Bangkitnya LazizNU Banjarnegara

17:25:00 Add Comment
Sambutan dari Ketua PCNU (Foto: Mad Solihin)
Jum’at malam (29 Mei 2015) bertempat di rumah Bapak Sukirman Desa Bandingan Kec. Bawang, sebuah pertemuan untuk membentuk kepengurusan LAZIZNU dilaksanakan. Sekitar 30 an orang hadir malam itu. Pun demikian dengan Gus Zahid selaku ketua PCNU, walau agak terlambat beliau hadir memenuhi undangan dari bapak Sukirman.
Dalam pertemuan yang inysa Allah diberkahi, kepengurusan LazizNU dibentuk dengan Bapak Sukirman sebagai ketua umumnya. Periode kepengurusan mengikuti periode kepengurusan PCNU karena Laziznu adalah lembaga.
Melihat dan memperhatikan bagaimana caranya rapat, saya berangan-angan andaikan IPNU bisa seperti itu. Di bagi tugasnya sesuai tupoksinya masing-masing sepertinya lebih mengesankan. Namun, angan-angan saya menerawang jauh bahwa mereka yang berkumpul adalah orang yang dalam ekonomi sudah punya pegangan sendiri, sedangkan IPNU masih meminta kepada orang tua. Mungkin, belum tahun ini IPNU Banjarnegara bisa mandiri.
Sesuai dengan kebiasaan yang saya lakukan, dalam kepengurusan Laziznu saya dilibatkan dalam hal publikasi. Katanya bagian ngetik-ngetik. Dan itu memang sesuai dengan keinginan saya, sebagai jurnalis. Setidaknya, bagian mencatat dan posting berita terbaru.
Sebelum acara ditutup, Gus Zahid menyampaikan beberapa point penting terkait dengan Laziznu. Pertama adalah untuk segera dilengkapi susunan kepengurusannya. Kedua, susun yang jelas program kerjanya (jangka pendek, menengah dan panjang). Dan yang ketiga, publikasikan hasilnya secara transparan agar orang lain tahu dan akhirnya percaya dengan kinerja yang dilakukan oleh Laziznu.

Wonosobo, 30 Mei 2015

Sang Zahid, Mengarungi Sufisme Gus Dur

17:24:00 Add Comment
Sumber : www.arrahmah.co.id
Buku ini saya selesaikan pada hari Jum’at, 29 Mei 2015. Ya, buku yang saya beli di Toko Sabar pada 21 Mei 2015. Waktu itu saya membeli dua buku, yang satu tentang Gus Dur dan yang satu tentang KH. Wahab Chasbullah. Walau waktu membeli saya agak memaksakan karena uang yang saya miliki sebenarnya masih banyak keperluan lain, namun angan saya waktu itu bahwa buku adalah satu aset berharga yang bisa mempengaruhi masa depan. Setidaknya dengan membaca buku cakrawala pengetahuan kita menjadi luas dan itu sangat diperlukan untuk bekal masa yang akan datang.
Buku ini di tulis oleh KH. Husain Muhammad untuk memperingati 1000 hari wafatnya almarhum almaghfurlah KH. Abdurrahman Wahid (GUS DUR). Dalam buku ini, KH. Husain Muhammad selaku pelaku utama menceritakan kesaksiannya tentang Gus Dur dari segi sufisme. Dari segi keanehan yang mungkin jarang di bahas dalam buku-buku terbitan lainnya.
Ada beberapa point yang menurut saya cukup mengena atau setidaknya saya ingat setelah membaca buku tersebut. Diantaranya adalah bahwa beliau adalah orang yang paling sederhana dan bahkan diceritakan sering tidak mempunyai uang. Karena ketika mempunyai uang, beliau selalu membagi-bagikannya kepada orang lain yang membutuhkan.
Beliau adalah orang yang rela menanggung luka. Teguh pada prinsip dan selalu membela yang teraniaya. Ia tidak peduli dengan cacian dan hujatan. Apa yang menurut beliau baik, maka ia akan mempertahankannya.
Selain itu yang akan saya tekankan di sini dibalik kegeniusan yang beliau meiliki disamping ia adalah putra bangsawan adalah proses beliau dari bawah sudah matang. Di usianya yang masih SMP sudah melahap buku-buku yang berbahasa Inggris, karya-karya pemikir barat seperti Karl Marx dll. Sehingga ketika dewasa beliau begitu paham dengan kondisi dan keadaan yang akhirnya tahu apa yang harus dilakukan untuk mempertahankan persatuan bangsa Indonesia.
Setidaknya itulah yang saya tangkap dan bisa saya uraikan kembali dari membaca buku karya KH. Husain Muhammad, meskipun saya juga paham masih banyak hal lain yang belum bisa pahami secara detail dan masih terlalu sulit untuk menyampaikannya kepada orang lain. Akan tetapi saya yakin bahwa apa yang telah saya baca akan menjadi semacam perjalanan jelajah yang suatu saat akan bermanfaat. Semoga.

Banjarnegara, 31 Mei 2015

Bermalam di Garung

17:23:00 Add Comment
Saat Peserta Mendengarkan Motivasi dari Mas Faqih (Foto: Mad Solihin)
Ada 12 panggilan tak terjawab dari Ali Muntaqo dan 3 panggilan dari Tiyono. Enam SMS belum terbaca. Yang pada intinya menanyakan bisa atau tidak untuk ke Garung. Saya yang baru saja terbangun segera membalas dan akan meluncur setelah sholat. Dan setelah magrib saya langsung meluncur ke rumah Triyono, menghampirinya untuk berangkat ke Garung bersama.
Saya sampai disana sekitar pukul 6 lebih. Dan layaknya tamu, saya dipersilahkan masuk dan baru meluncur ke Garung setelah isya. Tujuan kami adalah mengawal teman-teman yang akan try out, latihan soal untuk ikut tes SBMPTN. Atas dasar ingin kemanuisaan, kami berniat agar mereka yang memiliki potensi bisa lulus dan kuliah. Setidaknya itulah aset kedepan yang sangat berharga. Dan jika bisa lolos, itu akan menjadi kebanggaan tersendiri.
Si sela-sela saya membaca buku, datanglah seorang peserta yang akan sholat isya. Awalnya saya agak cuek dan menyapa sekedarnya. Hingga ketika setelah selesai sholat dan ia mendekat serta bertanya namaku, saya mulai bertanya-tanya. Dan baru saya sadari bahwa ternyata ia adalah anak Banjarnegara. Tepatnya Pawuhan Karangtengah. Namanya Runa dan sekarang ia menjadi penjaga lab di SMK NU Kejajar. Katanya ia akan mengambil jurusan Bahasa Inggris. Wah, keren.
Percakapan kami mulai berbicara mengenai IPNU di Batur yang katanya selama ini tak pernah mendengar ada IPNU atau IPPNU di Batur. Sayapun menjelaskan perihal kondisi IPNU di Banjarnegara yang sedang merangkak karena sempat vakum dari tahun 2006 dan baru ada lagi tahun 2012. Dan itu adalah proses perjuangan yang sangat melelahkan serta tantangan yang mengasyikan. Ketika saya bertanya pernahkah bertanya kepada orang tuanya mengenai IPNU, ia menjawab bahwa dulu IPNU di Batur itu dibubarkan karena IPNU IPPNU banyak yang pacaran. Sayapun tertawa mendengarnya.
Dan semoga tahun ini, Batur bisa berjalan IPNU nya.
Wonosobo, 31 Mei 2015 00:38

Manusia Merencanakan, Tuhan yang Menentukan

19:18:00 Add Comment
Sore itu (28 Mei 2015) sepulang kuliah sekitar pukul 15.30 WIB saya merebahkan badan di kamar untuk sekedar istirahat melepaskan rasa lelah. Saat itu juga sebuah kegelisahan menyeruak ke dalam relung hatiku, kegelisahan karena bulan Mei sudah hampir selesai namun yang saya tunggu tak kunjung ada kabar. Pertama saya kesana di bulan Mei (entah kapan tepatnya) sebuah kabar menggembirakan bahwa satu hari setelah acara perpisahan kelas XII MA AL-Hidayah, Mas Agus selaku ketua PAC IPNU Susukan akan mengadakan pertemuan pengurus. Akan tetapi, sampai kemarin tak ada kabar kejelasannya. Mba’ Seli selaku Ketua IPPNU yang bisa dihubungi untuk sementara ini juga manut sama Mas Agus. Padahal satu target yang ada dalam diri saya adalah bulan Mei ini, Susukan bisa aktif kembali.
Dalam suasana yang tak menentu itu, saya sms Dayat, kakak kelas saya dulu yang akhir-akhir ini banyak menemani ketika saya ada acara yang terkait dengan IPNU. Bersyukur bahwa ia sedang di rumah dan tidak ada acara sehingga ketika saya meminta untuk menemani ke Susukan ia menyanggupinya.
Sekitar pukul 17.00 WIB kami berangkat. Langit yang terlihat mendung seolah tak rela dengan kepergian yang saya lakukan. Hingga sampai di perempatan Argasoka, rintik-rintik hujan berjatuhan. Ah, tidak peduli toh juga masih kecil dan kamipun menerjangnya. Dalam perjalanan itu hujan yang terkadang besar dan setelah beberapa km kecil sehingga kamipun tak menggunakan mantel.
Sampai di rumah mas Agus sekitar pukul 18.15 WIB. Dan alhamdulillah ia di rumah. Dalam perbincangan itu saya baru tahu bahwa alasan kenapa sampai kemarin belum bisa kumpul karena ia menemani Kyai Abdul Mutholib di rumah sakit. Dan baru saja kemarin beliau meninggal. Ah, sungguh manusia hanya bisa berencana, tetapi Allah lah yang menentukan.
Dalam pertemuan itu, ada yang membuat saya merasa tak sia-sia. Ada kesungguhan dan keinginan kuat untuk bisa menghidupkan kembali PAC IPNU. Dan itu sudah cukup menjadi kabar yang menggembirakan, sehingga perjalanan yang cukup melelahkan menerjang hujan tidak berakhir sia-sia. Selain itu, silaturahim yang kami lakukan juga bukan hanya sekedar untuk masalah organisasi, namun karena ingin menjalin pertemanan yang ikhlas dan sejati. Artinya pertemanan itu bukan hanya sekedar ketika saya menjadi ketua, kemudian setelah sudah selasai maka pertemanan itu juga selasai. Bukan itu, ya sama sekali bukan itu.
Dan semoga silaturahim ini menjadi berkah tersendiri. 
Kupat Londo sebagai Hidangan Untuk Menganjal Perut

Banjarnegara, 29 Mei 2015

Selama ada Kesempatan, Kenapa Tidak ?

01:16:00 Add Comment
Try Out Soal untuk SBMPTN
Rabu kemarin, 27 Mei 2015 saya mengantarkan adik kelasku, Ali Muntaqo untuk ikut latihan soal-soal guna mengikuti SBMPTN. Tepatnya di Karanganyar, Sukoharjo di rumah Mas Triono Ketua IPNU Wonosobo. Alasannya satu, sebagai salah satu bentuk kepedulian apalagi ia tergolong anak yang cerdas dan telaten serta mungkin mempunyai nilai lebih dari yang lainnya.
Selain motif itu, saya juga berharap jika ia bisa lolos setidaknya tahun depan sudah punya orang yang berpengalaman yang bisa memberikan motivasi serta pengarahan bagaimana cara masuk SBMPTN kepada teman-teman yang lain. Semoga.
Sebenarnya sudah sangat mepet waktunya karena jadwal untuk daftar katanya tanggal 29 Mei bulan ini paling lambat. Belum lagi latihan soal yang teman-teman lainnya sudah hampir satu bulan, ia baru mulai. Tetapi itu bukanlah masalah, selama masih ada kesempatan kenapa tidak? Toh juga tugas manusia hanyalah berikhtiyar (berusaha), masalah hasil semata karena kuasa Allah.
Sesuai janji, kami sampai di rumah mas Triono jam 14.00 WIB. Sampai di sana saya kira, ia sedang ke Wonosobo, sehingga menunggu yang lain karena katanya mau try out dan mulai jam 14.00 WIB. Dan selang tak begitu lama, mas Septian dan Muhammad Farid datang. Syukurah sudah punya teman untuk ngobrol dan tidak bingung. Baru ketika mas Septian mau masuk ke rumah, ternyata Mas Triono ada di rumah dan tidak jadi ke Wonosobo.
Ketika Ali Muntaqo membaur dengan teman-teman yang lain, saya sempatkan waktu untuk membaca buku Sang Zahid, Mengarungi Sufisme Gus Dur. Insiratif dan banyak ilmu yang saya dapat. Hingga sampailah waktu menunjukan pukul 15.52 WIB dan ternyata mas Triono yang katanya pulang jam 15.30 WIB belum juga muncul. Sayapun sms untuk pamitan, dan ketika sudah menghidupkan motor dan tinggal go, mas Triono pulang. Dan mau gak mau harus masuk lagi. Dan tau gak untuk apa, untuk sekedar makan layaknya kebiasaan orang jawa lainnya ketika ada tamu, biasanya sebelum pulang di suruh untuk makan terlebih dahulu. Dan inilah tradisi orang Jawa yang patut untuk dilestarikan. Dan alhamdulillah kenyang juga ternyata. Hehehe
Disela-sela waktu makan, saya hanya bilang titip bocah. Mohon untuk bimbingan dan arahannya. Selesai makan, sayapun langsung pamit untuk pulang.
Terimakasih Mas Triono atas kebaikannya semoga Allah membalasnya dengan balasan yang berlimpah, dan untuk Ali Muntaqo selamat mencoba, semoga berhasil. Jika Allah berkehendak lain, setidaknya engkau telah berusaha dan semoga menjadi pengalaman yang berharga.

Pringamba (Sigaluh), 28 Mei 2015. 06.31 WIB

Cerita Lucu di Lailatul Ijtima’ PCNU

01:14:00 Add Comment
Suasana Lailatul Ijtima'
Senin malam (25/05/2015) bertempat di Pesantren Al-Fatah (Gus Wahid), acara Lailatul Ijtima’ yang menjadi agenda pertemuan rutin bulanan PCNU Banjarnegara berjalan lancar. Dihadiri oleh pengurus pcnu, Lembaga dan Banom serta pengurus MWC.
Acara tersebut dimulai sekitar pukul sembilan kurang yang jadwal di undangan setengah delapan. Ah, sepertinya menjadi hal yang biasa bahwa acara kebanyakan yang ada di Indonesia mulur atau ngaret. Awalnya, saya dan Dayat agak rikuh untuk ikut karena sudah banyak yang datang, namun ketika sms pak Khozin mengenai acaranya baru saja mau mulai akhirnya mewakili atas nama ipnu, saya dan Dayat ikut dan bersalaman dengan para kyai dan orang-orang yang telah hadir disana.
Seperti biasa acara dibuka, kemudian tahlil, sambutan iftitah oleh Rois Syruriah dan selanjutnya pembahasan atau konsolidasi pengurus. Dalam sambutan iftitah oleh Rois Syuriah PCNU Banjarnegara, Bapak KH. Mujtahidi Toblawi beliau menjelaskan mengenai banyaknya amalan akhirat untuk mencari dunia. Semisal puasa, sholat, sodakoh dsb dilaksanakan karena punya hajat, menjadi DPR misal ataupun hajat dunia yang lain. Padahal sejatinya amalan dunialah yang digunakan untuk kepentingan/urusan akhirat. Sebagaimana beliau mencontohkan ketika membeli amben (kasur) maka otomatis akan mempunyai longan (papan kosong di bawah kasur). Tetapi ketika membeli longan maka tak mungkin punya kasur.
Setelah sambutan iftitah selesai, acara konsolidasi pengurus dimulai. Karena Gus Zahid selaku ketua umum sedang ada acara di Salatiga dan belum pulang, maka acara konsolidasi di pimpin oleh Gus Wahid selaku wakil ketua. Dalam konsolidasi tersebut, beliau menceritkan pengalamannya ketika TURBA di MWC Pagentan. Katanya, selama 3 kali kepengurusan sewaktu ketua PCNU dulu masih Bapak Yahya Hanafi sampai sekarang belum ada pergantian pengurus. Selain itu selama, 3 kali kepengurusan baru ada satu kali pertemuan yaitu ketika Turba PCNU minggu kemarin (24/05/2015).
Selain itu yang membuat saya cukup prihatin dan lucu rasanya, pengurus itu tidak paham struktural kepengurusan NU. Tidak paham itu PWNU, PCNU, MWC dsb. Dan inilah yang saya kira kenapa IPNU IPPNU menjadi sangat penting adanya. Karena selain pengkaderan juga sebagai wahana untuk menyiapkan kader pengurus NU 5 atau 10 tahun kedepan. Yang tidak hanya paham mengenai apa itu NU secara ilmu pengetahuan tetapi mengerti persoalan dan peluang-peluang yang bisa dimanfaatkan oleh NU.
Kejadian ini tidak hanya di alami di Pegentan, tetapi di Kecamatan Bawang juga tidak berbeda. Selama 2 peroide kepengurusn belum pernah ada pergantian pengurus. Pertanyaannya, tidak adakah genarasi pengurus yang siap mengganti atau karena sebagai pengurus hanya sekedar simbolisme daripada tidak ada pengurusnya?

Pringamba (Sigaluh, Banjarnegara), 27 Mei 2015

Semangat Nulis Tumbuh Lagi

17:42:00 Add Comment
Kontak Motor yang Bikin Berkah
Hari ini (Minggu, 24 Mei 2015) ada kejadian menarik yang jika saya pikir sial yang berbuah berkah. Kejadian itu adalah ketika pagi tadi saya akan mencari makan untuk sarapan pagi. Karena jarak atau warungnya cukup jauh jika jalan kaki, maka sayapun sering menggunakan sepeda motor. Namun, sialnya ketika saya mau berangkat ke warung, kontak motornya saya cari tidak ketemu-ketemu. Udah mondar mandir dari lantai 2 ke lantai 3, ngobrak-abrik isi tas, di berbagai sudut ruangan sudah saya jelajahi namun tidak juga ketemu. Akhirnya, sayapun pinjam motor milik Mas Heri untuk pergi ke warung.
Sekitar jam 1 an lebih sewaktu saya sedang asyik membaca buku tiba-tiba muncul ingatan ketika kamarin sore saya membeli gorengan di warung depan kios guyangan mobil. Sayapun teringat ketika itu baru memasukan motor ke dalam garansi dan setelah itu mampir ke warung untuk membeli gorengan. Maka sayapun sms Mas Heri bertanya alamat rumah ibu dan pak tua penjaga warung tinggal. Hingga iapun menyarankan untuk menanyakannya. Dan alhamdulillah, ternyata benar kunci motorku tertinggal di sana dan baru saja saya ambil sebelum menulis tulisan ini. Katanya ibu penjaga warung, kemarin kontak motorku jatuh dan untunglah ibu itu masih menyimpannya. Terima kasih ibu, Jazakallah semoga dagangannya lancar.
***
Buku yang tak sengaja Saya Temukan
Dalam tahap pencarian mondar mandir dari lantai 2 dan 3, di sebuah rak saya menemukan buku Panduan Internet Sehat dan Aman “INSAN”. Karena isinya cukup menarik, akhirnya saya ambil dan saya baca-baca isinya. Hingga tanpa sengaja ada tulisan menarik yang berjudul “Contoh Sukses Pengguna Internet yang Menerapkan Budaya INSAN. Di situ disajikan dua nama tokoh yaitu Raditya Dika dan Benazio Rizki Putra. Dika, tokoh yang sekarang sering menjadi juri dalam acara standup comedy ternyata suka nuangin tulisan pribadinya ketika masih menjadi mahasiswa di blognya yaitu www.kambingjantan.com sekarang udah ganti www.radityadika.com. 
Dika dan Bena
Benazio Rizki Putra adalah orang yang baru aku kenal namanya. Mungkin pernah buka situs blognya www.benablog.com namun belum terlalu akrab sehingga biasa aja. Nah, karena sekarang nama dia secara khusus di jadikan contoh orang yang menggunakan internet dengan cara sehat dan sukses, sayapun menjadi tertarik. Maka alamat blognyapun saya kunjungi, beberapa postingan saya baca dan ternyata dulu alamat blognya sebelum www.benablog.com adalah benazio.blogspot.com.
Benazio ini dalam salah satu tulisannya mengatakan bahwa ada dua orang yang menginspirasinya untuk menulis, yaitu Raditya Dika dan CybeRidu (ridu.web.id) alias Ahmad Fauzi Ridwan. Kerena Bena punya inspirasi dari Ridu, maka sayapun mengunjungi webnya dan setelah beberapa tulisan saya baca, kebanyakan tulisannya adalah tulisan lepas dan kisah pribadi. Tapi kok gak ada iklannya ya? Padahal udah banyak lho postingannya, lihat saja tahun mulainya udah dari tahun 2006.
Dari tiga blog tadi yaitu Radityadika.com Benablog.com dan Ridu.web.id, semangat untuk menulis tumbuh lagi. Dan selain ketiga di atas, ada satu yang mempengaruhi saya dalam dunia blogger, dia adalah Yusran Darmawan (timur-angin.com). Termasuk model template yang saya gunakan adalah insiprasi dari blog miliknya. Dan sama dengan mas Ahmad Fauzi Ridwan, tulisannya steril dari iklan.
Semangat untuk menulis. Itulah berkah yang saya dapat hari ini. Walau berawal dari kesialan ketika mencari kontak motor yang gak ketemu-ketemu dana tanpa sengaja menemukan buku Panduan Internet Sehat dan Aman ‘INSAN”.
Semoga semangat ini akan selalu terjaga.

Banjarnegara, 24 Mei 2015

Apa Guna Sekolah ?

13:45:00 Add Comment
Hardiknas
Selamat Hari Pendidikan Nasional. Sabtu, 2 Mei 2015.
Tanggal 2 Mei adalah tanggal dimana salah seorang tokoh pendidikan, Ki Hajar Dewantara dilahirkan. Ialah  tokoh yang pada zaman Belanda memperjuangkan pendidikan, dimana tidak hanya anak orang Belanda atau pribumi bangsawan yang mengenyam pendidikan, namun pribumi yang berasal dari rakyat biasa juga bisa merasakan pendidikan. Lembaga yang beliau perjuangkan adalah Perguruan Taman Siswa. Sehingga pantaslah kiranya beliau mendapatkan penghargaan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia sekaligus tanggal kelahirannya diperinagati sebagai Hari Pendidikan Nasional melalui Keputusan Presiden RI No. 305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959.
Pahamkah kita dengan Hardiknas ?
Setiap moment atau  tanggal-tanggal yang bersejarah di Indonesia, selalu diperingati yang salah satunya adalah Hardiknas seperti sekarang ini. Ada perayaan upacara, demo, lomba dan lain sebagainya yang kesemua itu di ekspos di media. Bahkan yang terkecil adalah ucapan “Selamat Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas)” menjamur di berbagai sosmed, seperti fb, twitter, bbm dsb. Namun dibalik menjamurnya ucapan tersebut, seberapa pahamkah mereka dengan yang mereka ucapkan atau setidaknya pahamkah mereka dengan ruh Hardiknas tersebut. Sehingga sebagai awalan pada tulisan ini, saya sedikit bernostalgia dengan sejarah kenapa ada Hardiknas.
Menciptakan lulusan bermental Buruh ?
Entah benar atau tidak, bahwa pendidikan yang ada saat ini banyak menciptakan lulusan yang bermental buruh. Mereka yang sudah lulus sekolah akan berlomba-lomba mencari pekerjaan pada perusahaan-perusahaan besar yang kebanyakan milik orang asing. Sehingga jika boleh dikata, mereka menjadi budak di negeri sendiri, menjadi pembantu di rumah sendiri. Bukankah ini menjadi keprihatian tersendiri bagi bangsa Indonesia.
Mungkin masa sekolah adalah masa yang mengasyikan, berangkat sekolah bertemu dengan teman, duduk manis ketika pelajaran, yang mau mencatat silahkan yang tidak juga tidak masalah. Sehingga selama 6 tahun di SD entah ketrampilan apa yang di dapat? Begitupun ketika di tingkat SLTP atau SLTA, seolah masa 3 tahun atau 6 tahun, pengetahuan yang didapat masih samar-samar. Jika diibaratkan dengan buah, kita hanya sampai pada kulitnya saja. Akibatnya ketika lulus, mereka bingung apa yang akan mereka perbuat?

Inilah yang menjadi unek-unek pikiran saya selama ini. Berdasarkan pengalaman dari teman-teman dekat, mereka yang lulus SMK pada akhirnya merantau ke Kalimantan, bekerja sebagai buruh pabrik kelapa sawit. Dan itu tidak sesuai dengan apa yang mereka pelajari selama 3 tahun di sekolah. Atau menjadi buruh di Pabrik Kayu Lapis. Terus apa guna sekolah ? Padahal sekolah sejatinya adalah masa-masa persiapan menghadapi kehidupan di dunia nyata atau masyarakat.