Belajar dari Pengalaman Orang Lain

2:31:00 AM Mad Solihin 0 Comments

“Experience is The Best Teacher”

Pengalaman adalah guru yang terbaik. Itulah kata-kata yang sering terdapat dalam buku tulis SIDU di bagian paling bawah dengan ejaaan bahasa inggris. Saya kira kata-kata tersebut ada benarnya. Karena memang pengalaman akan membawa kita belajar menjadi bijaksana. Baik pengalaman itu kita mengalaminya sendiri ataupun pengalaman orang lain.

Malam ini saya berkesempatan untuk belajar dari pengalaman orang lain. Berawal ketika saya memutuskan untuk sowan ke tempat Gus Zahid. Setelah saya ketuk pintu dan tak ada jawaban, maka saya memutuskan untuk bertandang lain waktu. Bersama dengan Dayat, saya memutuskan untuk kembali saja dan mampir ke kios milik Mas Arfin. Dari sinilah saya memulai belajar tentang sebuah pengalaman.

Mas Arfin adalah kakak kelas saya dulu di sekolah. Ketika saya masih di Mts kelas IX, ia sudah MA kelas XII. Dulu kami tidak begitu akrab karena mungkin selesih umur dan dulu saya tergolong orang pendiam sehingga tak banyak berbaur atau tidak mudah berbaur dengan orang lain. Namun, karena kami berada dalam satu yayasan dan pernah sama-sama nyantri di tempat yang sama, maka ikatan emosional masih terjalin. Terlihat, ketika saya berkunjung ke kiosnya ia begitu welcome dan mudah akrab.

Perihal kios Microteknik yang sekarang ia tempati dan pekerjaan yang ia tekuni, yaitu tukang dandan barang-barang elektronik. Ada kisah panjang dan tentunya pahit manis proses pembelajaran ia rasakan.

Ketika dulu masih dalam proses kuliah, ia nyambi di sebuah perusahaan yang menangani bidang elektronik, seperti memperbaiki lap-top, komputer, printer dan sebagainya. Yang menarik, menurut penuturannya ia bekerja di situ bukan semata-mata untuk mengejar “uang”. Tetapi karena motif ingin belajar dan itu ia utarakan dalam kontrak perjanjian awal ketika ia mau masuk. Sehingga selama 4 tahun ia bekerja di perusahaan tersebut, ia tak pernah meminta atau menuntut gaji. Ketika di beri, ia meminta dan ketika tidak, ia pun tidak pernah menuntut.

Seperti disebut diatas, ia bekerja karena ia ingin belajar. Maka iapun berbeda dengan orang lain yang sama-sama bekerja di situ. Selain tidak menuntut gaji, iapun belajar otodidak mengenai teknisi mesin. Ia membeli barang-barang untuk esperimen (percobaan) sendiri. Mencoba ini dan itu, mengotak atik ini dan itu sehingga meja kerjanya penuh dengan alat-alat esperimennya. Karena kelakuannya itu, beberapa teman-temannya pun mengejek dan katanya membuang-buang uang.

Selama empat tahun ia jalani dengan tekun dan pulang selalu jam 2 malam. Hingga di tahun yang ke 4, ia mendaftar di perusahaan PT. Micronik dan Chevron. Di dua perusahaan tersebut ia diterima dan masih tersimpan di email sampai sekarang. Alasan inilah yang membuatnya ia keluar dari perusahaan tersebut selain faktor lain tentunya.

Muluskah kisahnya. Tidak. Ternyata ketika ia meminta ijin kepada orang tuanya untuk pergi ke Tangerang, ibunya tidak mengizinkannya. Begitupun dengan pak lik nya, “Buat apa bekerja jauh-jauh. Toh nanti juga ketika pulang harus memulai dari nol lagi”, katanya. Sebagai seorang yang pernah mengaji, iapun tahu bahwa ridho Allah ada di tangan orang tuanya. Sehingga rencana untuk bekerja di Tangerangpun ia batalkan. Dalam masa itu, ia membuka servis di rumahnya dengan melakukan esperimen-esperiman sebagai proses pembelajaran.

Suatu waktu, tanpa di duga ia mendapat sms dari Mas Iif, orang yang sering menangani proyek pelelangan. Ia meminta Mas Arfin untuk berkunjung ke rumahnya. Di sana ia di sodori berkas dan di suruh membacanya yang ternyata berisi tentang proyek pelelangan printer di seluruh kecamatan di Banjarnegara. Iapun kaget karena belum pernah melakukan sebelumnya. Namun karena ia tahu sedikit mengenai pelelangan, iapun mengambil kesempatan yang Mas Iif tawarkan.

Ia meminta bantuan Kholidun, adik kelas saya untuk membantunya. Mengambil printer di setiap kecamatan dengan memberi uang saku setiap mau berangkat. Dan alhamdulillah proyeknya berjalan lancar. Dari hasil proyek itulah ia menyewa kios. Awalnya tidak ada banner di depan kiosnya, hanya terpasang antena internet. Dan ketika ada orang yang datang untuk memperbaiki printer, ia bingung. Tahu dari mana kalau ia sering memberbaiki printer. Mulai dari satu, kemudian berkembang dan akhirnya iapun membuat banner dan memasang di depan kiosnya.

Ah, proses yang panjang. Banyak pengorbanan yang harus dilakukan. Dan tidak seperti di tempat-tempat lain, ia tidak memasang harga jasanya di banner. Ia mempunyai prinsip, biarlah orang datang dan merasakan pelayanannya. Ia juga punya prinsip, ketika pelanggannya meminta jadi hari “H” misal, maka pada hari “H” tersebut juga harus jadi. Kalau saya terjemahkan, memberikan pelayan terbaik dan memuaskan kepada pelanggan.

(Sharing) Kisah Cintanya

Selain kisah di atas, saya juga sedikit menyinggung masalah kapan nikahnya? Dari pertanyaan tersebut melebar ke kisah cintanya. Dan sementara ini ia sedang sendiri. Katanya jika hanya sekedar ingin bermain-main, banyak yang mau dengannya. Namun, pengalaman terakhir dengan ceweknya membuatnya berpikir ulang ketika mencari cewek atau jodoh.

ia tak ingin pacaran. Karena pacaran hanya akan mengahabiskan harta dan rga. Yang ia butuhkan sekarang adalah orang yang mau hidup bersama apa adanya. Ketika siap, maka gak usah pacaran langsung saja meminta ijin kepada orang tuanya. Bisa dibilang ia trauma dengan kisah terakhir cintanya. Pasalnya orang yang selama ini perjuangkan ternyata cewek matre dan punya 3 pasangan selain dirinya. Haha .. aku tertawa mendengarnya.

Yang membuat saya heran, pacarnya itu mempunyai jadwal tempat yang akan di kunjungi setiap minggunya. Tak tanggung-tanggung, tempatnya itu sudah wilayah Purwokerto ke barat, seperti pantai widara payung. Tidak cukup sampai situ, ketika di tempat wisata banyak permintaan ini dan itu. Tentunya sebagai cowoknya, iapun harus membayarnya. Aduh, tepuk jidat deh.

Hingga pada akhirnya, suatu waktu ia mengantarkan ke rumahnya. Di situ iapun mengatakan kepada ibunya, mulai besok ia tidak bisa mengantarkannya lagi dengan alasan pulang kerja malam. Padahal, karena sudah muak dengan ceweknya. Katanya mengenang kisah cintanya.

Dari kisahnya Mas Arfin, sayapun mulai berpikir apa toh guna pacaran. Jikalau nantinya juga belum jelas menjadi jodohnya atau tidak. Satu, dua bahkan sampai bertahun-tahun pacaran, eh akhrinya putus juga.

Sayapun mempunyai kisah menarik sewaktu dulu masih MTs. Saya menyukai teman sekelas. Hubungan pun sudah bergitu akrab. Namun, waktu itu saya tak pernah mengungkapkannya. Hingga pada suatu kesempatan, saya tahu ia telah jadian dengan temanku juga. Seniorku di pndok.

Tiba waktunya ketika seniorku selesai kuliah, ternyata ia menikah dengan cewek lain. Teman sekelasnya waktu kuliah. Ah, ternyata pacaran itu hanyalah keinginan nafsu belaka.

Terima kasih Mas Arfin atas pengalamannya. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat buat saya dan orang lain (orang-orang yang membaca tulisan ini).


Banjarnegara, 22 Juli 2015. 02:27 WIB

You Might Also Like

0 comments: