Bermalam di Garung

17:23:00 Mad Solihin 0 Comments

Saat Peserta Mendengarkan Motivasi dari Mas Faqih (Foto: Mad Solihin)
Ada 12 panggilan tak terjawab dari Ali Muntaqo dan 3 panggilan dari Tiyono. Enam SMS belum terbaca. Yang pada intinya menanyakan bisa atau tidak untuk ke Garung. Saya yang baru saja terbangun segera membalas dan akan meluncur setelah sholat. Dan setelah magrib saya langsung meluncur ke rumah Triyono, menghampirinya untuk berangkat ke Garung bersama.
Saya sampai disana sekitar pukul 6 lebih. Dan layaknya tamu, saya dipersilahkan masuk dan baru meluncur ke Garung setelah isya. Tujuan kami adalah mengawal teman-teman yang akan try out, latihan soal untuk ikut tes SBMPTN. Atas dasar ingin kemanuisaan, kami berniat agar mereka yang memiliki potensi bisa lulus dan kuliah. Setidaknya itulah aset kedepan yang sangat berharga. Dan jika bisa lolos, itu akan menjadi kebanggaan tersendiri.
Si sela-sela saya membaca buku, datanglah seorang peserta yang akan sholat isya. Awalnya saya agak cuek dan menyapa sekedarnya. Hingga ketika setelah selesai sholat dan ia mendekat serta bertanya namaku, saya mulai bertanya-tanya. Dan baru saya sadari bahwa ternyata ia adalah anak Banjarnegara. Tepatnya Pawuhan Karangtengah. Namanya Runa dan sekarang ia menjadi penjaga lab di SMK NU Kejajar. Katanya ia akan mengambil jurusan Bahasa Inggris. Wah, keren.
Percakapan kami mulai berbicara mengenai IPNU di Batur yang katanya selama ini tak pernah mendengar ada IPNU atau IPPNU di Batur. Sayapun menjelaskan perihal kondisi IPNU di Banjarnegara yang sedang merangkak karena sempat vakum dari tahun 2006 dan baru ada lagi tahun 2012. Dan itu adalah proses perjuangan yang sangat melelahkan serta tantangan yang mengasyikan. Ketika saya bertanya pernahkah bertanya kepada orang tuanya mengenai IPNU, ia menjawab bahwa dulu IPNU di Batur itu dibubarkan karena IPNU IPPNU banyak yang pacaran. Sayapun tertawa mendengarnya.
Dan semoga tahun ini, Batur bisa berjalan IPNU nya.
Wonosobo, 31 Mei 2015 00:38

You Might Also Like

0 comments: