Diskusi Badan Hukum

Diskusi Badan Hukum

01:25:00 Add Comment
Hari ini saya berkesempatan untuk ke Semarang lagi dan ini untuk yang kesekian kalinya. Dalam perjalanan, saya sudah tak lagi bingung ketika di Temanggung seperti pada awal-awal dulu. Saya sudah cukup hafal jalur mana yang harus saya pilih ketika ingin lewat jalur Sumowono-Bandungan. Jalur alternatif yang lebih cepat dan lebih sepi dibandingkan lewat Ambarawa. Tentu ketidakbingungan itu saya alami ketika sudah berkali-kali mengalami kebingungan lantaran banyak tikungan dan terobosan yang bisa dilewati. Sehingga saya menyimpulkan bahwa untuk memahami sesuatu butuh proses dan pengalaman. Dan pengalaman itu bisa didapat ketika kita mau mencoba dan sering mencoba. Bukan hanya dalam perjalanan tetapi dalam segala hal.

Saya berangkat pukul 3 sore. Dalam perjalanan tersebut saya sempat berkejar-kejaran dengan pengendara motor metic. Cukup menyenangkan, setidaknya menghibur diri. Di Temanggung saya bertemu dengan Mas Hadi dan istrinya yang kebetulan sedang istirahat untuk sholat asar di sebuah masjid. Karena tujuan kami sama, akhirnya kami berangkat bersama dengan saya lebih memilih untuk di belakang motornya mengiringi di belakang. Di sebuah warung yang sudah dekat dengan Ungaran kami berhenti untuk berbuka puasa. Saya dan istrinya memilih mie ayam dan mas Hadi memilih bakso. Lumayan saya dapat gratisan. Hehe

Inilah manfaat teman. Ketika bertemu bisa saling membantu, setidaknya karena kami pernah bersama di gedung pcnu dan umur saya lebih muda darinya, saya bisa makan gratis (dibayari). Keuntungan yang saya tak pernah menduga sebelumnya. Kesan bahwa teman adalah aset yang sangat berharga saya temukan sore tadi. Sehingga menjalin pertemanan dengan siapapun adalah sesuatu yang sangat bermanfaat. Sebagaimana ungkapan bahwa mempunyai seribu teman masih kurang tetapi mempunyai satu musuh itu terlalu banyak.

Saya sampai di Ungaran sekitar pukul 7 kurang. Istrirahat sebentar dan setelah itu sholat terawih dengan teman-teman. Terawih yang begitu singkat dan cukup membuat saya tertawa pada rokaat pertama lantaran teman saya yang menjadi imam hanya membaca “Yaasiiin” pada rakaat pertama setelah al-fatihah. Saya merasa lucu saja, walaupun memang membaca surat setelah al-fatihah bukanlah termasuk dalam rukun sholat.

Setengah 9, diskusi dimulai. Diskusi yang menjadi alasan kenapa saya pergi ke Semarang. Tema yang kami bahas adalah tentang Badan Hukum. Tema yang diambil untuk menanggapi isu yang sedang menjadi tendring topik berita di media massa saat ini.

Badan Hukum itu sebenarnya sudah ada pada zaman dulu ketika zaman kerajaan yang dulu bentuknya adalah Tanah Perdikan atau Sima. Tanah yang bebas dari membayar pajak kepada kerajaan.

Diskusi yang begitu menarik. Diskusi yang membuat saya terkesan. Diskusi yang menelurkan gagasan brilian tentang prediksi atas kemungkian-kemungkian yang terjadi kedepan. Diskusi yang dilakukan oleh para pemuda brilian. Sebagaimana pada zaman dahulu ketika memperjuangkan kemerdekaan, peran pemuda menjadi sentral perubahan. Dan kali ini saya menemukan ilmu baru dalam diskusi ini, tentang sebuah perubahan dan itu digagas oleh para pemuda. Bukan dalam usia, tetapi dalam hal pemikiran.

Hmm .. terlalu banyak materi yang saya tangkap namun begitu sulit untuk saya uraikan. Tentang kebijakan MK yang membatalkan UU Badan Hukum Tahun 2015 sehingga yang dipake UU Sisdiknas Tahun 2003. Tentang dampak jika UU yang baru tidak dibatalkan oleh MK. Tentang Pergub no 70. Tentang gugatan Yusril kepada ganjar. Tentang Lembaga yang belum berbadan Hukum dan sebagainya.

Tulisan ini bukan saya maksudkan untuk merangkum hasil diskusi. Namun hanya sebagai pengingat dan membekukan apa yang saya lakukan. Sebagai dokumentasi pribadi yang mungkin suatu saat saya memerlukan. Dan ketika saya membacanya saya akan tersenyum sendiri ketika membayangkannya. Selain untuk melatih diri dalam hal menulis. Karena untuk merangkai kata agar bisa mudah dipahami membutuhkan latihan dan ini adalah cara saya melatihnya. Semoga tulisan saya kelak akan lebih bagus dan tentunya mudah dicerna oleh siapapun yang membacanya. Semoga.


Ungaran, 30 Juni 2015. 01:17
Terima Kasih

Terima Kasih

10:44:00 1 Comment
Dear ....

Hai dek .. Kaifa Chaluk ..? Semoga selalu dalam keadaan sehat wal afiat. Aamiin

Perubahan adalah keniscayaan. Semua yang ada di dunia pasti mengalami perubahan, termasuk perasaan. Kurang lebih dua tahun yang lalu lewat temanmu, aku tahu bahwa engkau pernah berkata lebih memilihku darinya. Entah motif apa engkau berkata seperti itu. Namun, dari situ akupun mulai berusaha untuk menjaganya. Menjaga perasaan yang entah apa namanya, hingga kemarin ketika aku menuliskan surat kepadamu dan saat ini ketika aku menelfonmu.

Ah, dua tahun adalah masa yang cukup lama. Masa dimana segala sesuatu bisa saja berubah. Masa dimana engkau banyak belajar dan menemukan hal baru. Termasuk menemukan sesuatu yang lebih baik. Tentang sebuah prinsip dan bahkan sesuatu yang baru itu bisa menjadi stip yang menghapus masa lalu.

Terima kasih. Ya, terima kasih karena selama ini aku banyak belajar darimu. Banyak hal yang engkau ajarkan dan berikan. Tentang semangat, harapan, sikap dan cita-cita. Terima kasih juga karena telah memberikan jawaban. Setidaknya dari situ aku bisa berkaca dan menentukan sikap, ataupun bisa mengukur dimana diriku sekarang.

Ya atau Tidak. Itu pilihan jawaban pertanyaan yang ku ajukan. Dan karena jawaban “iya” hanyalah masa lalu, maka akupun akan menghargainya. Jika hari ini engkau telah temukan seseorang yang membuatmu merasa lebih nyaman. Aku percaya engkau lebih tahu dalam menentukan pilihan.

Selamat belajar. Lanjutkan apa yang menjadi terget dalam hidupmu. Aku hanya bisa berdoa, semoga apa yang engkau cita-citakan, Allah memudahkan jalannya. Aamiin.


Banjarnegara, 29 Juni 2015
SKB

SKB

23:31:00 Add Comment
Dari manakah saya harus memulai menulis ? Entahlah, masih ada kebingungan tersendiri ketika memulai sebuah tulisan. Karena banyak pikiran, bisa jadi. Tetapi baiklah saya hanya ingin menulis, mengasah kreatifitas dan masalah hasilnya seperti apa, biar ini menjadi pembelajaran. Pembelajaran untuk mencari ciri khas tulisan saya nantinya.

Berkumpul dengan orang lain, bersenda gurau dan bertukar cerita adalah hal yang menyenangkan. Karena dari situ ada semangat yang redup menjadi tumbuh lagi. Itulah yang saya rasakan saat ini. Bertemu dengan teman-teman dari Purbalingga, Banyumas, Cilacap dan Pemalang.

Pertemuan ini berlangsung di Pondok Darussalam yang beralamat di Jalan Sunan Bonang Rt 03/06, Dukuhwaluh, Kembaran, Purwokerto dalam acara Sekolah Kaderisasi Berkelanjutan (SKB) Korda Banyumas. Sebuah kegiatan yang diadakan oleh PW IPNU IPPNU Jateng. Dan ini adalah putaran yang pertama dari rencana 6 kali putaran kegiatan.

SKB ini diikuti oleh perwakilan PC IPNU IPPNU di Korda Banyumas, termasuk dari Kabupaten saya sendiri, Banjarnegara. Ada 9 anak yang saya delegasikan terdiri dari 4 IPNU dan 5 IPPNU. Mereka adalah Eman Setiaji, Galih Nur Aiga, Muh. Syafiiq, Muh. Anis, Lilis Purwati, Sri Yuli, Intan, Riska, dan Umu Robingah.

Selamat belajar. Semoga mendapat pengalaman dan ilmu baru yang nantinya bisa ditularkan kepada teman-teman lain di Banjarnegara.


Purwokerto, 27 Juni 2015
Turun Lagi

Turun Lagi

08:27:00 Add Comment
Kamis lalu saya sempatkan untuk pulang ke rumah. Berharap di jum’at pagi saya bisa ikut ziarah ke makam mbah kakung. Tradisi yang telah keluarga kami lakukan mulai setahun lalu setelah mbah kami meninggal.

Setengah 6 sore saya sampai di rumah. Di halaman rumah, saya dapati buah salak berserak yang menandakan bahwa orang tua saya baru saja panen. Namun ada kegelisahan ketika saya menemui bapak yang waktu itu sedang duduk di ruang tamu. Kegelisahan itu tergambar dari raut wajahnya. Kegelisahan karena harga salak yang baru-baru ini sudah naik sampai tiga ribu lebih, ternyata harus turun lagi. Katanya, harganya dua ribu rupiah. Belum lagi para tengkulak yang biasanya membeli salak dari petani saat ini banyak yang sedang libur alias berhenti.

Prihatin. Itulah yang ada dalam benak saya. Pasalnya, buah salak adalah sumber penghidupan bagi keluarga kami, bahkan bagi mayoritas masyarakat di desa kami. Padahal hasil panen hanya sekitar 2 kwintal, itu pun masih kotor belum di potong dengan berat keranjang dan tetek bengek lainnya. Jadi kalau menerima uang hanya sekitar 400 ribu rupiah dan itu harus dipotong dengan berat keranjang seperti keterangan diatas. Rasanya uang segitu hanya habis untuk nyerutang dan membeli keperluan masak.

Bersyukur. Itulah yang harus keluarga kami lakukan. Bagaimanapun itu juga bagian dari skenario Tuhan. Toh juga selama ini saya hasil panen yang keluarga kami dapatkan selalu kurang. Tapi semua itu cukup. Masih bisa untuk bertahan hidup dan melenggang seperti orang lain.

Masalah rezeki, Allah Maha Adil. Dia memberikan sesuai kebutuhan hidup hamba-Nya. Bahkan ketika di renungkan dan hitung-hitung pemasukan itu lebih sedikit di banding pengeluran, dan itu selalu cukup.
Banjarnegara, 27 Juni 2015


SURAT DAHLAN

11:24:00 1 Comment
Sumber : Google
Kamis, 25 Juni 2015 Pukul 10:31 WIB. Saya menamatkan Novel Surat Dahlan karya Khrisna Pabichara yang saya pinjam dari Perpusda Wonosobo. Novel yang inspiratif, menggugah semangat dan penuh dengan keharuan.

Novel ini bercerita tentang kehidupan Dahlan dari masa setelah SMA sampai ia mencapai pucuk pimpinan di Jawa Post. Mulai dari kisah awal merantaunya di Samarinda, tempat kakaknya Atun telah lebih dulu merantau. Kehidupan sebagai mahasiswa dan segala hiruk pikuk kampus yang membosankan, sehingga lebih memilih banyak berada di Sekre PII (Pelajar Islam Indonesia). Kisah cinta dengan 3 wanita (Aisha, Maryati dan Nafsiah) yang membuatnya kadang merasa galau hingga keputasan memilih Nafsiah sebagai teman setia hidupnya. Kisah pernikahannya dan dikaruniai dua anak, Rully dan Isna.

Sebenarnya Novel ini adalah kelanjutan dari Novel Sepatu Dahlan dan masih bersambung lagi dengan Novel Senyum Dahlan (Trilogi Novel Inspirasi Dahlan Iskan). Namun, keduanya belum saya baca. Maklum baru berkesempatan untuk membaca novel Karya Khrisna Pambichara. Dan Tuhan menginjinkan untuk yang novel keduanya.

Banyak hal yang saya dapat ketika memacanya. Tentang Impian, Cita-Cita, Semangat, Kerja Keras, Optimis dan Cinta. Dan yang lebih membuat saya mematik semangat adalah tentang profesi Dahlan, Kuli Tinta. Profesi itulah yang saat ini sedang saya impikan. Profesi yang sering saya jadikan jawaban ketika bercerita atau ditanya mau apa setelah kuliah. Guru. Ah, saya tidak terlalu menginginkannya, meski saat ini saya jurusan yang saya ambil adalah jurusan yang akan mengantarkan saya pada gelar S.Pd.I.

“Kuliah hanya jalan, bukan tujuan.” itulah yang ada dalam benak saya sekarang. Setidaknya ketika saya kuliah saya akan mendapat banyak pengalaman untuk bekal mengarungi kehidupan yang belum jelas mau seperti apa. Bahkan, kuliahpun hanyalah teori semata yang kadang saya jengah lantaran hanya seperti anak SMA.

Yang kedua sudah selesai. Tinggal mencari yang pertama dan ketiga. Sepatu Dahlan dan Senyum Dahlan. Semoga bisa membaca ketiganya.

Sumber :
Judul                : Surat Dahlan
Penulis            : Khrisna Pabichara
Penerbit          : Noura Books (PT. Mizan Republika)
Tahun Terbit   : Cetakan I, Januari 2013
Tebal Buku      : 378 Lembar

Banjarnegara, 25 Juni 2015
Kuasa Tuhan

Kuasa Tuhan

08:20:00 Add Comment
Terkadang kebingungan merasuki pikiran ketika hatiku berguman tentang kekuasaan Tuhan. Bahwa segala segala sesuatu itu datang dari Allah. Apa yang kita lakukanpun semata-mata karena Allah yang telah memberikan kekuatan kepada kita. Tanpa Dia kita tidak dapat berbuat apa-apa. Sehingga segela sesuatu terjadi karena kehendak Allah semata.

“Namun, jika itu keburukan atau kemaksiatan, apakah itu juga termasuk kehendak Allah?” tanyaku dalam hati.

Bukankah Allah hanya memerintahkan suapaya manusia berbuat baik (ma’ruf) dan melarang manusia berbuat keburukan (mungkar). Itulah nasehat yang sering didengung-dengungkan oleh para kyai/ustadz dalam ceramah ataupun khutbah jum’at. Dan memang seperti itu adanya.

Manusia bukanlah malaikat yang segala perintah Allah dijalani dengan ketaatan. Tak ada pembangkangan. Manusia, punya dua sisi yaitu, akal dan nafsu. Akallah yang menuntun untuk senantiasa berbuat kebaikan, sedangkan nafsu adalah pangkal dimana manusia bisa tergelincir ke derajat paling bawah, bahkan lebih hina dari binatang. Syaitan, sebagaimana janjinya dulu ketika di usir dari surga akan mengganggu keturunan Adam dan Hawa. Mencari kawan sebanyak-banyaknya. Dan itu akan terjadi sampai dunia ini hancur lebur, tanpa ada kehidupan lagi.

Oh Tuhan, aku malu sebenarnya ketika bermaksiat kepada-Mu. Namun, nafsuku terlalu liar untuk aku kendalikan. Hingga larangan-Mu yang telah aku sadaripun terkadang aku menerjangnya. Ya Allah, sungguh jika bukan karena ampunan dan rahmat-Mu yang Maha Luas, aku termasuk orang yang merugi. Mendzalimi diri sendiri dengan melakukan perbuatan hina.

Ya Allah, berilah kekuatan iman agar diri ini senantiasa bermunajat kepada-Mu. Mengingat-Mu dalam setiap waktu. Sungguh, tak ada daya kecuali Engkau lah yang memberinya. Sehingga waktu yang Engkau pinjamkan kepadaku bisa aku gunakan sesuai yang Engakau firmankan.

Banjarnegara, 25 Juni 2015
Terawih

Terawih

01:45:00 Add Comment
Saya lebih suka menulis hal sepele yang saya alami daripada tugas kuliah ataupun tulisan-tulisan lain yang sebenarnya menuntut untuk segera diselesaikan. Walaupun saya sadar resiko yang akan terjadi. Bingung dan klabakan. Begitulah biasanya. Sehingga sistem kebut semalam menjadi hal yang sering saya lakukan ketika waktu benar-benar mepet. Atau kalau teman-teman sering menyebutnya dengan “The Power of Kepepet”. Tapi biarlah, saya menikmatinya. Setidaknya, ini adalah tulisan yang membuat saya lebih ikhlas. Bukan karena iming-iming nilai ataupun sekedar memenuhi tuntutan tugas.

Malam ini adalah malam ke 8 puasa. Artinya 8 malam pula setelah isya kaum muslim menjalankan sholat terawih. Tapi, berbeda dengan yang saya alami. Sudah 2 malam aku lewatkan tanpa sholat terawih. Alasannya, karena saya tak ada teman untuk berjamaah. Alasan yang naif mungkin. Karena tanpa jamaahpun sebenarnya bisa, tetapi dasar penyakit malas telah menjangkiti sehingga saya kalah.

Hidup di alam bebas. Itulah yang saya jalani saat ini. Bermalam di sebuag gedung berlantai 3, gedung pcnu namanya. Disinilah saya sering menghabiskan malam. Layaknya kost, bebas sebebasnya. Tak ada yang komentar ketika tidak sholat, tidak ada yang memarahi ketika tidak terawih dan tidak ada yang membangunkan ketika sahur. Betul-betul mandiri. Tak ada makan ketika tidak keluar untuk mencari makan. Sebuah pembelajaran yang membutuhkan menajemen diri. Ya, kesadaran dirilah yang berfungsi.

Berbeda dengan malam ini. Saya keluar dari zona nyaman untuk berdiam diri di gedung lantai 3. Yang biasanya tidak terawih dan mugkin asyik dengan netbuk dan internet, setelah adzan isya terdengar, saya mencoba mencari mushola yang jaraknya tidak terlalu jauh. Motif saya satu, biar bisa tetap sholat terawih karena jika berdiam diri di gedung sudah dipastikan saya tidak akan sholat terawih. Paling sholat isya.

Agak kaget manakala di sebuah mushola, imamnya begitu pelan dan dengan surat panjang-panjang. Untuk dua rokaat butuh waktu 5 menit. Wah, pegel deh. Namun, sayapun mengira-ngira bahwa bukan 20 jumlah rakaatnya melainkan 8 rakaat. Dan ternyata benar, 8 rakaat. Dan ini pengalaman pertama di bulan ramadhan ini terawih dengan 8 rakaat karena biasanya ikut yang 20 rakaat. Tapi itu bukanlah masalah bagiku, bukankah perbedaan itu rahmat.

Berbeda ketika di rumah, saya lebih mudah untuk menjalankan sholat terawih karena bisa jamaah di masjid. Sahur atau buka, makanan sudah tersedia. Kalaupun sholat telat, ada yang mengingatkan.


Banjarnegara, 25 Juni 2015. 01:42 WIB
Distribusi Surat

Distribusi Surat

20:28:00 Add Comment
“Sial, kesiangan lagi” hati saya membatin. Jam telah menunjukan pukul 09.30 WIB. Padahal sudah janji mau ke tempat Lu-lu jam 10.00 WIB. Dan ini untuk kedua kalinya saya harus membatalkan apa yang telah saya katakan. Kemarin saya membatalkan juga karena bangun kesiangan. Lagi-lagi, hal yang sama saya ulangi. Sebenarnya, saya sudah mengatakan bahwa saya akan berangkat ke Banjar pukul 08.00 WIB ketika ibu tanya, namun karena tak ada yang membangunkan, bablas deh sampai jam setengah 10.

“Harus menyebarkan surat ke pengurus dan mwcnu . . !”, itulah yang ada dalam pikiranku. Maka sayapun bergegas untuk mandi dan sesegera mungkin meluncur ke Banjar, mengambil surat yang ada di gd. pcnu, menstabilo nama yang di undang seperti pesan gus Zahid kemarin dan langsung meluncur ke alamat tempat yang dituju sebagaimana tertera di amplop.

Al-Fatah adalah tujuan pertama. Surat-surat yang untuk keluarga Al-Fatah saya titipkan ke pengurus pondok untuk di sampaikan sesuai nama dalam amplop. Tak lama setelah itu saya langsung ke Telagawera, surat untuk Pak Nur Kholis. Karena tak ada orang di rumah, surat saya masukan lewat bawah pintu.

Kemenag adalah tujuan selanjutnya. Beruntung ketika saya sampai disana, orang yang saya tuju sedang telfon di luar sehingga saya tak perlu repot untuk mencarinya. Pak Karyono, ya dialah ketua Lakspedam sekarang. Saya memberikan surat kepadanya setelah beliau selesai menelfon dan sekalian titip buat yang Pak Sugeng Mulyadi.

Setelah dari Kemenag, saya langsung menuju ke Kantor Dindikpora untuk menemui Pak Hendro, ketua LP Ma’arif. Sebelum saya masuk, beliau saya telfon untuk memastikan bahwa beliau ada di kantor. Alhamdulillah sesuai harapan. Maka sayapun langsung menuju ke ruangannya yang berada di lantai 2 dan ini untuk pertama kalinya. Selain surat yang dari PCNU, saya juga membawa surat yang dari PW Ma’arif. Dalam kesempatan tersebut saya ditanya tentang hasil pertemuan di semarang mengenai SIMNU. Glagapan, begitulah reaksiku. Saya tak cukup persiapan untuk menjelaskannya dengan bahasa sederhana meskipun saya paham ketika harus mengoprasikan hasil pelatihannya.

Karena masih banyak surat yang harus di distribusikan, sayapun segera pamit untuk melanjutkan perjalanan. Kali ini yang saya tuju adalah kantor Sekda. Disana ada dua orang yang namanya tercantum dalam surat, yaitu Pak Fahrudin dan Pak Sugeng. Surat yang buat pak sekda saya titipkan ke ajudannya, sedangkan yang untuk Pak Sugeng saya berikan langsung kepada orangnya di lantai dua ruang bagian pembangunan.

Dari kantor sekda saya langsung menuju ke Wanadadi, tempatnya Pak Haji Sohirun. Ada rasa senang ketika dalam perjalanan menuju ke sana, karena akan meminta anggaran yang jatahnya IPNU. Sayang, sampai disana hanya bisa tepuk jidat. Pasalnya, ketika saya meminta tak di kasih. Harus ada surat rekomendasi dari ketua dan satu lagi harus mengajak bendaharanya. Wah, sial-sial. Kenapa kemarin gak di kasih rekomendasi sekalian. Layu deh, rencana besok sudah bisa free dari hutang malah tidak cair. Payah.

Danakerta, sebuah desa paling barat di Kecamtan Punggelan yang berbatasan dengan Purbalingga. Itulah tujuan saya selanjutnya. Mengantar surat untuk Pak Imam Sodikin, Ketua MWC Punggelan. Bertanya dan bertanya, demikianlah yang saya lakukan untuk sampai ke tempat tujuan. Dan merupakan kebahagiaan tersendiri manakala menemui orang yang ramah saat ditanya letak alamat yang dituju. Selain itu, kebahagiaan yang muncul adalah dapat pengalaman baru, setidaknya saya tahu daerah tersebut.

Dari Punggelan, saya langsung ke Rakit, ke tempat Pak Pono. Selanjutnya ke Mandiraja, disana ada tiga surat yaitu untuk Bu Istinganah, Pak Norma Ali, dan Pak Sumaryo, ketua MWC Mandiraja. Dari Mandiraja langsung ke Purworejo Klampok. Karena tak tahu rumah Pak Sobirin, surat yang untuk beliau saya titipkan ke Pak Haji Basirun yang rumahnya di belakang pasar.

Daerah barat selasai. Kini balik ke timur. Purwonegoro, ke tempat Mas Ulil Albab, ke tempat Pak Daryanto di Desa Parakan dan ke Tempat Pak Sya’roni Pucungbedug. Bablas ke Bawang, Majalengka Sabrang tempat Pak Khozin Alwi selaku ketua MWC. Selanjutnya ke Bawang proyek, rumahnya Pak Sukirman. Dan Terakhir di parakancanggah, Pak Ir. Ahmad Nurudin.

Waktu telah menunjukan pukul 16.34 WIB ketika saya tiba di pcnu. Perjalanan yang cukup melelahkan. Namun, inilah jalan hidup yang saya jalani. Mencintai petualangan dan tantangan.


Banjarnegara, 24 Juni 2015

Kuliah Skolastik

20:17:00 Add Comment
Dua hari ini saya habiskan malam dengan bergadang sampai pagi. Tidak tidur hingga menjelang matahari terbit. Baru ketika matahari benar-benar menampakan sinarnya, saya pun memilih untuk mengabaikan dengan tidur karena efek bergadang membuat rasa kantuk tak bisa tertahan.

Selama bergadang saya banyak menghabiskan waktu dengan mencoba merangkai kata, berlatih menulis pengalaman dan hikmah yang saya dapat di waktu siangnya. Serambi menulis, sayapun banyak membaca tulisan dari blog teman, salah satunya adalah milik Imam Rahmanto (Cappocino Time_imamrahmanto.com). Tulisan-tulisannya yang banyak mengulas kisahnya membuat saya terinspirasi untuk menuliskan pengalaman yang saya alami. Terima kasih mas Imam, tulisan  anda sangat bermanfaat bagi saya. Begitupun dengan blog milik teman-temannya yang ia namai dengan “Tetangga”. Di situ banyak link blog yang ia namai dengan “Tempat Saya Biasa Berjalan-Jalan”. Sayapun tertarik untuk mengunjunginya. Dan sama dengan blog milik Mas Imam, kebanyakan Blog tersebut berkisah tentang kehidupan sehari-harinya yang dituangkan dalam bentuk tulisan.

Efek bergadang membuat saya benar-benar tidur pulas di pagi harinya. Hingga ketika terbangun di waktu dhuhur saya kaget dengan status bbm beberap teman sekelas yang katanya “ada kuliah”. Maka sayapun langsung mengontak Iluk, meminta kejelasan statusnya. Benarkah sekarang ada kuliah? Kok gak ada kabar atau sms yang memberi tahu bahwa hari ini ada kuliah. Selang beberapa waktu, Tohirin komting kelas menelfon, katanya benar bahwa sekarang ada kuliah Makul Skolastik dengan dosen Bapak Mustangin. “Sudah saya sms semua, berarti ada 3 anak yang sms nya tidak masuk” katanya.

Pukul 12.30 WIB. Begitulah status bbm milik Izah. Wah, kalau berangkat tidak mungkin karena saya terbangun juga sudah pukul 12 lebih. Maka sayapun meminta Tohirin untuk mengizinkannya sewaktu ia telfon.

Hp ku bergetar, ada sms dari iluk. “Mat mlbue jam 2 malh ke raana kels si”, tulisnya. Masih cukup. Maka sayapun langsung bergegas mandi dan sholat dhuhur setelah itu cus berangkat kuliah. Alhamdulilllah, sampai di kelas tidak ketinggalan materinya.

Sebenarnya ada rasa dongkol juga si dengan dosen yang seperti ini. Pasalnya, jadwal yang seharusnya sudah selesai malah harus masuk. Tapi, bagaimanapun juga kita tidak bisa menghukumi seseorang dengan sudut pandang kita sendiri. Ketidak hadiran beliau di beberapa waktu lalu pasti punya alasan tersendiri, mungkin lebih penting dan tidak bisa di tinggal.

Materi hari ini yang beliau sampaikan adalah tentang Tes Efektifitas Diri. Ada beberapa pertanyaan berupa pernyataan dengan pilihan jawaban Sangat Setuju dan Sangat Tidak Setuju. Dan tentunya karena tes, yang harus kita lakukan adalah menggunakan pikiran bukan perasaan. Bukan sesuai dengan kebiasaan sehari-hari, namun menggunakan logika. Begitulah tes. Karena dari situ kepribadian kita dinilai dan itu menentukan diterima atau tidaknya kita pada instasi yang kita lamar. 
Hasil Tes Efektifits Diri dengan Kategori Efektif (Cekatan, Tangkas melaksankan Tugas)  :D

Setelah kuliah, saya menyempatkan untuk pergi ke perpusda. Tujuannya adalah untuk mengembalikan buku dan sekaligus meminjam buku. Ya, kini aku lebih suka bergulat dengan buku. Lebih sering membaca dan membaca. Selain menambah pengetahuan jaga menambah perbendaharaan kosa kata dan ini sangatlah penting bagi siapapun yang mempunyai keinginan menjadi seorang penulis. Tanpa perbendaharaan kosa kata yang bagus, tulisan kita akan terasa kering dan mungkin kurang enak dibaca. So, sering-seringlah membaca.


Banjarnegara, 22 Juli 2015
Belajar dari Pengalaman Orang Lain

Belajar dari Pengalaman Orang Lain

02:31:00 Add Comment
“Experience is The Best Teacher”

Pengalaman adalah guru yang terbaik. Itulah kata-kata yang sering terdapat dalam buku tulis SIDU di bagian paling bawah dengan ejaaan bahasa inggris. Saya kira kata-kata tersebut ada benarnya. Karena memang pengalaman akan membawa kita belajar menjadi bijaksana. Baik pengalaman itu kita mengalaminya sendiri ataupun pengalaman orang lain.

Malam ini saya berkesempatan untuk belajar dari pengalaman orang lain. Berawal ketika saya memutuskan untuk sowan ke tempat Gus Zahid. Setelah saya ketuk pintu dan tak ada jawaban, maka saya memutuskan untuk bertandang lain waktu. Bersama dengan Dayat, saya memutuskan untuk kembali saja dan mampir ke kios milik Mas Arfin. Dari sinilah saya memulai belajar tentang sebuah pengalaman.

Mas Arfin adalah kakak kelas saya dulu di sekolah. Ketika saya masih di Mts kelas IX, ia sudah MA kelas XII. Dulu kami tidak begitu akrab karena mungkin selesih umur dan dulu saya tergolong orang pendiam sehingga tak banyak berbaur atau tidak mudah berbaur dengan orang lain. Namun, karena kami berada dalam satu yayasan dan pernah sama-sama nyantri di tempat yang sama, maka ikatan emosional masih terjalin. Terlihat, ketika saya berkunjung ke kiosnya ia begitu welcome dan mudah akrab.

Perihal kios Microteknik yang sekarang ia tempati dan pekerjaan yang ia tekuni, yaitu tukang dandan barang-barang elektronik. Ada kisah panjang dan tentunya pahit manis proses pembelajaran ia rasakan.

Ketika dulu masih dalam proses kuliah, ia nyambi di sebuah perusahaan yang menangani bidang elektronik, seperti memperbaiki lap-top, komputer, printer dan sebagainya. Yang menarik, menurut penuturannya ia bekerja di situ bukan semata-mata untuk mengejar “uang”. Tetapi karena motif ingin belajar dan itu ia utarakan dalam kontrak perjanjian awal ketika ia mau masuk. Sehingga selama 4 tahun ia bekerja di perusahaan tersebut, ia tak pernah meminta atau menuntut gaji. Ketika di beri, ia meminta dan ketika tidak, ia pun tidak pernah menuntut.

Seperti disebut diatas, ia bekerja karena ia ingin belajar. Maka iapun berbeda dengan orang lain yang sama-sama bekerja di situ. Selain tidak menuntut gaji, iapun belajar otodidak mengenai teknisi mesin. Ia membeli barang-barang untuk esperimen (percobaan) sendiri. Mencoba ini dan itu, mengotak atik ini dan itu sehingga meja kerjanya penuh dengan alat-alat esperimennya. Karena kelakuannya itu, beberapa teman-temannya pun mengejek dan katanya membuang-buang uang.

Selama empat tahun ia jalani dengan tekun dan pulang selalu jam 2 malam. Hingga di tahun yang ke 4, ia mendaftar di perusahaan PT. Micronik dan Chevron. Di dua perusahaan tersebut ia diterima dan masih tersimpan di email sampai sekarang. Alasan inilah yang membuatnya ia keluar dari perusahaan tersebut selain faktor lain tentunya.

Muluskah kisahnya. Tidak. Ternyata ketika ia meminta ijin kepada orang tuanya untuk pergi ke Tangerang, ibunya tidak mengizinkannya. Begitupun dengan pak lik nya, “Buat apa bekerja jauh-jauh. Toh nanti juga ketika pulang harus memulai dari nol lagi”, katanya. Sebagai seorang yang pernah mengaji, iapun tahu bahwa ridho Allah ada di tangan orang tuanya. Sehingga rencana untuk bekerja di Tangerangpun ia batalkan. Dalam masa itu, ia membuka servis di rumahnya dengan melakukan esperimen-esperiman sebagai proses pembelajaran.

Suatu waktu, tanpa di duga ia mendapat sms dari Mas Iif, orang yang sering menangani proyek pelelangan. Ia meminta Mas Arfin untuk berkunjung ke rumahnya. Di sana ia di sodori berkas dan di suruh membacanya yang ternyata berisi tentang proyek pelelangan printer di seluruh kecamatan di Banjarnegara. Iapun kaget karena belum pernah melakukan sebelumnya. Namun karena ia tahu sedikit mengenai pelelangan, iapun mengambil kesempatan yang Mas Iif tawarkan.

Ia meminta bantuan Kholidun, adik kelas saya untuk membantunya. Mengambil printer di setiap kecamatan dengan memberi uang saku setiap mau berangkat. Dan alhamdulillah proyeknya berjalan lancar. Dari hasil proyek itulah ia menyewa kios. Awalnya tidak ada banner di depan kiosnya, hanya terpasang antena internet. Dan ketika ada orang yang datang untuk memperbaiki printer, ia bingung. Tahu dari mana kalau ia sering memberbaiki printer. Mulai dari satu, kemudian berkembang dan akhirnya iapun membuat banner dan memasang di depan kiosnya.

Ah, proses yang panjang. Banyak pengorbanan yang harus dilakukan. Dan tidak seperti di tempat-tempat lain, ia tidak memasang harga jasanya di banner. Ia mempunyai prinsip, biarlah orang datang dan merasakan pelayanannya. Ia juga punya prinsip, ketika pelanggannya meminta jadi hari “H” misal, maka pada hari “H” tersebut juga harus jadi. Kalau saya terjemahkan, memberikan pelayan terbaik dan memuaskan kepada pelanggan.

(Sharing) Kisah Cintanya

Selain kisah di atas, saya juga sedikit menyinggung masalah kapan nikahnya? Dari pertanyaan tersebut melebar ke kisah cintanya. Dan sementara ini ia sedang sendiri. Katanya jika hanya sekedar ingin bermain-main, banyak yang mau dengannya. Namun, pengalaman terakhir dengan ceweknya membuatnya berpikir ulang ketika mencari cewek atau jodoh.

ia tak ingin pacaran. Karena pacaran hanya akan mengahabiskan harta dan rga. Yang ia butuhkan sekarang adalah orang yang mau hidup bersama apa adanya. Ketika siap, maka gak usah pacaran langsung saja meminta ijin kepada orang tuanya. Bisa dibilang ia trauma dengan kisah terakhir cintanya. Pasalnya orang yang selama ini perjuangkan ternyata cewek matre dan punya 3 pasangan selain dirinya. Haha .. aku tertawa mendengarnya.

Yang membuat saya heran, pacarnya itu mempunyai jadwal tempat yang akan di kunjungi setiap minggunya. Tak tanggung-tanggung, tempatnya itu sudah wilayah Purwokerto ke barat, seperti pantai widara payung. Tidak cukup sampai situ, ketika di tempat wisata banyak permintaan ini dan itu. Tentunya sebagai cowoknya, iapun harus membayarnya. Aduh, tepuk jidat deh.

Hingga pada akhirnya, suatu waktu ia mengantarkan ke rumahnya. Di situ iapun mengatakan kepada ibunya, mulai besok ia tidak bisa mengantarkannya lagi dengan alasan pulang kerja malam. Padahal, karena sudah muak dengan ceweknya. Katanya mengenang kisah cintanya.

Dari kisahnya Mas Arfin, sayapun mulai berpikir apa toh guna pacaran. Jikalau nantinya juga belum jelas menjadi jodohnya atau tidak. Satu, dua bahkan sampai bertahun-tahun pacaran, eh akhrinya putus juga.

Sayapun mempunyai kisah menarik sewaktu dulu masih MTs. Saya menyukai teman sekelas. Hubungan pun sudah bergitu akrab. Namun, waktu itu saya tak pernah mengungkapkannya. Hingga pada suatu kesempatan, saya tahu ia telah jadian dengan temanku juga. Seniorku di pndok.

Tiba waktunya ketika seniorku selesai kuliah, ternyata ia menikah dengan cewek lain. Teman sekelasnya waktu kuliah. Ah, ternyata pacaran itu hanyalah keinginan nafsu belaka.

Terima kasih Mas Arfin atas pengalamannya. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat buat saya dan orang lain (orang-orang yang membaca tulisan ini).


Banjarnegara, 22 Juli 2015. 02:27 WIB
Rapat Ramadhan

Rapat Ramadhan

00:51:00 Add Comment
Beberapa hari yang lalu saya mengabari teman-teman pengurus pc ipnu ippnu untuk kumpul pada hari Minggu, 21 Juni 2015 di Gedung PCNU pukul 10.00 WIB. Semua pengurus yang kontaknya tersimpan di hp, saya kabari. Ada yang konfirmasi dan banyak yang tidak konfirmasinya. Duh, repot memang untuk bisa kompak dan berjalan bersama. Tentunya karena mereka juga punya kesibukan masing-masing sehingga sayapun tak punya hak untuk memaksa mereka untuk bisa berkumpul. Apalagi organisasi ini tak ada bayaran sama sekali. Hanya berkahlah yang kami harapkan.

Jika menunngu lengkap dan kompak. Saya yakin itu hanyalah ilusi belaka. Karena itu hal yang sangat langka. Maka ketika tadi pagi yang berangkat hanya 7 orang, sayapun tetap rapat. Mereka adalah Muh. Hidayatullah, Eman Setiaji, Imam Muhlisin, Galih Nur Aiga, Arifin (teman Galih), Aris Kurniawan dan saya sendiri. Tak ada perwakilan ippnu satupun.

Kami mulai rapat pukul 11.00 WIB. Sebagaimana agenda yang telah saya sebutkan dalam sms kamarin, pertemuan kali ini akan membahas kegiatan ramadhan dan pasca ramadhan. Menentukan topik apa yang akan dibahas dalam suatu pertemuan menurut saya adalah hal yang penting. Pertama, sebagai acuan agar apa yang dibahas tidak melebar. Kedua, agar apa yang dibahas jelas dan hasil keputusanpun juga jelas. Bayangkan saja ketika dalam suatu pertemuan tidak ada acauan yang jelas apa yang akan dibahas, sudah pasti topik pembahasan yang terjadi melebar kemana-mana karena setiap orang punya pemikiran dan gagasan yang berbeda.

Adapun hasil rapat siang tadi adalah :
#1. Buka besama di Pringamba (rumah saya pada tanggal 4-5 Juli 2015. Dalam bukber tersebut kami mengagendakan untuk ada diskusi, dengan tema ke Ipnu ippnu an di malam harinya dan tema tentang aswaja pada besok paginya. (Kegiatan Ramadhan)
#2. (a) Sowan-sowan untuk halal bihalal ke pengurus dan sesepuh NU pada tanggal 26 Juli 2015. (b) Halal bihalal untuk seluruh pengurus dan kader ipnu ippnu Banjarnegara pada tanggal 2 Juli 2015. (Kegiatan Pasca Ramadhan)

Beberapa agenda seperti terawih keliling ataupun yang lainnya untuk saat ini mungkin ikut pcnu saja. Karena keterbatasan pengurus dan kendala jarak yang menurut saya sulit untuk menjalankan agenda yang lain. Selain itu, kekompakan dari pengrus juga masih kurang. Dan ini adalah tantangan bagi saya selalu orang yang di depan. Mengusahakan bagaimana agar kemkompakan bisa terjalin.

Bismillah ... Lahaula wala quwwata illa billah. Semoga Allah memudahkannya.

Banjarnegara, 22 Juli 2015. 00:44 WIB
Menembus (Angin) Malam

Menembus (Angin) Malam

02:30:00 Add Comment
Harus selalu ada dan siap di depan, di tengah dan di belakang. Itulah konsep sederhana seorang pemimpin menurut Ki Hajar Dewantara. Begitulah seorang pemimpin, harus siap segalanya. Kalau kata Pak Pendi “maju awak ya maju sak”.

Malam ini bersama dengan Muh. Hidayatullah, saya berkunjung ke rumah Bapak KH. Mujtahidi Toblawi selaku Rois Syuriah sebagaimana pesan dari Gus Zahid beberapa waktu lalu ketika saya sowan. Tujuan kami adalah meminta saran perihal keuangan yang tembok ketika acara Diklatama CBP KPP II di Pagedongan karena peserta tidak maksimal sehingga kaospun masih sisa. Akibatnya, anggaran yang kami prediksi cukup dengan memanfaatkan registrasi dari peserta meleset. Walhasil harus sambat ke sana kemari mencari suntikan dana guna melunasi ke penjahit karena selalu di tagih untuk segera melunasinya.

Beruntung karena ada donatur yang mau membantu. Salah satunya adalah Pak Taufiq DPR RI yang membantu satu juta lagi (sebelumnya juga sudah membantu satu juta). Terima kasih pak, semoga kebaikan bapak mendapat balasan yang lebih baik lagi dan selalu dimudahkan dalan segala urusan. Aamiin.

Sisa kekurangan yang masih dua juta saya pinjamkan ke BMT NU Sejahtera dengan menggadaikan BPKB Motor Supra milik ayah saya. Pun tidak penuh, karena harus di potong biaya administrasi sebesar Rp. 82.000,00 sehingga total saya menerima uang adalah Rp. 1.918.000,00. Saya ambil pinjaman jenis musiman dengan tenggang waktu 3 bulan dengan biaya bagi hasil per bulan adalah Rp. 50.000,00. Maka ketika saya mengembalikan, total uang yang harus saya bayarkan adalah Rp. 2.150.000,00. Setidaknya dari sini saya menjadi tahu dan dapat pengalaman bagiamana cara meminjam uang di BMT (Semacam Koperasi Simpan Pinjam).

Dua juta, mungkin masih tergolong sedikit karena beberapa teman tetangga kabupaten juga mengalami hal yang sama dan bahkan lebih besar nilai nominalnya. Kejadian seperti ini adalah hal yang wajar ketika menyelenggarakan acara. Dan ini merupakan nilai plus dalam berorganisai, karena dari kejadian seperti inilah sejatinya kita belajar. Yang dari situ akhirnya kita terbiasa dan menjadi bekal ketika kita terjun ke masyarakat nantinya.

Dingin. Malas. Itulah yang saya rasakan sebelum berangakat ke Purwonegara. Lebih baik bersantai-santai, bermain internet dan menikmati rokok sambil bercanda mungkin menjadi pilihan daripada harus berlelah-lelah ke Purwonegara. Namun, sebagaimana tugas seorang pemimpin harus siap apapun yang terjadi. Maka sayapun menepis rasa malas tersebut dan segera berangkat.

Sampai di sana sekitar pukul 9 kurang. Saat kami mencoba mengetuk pintu. Tak ada jawaban. Ketika saya melihat Pak Kyai, beliau mau mengajar santrinya yang sedari tadi telah menunggu. Akhirnya, kami pun menunggu di halaman. Baru ketika mengaji selesai dan waktu menunjukan pukul 10 malam, kami langsung menuju ke rumah beliau dan mengetuk pintu.

Saya utarakan maksud kedatangan kami yang intinya mau minta izin untuk meminta kepada PCNU agar membantu melunasi hutang yang ditanggung IPNU.

“Ya kalau masih ada ya tidak apa-apa. Tetapi tidak tahu full atau tidak, karena dananya sudah digunakan untuk membantu Pelantikan Ansor Fatayat kemarin, membantu kegiatan LP Ma’arif di Kebumen dan melunasi perbaikan gedung PCNU”, katanya setelah menjelaskan bahwa dana APBD sudah turun sebesar 50 juta dan di potong pajak 10 %, sehingga tersisa 45 juta.

Alhamdulillah, setidaknya sudah ada sinyal yang membolehkan sehingga hati cukup lega. Tinggal sowan ke ketua PCNU nya. Tak hanya itu, beliaupun memperbolehkan ketika saya meminta izin menggunakan mobil PCNU untuk kegiatan ke Banyumas tanggal 28 Juni mendatang, asalkan setelah memakai juga bertanggung jawab.

Setelah apa yang saya sampaiakan terasa cukup, kamipun segera pamit. Ada rasa semangat dan kelegaan manakala meninggalkan rumah beliau. Yang saya kira, itu adalah energi yang dipancarkan oleh sikap beliau menerima kami dan menanggapinya dengan psositif. Dengan sifat ramah tamahnya. So, perlakukanlah orang lain dengan sifat ramah tamah ketika engkau berinteraksi dengannya.


Banjarnegara, 21 Juni 2015. 02:24 WIB
Me (Lepas) kan

Me (Lepas) kan

17:18:00 Add Comment
Melepaskannya. Mungkin itulah yang harus saya lakukan saat ini. Walau sebenarnya hati ini masih mengharapkannya. Dan entah sampai kapan perasaan ini akan tertanam di hati. Membiarkannya sampai hilang dengan sendirinya atau bahkan akan tetap tumbuh. Entahlah ...

Semenjak kepulangannya kemarin sebelum Ramadhan, sikapnya sudah berubah (menurut saya). Dari gaya sms yang ia kirim, “saya menerjemahkannya” ada kesan cuek di sana. Ah, benarkah begitu ..??

Sekarang ia sedang berlibur bersama keluarganya. Menghabiskan bulan ramadhan berkumpul dengan ayah dan ibunya. Mengobati rasa rindu setelah satu tahun tak bertemu. Kalau gak salah terakhir ketemu pas bulan ramadhan. Kok tahu ? Jangan tanya deh kalau soal ini ..He

Tadi malam saya berkesempatan sms dengannya. Maklum, orangnya pemalu apalagi lagi sama orang tuanya. Jadi jangan harap deh sms nya di bales dengan cepat. Atau kalau tidak beruntung, tak ada jawaban. Ngenes deh.

Seperti yang telah saya singgung di atas, kini ia terkesan cuek. Bales sekenanya dan satu lagi “seolah” males ngetik. Hmm ... galau deh.

Tapi biarlah. Biarlah ia menentukan keputusannya sendiri. Biarlah ia berpegang pada prinsipnya. Setidaknya saya belajar untuk menerima. Belajar untuk tidak mengulangi apa yang telah saya alami. Belajar untuk keluar dari ketidakpastian. Ketidakpastian akan sikap seseorang sebelum mengatakan yang sejujurnya.

Jika memang jodoh, saya percaya Tuhan akan menyatukanya.

Banjarnegara, 20 Juni 2015
Merokok

Merokok

16:11:00 Add Comment
Keputusan itu sepenuhnya ada di tanganku. Tak ada larangan seperti dulu ketika aku masih SD. Itulah yang aku lihat dari sikap ayahku. Sosok yang selama ini aku segani, sosok yang selama ini aku takdzimi dan sosok yang selama ini mendukungku.

Hari ini selepas aku sholat magrib aku keluar dari kamar dengan membawa satu batang rokok LA. Aku lihat ayahku sedang “ngelinting” di ruang tamu. Aku duduk di bangku tepat di depannya. Memang aku sengaja untuk merokok di hadapannya. Walau aku sebenarnya rikuh untuk menunjukannya. Untuk menyalakannya, aku harus memain-mainkannya terlebih dahulu. Sambil bertanya tentang Yusron, saudara sepupuku apakah benar di Kalimantan? Pertanyaan untuk sekedar basa-basi. Hingga akhirnya rokok yang ada di tanganpun aku nyalakan.

Tak ada reaksi. Diam tanpa kata. Tak ada tanggapan. Walau mungkin dalam hati bertanya-tanya, kenapa anaknya merokok. Ah, benarkah engkau tidak melarangku lagi.

Sudah besar. Sudah bisa berpikir. Mungkin itulah yang ada dipikirannya. Iapun sekarang lebih membiarkan segala keputusan ada ditanganku. Bahkan ketika di rumah, iapun tidak pernah menyuruhku untuk ke kebun. Meskipun banyak kerjaan yang harus dikerjakan. Ia lebih membiarkanku untuk tidur. Ya, aku lebih banyak tidur dan menganggur ketika di rumah. Dan semua itu, tak membuat ayahku lantas menyuruhku ini dan itu. Hanya, perasaan malu sebenarnya muncul dalam diriku.

Terima kasih ayah. Engkau telah mendidik dan mengajariku banyak hal. Semoga anakmu ini tak mengecewakanmu.

Tok tok tok dung dung dung. Bedug masjid terdengar dipukul. Lantunan adzan isyapun dikumandangkan. Sebuah panggilan untuk manusia agar segera ke masjid guna menunaikan sholat isya dan terawih yang ke dua kalinya.

Pringamba (Sigaluh, Banjarnegara), 18 Juni 2015
Menumbuhkan Rasa Percaya Diri

Menumbuhkan Rasa Percaya Diri

15:40:00 Add Comment
Dalam kehidupan sehari-hari sudah pasti kita meakukan interaksi atau komunikasi dengan orang lain. Karena kita adalah mahluk sosial yang tak mungkin bisa hidup sendiri tanpa ada orang lain dalam kehidupan kita. Namun saat kita menjalin komunikasi, ada sesuatu yang menghalangi seperti rasa minder dan tak ada rasa percaya diri akan eksistensi diri kita.

Disinilah masalahnya, tak ada rasa percaya diri. Sehingga proses komunikasi tak berjalan dengan baik. Oleh karena itu, menumbuhkan rasa percaya diri adalah suatu yang sangat penting suna terjalinnya keberhasilan dalam berkomunikasi. Karena sikpa percaya diri akan memunculkan sikap keberanian dalam berkomunikasi dengan siapapun.

Selain itu, rasa percaya diri akan membuat seseorang manjadi mandiri, tak bergantung pada orang lain dan senantiasa optimis dalam segala tindakannya.

*** Ditulis pada tanggal 22.11.2011 ***

Pertanyaannya, bagaimana cara menumbuhkan rasa percaya diri tersebut?

Ada dua hal yang harus kita perhatikan, yaitu memperbaiki diri dalam urusan jiwa atau batin dan dalam urusan penampilan (luar).

Dalam memperbaiki urusan jiwa ini, yang harus dibenahi pertama kali adalah pandangan kita untuk berpikir rasional bahwa manusia adalah mahluk yang diciptakan oleh Allah dari asal usul yang sama, yaitu Nabi Adam dan Siti Hawa. Secara fisik, manusia juga sama-sama terdiri dari daging, darah dan tulang dan selebihnya adalah kotoran. Jika terdapat perbedaan pangkat, rumah, penampilan, itu hanyalah bersifat sementara. Dan akhir dari kehidupan manusia adalah kematian.

Selanjutnya, untuk menumbuhkan rasa percaya diri adalah dengan meningkatkan pengatahuan kita agara dalam berinteraksi atau berkomunikasi bisa terjalin atau terhubung dengan baik. Pendeknya, kita harus meningkatkan kualitas diri kita dengan giat belajar, rajin membaca dan memperbanyak pengalaman.

Dalam menentukan bacaan tidaklah terbatas, karena semua buku adalah baik dan yang tidak baik adalah buku yang tidak dibaca.

Selain itu, usahakan mempunyai sebuah ketrampilan. Karena dengan ketrampilan yang ia miliki, seseorang akan percaya diri dalam berkomunikasi dan berinteraksi. Misal berpidato, bernyanyi, menulis ataupun yang lainnya.

Yakinlah bahwa Allah menciptakan segala sesuatu tidak ada yang sia-sia, jangankan manusia nyamuk saja bermanfaat. Namun harus diingat bahwa tak ada manusia yang sempurna tanpa ada kekurangan dan kelebihan, sehingga antara satu sama lain adalah saling melengkapi.

Kemudian setelah urusan batin terpenuhi atau teratasi, kini tinggal urusan lahir yaitu penampilan kita. Ada sebuah hadits yang menyebutkan bahwa “Allah adalah Dzat yang Indah dan menyukai keindahan”.

Ini menganjurkan kepada kita supaya menjaga penampilan agar tetap rapi, indah dan enak dipandang. Karena selain berpengaruh pada diri sendiri, ini juga berpengaruh pada orang lain. Dimana orang lain akan nyaman berada disisi kita jika kita menjaga penampulan yang ada pada diri kita.

Ditulis pada tanggal 23.11.2011

Pringamba, 19 Juni 2015 12:38 WIB
Bentuklah Pribadimu Sejak Dini

Bentuklah Pribadimu Sejak Dini

15:44:00 Add Comment
Karakteristik atau kepribadian seseorang terbentuk sejak ia kecil, berupa kebiasaan-kebiasaan yang mereka lakukan sehingga tertanam dalam diri mereka kebiasaan-kebiasaan itu sampai dewasa. Oleh karena itu, lingkungan dimana ia tumbuh sanga berpengaruh dalam pembentukan kepribadian seseorang.

Seseorang yang tumbuh dalam lingkungan penuh kasih sayang, kepribadian yang akan terbentukpun berbeda dengan seseorang yang tumbuh dalam lingkungan keras. Seseorang yang tumbuh dalam lingkungan kasih sayang akan cenderung bersifat lemah lembut, sabar, penyantun dan tak mudah emosi. Sebaliknya seseorang yang tumbuh dalam lingkungan keras, ia akan cenderung bersifat pemarah dn mudah emosi.
Ditulis pada tanggal 21.11.2011
Pringamba, 19 Juni 2015
Renungkanlah

Renungkanlah

14:55:00 Add Comment
Sahabat, pernahkah terpikir leh kalian betapa susahnya ibumu saat mengandung, melahirkan dan mendidikmu sampai saat ini? Dan pernahkah terpikir oleh kalian betapa susahnya ayamu bekerja, berjuang membanting tulang hanya untuk mencukupi kebutuhan kalian?

Namun kebaikan yang salama ini mereka berikan kita lupakan begitu saja. Apa balasan kita pada mereka? Celaankah karena mereka tak memberikan apa yang kita minta (motor misal)? Atau kekecewaankah yang kita berikan karena tak ada yang dibanggakan dari kita?

Sahabat, jika saat ini kalian ingin membalas kebaikan mereka, belajarlah yang rajin, raihlah prestasi agar mereka bangga pada kalian. Carilah ilmu sebagai bekal dikemudian hari, sebagai bekal untuk meraih kebahagiaan. Karena itulah yang diharapkan oleh setiap orang tua.

“Anak-anaknya hidup bahagia walaupun mereka hidup menderita”
Ditulis pada tanggal 19.11.2011

Pringamba, 19 Juni 2015