Cerita Lucu di Lailatul Ijtima’ PCNU

1:14:00 AM Mad Solihin 0 Comments

Suasana Lailatul Ijtima'
Senin malam (25/05/2015) bertempat di Pesantren Al-Fatah (Gus Wahid), acara Lailatul Ijtima’ yang menjadi agenda pertemuan rutin bulanan PCNU Banjarnegara berjalan lancar. Dihadiri oleh pengurus pcnu, Lembaga dan Banom serta pengurus MWC.
Acara tersebut dimulai sekitar pukul sembilan kurang yang jadwal di undangan setengah delapan. Ah, sepertinya menjadi hal yang biasa bahwa acara kebanyakan yang ada di Indonesia mulur atau ngaret. Awalnya, saya dan Dayat agak rikuh untuk ikut karena sudah banyak yang datang, namun ketika sms pak Khozin mengenai acaranya baru saja mau mulai akhirnya mewakili atas nama ipnu, saya dan Dayat ikut dan bersalaman dengan para kyai dan orang-orang yang telah hadir disana.
Seperti biasa acara dibuka, kemudian tahlil, sambutan iftitah oleh Rois Syruriah dan selanjutnya pembahasan atau konsolidasi pengurus. Dalam sambutan iftitah oleh Rois Syuriah PCNU Banjarnegara, Bapak KH. Mujtahidi Toblawi beliau menjelaskan mengenai banyaknya amalan akhirat untuk mencari dunia. Semisal puasa, sholat, sodakoh dsb dilaksanakan karena punya hajat, menjadi DPR misal ataupun hajat dunia yang lain. Padahal sejatinya amalan dunialah yang digunakan untuk kepentingan/urusan akhirat. Sebagaimana beliau mencontohkan ketika membeli amben (kasur) maka otomatis akan mempunyai longan (papan kosong di bawah kasur). Tetapi ketika membeli longan maka tak mungkin punya kasur.
Setelah sambutan iftitah selesai, acara konsolidasi pengurus dimulai. Karena Gus Zahid selaku ketua umum sedang ada acara di Salatiga dan belum pulang, maka acara konsolidasi di pimpin oleh Gus Wahid selaku wakil ketua. Dalam konsolidasi tersebut, beliau menceritkan pengalamannya ketika TURBA di MWC Pagentan. Katanya, selama 3 kali kepengurusan sewaktu ketua PCNU dulu masih Bapak Yahya Hanafi sampai sekarang belum ada pergantian pengurus. Selain itu selama, 3 kali kepengurusan baru ada satu kali pertemuan yaitu ketika Turba PCNU minggu kemarin (24/05/2015).
Selain itu yang membuat saya cukup prihatin dan lucu rasanya, pengurus itu tidak paham struktural kepengurusan NU. Tidak paham itu PWNU, PCNU, MWC dsb. Dan inilah yang saya kira kenapa IPNU IPPNU menjadi sangat penting adanya. Karena selain pengkaderan juga sebagai wahana untuk menyiapkan kader pengurus NU 5 atau 10 tahun kedepan. Yang tidak hanya paham mengenai apa itu NU secara ilmu pengetahuan tetapi mengerti persoalan dan peluang-peluang yang bisa dimanfaatkan oleh NU.
Kejadian ini tidak hanya di alami di Pegentan, tetapi di Kecamatan Bawang juga tidak berbeda. Selama 2 peroide kepengurusn belum pernah ada pergantian pengurus. Pertanyaannya, tidak adakah genarasi pengurus yang siap mengganti atau karena sebagai pengurus hanya sekedar simbolisme daripada tidak ada pengurusnya?

Pringamba (Sigaluh, Banjarnegara), 27 Mei 2015

You Might Also Like

0 comments: