Sunset Bersama Rosie

06:34:00 Mad Solihin 0 Comments

Karya Pertama Tere Liye yang Saya Baca (Foto: Mad Solihin)
Minggu kemarin, 31 Mei 2015 Novel Sunset Bersama Rosie karya Tere Liye selesai saya baca. Novel dengan ketebalan 426 saya selesaikan dengan waktu 3 hari. Bukankah itu cukup mengesankan, setidaknya bagi saya sendiri. Novel ini saya pinjam di Perpusda Wonosobo pada Jum’at kemarin ketika mau pulang ke banjar setelah menyelesaikan administrasi pendaftaran PPL.
Mungkin karena termasuk bacaan ringan sehingga sayapun bisa cepat menyelesaikan selain karena memang karya fiksi itu membuat penasaran ingin cepat-cepet tahu endingnya, so mau gak mau harus membacanya.
Novel ini termasuk novel keluarga dan untuk pertama kalinya saya membaca novel karya Tere Liye yang akhir-akhir ini sedang booming. Sebagaimana sebuah novel atau cerita, dalam penggambarannya menggunakan alur maju dan mundur. Di awali dengan sebuah acara perayaan ulang tahun pernikahannya Rosie dan Nathan yang ke 13 di Pantai Jimbaran. Dari situlah sebuah cerita dimulai tepatnya ketika ada BOM meledak dan Nathan, suami Rosie harus meninggal dunia.
Tegar Karang yang ketika kejadian sedang berada di Jakarta dan menyimak acara dengan Komputer lewat internet, seketika panik dan memutuskan untuk pergi ke Bali. Menyusul dan sangat ingin tahu bagaimana kondisi Rosie. Wanita yang sangat ia cintai sejak kecil dan selalu bersama selama 20 tahun. Hingga pada saat berada di puncak Rinjani, sebuah pemandangan memutarbalikkan kehidupannya 360`. Pemandangan yang meluluh lantahkan dan membuat hatinya hancur berkeping-keping. Yaitu saat, Nathan teman baiknya mengucapkan kata cinta kepada Rosie. Padahal baru dua bulan ia mengenalnya dan perkenalan itu, Tegarlah yang memperkenalkannya. Dua puluh tahun kalah dengan dua bulan. Sejak saat itu, tegar menghilang tanpa kabar. Bekerja di Jakarta dengan frekuensi 18 jam/hari.
Selama 5 tahun tak pernah ada kabar. Hingga pada suatu kesempatan, Tegar menelfon Oma (ibunya Rosie) dan memberikan alamatnya di Jakarta. Dari situlah Rosie menemukan alamat Tegar dan mengunjunginya di Jakarta. Dan itu menjadi titik awal, Tegar akarab kembali dengan Rosie dan keluarganya. Bahkan, anak-anaknya selalu manja dan menurut dengan Tegar.
Kejadian di Jimbaran tentu membuat Tegar tak kuasa untuk tidak menjenguknya. Karena hanya dia dan Oma nyalah yang di miliki. Dan kematian Nathan, membuatnya harus kembali ke Gili Trawangan. Membantu mengusir kesedihan yang di alami oleh Rosie serta menguatkan anak-anaknya. Walau ia harus mengorbankan waktu pertunangannya dengan Sekar. Gadis yang akan bertunangan dengannya besok dan akan meniahi 6 bulan ke depan. So, pertunanganpun batal. Janji akan segera kembali ke Jakarta dalam waktu 2 minggu juga batal karene Rosie mengalami depresi. Dan mau tidak mau, selama masa penyembuhan Tegarlah yang merawat dan mendidik anak-anaknya, Anggrek, Sakura, Jasmine dan Lili.
Selama dua tahun, selama Rosie berada di Shilter dan selama itu juga anak-anak berkembang menjadi anak yang cerdas dan pandai. Apa yang Tegar katakan anak-anak selalu menuruti. Ia tidak melarang, tetapi banyak memberikan penjelasan. Dan sebagaimana perasaan cinta, ia ternyata tidak hilang walau telah menjadi masa lalu. Rosie ternyata selalu mencintainya. Dan pernikahannya dulu di tunda 6 bulan, karena mengetahui bahwa Tegar juga mencintainya. Aikh ..
Ending cerita. Lili anak yang paling kecil yang selama ini tidak mau bicara. Dalam pernikahan antara Tegar dan Sekar, tiba-tiba bicara dan merajuk menangis agar ia tidak pergi dan memanggilnya dengan panggilan Papa. Sekar, gadis yang selalu menunggu janji akan kembalinya Tegar ke Jakarta. Gadis yang minggu kamarin membatalkan acara tunangan dengan laki-laki lain dan memberi kesempatan untuk Tegar bersanding dengannya. Tiba-tiba mengejar Rosie dan menyruhnya untuk menikah dengan Tegar. Adakah ini terjadi di dunia nyata ..???
Itulah sedikit penggalan cerita novel yang saya baca. Dan cukup lumayan sebagai hiburan dan untuk menambah referensi pembendaharaan kata. Dan karena sudah selesai, berarti bisa meminjam buku yang lain.

Banjarnegara, 1 Juni 2015

You Might Also Like

0 comments: