengan salak. Belaiu menjawab, kenapa salak tidak bisa diterapkan dengan metode carica. Alasannya adalah karean salak sudah menyebar di Indonesia. Jawa, Bandung, Sumatra dsb. Namun ia optimis bahwa suatu saat salak akan bisa menembus pasar Nasional. Terkait usahanya yang di Banjarnegara, tepatnya di Desa Pagelak, Kecamatan Madukara. UD Mekar Sari Boga.
Proses Pengupasan
Proses Pemotongan dan Pengambilan Biji
Mesin Pemanasa
Pengepakan dalam Kemasan Kecil
Hasil Kemasan yang Siap untuk Pelabelan
Proses Pelabelan
Selesai seminar dan tanya jawab. Kini saatnya kami melihat proses pembuatan carica. Mulai dari proses awal pengupasan kulit. Pemotongan dan diambil bijinya. Pemotongan kecil-kecil. Di panaskan dan didinginkan. Pelabelan dan hingga siap distribusi. 
Cacira siap Didistribusikan
Piala Penghargaan
Kunjungan yang menyenangkan. Semoga suatu saat bisa membuka usaha sendiri. Semoga. 

Banjarnegara, 6 Juni 2015

You Might Also Like

0 comments: