Ternyata Saya Terdampar di UNSIQ

22:28:00 Mad Solihin 0 Comments

Dua setengah tahun yang lalu ketika masih akrab dengan masa putih abu-abu, sebuah pikiran untuk kuliah dan mendapat stempel “mahasiswa” begitu terpatri dalam hati. Keinginan itu muncul karena melihat beberapa kakak alumni senior meneruskan pendidikan mereka di perguruan tinggi. Ada yang di Semarang, Yogyakarta dan Wonosobo. Pilihan terakhir inilah yang paling banyak diminati oleh para kakak kelas, sehingga dalam benak saya, gambaran Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ) adalah tujuan kemana nanti saya akan mengejar impian menjadi mahasiswa.
Selain alasan di atas, ada beberapa alasan yang akhir-akhir ini baru saya pahami dan mungkin bisa disebut dengan alasan konyol.
Tidak ada pilihan lain. Kenapa saya sebut tidak ada pilihan lain? Itu karena waktu itu saya masih di pondok dan ketika ingin pamit pindah, Abah Yai belum mengizinkan dan menyuruh saya untuk ikut membantu di sana. Sebagai seorang santri yang telah mendapat pendidikan dari sejak MTs sampai MA, akhirnya sayapun itba’ kepada apa yang dikatakan oleh Abah Yai. Mengikuti jejak kakak-kakak kelas, Universitas Sains Al-Qur’an adalah tujuan saya untuk melanjutkan pendidikan pada tingkatan perguruan tinggi. Selain paling dekat jaraknya dari Sigaluh, daerah pesantren yang saya temapati, Universitas Sains Al-Qur’an adalah satu-satunya Universitas yang berbasic keagamaan dan cukup terpandang di Wonosobo. Dengan pendirinya adalah Mbah KH. Muntaha Al-Hafidz guru dari pengasuh pesantren yang saya tempati. Sehingga saat itu UNSIQ adalah pilihan yang paling cocok menurut saya.
Tidak ada pandangan. Jujur, kenapa saya memilih di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan dengan Program Studi Pendidikan Agama Islam adalah karena mengikuti jejak kakak kelas yang kebanyakan dari mereka mengambil PAI serta angan-angan saya waktu itu PAI lah yang sesuai dengan latar belakang pendidikan sebelumnya dan rasanya lebih mudah. Saat itu tak ada kesadaran bahwa lulusan dari PAI nantinya akan menjadi guru, walau sudah ada yang bilang dan mendengar perihal tersebut. Namun yang ada di benak saya saat itu adalah hanya kebanggaan dan kebahagiaan bisa kuliah.
Saya baru menyadari tentang apa hakekat sebenarnya tujuan akhir dari prodi yang saya ambil kalau tidak salah sewaktu semester 3. Perkuliahan semeseter awal sampai dua saya jalani tanpa beban dan sesuai alur.  Kini, saya mulai menyadari dan memahami diri sendiri kenapa saya tidak mempunyai pandangan. Itu tidak lain adalah karena pergaulan saya berkutat hanya pada teman sekolah dan setelah itu kembali ke habitus pesantren. Tidak menggunakan HP atau bergaul dengan mereka yang sekolah di Sekolah di luar. Keadaan guru yang menurut saya masih belum menumbuhkan jiwa intropeksi, kemana jalan yang harus di tempuh oleh murid. Dari situlah saya merasa bahwa itu yang menjadikan saya terdampar tanpa perencanaan.
Ikut IPNU
Masih segar dalam ingatan ketika waktu itu, Sabtu 2 hari sebelum Ujian Madrasah saya memutuskan untuk ikut acara Sekolah kaderisasi Berkelanjutan (SKB) IPNU IPPNU yang diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah IPNU IPPNU. Saat itu saya di ajak oleh kakak seniorku, Mizanto. Sejak itulah saya mulai aktif di organisasi hingga akhirnya ikut dalam kepengurusan IPNU di tingkat Kabupaten menjadi Bendahara yang selama 6 tahun vakum. Dua tahun kemudian pada acara Konferensi Cabang (Konfercab) tanggal 10-20 April 2014 bertempat di Pesantren Al-Fatah saya terpilih menjadi ketua.
Mengalir dan tanpa punya pandangan. Begitulah waktu itu ketika saya diamanati menjadi ketua. Beruntung walau tidak terlalu aktif, saya sudah mempunyai pengalaman ikut organisasi PMII di kampus dan sedikit banyak belajar sewaktu masih menjadi bendahara pada periode sebelumnya.
Dalam berproses di organisasilah saya menemukan apa kecenderungan yang saya minati. Menjadi penulis dan wartawan, itulah yang menjadi cita-citaku. Walau memang ketika saya korekasi, tarbiyah bukan lah jurusan yang sesuai. Keinginan ini muncul saat saya membaca buku bahwa para ulama terdahulu adalah orang-orang yang produktif dalam menelurkan karya. Begitupun dengan gagasan Pramodya Ananta Tour yang mengatakan bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian.
Angan-angan saya ketika menjadi guru saya sudah banyak pengalaman sehingga bisa memotivasi dan mendidik siapa yang menjadi murd saya agar berhasil dan mempunyai pandangan kedepan. Dan pengalaman itu ingin saya dapat dari proses wartawan yang kesehariannya selalu bergulat dengan lapangan.
Demikianlah gambaran singkat mengapa saya terdampar di UNSIQ terkhusus di Prodi PAI yang notebane tujuan akhirnya adalah guru.
Banjarnegara,  18 & 19 Maret 2015

You Might Also Like

0 comments: